Tetap Ku Rindu – Puisi Moh.Romli

KENAPA?

Untuk Shinta.
Mencari rerindang malam

bersemayam dalam sunyi

adalah pilihan kita kala  itu

 

namun kenapa kita masih enggan bertanya

pada lagu-lagu dedahan, dan tarian dedaunan yang juga bersemayam di jembatan tua itu

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa, menitipkan janji suci kita pada ikan-ikan berloncatan yang juga sempat kegirangan lantaran gurauan kita

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa pesan riak-riak air ditepian batu itu

 

kenapa?.

kenapa kita lupa, atas rindu yang sempat kita cicipi berdua

 

dan kenapa kita juga lupa untuk kembali ke muasal rerindu jembatan tua.

 

TETAP KU RINDU

Mamakku perkasa

kurindu dirimu di hamparan karang-karang yang menusuk mata

 

kurindu dirimu di serbuan angin gaduh yang mencekam jiwa

 

kurindu dirimu di cercah-cercah cawan yang menjelma tawa

 

Kurindu dirimu.

meniti pasir basah di ujung gelora yang murka

tak kenal lelah dari ujung desa utara hingga di ujung desa selatan beringin tua

 

kau lelaki yang kekar

kau lelaki yang tegar

dan kau jua lelaki yang berhati mulia

rela menjadi budak

hanya tak ingin membuat anakmu kecewa.

 

NOSTALGIA

Untuk Sunna.

 

C G

Am Em

F C Am G.

Kunci itu menjelma semua tentang kita

disini, di kota kejauhan aku menyanyikan lagunya

dengan lirik adanya serupa wajah kita dulu

 

disini, di tengah hujan deras aku harus menimangnya

dengan raungan tangis dihati yang merana

 

disini, di heningnya malam aku kembali terhanyut di wajahmu yang semu, yang senantiasa menjanjikan damai dalam setiap takdirku.

 

Masih terhampar dengan jelas rasa yang tak sempat kita seduh di matamu yang indah

 

masih tumbuh dengan subur

walau ladang di hatiku sudah penuh dengan batu

 

dan masih berbuah lebat, walau rusuhnya topan terus menerjang.

disini, aku masih mengenangmu untuk kulupakan. SUNNA.

 

LUKA DI UJUNG RINDU

Padahal janjimu tak pernah rebah di saku

namun kenapa kau masih saja tampak begitu anggun di mataku

 

selalu merayu, mengayu, mengharu dan selalu meminta untuk meramaikan malammu dengan lelahku.

 

seperempat malam waktunya dimana aku harus mulai beranjak

dengan berjuta harapan di esok hari dapat memikul buah benang-benang kaca yang sudah ku rangkai sedemikian rupa

 

namun tadir berkata lain malam itu

harus berpulang dengan tangan hampa

dan membawa berjuta luka.

masih lelahku.

 

 

TAKDIRMU LAKNAT

 

Samping warung depan mesjid gang kecil jalan keluar dari sarangnya

keramain dan sunyi sepertiga malam waktu jalan siasatnya

mengundang nada desah

sehalus dan semerdu desau sunyi saat sendiri

nyaris tak ku pahami

kau tanpak cerdik bermain

minnyak di atas air

memarkan hati yang damai

memagut mata menanar

hingga hasratpun

mampu menyamar

Hemm..

hati-hati gadis merang

jika tubuhmu tak ingin terbakar

kau iblis serupa bidadari

aku tau itu..

mendekatlah dan lihatlah

pedangku masih terhunus dengan tajam jika hanya untuk menembus tubuhmu

jangan menangis

jangan sampai kecewa

karna pasti aku melampauimu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

 

Tinggalkan komentar