Puisi Moh.Romli

SIAPA SEBENARNYA DIRIMU

Di alunan kidung malam

wajahmu tak enggan menyapa

di setiap petikan gitar hitam selalu menari dan menari

 

siapa sebenarnya dirimu?

selalu menampar hati dalam sunyi

selalu menabur garam dalam luka

dan selalu paksa hati untuk berhenti melangkah.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

kau yang kerap membuatku melayang ke arah yang tak kutuju

kau gemar menuntunku ke jalan yang buntu

dan kau juga yang membuatku lumpuh.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

apakah kau hanya sebatas rasa kecewa yang memalu

yang hinggap di imajinasi hingga akhir hayatku.

 

atau mungkin hanya angin malam yang membisikkan rindu

yang membuatku tak henti melempar dadu.

 

MENYEDUH RINDU

Di ujung senja, perahu sebrang pulau utara

sekedar mencari dan melampiaskan rindu manja selera

sesampainya di pulau itu, tampak hamparan altar putih yang memanjang dengan tongkat besi berwarna hijau , disitu perahuku tertambat

memanja mata dengan warna-warni tumbal untuk gelar pesta malam nanti

lalu ku coba untuk menyeduh rindu sendiri, dengan buah api bersimbolis rindu yang sudah siap saji

tinggallah aku memilih, untuk mengambil sebagian tumbal dan kujadikan selera rindu yang merekah di lentik jarimu, ibu.

sempatlah kucipta, walau sebenarnya tak beraroma kasih sayang darimu.

 

PENA

Tiada henti pena membuatku tersenyum dan menangis

dalam suka dia selalu tertawa seakan dia juga merasa apa yang aku rasa

 

begitu juga dalam tangis, dia tak pernah enggan menangis, malah dia seakan lebih sedih dariku

 

pena, engkaulah teman sejati

setia dalam suka maupun duka

 

engkau pencatat sejarah diantara terbitnya mentari hingga sungset senja

 

hanya engkau yang tak pernah bosan mendengar keluh

walaupun kau harus menumpahkan darahmu untukku

 

pena, hanya engkau setia mati di tanganku.

maaf kan aku

jika hidupku terus menyiksamu hingga nanti kau mati.

 

CINTAKU PADAMU

Untuk, Hoy.

Cintaku padamu serupa tetes embun yang jatuh di pangkuan keladi

selalu saja kau hiraukan

meski pada hakekatnya senantiasa membutuhkan

 

cintaku padamu serupa angin topan nan geram

yang dimana ketika nelayan menangis, menjerit ketakutan

tak sadar, bahwasanya itu rekahan gerbang hidir pembawa risalah

 

cintaku padamu serupa gigimu sendiri nikmat tuhan

lupa dan menangis seketika di ingatkan.

 

MALAM MINGGU

Entah dengan malam minggu

seperti semua bisu

seperti semua batu

 

tak ada lagu

tak ada malu

tak ada ragu

tak ada deru

 

semua jadi lugu

jadi tumbu

jadi beku

jadi rindu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya KITAB RINDU. (2016)

No. 085232343060

        083853208689

Tinggalkan komentar