Oleh: Otang K.Baddy
Orang kampung tak mau peduli lagi terhadap Markonah. Begitu pula pada Kartieum. Mereka menganggap kedua nama perempuan itu tak ada bedanya. Sama-sama kurang waras atau gila. Namun kemudian ceritanya agak lain, terlebih pada perempuan yang tiba-tiba kasak-kusuk ke sana kemari itu.
“Bulu apa di atas pusar ini bulu apa?” Wanita itu kebingungan. Ia tak habis pikir, “Bulu apa ini, wahai ini bulu apa?” katanya pada orang-orang. Kenapa ia bertanya-tanya karena ia bingung mengingat bulu itu sebelumnya tak ada. Mulanya orang-orang tak terpengaruh, namun setelah Kartieum mengulangi pertanyaan yang sama seraya memperlihatkan bagian pusarnya mereka bereaksi. Bahkan yang semula jauh mulai mendekat seraya memelototkan matanya hingga hingga liar. Sepintas bulu itu seperti rambut yang kerap tumbuh di kepala, tapi jika diteliti dengan seksama bulu itu seperti bulu babi hutan. Tapi ada juga yang mengatakan bulu itu lebih mirip dengan bulu domba.
“Coba tolong, bulu apa ini?” Kartieum memelas minta kepastian ketika salah seorang lelaki tua terus memelotkan matanya lekat-lekat. “Ayo, bulu apa ini?”
Tapi lelaki tua itu tak bisa memberi jawaban, bahkan saking puyengnya ia pun nyaris pingsan seketika. Begitupun yang lainnya. mereka kebanyakan bingung. Betapa tidak, bukankah untuk pembuktian harus diteliti lebih jeli atau setidaknya melibatkan pakar bulu-buluan. Sementara untuk meneliti langsung itu mereka rasa teramat canggung. Sekadar menutupi kelemahannya di antara mereka ada yang bilang bahwa bulu yang berada di atas pusar itu mungkin merupakan kiriman dari tukang santet. Mendengar kata santet, wanita itu segera pergi, seolah ia tak sudi. Dan ia tetap bertanya-tanya pada setiap orang yang ditemuinya.
“Akang-akang, Aceuk-aceuk, bulu apa ini hai bulu apa?” wanita itu menudingkan telunjuknya di bawah dada.
Sama seperti sebelumnya, orang-orang tak langsung terpengaruh, bahkan ketika wanita itu memperlihatkan bagian pusarnya. Orang-orang hanya melihat sesaat sebelum kemudian memalingkan muka. Di balik kegeliannya setelah melihat bagian pusar batinnya berujar: “Dasar orang gila!” Namun di sisi lain batinnya mengatakan, “Wow, pemandangan yang eksotis !”
Seraya berjalan. Wanita itu terus bertanya-tanya sambil berteriak. “Bulu apa ini bulu apa, kok tega-teganya tumbuh di pusar saya?”
Wanita itu benar-benar kebingungan. Kadang ia merintih seperti menangis. Benar-benar tak habis pikir. Kalau memang benar itu bulu babi hutan kenapa bisa tumbuh di atas pusarnya. Namun seberapapun bukti, kendati timbul di bagian lain tubuhnya tetap saja tak masuk akal. Babi hutan bukan, kok apa bisa bulu itu tumbuh bercokol di kulitnya yang bukan babi. Bukan babi hutan. Ia manusia tulen kok. Begitu pun jika bulu itu mirip bulu domba, tetap saja ia geleng kepala. Domba bukan, ah masa iya bulunya bisa tumbuh di perutnya?
“Wahai semua, bulu apa ini bulu apa? Bulu kasar di atas pusar, bulu lembut di kulit perut?”
Wanita itu bergeming.
Di benaknya mencoba mengingat-ingat tentang peristiwa semalam.
Wanita itu bermimpi di tengah pasar ada seorang wanita seperti gila. Wanita itu bertanya-tanya tentang bulu yang tiba-tiba bercokol di pusar. “Bulu apa ini bulu apa?” demikianlah katanya. Meski agak malu ia sempat melirik apa yang ditunjukkan wanita itu pada pusarnya. Sepertinya bulu itu bulunya Markodin, lelaki yang tiba-tiba jadi lutung setelah beberapa tahun mengasingkan diri di hutan. Namun perlu dicatat, kata lutung di sini hanyalah sekadar julukan atau hinaan atas bulu-bulu di tubuhnya yang tak mengenal istilah cukur. Lelaki itu adalah suaminya sendiri yang pernah main serong dengan Markonah, janda penjual kue surabi. Tapi ia tetap heran, jika benar itu bulunya Markodin manusia lutung, kenapa saat ini bisa tumbuh di bagian pusarnya? Apakah pertanda ia telah kualat dan terkena kutukan akibat sebelumnya pernah berhubungan badan?
Perempuan itu akhirnya mematung sendiri.di tengah pasar. Seolah berusaha hendak memulihkan keadaannya yang ia rasa ganjil.
Terhenyak. Siapa diriku ini sebenarnya? Apakah seorang perempuan yang bernama Kartieum ataukah Markonah? Ia bingung. Bahkan untuk sekadar mengetahui kelamin yang ia miliki. Ia tak tahu pasti apakah kelamin yang ia miliki itu jantan atau betina.. Seakan pola pikirnya terbatas dan buntu sosok itu pun akhirnya membebaskan diri dari pemikirannya. Seiring dengan kebebasannya, sosok itu pun kemudian menghilang entah kemana. Baik di benak penulisnya, pun di benak pembacanya. Tak ada like apalagi komentar.
Entah bagaimana maksudnya. Bisa saja mungkin bentuk protes atas status di Fb tersebut. Tampaknya lelaki yang bernama aslinya bukan Markodin itu menjawabnya, tentu saja jawaban ini pun tak populis. Bahkan terkesan apaan gitu, mirip seperti lebay dan bloon.
— Sebenarnya rambutku tak segondrong apa yang dituduhkan, apalagi sampai seperti lutung. Kalau bikin pernyataan apalagi untuk disampaikan ke publik jangan asal kecrot. Mending kalau sampai viral, ini malah semakin redup melempem. Apa kamu tak pernah lihat jika aku sering pulang untuk dicukur?
Tiga bulan mengasingkan diri di tengah hutan Dawolong, memakan pucuk lantoro, surage, loa, wuni, tekokak, lajagoa, tawohwol dan buah tepus. Semula memang terasa asing dan kesat di lidah, tapi setelah seminggu kemudian rasanya biasa-biasa saja. Bahkan hal tak terduga pun datang terasa. Tubuh serasa bugar perkasa bak bujangan tingting. Karenanya tak perlu heran jika kemudian aku tak hendak pulang kembali ke negeri penuh dongeng ini.
Begini ya, kawan. Kepergianku dengan bertelanjang ini bukan semata karena muak melihat kepura-puraan, polesan lipstick dan topeng-topeng berkeliaran. Tidak. Bukan soal itu, bahkan sama sekali tak kaitannya. Aku tak muak pada mereka karena mereka bagian dari kita juga. Bahkan jika tanpa itu mana mungkin dunia ini asyik. Kepergianku yang ‘gila’ ini, di mana jalan bertelanjang tanpa celdam maupun perban -kendati borok bernanah bercucuran, bisul di hidung dan kurap di selangkangan. Bukan pula suatu pengukuhan –apalagi sampai berkata demi menfokuskan diri terhadap Sang Khaliq. Tidak. Bukan kepongahan macam itu. Bukan. Sebab sejatinya manusia hidup harus seperti ikan di lautan. Kendati arus buih terasa asin kita tak perlu ikut asin. Tetap tawakal mengimbangi arus maupun gelombang yang seakan mengkaparkan.
Satu hal yang membuat keremajaanku timbul karena hutan yang aku jajaki ini masih perawan. Betapa tidak, sebab di sini akar-akar masih mencengkeram kuat mempertahankan pendirian pohonnya. Begitu pun hal sekeliling, baik dari sudut pandang maupun lekak-lekuk, tak ada yang namanya plastik. Daun-daun menghijau, kendati ada pun yang berjatuhan bukanlah sampah plastik seperti di pelataran kita saat ini yang terus bertebaran tiap hari. Yang gugur di hutan ini telah melewati proses yang matang, ia pergi meninggalkan jasa, yakni menghasilkan humus, tanah gembur untuk diwariskan pada generasi selanjutnya. Gitu. Jadi awas ya jika ada lagi yang menjulukiku sebagai lutung. Benar-benar tak nyambung tuh. Sungguh!
(bersambung ke Halaman ke Bag.2)