Sambungan dari Bag-1
Karena itu hati-hatilah. Mata dan kuping harus difungsilkan secara jujur. Mengingat panca indera manusia multiguna, salah kendali bisa berakibat fatal. Jangan dibiarkan benak itu sampai melenggang dan menggentayang. Seperti dalam kisah ini, seketika tercipta dan terdengar suara yang sebelumnya dibayangkan. Ya tentang suara dari yang punya bulu halus, corak belang dan yang berekor panjang itu toh. Suara yang terdengar mendengkur, mengaum dan juga menggeram. Mungkin karena kepercayaan yang kuat itulah yang membuat otak terasuk.
Ya seperti cerita tentang rumah kosong dekat langgar itu. Kan jadi membawa ingatan pada mulut sebuah goa di tepi hutan. Maka tak pelak aroma horor pun kerap meneror, baik sebelum atau sesudah keluar langgar. Ya, seperti yang dialami Kodir belakangan ini.
“Allahu Akbar!” Ia setengah meloncat dan berjingkat dari langgar, tatkala pulang usai menunaikan solat isya sendirian. Gara-garanya ia terlambat berjamaah akibat keenakan nonton bola di tv. Di benaknya, dari balik kaca rumah yang gelap itu sepasang mata merah menyala mengancam. Betapa tidak, sebab sebagai jemaah langgar ia tahu betul karakter siempunya rumah itu yang punya watak kasar. Dan wajarlah jika kerap menghantui dirinya, juga para tetangga sekitar langgar.
**
Semua yang terjadi itu sebenarnya gara-gara Ki Tamim, seorang lelaki tua di lingkungan ke-RT-an itu. Seharusnya ia bisa menjaga lidahnya dalam bertutur, bukan malah sebaliknya. Omongnya yang seperti bijak, tak tahunya telah menggentayangkan arwahnya Kardian, seorang tetangga yang telah lama meninggal.
“Meninggal tak bersih tentu tak sampai ke Maha Suci, karena kesucian mana sudi menerima yang kotor. Maka ia akan menggentayang di antara langit dan bumi. Jiwa yang gelap akan tersesat ke jalan yang lebih hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang gelap dan seram,” Begitulah dari lidah pertamanya pernah tercetus, dan orang-orang mencernanya sepenuh jiwa, sampai pada akhirnya menyergap jiwa-jiwa mereka yang kerdil.
Goa dan rumah kosong, dalam kisah ini terkait erat. Namun sebenarnya itu bukan goa, tapi semacam lobang dangkal pada sebuah tebing di lembah kebun kelapa. Di tempat inilah diduga ia sengaja sembunyi untuk sekedar menghingdar dari pandangan orang atau pun para tetangga.
Lobang berukuran sekira 1,5×2 meter itu cukup leluasa untuknya berbaring terlentang, tengkurap atau meringkuk. Toh tak sampai 24 jam, ia hanya mebutuhkan waktu tak lebih dari 13 jam dalam waktu siang. Masuk menjelang pagi, di remang senja ia keluar. Kalau tak singgah ke kebun (yang berjarak sekira 10 meter dari lobang itu) untuk sekedar duduk menatap malam, ia akan langsung pulang. Dengan kehidupan malamnya yang terlatih, dalam waktu yang singkat pun telah mampu masuk rumahnya yang gelap.
Namun kendati kerap sembunyi dan mengisolasikan diri, tetap saja tercium. Tak karena rumahnya dekat langgar, tapi tatkala saban hari menghuni goa dekat kebunnya itu pun sudah banyak yang tahu. Berbatuk yang tertahankan itu kesannya menggeram, wangi rokok linting yang kerap menguar. Baik berasal dari lobang goa atau pun dari dalam rumahnya yang selalu gelap, siapa lagi yang berulah kalau bukan ia sempunya?
Ia lelaki gelap. Wajar jika orang mengatakan itu. Karena jika suka yang terang kenapa setiap siang ia mau membenamkan diri di sebuah lobang gelap. Juga, kenapa ketika malam-malam dalam rumahnya selama itu tak pernah menyalakan lampu. Padahal listrik ia punya, bahkan lampu di langgar itu pun listriknya dari dia. Seolah dengan lampu 5 watt di bagian depan rumahnya merasa lebih dari cukup. Itu pun penyala-pematiannya terpaksa dengan cara, yakni diputar orang langgar sesaat sebelum waktu magrib dan jelang pagi.
“Kalau dipikir, sungguh kasihan nasibnya sampai malang begitu,” ujar Ki Tamim di hadapan para tetangga, yang pagi itu sengaja berkerumun di depan rumahnya, yang juga tak jauh dengan rumah seorang tergunjing itu. Lelaki yang melansia dan jadi ki merebot di langgar itu, seolah tak bosan menceritakan nasib kematian tetangganya selama itu.
“Tapi biarlah, semua itu terjadi atas karmanya sendiri,” lanjut Ki Tamim. Semua yang mendengar berdecak miris, terutama para ibu-ibu. Nyali mereka tampak ciut dan gigil. Terbayang, wujud seram itu akan terus menghantuinya, terutama jika saat hari berganti malam..
Lelaki itu memang telah terfitnah!
**
Sebenarnya isyu itu sudah lama lenyap terkubur waktu. Suasana telah adem-ayem. Namun setelah hampir setahun terlupakan, tiba-tiba kisah serupa muncul lagi, bahkan yang ini ceritanya lebih parah. Semuanya terjadi karena jiwa-jiwa dan pikiran mereka yang lemah dan dangkal.
Sepatutnya yang mesti betanggungjawab adalah Ki Tamim, sebagai orang tertua di lingkungan itu. Kata-katanya yang seolah kebenaran dan bijak, bahkan dalam hal mimpinya yang riwan, malah bak sengaja menebar teror mistis.
“Ia memang lelaki gelap!”
Begitulah berkali ia katakan, bahkan sejak seminggu kepergiannya.
Mungkin kesyuudzonannya timbul dari ulah-ulah Kardian sebelumnya yang agak nakal dan pelit. Nakalnya, ia kerap menyambar gula-kopi dan rokok di tempat hajatan tetangga dengan tangan secepat kilat melebihi tukang sulap.. Pelitnya, nah, inilah sumber utama yang diduga melemparkannya pada kegelapan. Saat berjamaah magrib di langgar itu lampu gelap (karena layanan itu dengan lampu tunggal tanpa stop-kontak), seorang jemaah keluar dari syaf dan meloncat ke rumah Kardian untuk sekedar nekan saklar. Kardian yang pelit dengan teganya membatalkan shalat dan mengejar orang itu dengan hardikan, “Dasar kurang ajar kamu..Kodir, beraninya masuk rumah orang! Ataukah kamu mau maling,hah!?” tuding lelaki itu dengan mata menyala.
Dan kericuhan pun terjadi di langgar itu. Saking ricuh dan lampu tak sampai dinyalakan, jamaah shalat magrib pun bubar. Bahkan saat itu tak ada shalat magrib. Alasannya ya karena kegelapan dari lampu Kardian itu.
“Itu sebenarnya menunjukkan jati dirinya yang memang benar-benar gelap!” seakan mantap Ki Tamim kala itu berkata.
***
Kepergian Kardian telah sampai setahun.
Setelah punya mimpi –riwan, Ki Tamim kembali berkata-kata yang seolah bijak.
“Kegelapan itu terjadi karena dosa dalam hidup.” berhenti sejenak, lalu matanya menyapu reaksi orang-orang di hadapannya. “Arwah seperti Kardian akan terus menggentayang, melayang di antara langit dan bumi. Setelah mengalami derita yang panjang, ia akan terbanting ke jalur yang hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang seram dan gelap,”
Yang mendengar terhipnotis.Terlebih setelah orangtua itu menjelaskan pengalamannya semalam. Dalam keadaan setengah tidur dan terjaga, katanya, tiba-tiba tanganya meraba sosok tubuh mendengkur yang terbaring di sampingnya. Dengkur siapa, ia kenal betul suaranya. Dan ketika mata terbuka sesosok hitam terperanjat dan meloncat lewat jendela yang memang benar terbuka atau mungkin lupa menutupnya.
“Ia pasti langsung masuk lewat pintu belakang rumahnya, yakin saya mendengar suara pintu berderit,” kata Ki Tamim. Semula, sebagian menyangka yang masuk rumah itu Lumah—istrinya Kardian, yang sejak setahun tinggal bersama anak perempuannya di lain RT. Hanya saja, dalam waktu tak tentu ia kadang masuk rumah untuk sekedar menyapu ruang atau ngambil barang yang tertinggal bekas kunjungan siang.
Namun tiba-tiba pikiran mereka berpaling dari kejujuran, hingga tega melayangkan ke hal terbodoh sekalipun. Ilusi yang kian terpupuk itu semakin subur dan berkembang, bahkan menjadi suatu yang nyata-nyata di benak-benak mereka.
Baik di kebun kelapa tepi hutan atau di dekat rumahnya, tak luput selalu menebar suasana seram. Penghuni lobang dan rumah gelap itu, matanya menyala liar, seakan menacatat gerak-gerik orang di luar. Bagi jiwa yang terasuk, telah meluangkan energi negatif untuk terus menggoda kelabilan iman. Tak terkecuali Ki Tamim sebagai perpanjangan tangannya yang dianggap mereka lelaki pencetus kebijakan.
“Benar-benar kematian yang tak sempurna, kasihan dia padahal telah bergelar haji,” masih kata Ki Tamim dalam suatu kerumunan.
“Ya, arwahnya benar-benar gelap. Padahal kuburnya telah beberapa kali disirami air do’a, toh tak mampu mensucikan pendirianya demi menghadap sang khaliq. Ini malah tersangkut pada unsur kebendaan, dan terpaksa harus menjadi makhluk dengan wujud yang seram,” sambung Kodir seperti hotbah. Ia telah terpengaruh oleh dongeng-dongeng lelaki tua itu. Sikap pemuda 37 taunan ini tak pelak seakan mengukuhkan jiwa dan pandangan orang di lingkungan ke-RT-an itu, bahwa arwah Kardian sebenarnya masih akan terus gentayangan sampai hari kiamat.
Hampir setahun setengah, setelah kematian lelaki itu. Tak sepatutnya fitnah kubur itu terus menyebar dan jadi bahan gunjingan. Anehnya, orang sekampung tak satu pun yang mengatakan bahwa itu hanyalah fitnah kubur yang harus dibuang jauh-jauh. Semua seakan percaya, jasad lelaki itu tak diterima oleh bumi. Ruhnya yang kotor dan gelap, telah memilih jasad harimau sebagai penerus hidupnya. Nauzubillahimindzalik.