Puisi Ratna Ning

Uphoria Sisingaan

Gendang ditabuh gamelan bertalu
Senja pada sebuah euphoria
Kau tlah patahkan gelak
Dari niat dari tekad
Irama rancak
Menyongsong beban
Di pundakmu kau bukanlah tuan-tuan
Tapi hamba yang menjungjung tinggi titah
Mengarak sebuah prasasti janji
Hingga mencapai destinasi

Lalu pertarungan bukanlah serupa kepalan tinju
Tapi bersatunya sebuah gerakan pencak dalam irama bersahabat
Tak terbacakah Tuan?
Lihatlah si bocah kecil tertawa, meliukkan kedua tangannya ke udara
Wajahnya merona jingga, tersipuh sorot lembayung yang merangkak senja
Dia si kecil yang diarak para abdi
Bersatu dalam sebuah tandu
Digotong serempak, bergoyang dan bergerak dalam keseragaman laku
Langkahnya meski maju dan terkadang mundur
Tapi tak ada keraguan saat menapak
Yakin, Pasti
Hingga tiba ke pusat sebuah euphoria
Lalu ketika tandu-tandu itu menjejak
Para hamba tersenyum…Bangga

“Nak! Kami tlah memberimu kenangan indah hari ini
Yang akan terus membekas hingga wajah kami pudar dari album-album terlindas masa”

***

Kepergian

Kau tlah katakan tentang jejak
Yang membekas usai gerimis
Dan bukan saja kita cerita tentang rindu yang ranggas
Ketika kepergian merampas siang dan malam kita
Lalu engkau akan berhenti sesaat
Menatap rembulan dalam mata bocah-bocah tercinta
Kemudian senyap di ruang tamu, di meja makan
Di jeda kita bersenda
Perbincangan tentang mimpi-mimpi yang coba kau nakwilkan
Ahh, aku akan menantimu tanpa syarat
Dalam notasi-notasi sunyi, syimponi akan tetap berkumandang

Untuk Sebuah Catatan Usang
Seperti juga Engkau,
Akupun belajar mengeja jejak
Lewat hujan,
Dan airmataku sembunyi dalam curahnya
Seperti juga Engkau
Akupun belajar mengurai kata
Yang berserak dan tak sempat terbaca
Seperti juga Engkau Tuan,
Akupun belajar pada riak air
Yang tenang mengkamuflase gejolak
Tapi ketika aku belajar menyempurnakan catatan
Lewat sekumpulan Fatwa, Nakwil dan Titahnya
Aku tak seperti Engkau, Tuan
Karena menuju jalan Rabbaniku
Itulah rangkuman dan sinopsis
dalam ensiklopedi Akbar ini
***

Di Lorong Pangsapuri, Perempuan itu

Aku kenal ia..
Perempuan yang membisu rangkuli jejak hidup
Sudahlah banyak cerita sia-sia
Dari sekian purnama ia tinggalkan rumah rapuhnya pada ranah kecil yang tlah kehilangan rindu buat ia pulang
Aku kenal ia
Pada keterasingan
Dari keterbuangan aku hingga ranggas di negeri berantah
Aku kenal ia
Seorang perempuan yang dongakkan dagu menjalani kerancuan nasib
Hidup yang menyerah di kubangg gelap
Atau seperti kunang-kunang yang melayang kitari malam, tanpa cahaya.
Aku kenang ia, kini
Perempuan yang sembunyikan pedihnya
Yang meredamkan suara isaknya
Yang membuka topeng rapuhnya, suatu malam di lorong pangsapuri kumal

***
Batu Sembilan, 2014

 

Biodata:
Ratna Ning lahir di Subang tabggal 19 september. Mulai menulis sejak tahaun 1994. Tyulisan pertamanya di muat di media massa remaja populer Kawanku th. 1994. Aktif jadi freeancer sampai tahun 2005. Sepat vakum karena sibuk bekerja, pada tahun 2013 kembali aktif menulis. Buku-bukunya terbit secara antologi dan indie. Ratna Nng sekarang mengasuh rubrik sastra dan budaya di website Subang.

Baca juga Cerpen Ratna Ning

Tinggalkan komentar