Puisi Arif Tunjung Pradana

Duka Masa Purba

Mereka berbisik kepada pepohonan “Tolong, kabarkan berita duka kami”. Perlahan kematian menjemput dengan khidmat, mereda dihantam ketidaksiapan melawan perubahan. Kehidupan-kehidupan baru bermunculan; berkembang-biak dengan leluasa dan tidak semestinya.

Jelaga kerinduan masa purba terus-menerus meraba tubuh-tubuh baru.

 

Membalas Perbuatan

Sekelompok pendosa menyembah dengan segala desakan pertolongan. Tuhan menunjukan jalan yang benar. Murka dan sesat segera menyelusup di tengah-tengah mereka, kemudian sesal dan sesak tumbuh dalam dada, pembuluh darah, dan pemikiran sempit mereka.

 

Pada Manusia

Aku hidup di sela-sela dirimu. Berbisik, bersembunyi, dan tumbuh pada lubang menganga dalam dadamu. Tuhan ataupun rajamu salah kaprah dalam bermuslihat.

Percayalah, neraka adalah tempat ternyaman untuk mencintai kehidupan.

 

Luka Kakiku

Kakiku meraba tanah bergema di pinggiran jurang dengan luka menganga pada bagian samping; tergores air mata. Seorang perempuan mencari-cari sebabnya.

Dalam jurang ada tubuh saling menuduh.

 

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Tinggalkan komentar