[Cerpen] Habitat Sudarmos

Cerpen Otang K.Baddy

Gila! Kiranya telah minuman apa lelaki itu. Juga tak jelas apa dikonsumsinya itu produk imfor, lokal berizin depkes atau sekadar oplosan. Tak ada yang tahu.  Selain ia tampak merasakan gatal yang luar biasa di sekujur serta tak enjoy duduk di kursinya. Tangan dan kakinya tak bisa diam. Jentak-jentik mirip cacing yang kepanasan di musim kemarau. Apakah ia  tengah  mabuk berat?

“Tidaakkk….!”  ia berteriak seraya menggebrak meja sekuatnya. Karuan saja berkas-berkas yang menumpuk itu terjatuh dan tercecer ke lantai.

“Eling, Tuan Mos?”

“Santai aja, Boss. Jangan emosi begitu, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

“Iyalah, kayak  bocah kampung aja, pake cengeng!”

“Tidaaaakkk….!”

Sudarmos pun melompat keluar,  lalu diikuti beberapa anak buahnya yang takut kehilangan. Dari gerak-gerik serta ucapanya terus dicatat tanpa ada yang terlewat. Bahkan ketika lelaki itu berlari  hendak meninggalkan tanggungjawabnya.
*

Sudarmos melempar baju seragamnya. Kepada para pengikutnya ia mengajak untuk menanggalkan segala atribut yang selama ini telah menjadi kebanggaannya.

“Cih, semuanya cuma tikotok, jadi buat apa dipelihara!” katanya seraya  meludah. Demi melupakan kemelut yang  bak mencekik leher, ia mengajak rilek di tepi pantai.. Menurutnya itu merupakan cara terbaik dan harus dilakukan secara total. Dalam arti  tak cukup cuma dengan menikmati desir angin, melainkan harus diwujudkan dengan car berjoget. Demi keloyalan akan janji dan sumpah bawahan, tak seorang pun yang berani menolak. Bahkan beberapa pengawal bersenjata laras panjang pun segera melucuti senjatanya, lantas ikut pula berjoget bersama Sudarmos.

Mereka berojet tanpa musik. Mereka berdendang bersama debur ombak.
**
Sebenarnya bukan suatu kegembiraan, melainkan pelampiasan atas kemelut tanpa ujung selama ini. Sanjung puja atas kemenangannya menjadi seorang bupati terpilih di Saliwong, telah melahirkan lagu-lagu manja dari para pendukungnya. Minta sekian persen ke, minta tender anu ke, minta pulus pulus lainnya –yang padahal nyata-nyata gatal melebihi daun pulus.

Topik yang paling hangat dalam pembicaraan tiada lain mengenai Wisata Karang Toge. Satu agenda pengembangan wisata bahari andalan di kab Saliwong. Belum apa-apa sudah ricuh. Sedianya batu karang yang sebelumnya sempat dikenal sebagai tempat bertapa pemburu nomor togel tersebut hendak dikemas dengan balutan sorga seribu bidadari. Namun wacana gila itu berujung buntu dan saling lempar tanggungjawab. Semua investor yang sempat diundang tak seorang pun ada yang tertarik untuk menanamkan modalnya.

Hampir setiap hari sejak terpilih menjadi bupati,  Sudarmos sering mengadakan rapat darurat. Tapi hasilnya tetap buntu. Segala solusi yang diajukan tak ada yang pas, malah kesannya merupakan hayalan basa-basi belaka. Solusi terakhir yang dianggap dapat memecahkan masalah dengan kepala dingin, Sudarmos telah memilih tepi pantai yang damai. Namun tetap saja gagal, semua seperti benang kusut bercampur tikotok yang sulit diurai.

“Makanya, sejak kini kita semua tak usah kembali ke kantor. Kita terus berjoget saja di sini.”

“Wah?”
“Sampai kapan kelainan cinta ini berlangsung, Bos?”

Sudarmos tak menjawab. Ia terus saja berjoget. Tubuhnya yang semula kekar menjadi lentur. Ia menari gemulai seperti ular. Di benaknya ia mecoba menikmati sorga dengan seribu bidadarinya. Sesekali ia bersalto di atas ombak. Kadang tubuhnya berjungkir di atas pasir.
Melihat majikannya yang bertingkah aneh, para pengikutnya tak cuma cemas. Melainkan bulu kuduk mereka pun  seketika meremang, terlebih ketika melihat muka sang majikan itu berubah seperti kelelawar.

“Jong, saya berhenti jadi bupati, deh!” katanya dengan suara beda.

“Lho, memangnya kenapa.,boss?”

“Makhluk macamku tak mampu jadi pemimpin manusia!”  katanya, sebelum kemudian ia terbang jauh menuju ke habitanya sebagai hewan pemakan buah-buahan(*)

 

Tinggalkan komentar