UNTUK YANG DISANA, HT
Untukmu yang disana.
masihkah dirimu hafal dengan wajahku
wajah yang selalu kau harap rebah di hatimu, lima abad yang lalu
diantara bentangan rindu yang tak bertepi
diantara jarak-jarak yang tak berujung
aku masih mengenang seribu tanya di sini
tentang langit yang lugu
membuatku bisu
dan segalanya untukmu.
masih mengingatmu di sini
masih menggenggam cintamu yang lalu
yang pernah terpahat di hatimu, hanya untukku.
masihkah kau genggam erat rasa itu?
rasa yang pernah kau janjikan pada senja hingga membuatnya tenggelam
rasa yang kau sematkan kan pada petang hingga membuatnya terang
disini aku masih bertanya tentang itu
tentang tiga istana yang akan kita harungi berdua.
KABAR DARI DESA
Di ujung seketsa gelora bengis
di uluran jari mentari sengit
ku lihat sosok seorang perempuan tua layat
dari pecahan cermin-cermin bening yang terpang-pang di mata
sangat terlihat jelas
bahwa perempuan itu sudah meningal
seperti kabar yang kudapat sebelumnya
membekas lengkung di hamparan pasir kelabu yang basah
yang menjadi tumpuan amarah temannya, tempat dimana ia mengaduh.
semoga saja perempuan tua itu korban dari takdir tuhannya
bukan dari takdir amarahnya sendiri.
MALAM MUTIARA KITA
Maret sampai juli.
malam mutiara kita adalah malam minggu, senin dan kamis.
kita relakan tetes peluh deras mengalir
kita relakan jari-jari kita terus menari kekal sampai di penghujung
dan kita relakan mata kita berdarah-darah
demi sang raja yang datang berbondong menyapa kita di malam-malam itu
pastilah kita lupa letih, desah dan urat-urat yang berbisik.
kita jadi jongos
kita jadi budek
kita jadi bodoh
semata tak ingin mengecewakannya.
HARAPAN KITA
Kali ini suara rintik hujan malah lebih sedih dari lagu yang biasa kita dengarkan kawan
dari pagi sampai tengah pengharapan tetap sama tak ada yang beda
semoga saja tak sampai di penghujung nya
menghitung kotak per kotak, ekor per ekor, dan bahkan batang per batangpun kita layani meski cukup melelahkan dan membosankan
kita harus sabar dan iklas kawan
layaknya secarik kertas dan pena yang berada di atas meja
pencatat sejarah kita.
KABAR PAGI
Engkaukah itu, embun yang hinggap di keningku pagi hari
meluap berasa asin yang pernah aku cicipi, engkaukah itu.
engkaukah itu, pembius, perangsang otot-otot kaku sehabis mati, engkaukah itu.
jika ia, maka jiwa-jiwaku kekal di siang dan malam-malam yang beku.
ku kabarkan pada mentari
ku kabarkan pada hujan
ku kabarkan pada angin
bersiaplah, aku menangtangmu
dan kau kan rebah di saku untuk ku tumbal.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)
No. 085232343060
083853208689