CHANDA
Chanda, Garis di bibir itu terhampar kisah lalu
serupa gerakan gelombang sore yang di iringiri sepoi bayu
dan lagu camar yang mulai bisu mengantukkan diriku.
Chanda, kau curi waktu sore itu
kau buat tuli telingaku
kau buat lalai kaki dan tanganku
hingga setiap gemahan
aku lupa harus menari dan bernyanyi
begitupun dibawah sadarku
senjatamu bagai tombak penghisap darah hamzah dulu
kau telah buatku lupa
dimana aku harus tunduk pada kebenaran.
Chanda, kau serupa hujan yang jatuh di tengah-tengah musim kemarau
walau tak mampu menyuburkan tanaman di halaman rumahku
namun aku merasakan kesejukan dalam hatiku
meski ku harus buang jauh.
MATAMU SUNNA
Pada angin timur
aku bertanya tentang matamu yang lupa
Pada senja lamur
aku bertanya tentang wajah bersalin rupa
Apa karena semua telah di murka?
Rindu, rindu, rindu, jadi luka
lalu bagaimana dengan kedamain yang pernah kita sapa
apa takkan menyapa?
aku hanya termangu
andai saja aku bisa seperti bayi
yang damai dengan ibu jarinya sendiri
mungkin aku telah lupa, matamu yang berduri.
AKU INGIN
Aku ingin menjadi penyakit rindu
yang takkan pernah ku rindui
aku ingin mejadi pengukir waktu
yang takkan pernah ku waktui
aku ingin menjadi pengarang lagu
yang takkan pernah ku lagui.
namun aku tak pernah ingin menjadi seperti kamu
yang terus menyakiti.
SAUDARA KU
Sungguh tak seperti yang aku cipta
benih yang telah lama kita tanam
kucoba pupuki dengan mainannya sendiri
namun tawa begitu dalam sembunyi di pekat malam
hingga kini telah berbuah duri, Duri cengkrama malam
Saudaraku, kalian saudaraku!
tak ku pahami faktornya
pupuk atau benar racun kuberi
tak kubiarkan duri itu tumbuh hingga padat
nantinya pasti menusuk kaki kita sendiri
barangkali kita harus mengutuknya
dalam dzikir kita yang sama
hingga nanti, Kembali berbuahi rindu.
KARJE MADURE
Musim kemarau adalah lagu diantara siang dan malam
dimana tontonan jadi tuntunan
dogma suci jadi cacian
kemaksiatan, kebenaran
tanamkan kemurkaan
pada generasi yang di korbankan
tuli, buta, sampai setiap nikmat disiakan
jadi semakin jadi, jadi semakin jadi
setiap karsanya racun mengalir kencang
hingga bermacam jenis ekor menjadi sasaran
menebus dosa dari hasil curian.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)
No. 085232343060
083853208689