Puisi Moh.Romli

CHANDA

 

Chanda, Garis di bibir itu terhampar kisah lalu

serupa gerakan gelombang sore yang di iringiri sepoi bayu

dan lagu camar yang mulai bisu mengantukkan diriku.

 

Chanda, kau curi waktu sore itu

kau buat tuli telingaku

kau buat lalai kaki dan tanganku

hingga setiap gemahan

aku lupa harus menari dan bernyanyi

 

begitupun dibawah sadarku

senjatamu bagai tombak penghisap darah hamzah dulu

kau telah buatku lupa

dimana aku harus tunduk pada kebenaran.

 

Chanda, kau serupa hujan yang jatuh di tengah-tengah musim kemarau

walau tak mampu menyuburkan tanaman di halaman rumahku

namun aku merasakan kesejukan dalam hatiku

meski ku harus buang jauh.

 

MATAMU SUNNA

Pada angin timur

aku bertanya tentang matamu yang lupa

Pada senja lamur

aku bertanya tentang wajah bersalin rupa

 

Apa karena semua telah di murka?

 

Rindu, rindu, rindu, jadi luka

lalu bagaimana dengan kedamain yang pernah kita sapa

apa takkan menyapa?

 

aku hanya termangu

andai saja aku bisa seperti bayi

yang damai dengan ibu jarinya sendiri

mungkin aku telah lupa, matamu yang berduri.

 

AKU INGIN

Aku ingin menjadi penyakit rindu

yang takkan pernah ku rindui

 

aku ingin mejadi pengukir waktu

yang takkan pernah ku waktui

 

aku ingin menjadi pengarang lagu

yang takkan pernah ku lagui.

 

namun aku tak pernah ingin menjadi seperti kamu

yang terus menyakiti.

 

SAUDARA KU

Sungguh tak seperti yang aku cipta

benih yang telah lama kita tanam

kucoba pupuki dengan mainannya sendiri

namun tawa begitu dalam sembunyi di pekat malam

hingga kini telah berbuah duri, Duri cengkrama malam

 

Saudaraku, kalian saudaraku!

tak ku pahami faktornya

pupuk atau benar racun kuberi

tak kubiarkan duri itu tumbuh hingga padat

nantinya pasti menusuk kaki kita sendiri

 

barangkali kita harus mengutuknya

dalam dzikir kita yang sama

hingga nanti, Kembali berbuahi rindu.

KARJE MADURE

Musim kemarau adalah lagu diantara siang dan malam

dimana tontonan jadi tuntunan

dogma suci jadi cacian

kemaksiatan, kebenaran

tanamkan kemurkaan

pada generasi yang di korbankan

tuli, buta, sampai setiap nikmat disiakan

jadi semakin jadi, jadi semakin jadi

setiap karsanya racun mengalir kencang

hingga bermacam jenis ekor menjadi sasaran

menebus dosa dari hasil curian.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)

No. 085232343060

083853208689

Tinggalkan komentar