Oleh Otang K.Baddy
Karena tak mampu baca karakter, cukup saja kamu berlebay, merengek, pura-pura tergila padaku, sebelum kemudian menjebakku di perempatan jalan Rongewu. Satu tempat, arena kebal jiwa fiktif buatanmu. Oke, oke, Rustamah. Permainan kartu lusuh atau catur yang tengah kita mainkan. Bermain secara liar maupun beradab terserah mana suka. Yang penting imajinasimu bisa liar.
Oke, oke Rustamah –aslinya mungkin bisa saja Karwati, Kartamsah atau tak mustahil Kaswijan. Mau wanita sange atau lelaki pratpretprot yang muruput –abaikan dulu soal kejujuran, karena kejujuran kadang tercetak pada poster atau baliho para politisi yang kerap terpasang tepi jalan raya, tempat strategis atau di kalender dan kaos. Ya, kadang terkesan menggelitik pokoknya. Betapa tidak, bedak dan gincu di muka yang mereka reka tak pelak dari 50% resfondes dapat terpedaya. Apalagi jika ditambah senyum santun bersahaja. Wow selain agamis kesannya menunjunjung budaya para leluhur yang bersahaja dan madani.
Baiklah, sekarang aku mulai berangkat dengan muka badak. Mungkin karena terlalu larut membayangkan wajahmu, jenis kelaminmu, jengjang leher dan dengus napasmu saat beradu nanti, kepalaku sempat terbanting di pintu bus. Dakk! Demikianlah sampai mulutku cerawak. Untungnya para penumpang tak ada yang tahu saat kutu-kutu dari batok kepalaku berloncatan ke kepala mereka. Beberapa lembar uban tersangkut di engsel bus. Biarkanlah suasana ngawur dan liar. Dimana satu penokohan aku yang terjerat oleh Rustamah, tokoh yang dibuatnya sendiri.
Namun aku berharap. Semoga kau benar Rustamah, bukan Kartoji atau Kaswijan yang sengaja bikin akun palsu dengan nama wanita cantik elegan. Soal daki, jarang gosok gigi, penyuka sambal terasi dan jengkol, tak berjilbab, tak ngerti budaya arab dan eksim di atas lutut, tak perlu dipermasalahkan. Begitupun soal kebiasaan sering kentut bak suara angsa atau suara motor butut di kamar mandi yang sering kamu curahkan sebagai bentuk penyimpangan jangan jadi pikiran Lagu silung atau nuansa humor itulah malah yang membuat akang senang. Yang penting nyai bener suka pada Akang yang sudah 5 tahun menduda.
