Latihan Bercerita
Sehari sebelum Idul Fitri tahun 2017 ini, ibuku menghadap yang Maha. Saat nafasnya memburu, dan detak nadi sudah tak terasa di kakinya, lalu bola matanya berputar 180 derajat, kami yang mengantarkannya dengan “talkin”, segera menangis serempak. Nafas terakhir berlalu. Innalillahi…
Aku berserta kakak dan adik-adikku, bibi dan sepupu, juga para tetangga, segera saling pandang. Bidan yang memeriksa kondisi tubuhnya dengan stateskop, menyatakan beliau sudah mangkat. Lalu kami tutupkan kelopak matanya. Bibirnya dikatupkan, kemudian ditutupi dengan samping corak batik warna coklat.
Aku makin mengerti, kenapa kain batik yang digemari para orang tua cenderung warna coklat. Karena coklat dekat pada warna tanah, dan tanah adalah pralambang dari muasal sekaligus tempat kembali. Dan setiap yang bernafas, akan “mudik” ke Lebaran masing-masing.
Pelayat segera berdatangan, cukup banyak, meski sebagian tetangga sudah mudik. Mungkin karena ibuku seorang guru mengaji, dan aktivis PKK untuk tingkat madrasah/mesjid, maka murid-muridnya segera memenuhi rumah kami. Usai dimandikan, dan disalatkan, aku mengantarkannya ke peristirahatan terakhir di Kabupaten Subang, tentu bersama warga dan sanak famili.
Di Subang, kerabat keluarga telah menunggu, lalu menyalatkannya. Setelah itu, kami mengatarkan jenazah ke pemakaman keluarga. Di sana, telah menunggu kakek dan nenek dari pihak ayah, para uwa dan sepupu, dan tentu ayahku yang lebih duluan berkalang tanah. Iring-iringan yang mengantarkan ayahku dari Bandung kala itu, jumlahnya jauh lebih banyak, diperkirakakn dua kali lipat. Aku teringat kejadian sembilan tahun silam, saat jasad ayahku dibenamkan pada liang lahat, lalu ditutup dengan padung, adikku yang “keras kepala”, meneteskan air mata. Tentu aku juga. Namun aku segera menghapusnya. Tapi saat ibuku yang dimasukkan ke liang lahat, justru aku yang duluan menitikkan air mata.
Aku masih belum percaya bahwa beliau telah berpulang. Pagi-pagi sekitar pukul 9, aku masih menyapanya. Malamnya, ia masih tersenyum dan menggenggam jemariku. Ada kontak batin yang cukup kuat antara ibuku denganku. Berkali-kali ia sakit, tak lama kemudian jadi pulih setelah kujenguk. Juga malam itu, saat ia menggenggam jemariku, aku masih berpikir bahwa ia kembali pulih. Pada akhirnya, manusia hanya memiliki prakiraan dan keinginan, tapi urusan maut, tak seorang pun dapat mempercepat atau menundanya.
Selesai hotbah terakhir dalam ritual pemakaman itu, dan para pelayat melangkah balik badan, aku sempat menekur di papan nisan. Mengenangnya, dan berdoa, dan seakan berbisik kepadanya. Dan serasa ia mendengarku. Aku yakin itu hanya perasaan. Sebelum akhirnya berlalu, aku sempat merenung di gigir nisan itu. Bila aku disolatkan, lalu dimakamkan, akan sebanyak inikah para pendoa yang ikhlas mengantarku untuk berkalang tanah?
Telah ratusan kali kusaksikan orang-orang dikuburkan, termasuk ibu dan ayahku. Tak seorang pun dari mereka yang membawa kekayaan, selain tiga helai kain kafan, setampuk kapas, serbuk kamper, dan minyak Si Nyong-nyong atau Putri Duyung. Hanya amal perbuatan yang menyertai manusia ke akhirat, dan sungguh kesenangan dunia termasuk mengumpulkkan material, adalah permainan belaka.
Tetapi sejujurnya, aku ingin memiliki kapal pesiar untuk sekolah terapung, yang bisa membelah samudra, dan mengenalkan lautan luas kepada anak bangsa. Bukankah nenek moyang kita para pelaut, dan negeri ini dikelilingi laut? Tapi kenapa lautan dikuasai orang asing?
Keinginan itu terlalu angkuh dan jauh. Ada kesan sombong di dalamnya. Padahal sekarang ini, peralatan kerjaku saja masih terbatas. Kalau memang mau mengajar, mengabdi, kenapa pula harus menunggu kapal pesiar. Bukankah selama ini aku biasa menyampaikan materi pelatihan menulis di manapun? Bukankah pernah kusampaikan pelatihan menulis di hotel, di kelas, di rumah ibadat, di emperan jalan, di bawah pohon beringin, bahkan di kuburan? Tidak, sungguh tidak mesti harus menunggu kapal pesiar untuk berbuat.
Ibu dan bapak guru yang budiman, sungguh tidak pernah kurasakan gairah seperti sekarang ini. Aku bersyukur, dapat ikut menyaksikan suatu era di mana para guru begitu antusias berlatih menulis, kemudian menulis, kemudian membukukannya. Itikad para guru itu, bagiku, adalah secercah cahaya “aufklarung”, adalah pengharapan akan terbitnya fajar pencerahan. Bangsa ini akan dan pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik, yang lebih kreatif, yang sanggup bersaing di masa depan dengan bangsa-bangsa yang jauh lebih maju dan menguasai berbagai sendi kehidupan.
Sudah sejak tahun 2000-an, aku sering berkoar-koar di media massa, bahwa perubahan negeri ini tidak bisa diharapkan lahir dari para politikus zaman sekarang. Sebab kebanyakan dari mereka nyaris serupa dan semuka, yaitu muka badak. Ujung perjuangan para politikus adalah berebut kekuasaan. Pameo yang berbunyi “Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang abadi adalah kepentingan,” teramat vulgar dipertontonkan oleh para politikus, bahkan termasuk para politikus dari kalangan muslim. Bapak dan Ibu tentu masih ingat, siapa yang mengangkat Gusdur, dan siapa pula yang menurunkannya.
Perubahan ke arah yang lebih beradab, juga sulit diharapkan dapat lahir dari kalangan para pengusaha. Di dalam pikiran mereka, kekayaan alam yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, tak lebih dari aset yang dapat diperjual-belikan. Bila tidak menguntungkan, maka bisnis garam ditinggalkan. Alhasil, harga garam tiba-tiba menohok ulu-hati bangsa yang hidupnya dikelilingi lautan.
Pun para agamawan, sepanjang mereka masih menjual ayat-ayat suci untuk kepentingan yang lebih duniawi, maka harapan akan lahirnya era pencerahan, atau era ufklarung menurut orang Jerman, rasanya masih jauh panggang dari api. Maka betapa kita saksikan belakangan ini, cukup banyak ustad yang berpenampilan seperti artis, atau berlomba melawak dalam televisi. Peringatan yang berbunyi: “Janganlah kalian menjual ayat-ayat Kami dengan harga yang murah, sedangkan kalian menggenggam kitab suci,” seakan hanya rambu laluintas menjelang berangkat dan pulang kerja.
Kepada para gurulah aku berharap. Lebih jauh lagi, di lengan para guru kemajuan peradaban bangsa ini dapat diharapkan. Untuk hal ini, tentu sudah banyak contohnya. Jepang, Mekkah, Yunani, dan negara-negara maju, adalah bangsa-bangsa yang menghormati dan memberikan keistimewaan kepada para guru, disebabkan guru adalah agen perubahan, adalah yang mencetak sumber daya manusia. Tetapi di negeri “ing ngarso sung tulodo” ini, eksistensi guru terasa dibungkam, dan daya juang mereka digembosi, sehingga guru menjelma jadi sapi perah bagi orang dinas, dan menjelma jadi robot bagi para perancang kurikulum dan administrasi. Betapa gila, hanya mengubah kata “A” (SMA) menjadi “U” (SMU), dan mengembalikannya lagi ke “A” (SMA), uang milyaran rupiah kala itu, digelontorkan untuk mengganti bet, plang, stempel, dan serluruh atribut.
Guru sudah waktunya menjelma sebagai “ummatan wasathon,” yaitu warga yang paripurna, dan mengemban jiwa kerasulan. Ciri-ciri kerasulan adalah beriman dan bertakwa, kritis dan menjadi pembelajar sepanjang hayat, berbuat untuk keadilan serta kemaslahatan lingkungan. Untuk melaksanakan ketiga perkara tersebut, terkadang rasul dimusuhi oleh umat sekampung, bahkan oleh keluarganya sendiri. Tentu para guru di Indonesia tidak perlu sedahsyat rasul. Cukup berubah dari robot penyampai pelajaran, menjadi manusia pembelajar yang sungguh-sungguh. Dengan kesungguhan dalam belajar, siapapun punya harapan akan sampai pada aras “sangkan paraning dumadhi”, atau pada prinsip “aparigraha” dan “nirartha”. Salah satu metode belajar yang cukup efektif, menurut hematku, adalah dengan menggunakan logika terbalik: Menulislah, baru kau akan melakukan IQRA!
(dikopas dari Fb Doddi Ahmad Fauji)


