Arsip Kategori: Esai

Latihan Bercerita

Latihan Bercerita

Sehari sebelum Idul Fitri tahun 2017 ini, ibuku menghadap yang Maha. Saat nafasnya memburu, dan detak nadi sudah tak terasa di kakinya, lalu bola matanya berputar 180 derajat, kami yang mengantarkannya dengan “talkin”, segera menangis serempak. Nafas terakhir berlalu. Innalillahi…

Aku berserta kakak dan adik-adikku, bibi dan sepupu, juga para tetangga, segera saling pandang. Bidan yang memeriksa kondisi tubuhnya dengan stateskop, menyatakan beliau sudah mangkat. Lalu kami tutupkan kelopak matanya. Bibirnya dikatupkan, kemudian ditutupi dengan samping corak batik warna coklat.

Aku makin mengerti, kenapa kain batik yang digemari para orang tua cenderung warna coklat. Karena coklat dekat pada warna tanah, dan tanah adalah pralambang dari muasal sekaligus tempat kembali. Dan setiap yang bernafas, akan “mudik” ke Lebaran masing-masing.

Pelayat segera berdatangan, cukup banyak, meski sebagian tetangga sudah mudik. Mungkin karena ibuku seorang guru mengaji, dan aktivis PKK untuk tingkat madrasah/mesjid, maka murid-muridnya segera memenuhi rumah kami. Usai dimandikan, dan disalatkan, aku mengantarkannya ke peristirahatan terakhir di Kabupaten Subang, tentu bersama warga dan sanak famili.

Di Subang, kerabat keluarga telah menunggu, lalu menyalatkannya. Setelah itu, kami mengatarkan jenazah ke pemakaman keluarga. Di sana, telah menunggu kakek dan nenek dari pihak ayah, para uwa dan sepupu, dan tentu ayahku yang lebih duluan berkalang tanah. Iring-iringan yang mengantarkan ayahku dari Bandung kala itu, jumlahnya jauh lebih banyak, diperkirakakn dua kali lipat. Aku teringat kejadian sembilan tahun silam, saat jasad ayahku dibenamkan pada liang lahat, lalu ditutup dengan padung, adikku yang “keras kepala”, meneteskan air mata. Tentu aku juga. Namun aku segera menghapusnya. Tapi saat ibuku yang dimasukkan ke liang lahat, justru aku yang duluan menitikkan air mata.

Aku masih belum percaya bahwa beliau telah berpulang. Pagi-pagi sekitar pukul 9, aku masih menyapanya. Malamnya, ia masih tersenyum dan menggenggam jemariku. Ada kontak batin yang cukup kuat antara ibuku denganku. Berkali-kali ia sakit, tak lama kemudian jadi pulih setelah kujenguk. Juga malam itu, saat ia menggenggam jemariku, aku masih berpikir bahwa ia kembali pulih. Pada akhirnya, manusia hanya memiliki prakiraan dan keinginan, tapi urusan maut, tak seorang pun dapat mempercepat atau menundanya.
Selesai hotbah terakhir dalam ritual pemakaman itu, dan para pelayat melangkah balik badan, aku sempat menekur di papan nisan. Mengenangnya, dan berdoa, dan seakan berbisik kepadanya. Dan serasa ia mendengarku. Aku yakin itu hanya perasaan. Sebelum akhirnya berlalu, aku sempat merenung di gigir nisan itu. Bila aku disolatkan, lalu dimakamkan, akan sebanyak inikah para pendoa yang ikhlas mengantarku untuk berkalang tanah?

Telah ratusan kali kusaksikan orang-orang dikuburkan, termasuk ibu dan ayahku. Tak seorang pun dari mereka yang membawa kekayaan, selain tiga helai kain kafan, setampuk kapas, serbuk kamper, dan minyak Si Nyong-nyong atau Putri Duyung. Hanya amal perbuatan yang menyertai manusia ke akhirat, dan sungguh kesenangan dunia termasuk mengumpulkkan material, adalah permainan belaka.

Tetapi sejujurnya, aku ingin memiliki kapal pesiar untuk sekolah terapung, yang bisa membelah samudra, dan mengenalkan lautan luas kepada anak bangsa. Bukankah nenek moyang kita para pelaut, dan negeri ini dikelilingi laut? Tapi kenapa lautan dikuasai orang asing?

Keinginan itu terlalu angkuh dan jauh. Ada kesan sombong di dalamnya. Padahal sekarang ini, peralatan kerjaku saja masih terbatas. Kalau memang mau mengajar, mengabdi, kenapa pula harus menunggu kapal pesiar. Bukankah selama ini aku biasa menyampaikan materi pelatihan menulis di manapun? Bukankah pernah kusampaikan pelatihan menulis di hotel, di kelas, di rumah ibadat, di emperan jalan, di bawah pohon beringin, bahkan di kuburan? Tidak, sungguh tidak mesti harus menunggu kapal pesiar untuk berbuat.

Ibu dan bapak guru yang budiman, sungguh tidak pernah kurasakan gairah seperti sekarang ini. Aku bersyukur, dapat ikut menyaksikan suatu era di mana para guru begitu antusias berlatih menulis, kemudian menulis, kemudian membukukannya. Itikad para guru itu, bagiku, adalah secercah cahaya “aufklarung”, adalah pengharapan akan terbitnya fajar pencerahan. Bangsa ini akan dan pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik, yang lebih kreatif, yang sanggup bersaing di masa depan dengan bangsa-bangsa yang jauh lebih maju dan menguasai berbagai sendi kehidupan.

Sudah sejak tahun 2000-an, aku sering berkoar-koar di media massa, bahwa perubahan negeri ini tidak bisa diharapkan lahir dari para politikus zaman sekarang. Sebab kebanyakan dari mereka nyaris serupa dan semuka, yaitu muka badak. Ujung perjuangan para politikus adalah berebut kekuasaan. Pameo yang berbunyi “Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang abadi adalah kepentingan,” teramat vulgar dipertontonkan oleh para politikus, bahkan termasuk para politikus dari kalangan muslim. Bapak dan Ibu tentu masih ingat, siapa yang mengangkat Gusdur, dan siapa pula yang menurunkannya.
Perubahan ke arah yang lebih beradab, juga sulit diharapkan dapat lahir dari kalangan para pengusaha. Di dalam pikiran mereka, kekayaan alam yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, tak lebih dari aset yang dapat diperjual-belikan. Bila tidak menguntungkan, maka bisnis garam ditinggalkan. Alhasil, harga garam tiba-tiba menohok ulu-hati bangsa yang hidupnya dikelilingi lautan.
Pun para agamawan, sepanjang mereka masih menjual ayat-ayat suci untuk kepentingan yang lebih duniawi, maka harapan akan lahirnya era pencerahan, atau era ufklarung menurut orang Jerman, rasanya masih jauh panggang dari api. Maka betapa kita saksikan belakangan ini, cukup banyak ustad yang berpenampilan seperti artis, atau berlomba melawak dalam televisi. Peringatan yang berbunyi: “Janganlah kalian menjual ayat-ayat Kami dengan harga yang murah, sedangkan kalian menggenggam kitab suci,” seakan hanya rambu laluintas menjelang berangkat dan pulang kerja.
Kepada para gurulah aku berharap. Lebih jauh lagi, di lengan para guru kemajuan peradaban bangsa ini dapat diharapkan. Untuk hal ini, tentu sudah banyak contohnya. Jepang, Mekkah, Yunani, dan negara-negara maju, adalah bangsa-bangsa yang menghormati dan memberikan keistimewaan kepada para guru, disebabkan guru adalah agen perubahan, adalah yang mencetak sumber daya manusia. Tetapi di negeri “ing ngarso sung tulodo” ini, eksistensi guru terasa dibungkam, dan daya juang mereka digembosi, sehingga guru menjelma jadi sapi perah bagi orang dinas, dan menjelma jadi robot bagi para perancang kurikulum dan administrasi. Betapa gila, hanya mengubah kata “A” (SMA) menjadi “U” (SMU), dan mengembalikannya lagi ke “A” (SMA), uang milyaran rupiah kala itu, digelontorkan untuk mengganti bet, plang, stempel, dan serluruh atribut.
Guru sudah waktunya menjelma sebagai “ummatan wasathon,” yaitu warga yang paripurna, dan mengemban jiwa kerasulan. Ciri-ciri kerasulan adalah beriman dan bertakwa, kritis dan menjadi pembelajar sepanjang hayat, berbuat untuk keadilan serta kemaslahatan lingkungan. Untuk melaksanakan ketiga perkara tersebut, terkadang rasul dimusuhi oleh umat sekampung, bahkan oleh keluarganya sendiri. Tentu para guru di Indonesia tidak perlu sedahsyat rasul. Cukup berubah dari robot penyampai pelajaran, menjadi manusia pembelajar yang sungguh-sungguh. Dengan kesungguhan dalam belajar, siapapun punya harapan akan sampai pada aras “sangkan paraning dumadhi”, atau pada prinsip “aparigraha” dan “nirartha”. Salah satu metode belajar yang cukup efektif, menurut hematku, adalah dengan menggunakan logika terbalik: Menulislah, baru kau akan melakukan IQRA!

(dikopas dari Fb Doddi Ahmad Fauji)

Kiamat Sudah Dekat

Catatan Kecil (7) Sugiono Mp

Sugiono Mpp

Jangan kaget, itu cuma ilusiku. Tapi bukan tanpa alasan. Bermula dari menyimak tulisan-tulisan Hudan Hidayat belakangan ini, yang asyik bicara tentang kematian. Bahkan ia bilang, “Kematian dalam bahasa – bukan kematian yang nyata.” Atau, ada irama kematian dan bukan irama kehidupan. Luar biasa [sungguh pun ia juga mengulas karya-karya para sastrawan baik di dalam maupun di manca negara, yang bicara tentang kematian], seolah ia sedang jatuh cinta pada dunia yang dalam realitas terabaikan walau jelas suatu keniscayaan.
Lanjutkan membaca Kiamat Sudah Dekat

Migrasi Hujan di Tubuh Puisi

Oleh: Matroni Muserang*

Puisi dan pencipta puisi selalu berdampingan berjalan bermesraan. Puisi juga makhluk yang diciptakan oleh pencipta. Begitulah penjelasan judul di atas yang saya ambil dari antologi puisi M.Fauzi yang berjudul migrasi hujan. Saya ingin melihat antologi puisi ini dari sisi filosofis. Apa migrasi dan apa hujan dalam puisi Fauzi. Dengan mencari makna migrasi dan hujan, maka puisi tidak untuk puisi, akan tetapi puisi juga untuk publik yang bisa dipahami dan dinikmati, sehingga para pencari keilmuan akan menemukan sumbangsih keilmuan terhadap perkembangan pengetahuan ke depan. Lanjutkan membaca Migrasi Hujan di Tubuh Puisi

Memudarnya Sastrawan Publik

Oleh: Matroni Musèrang*

Indonesia pada umumnya dan Yogyakarta khususnya, akhir-akhir ini, bukanlah tempat yang adem, nyaman untuk membaca WS. Rendra, Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Wiji Tukul, Sitor Situmorang, Umbu Landu Paranggi, Umar Kayam, Romo Mangun dan Kuntowojoyo. Meskipun kepenyairannya cukup dikenal dan beberapa sajaknya menjadi wacana dan didiskusikan di kampus-kampus dan komunitas-komunitas, namun terasa jauh jarak antara diskusi dan aksi, keterkenalan mereka dalam berproses, menciptakan sejarah sastra Indonesia dan apa yang sudah dan mungkin bisa kita kembangkan darinya Yogyakarta secara khusus dan Indonesia secara umum.

Kita boleh mencela, mengkritik, bahkan membenci sajak-sajak mereka (WS. Rendra, Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Wiji Tukul, Umbu Landu Paranggi, Umar Kayam, Romo Mangun dan Kuntowojoyo). Tapi rasanya banyak orang suka dengan berbagai acara sastra, diskusi sastra, seminar sastra dan banyak orang suka pada sisi mereka sebagai manusia yang bebas mengekspresikan imajinasinya dan gairah kreativitasnya, seolah-olah hidup tak beraturan. Namun kita mengelu-elukan dengan memperingati dan selalu menyebut mereka sebagai sastrawan, meskipun belum tentu kita mau atau mampu, mengikuti jejaknya karena darinya kita berharap bahwa kran kepentingan sosial-kemasyarakatan dan kepentingan publik bisa terus dibela dan diperjuangkan.

Mereka adalah pemikir, ilmuwan dan sastrawan publik dengan santun memancing pikiran dan imajinasi kita, yang seolah-olah merongrong kemapanan dan realisme-strukturalisme bukanlah filsafat yang disukainya. Mereka semacam bintang film dengan senjata pemikiran, dan ketajaman kata-kata yang darinya kita berharap apa yang tak dipikirkan dari kelompok kepentingan dan partai politik dan kita berharap kepada mereka apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Dari orang seperti mereka, kita bisa berharap muncul keberanian-keberanian sikap dan kesediaan untuk menjadi teman, menjadi speaker kebenaran dengan segala ongkos, termasuk hidup “kaya pengetahuan” dan di usir dari panggung kepahlawanan.

Sosok mereka yang matang dan sekaligus berani, terkadang diromantismekan oleh pemuda. Secara sosial-spikologis mereka lah kelompok yang paling mungkin untuk hidup bohemian. Pemuda yang merasa bebas dari nasehat orang tua, pemuda yang tidak memiliki tanggungjawab mencari nafkah untuk menghidupi keluarga sendiri. Romantisme seperti yang pernah digambarkan oleh Ben Aderson tentang revolusi pemuda pada tahun 1972.

Untuk orang-orang seperti mereka itu, Yogyakarta secara khusus dan Indonesia secara umum hari ini bukanlah kota yang ramah. Sebab hari ini yang dinomersatukan di sini sekarang adalah “kuliah cari ijasah-karir” dan “profesionalisme”. Dan dua kata ini seperti mantra suci yang harus di zikirkan setiap malam dan siang hari untuk mengumpulkan sebanyak mungkin uang dari keahlian teknis yang maknanya semakin sempit se-sempit-sempitnya. Sesudah itu waktu senggang dihabiskan di tempat wisata, di jalan-jalan raya yang semakin macet, dengan dana hidup yang terus mahal, pikiran dan hati didorong terus untuk menjauh dari humaniora, pada novel, puisi, cerpen, pada literatur antropologi, psikologi, sejarah, dan filsafat yang mempertajam kepekaan kita pada manusia, mempertebal rasa gotong royong kita, sesuatu yang diagungkan dalam karya-karya mereka. Ketika waktu kita hilang tanpa makna, sementara kita terus dikejar target, bukankah humaniora makin tampak tak bermaknanya, ini sejalan dengan prediksi yang pernah dilontarkan Jurgen Habermas?

Maka tidak nyaman membaca karya mereka hari ini, sementara mereka lebih mengedepankan manusia dan kemanusiaan, Indonesia menuntut agar kita lebih rela tunduk pada orang asing, dan lebih individualistik-pragmatis-materialistik. Saya tak bisa membayangkan bagaimana seandainya WS. Rendra, Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Wiji Tukul, Romo Mangun dan Kuntowojoyo masih ada di tengah-tengah tungganglanggangnya Indonesia, mungkin mereka akan lebih sering difitnah dan dikafirkan bahkan dimusuhi, mungkin tidak ada keberanian untuk menciptakan teori sendiri dan berjuang atas nama rakyat yang sebenarnya, sebab karya-karyanya tidak dimaknai dan direnungkan dengan serius, dan saya ragu apakah Romo Mangun masih mau bersama rakyat di Yogyakarta, apakah Pram masih bisa membuat karya sehebat karya-karyanya terdahulu, apakah Umbu masih layak di sebut presiden penyair, sementara ada penyair yang menyebut dirinya presiden penyair, apakah Kuntowijoyo akan marah-marah lagi karena kita hanya mengkonsumsi teori-teori orang lain, apakah Wiji Tukul akan melawan ketidakadilan dan koruptor, apakah Rendra akan mengkritik habis para birokrat sementara birokrat santai saja, apakah Chairil Anwar akan mencuri buku lagi untuk proses kreativitasnya, apakah Sitor Situmorang akan memberikan pemahaman para politisi yang kini suka berdebat di tv-tv?

Merenungkan mereka di Indonesia atau di Yogyakarta hari ini, teringat akan judul esai ini “memudarnya sastrawan publik” sastrawan/penyair kita hari ini dan orang-orang yang mengaku sastrawan.penyair belakangan ini mayoritas sudah tidak mau lagi hidup sebagai bohemian, menghabiskan waktu senggang untuk berdiskusi, berdialektika, berpikir serius tentang hubungan antara berbagai disiplin keilmuan dan menulis, membaca tentang berbagai problem sosial dan public yang bisa dibaca oleh kalangan terdidik, untuk menyadarkan, mencerahkan dan berdialog dengan mereka.

Tiba-tiba kita lebih memilih hidup berisiko di kota-kota, lebih suka untuk hidup lebih teratur dan disiplin, lebih siap nikah, dengan konsep KB, berakhir pekan dengan nonton film di bioskop, nonton televise, nonton bola di stadion, kita jarang di warung-warung atau di rumah-rumah sesepuh untuk membahas problem publik dan wajar jika karyanya dicirikan oleh ketidakterbacaannya oleh publik, dan ir-relevansinya dengan keseharian.

Saya selalu iri pada tahun 1980-an dan 1999-an, ketika membaca sejarah kesusastrawan dan kesanstrawanan Indonesia dengan generasi Goenawan Mohamad yang tumbuh subur dengan iringan bacaan yang bermutu, seprti Horison, Budaya djaya yang terbit teratur. Namun saya senang masih bisa membaca buku-buku sosial-humaniora yang dikeluarkan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS), seri filsafat Driyarkara, jurnal Filsafat UGM. Yang lebih memprihatinkan penerbitan makin merosot mutunya. Tokoh-tokoh buku lebih PD memajang buku-buku how to dan self help yang seringkali best sellers. Orang-orang masa kini sudah kehabisan daya dan energi untuk membaca karya-karya yang merangsang pemikiran dan menuntut untuk berpikir.

Maka saya memutuskan untuk tidak pergi ke toko buku karena di sana tidak dipajang karya Nietzsche, Kierkegaard, Sartre, Arendt atau Kafka, Pramdya atau Chairil yang menarik untuk dilirik. Saya juga tidak akan ke warung-warung kopi yang bersaingan satu sama lain, selain harga kopi mahal di sana, karena di dalamnya ada para aktivis, politisi dan pengusaha yang mempertukarkan kepentingan demi kepentingan.

Tapi jarak antara mereka dengan kita hari ini bukan saja tampak pada sulitnya sisi bohemiannya, yang menjadikan kesastrawanan/kepenyairannya sebagai sastrawan publik untuk kita refleksikan hari ini. Kesenjangan yang menonjol dapat kita lihat dari apa yang mereka idealkan untuk berbuat secara riil atau tidak dan apa yang secara aktif-aktual kita lakukan.

Apakah sekarang ini yang disebut zaman jahiliyah, zaman dimana perang ideologi, pemikiran tertentu disebar untuk meracuni keilmuan kita. Jangan-jangan kita masih berada dalam posisi tragis, walau pun semangat pemuda berkoar-koar, namun pemuda masih ragu-ragu karena lahir dari ketidaksukaan membaca buku bermutu, pemuda banyak berpegangan pada “lawan”, dan “hidup atau mati”, sehingga pemuda banyak yang hanya hafal nama-nama sastrawan besar yang kemudian dengan PD mengutipnya tanpa tahu maksudnya, sebab bukan hanya namanya yang mampu memperjuangkan kemerdekaan manusia dan vitalitas hidup, tentang kedamaian, cinta, dan kemanusiaan. Apalagi sastrawan hari ini memang bukan tipe orang yang serius, bagaimana mungkin kita akan nyaman membaca karya-karya mereka hari ini?

Madura, 21 Juli 2016

 

* Matroni Musèrang, Esais dan penyair

Hp; 085233199668

Menyelamatkan Jejak di Kehidupan yang Singkat

Oleh: Nasrul M. Rizal

Banyak orang yang terlahir ke dunia ini, namun hanya segelintir saja yang dikenal oleh kebanyakan orang. Apakah kalian termasuk yang terkenal? Namun bagaimana jika sudah meninggal, masihkah dikenal? Boleh jadi lenyap begitu saja, dicerna oleh bumi, hilang di ingatan. Tapi ada satu cara supaya nama kita bisa abadi walau kita mati. Ya, menciptakan karya. Sebagaimana yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Itulah yang saya maksudkan dengan jejak. Menyematkan jejak melalui karya tulis.

Keinginan menulis buku lahir dari teman saya. Sebelum perpisahan (SMA) dia menulis sebuah buku dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Hal itu yang menjerumuskan saya untuk datang ke toko buku, ingin membeli bukunya. Dikarenakan baru pertama kali datang ke toko buku yang super komplit –karena di Garut tidak ada toko buku besar– saya ngiler melihat ribuan buku yang berjajar rapih. Saya mencari buku karya teman saya di setiap sudut toko. Sayangnya tidak saya temukan walau sebiji. Kepalang tanggung sudah di toko buku, saya memutuskan membeli beberapa buku. Kala itu buku Tere Liye (yang kemudian menjadi penulis favorite saya)

Sepulangnya dari toko buku saya menelepon teman saya. Dia tertawa bahak, lalu berkata, “Den, buku itu udah ditarik dari toko dan sudah gak dicetak lagi. Itukan buku tahun 2012 dan sekarang 2013, kalau pun ada juga, paling bekas atau dimakan rayap di gudang.”

Hmm.. saya merenung, buku Tere Liye yang saya beli bahkan diterbitkan tahun 2008 tapi sekarang (2013) masih ada, sedangkan buku teman saya sudah hilang di pasaran. Sebegitu ketat kah persaingan di dunia perbukuan?

Kata demi kata saya baca, lembar demi lembar saya cerna. Tidak terasa buku setebal 360 halaman bisa selesai dibaca dalam hitungan hari saja. Saya baru sadar ternyatadaya pikat novel sangat luar biasa. Andaikan buku kuliah yang dibaca, setidaknya perlu satu tahun untuk melahapnya. Berkat buku 360 halaman itu, keinginan saya untuk menulis bertambah. Ternyata apa yang dikatakan kebanyakan orang itu benar; penulis hebat ialah mereka yang mampu memberi inspirasi. Dan langkah pertama seorang penulis hebat adalah menulis. Kapan ya kira-kira saya bisa mulai menulis?

Di penghujung tahun 2014, saat reuni SMA, teman saya –perempuan- memaksa untuk menulis sebuah cerita yang pernah kami alami, di mana saya dan dia menjadi tokoh utamanya. Ia pula menjerumuskan saya datang ke toko buku, sehingga perlahan tapi pasti mencintai dunia literasi. Dengan berbagai pertimbangan, saya pun memutuskan untuk menulis cerita tersebut. Dan ini menjadi debut pertama saya berkecimpung di dunia tulis-menulis.

Tidak mudah untuk mempertemukan kata, mengawinkan kalimat, melahirkan paragraf. Walaupun saya masih ingat betul setiap kejadiannya, tetap saja tidak mudah untuk merangkainya dalam barisan kata. Baru beberapa kata ditulis, saya terdiam, lalu menghapusnya lagi, mengganti dengan yang baru, setelah diganti malah saya menyesal telah menggantinya. Ratusan hari saya habiskan untuk menulis cerita tersebut, berusaha menjadikannya sebagai buku. Frustasi senantiasa menghantui. Godaan untuk berhenti kian merajai. Saya membuktikan, menulis tidak semudah mencorat-coret kertas tak karuan.

Setelah satu tahun berjuang untuk menulis, akhirnya saya bisa merampungkannya.Sebuah buku lahir dengan judul ‘Ilusi Hati’. Saya menjadikan buku tersebut sebagai kado ulang tahunn teman perempuan saya. Bersama dengan buku itu, saya berjanji pada dia; “suatu saat dia akan membaca buku di mana penulisnya ialah saya, diterbitkan oleh penerbit ternama”. Tidak, ‘Ilusi hati’ tidak diterbitakan penerbit, hanya diprint lalu diberi cover seadanya di tempat fotocopy.

Keinginan membaca buku karya sendiri, saya tulis juga di kertas folio, walau “terpaksa”. Ada dosen yang memberi tugas nyeleneh. Kami disuruh untuk menulis keinginan, harapan, mimpi, impian, cita-cita ataupun yang sejenis, baik jangka pendek maupun panjang pada kertas folio –padahal mata kuliah kewirausahaan. Dari ratusan impiansaya, beberapa diantaranya berhubungan dengan dunia tulis-menulis; menjadi penulis, membaca buku karya sendiri, menulis buku best seller, menulis buku dengan berbagai genre, menulis buku fiski dan non-fiksi, dikenal banyak orang karena prestasi, dan melaharikan karya yang bermanfaat.

Tak lama setelah saya merampungkan tugas coretan “mimpi” tersebut, ada lomba cerpen dari salah satu penerbit indie. Lebih dari 800 naskah cerpen mewarnai daftar peserta, mungkin karena temanya bebas. Meniru gaya menulis Tere Liye dan menjadikan pengalaman pribadi sebagai ide dasar cerita. Lahirlah cerpen berjudul “Untukmu yang Aku Benci” yang kemudian tercantum dalam buku kumcer ‘My Destiny’. Awal tahun 2016, saya bisa membaca buku di mana salah satu penulisnya ialah saya. Selain itu, masih di bulan yang sama, artikel saya yang berjudul “Melawan Korupsi Dengan Terasi” (Temuan Rakyat Terintegrasi) menjadi 50 artikel terbaik –dipilih dari ratusan artikel lainnya– yang diposting di laman resmi Madrasah Anti Korupsidan berkesempatan menjadi juara. Berdasarkan banyaknya read, likeandshare serta kualitas artikel, artikel saya dinobatkan sebagai juara favorite. Satu kebanggaan tersendiri bagi saya ialah peserta yang ikut dalam lomba ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda; mahasiswa S1, S2, Guru, Dosen, dan kalangan lainnya.

Saat ini saya bisa membaca buku yang di dalamnya terpatri karya saya. Tidak mudah untuk menyematkan karya tersebut. Meskipun pada percobaan pertama, cerpen saya langsung dibukukan, ternyata tidak diikuti oleh cerpen-cerpen berikutnya. Ada puluhan cerpen yang ditolak mentah-mentah. Sedih, kesal, dan frustasi mengerubungi. Di saat frustasi membayangi, rupanya kegagalan terus menghampiri. Setiap bulannnya saya mengikuti lomba, dan setiap bulan pula kegagalan mewarnai. Tapi salah jika kalian berfikir saya akan menyerah. Karena, walaupun mudah, menyerah hanya akan menghancurkan apa yang telah saya bangun dengan tertatih. Saya intropeksi diri, mengevaluasi karya-karya yang telah dibuat. Membaca lebih banyak buku. Belajar dan terus belajar, memungut ilmu darimana pun, kapan pun dan dari siapapun. Sekarang saya memetik hasilnya. Walaupun saya belum bisa menembus penerbit mayor dan belum melahirkan buku tunggal, setidaknya saya melangkah di jalan yang mengarah ke sana.

Hidup ini singkat, maka tinggalkanlah jejak. Menulis kini menjadi hoby sekaligus mendatangkan rezeki. Selain tulisan fiksi (Cerpen) saya pun sering menulis non-fiksi (esai, artikel, KTI). Dari kedua jenis tulisan tersebut pundi-pundi mengalir. Namun, hal ini bukan tujuan utama saya menulis. Lebih dari itu, saya  menulis karena ingin orang-orang berdamai dengan masa lalu, menjadikannya pelajaran, menatap masa depan tanpa membenci bayangan (masa lalu), tidak pernah kehilangan harapan, menyederhanakan masalah lewat untaian kata, memberi solusi, motivasi serta inspirasi. Atau yang paling rendahnya ialah bisa menghibur saat lara.

Satu impian terbesar saya di dunia tulis-menulis ialah menulis novel bergenre sejarah -tentang ekonomi. Karena saya sadar, daya pikat novel lebih tinggi daripada buku pelajaran. Hitungan hari saja novel setebal ratusan halaman bisa selesai dibaca. Tapi butuh ratusan hari untuk membaca buku pelajaran yang tebalnya tidak lebih dari setengah novel. Dari hal itu saya berkeinginan menyuguhkan materi ajar (ekonomi) dengan tehnik penceritaan sebuah novel. Semoga naskah itu bisa rampung sebelum saya wisuda. Aamiin.

Ide adalah harta yang paling berharga. Darinya lahir berbagai karya. Ide menulis yang paling murah ialah pengalaman. Biarkan orang lain tahu bagaimana pengalamanmu, selama ada manfaat yang bisa dipetik oleh mereka. Terima-kasih J

Teruslah melangkah walau tak mudah. Teruslah berjuang meski banyak yang menghadang. Teruslah bangkit kendati sangat sulit.

Bandung, Agustus 2016.

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media, baik online maupun cetak. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai