Oleh Asep Salahudin
Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat
Tentu saja bagi calon bupati, walikota, gubernur atau anggota dewan ada banyak cara untuk mempromosikan dirinya agar dikenal khalayak. Salah satunya lewat baliho. Maka menjelang musim pilkada (pemilihan kepala daerah) sepanjang jalan dan di ruang publik kita temukan baliho dan spanduk itu.
Bahkan tempo hari saya ke luar daerah, teryata jalan ke kuburan pun, masih sempat dikepung wajah-wajah calon kepala daerah. Tentu mereka paham jenazah tidak mungkin masuk ke TPS, tapi minimal harapannya para pengantarnya sepulang dari kuburan masih terpatri dalam ingatan mereka tentang poto poto itu.
Sejauh mata memandang, sejauh itu pula kita melihat banyak wajah yang memimpikan sekali tampuk kekuasaan dan memohon belas kasihan suara massa. Kebanyakan dari bahasa tubuh dengan sorot mata yang khas nampak sekali keinginan kuat untuk merebut dan bagi petahana mempertahankan kursi kekuasaan atau terwariskan kepada istrinya. Apalagi ditambah kata-kata yang kebanyakan nyaris tidak kreatif, klise, dan bombastis. Karena biasanya yang pintar bikin kata-kata adalah para penyair sayang kebanyakan dari mereka tidak punya buncahan libido memburu kursi bahkan cenderung memunggungi kekuasaan. Dalam konteks ini tidak berlaku sama sekali Sabda Nabi yang meneguhkan bahwa kekuasaan jangan diberikan kepada mereka yang memintanya sebab dipastikan akan berkhianat. Mungkin sabda Nabi dan petuah moral semacam itu hanya cukup sebatas mimbar Jumat atau khutbah di Gereja.
Di banyak baliho tidak sedikit gambar itu disandingkan dengan ketua umum partainya dan atau tokoh yang dipandang punya kharisma untuk mempengaruhi pikiran rakyat. Ini bukan hanya persoalan absennya kepercayaan diri tapi semacam siasat “ngalap berkah” kepada sosok yang punya “kekuatan” dan bisa menghidupkan mesin partai. Ternyata “keberkahan” tidak saja berlaku di dunia tarekat tapi justru di semesta yang paling profan: politik. Cium mencium tangan bukan saja saya temukan ketika murid/ikhwan bertemu dengan mursyidnya namun juga saat kader partai berjumpa dengan ketua partainya. “Tawasul” itu yang sangat konkret dan kita tidak pernah menyebutnya perilaku bidah malah terjadi ketika seseorang ingin dipertemukan dengan sosok-sosok yang dianggap the king makers dalam penentuan kekuasaan.
Mendatangi pesantren
Ternyata tidak cukup sebatas itu. Untuk meraih suara sebanyak-banyaknya (keinginannya satu putaran), dikunjunginya para tokoh masyarakat baik tokoh adat, ketua perserikatan, suhu paguyuban, ketua kopertais/kopertis, penyanyi terkenal, dai kondang, preman pasar, jeger terminal, atau siapa pun juga. Tentu tidak mungkin sowan sambil tidak membawa apa-apa. Ada sesuatu yang harus dibawa sebagai “oleh-oleh” yang dapat menjadi daya pengingat dan hubungan itu terus permanen sampai ke bilik suara.
Tidak terkecuali para kyai di pesantren. Mereka dianggap sosok yang punya pengaruh besar terhadap santri dan jaringan alumninya yang tersebar di banyak tempat. Bukan hanya NKRI yang harga mati namun juga pesantren dan kyainya harga mati yang niscaya disinggahi dalam setiap ritual pilkada. Apalagi dalam sejarah politik Nusantara, kyai adalah figur yang punya kemampuan menjembatani kepentingan vertikal kekuasaan dengan persoalan horizontal kemasyarakatan. Kyai tidak saja menjadi konsultan keagamaan masyarakat setempat tapi juga “penerjemah” fasih persoalan sosial, kebudayaan termasuk politik warga. Kepada kyai dimintakan pendapat mulai dari masa depan karir politik sampai urusan jodoh dan doa agar harmoni ketika mengambil pilihan untuk poligami.
Maka dahulu sosok kyai sangat ditakuti kaum kolonial karena dianggap dan terbukti mampu menggerakkan masyarakat sekitar untuk melakukan perlawanan kepada mereka dengan solid dan padu. Salah satu kelebihan (sekaligus kekurangan) para kyai melakukan semua tindakan politiknya itu dengan menggunakan tema-tema keagamaan. Sebut saja misalnya jihad fi sabilillah, demi tegaknya syariat islam, amar makruf nahyil munkar, terselurkannya aspirasi umat Islam. Dan kata Ibnu Kkaldun, sosiolog kelahiran Andalusia, tidak ada yang paling mampu memobilisasi massa kecuali dengan mengerahkan sentimen keagamaan bahkan tidak sedikit orang rela mempertaruhkan nyawanya atasnama keyakinan agamanya.
Kalau ada orang menyimpulkan bahwa dunia pesantran lekat dengan urusan akhirat dan kyai hanya melulu berbicara ibadah, bukan hanya keliru namun menunjukkan secara telanjang kepandirannya. Inilah yang dahulu dibilang almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pesantren sebagai sub kultur. Pesantren sebagai agen kebudayaan. Di tangan kyai –meminjam istilah van Peursen– yang mistik dan teknik dipadupadankan.
Sebuah usaha
Tentu tidak ada yang salah dengan kunjungan langsung atau lewat baliho itu. Namanya saja usaha. Dan atau niatkan saja sebagai bentuk silaturahmi dari calon pemimpin dengan warganya. Persoalan kelak setelah terpilih warga tidak lagi disapa, ini hal lain. Di negara kita, politik seringkali dimaknai sebagai urusan lima tahunan bukan persoalan harian. Maka jangan heran kalau demokrais yang dirayakan baru sebatas elektoral-prosedural, belum menyentuh sisi substansialnya. Yang terakhir inilah yang salah.
Demokrasi sebatas sejauhmana kita menggunakan hak pilih. Selesai kartu suara itu dimasukkan, maka politik berhenti di kotak suara. Terkunci di sana. Nyaris selama kekuasaan berjalan sepanjang lima tahun tidak ada kontrol dan akuntabilitas memadai dari yang terpilih dan warga nampaknya juga adem ayem dengan kepala daerah dan anggota dewan pilihannya. Coba simak, misalnya, tidak sedikit janji-janji Gubenrur Jawa Barat misalnya saat kampanye yang belum ditunaikan, tapi kepala daerah itu tidak merasa terbebani dengan seluruh janjinya itu apalagi juga segenap warga tidak ada yang mempertanyakannya. Warga nyaris menjadi pihak yang pasif dan segala urusan yang menyangkut dirinya ridak pernah dikaitkan dengan kebijakan pemerintah. Saya belum pernah melihat warga di Jawa Barat selama kepemimpinan Ahmad Heryawan berbondong-bondong ke Gedung Sate meminta pertanggungjawaban janji-janji politiknya yang tidak direalisasikan. Malah anehnya tempo hari warga lebih bersemangat datang ke Jakarta mendemo Gubernur DKI padahal punya hak pilih juga tidak kecuali sekadar termakan isu sentimen keagamaan yang dimainkan kelompok tertentu secara tidak bertanggungjawab dan dikemas konsultan politik yang berpikiran pendek.
Atau mungkin janji dalam konteks politik di negara berkembang seperti kita adalah sesuatu yang sejak dalam pikiran tidak harus ditunaikan. Janji adalah ucapan verbal sebagai gula-gula untuk memikat massa dan sema sekali tidak ada hubungan simboliknya dengan upaya merealisasikannya. Janji menjadi semacam komunikasi yang tidak mengandung pesan apa-apa kecuali sekadar dusta. Keterampilan menyuarakan kebohongan seolah kebenaran.
(sumber: Akun Fb Asep Salahudin, Media Indonesia/opini – Kamis 04 Januari 2018)
Oleh Asep Salahudin