Arsip Kategori: Percikan

Kakek Penjual Cendol

by Iwangendut

Setiap berbisnis, apapun bentuknya P Place (Tempat) akan menjadi faktor utama keberhasilan bisnis tersebut.
Tidak sembarang tempat bisa dipakai untuk lokasi berbisnis, berdagang.  Harus benar benar tempat yang strategis yang dipilih. Apalagi untuk para pebisnis dari China…ada hitungannya. Hoki,…apa tempatnya mempunyai HOKI.
Harus dilakukan survey terlebih dahulu….
Bahkan berani membayar berapapun ” tempat itu”
jika diyakini ….”NANTI” akan.memberikan keuntungan secara materi….

Standby ditempat yang strategis
Stay ditempat yang mudah dijangkau
Berada dikawasan “segi tiga emas”..menunggu customer datang.

Lain sekali bedanya. Bak bumi dengan langit….

Kakek Penjual Cendol sederhana itu mempunyai latar belakang yang berbeda.

Meskipun sudah tua, ia tetap berjualan cendol keliling.

Ia tidak mau menyusahkan anak anaknya, apalagi orang lain. Ia merasa masih mampu berjualan, maka itulah yang dilakukannya.

Sebenarnya lebih enak berjualan disuatu tempat tertentu (Place) Lokasi yang bagus…Anaknya bersedia menyewakan Kios untuk nya.

Tapi kakek tua itu mempunyai pandangan dan pemikiran berbeda. Walaupun berjualan cendol kelilingan dengan hasil tidak seberapa…namun ia dengan tekun dan iklas dan bahagia menjalani.

Di sisa usianya ia akan tetap berjualan keliling karena dengan keyakinan ALLAH menurunkan rezeki dimana saja. Oleh karena itu ia akan dengan yakin ” menjemput ” rezeki itu.

Rutinitas itu ia anggap sebagai kewajiban ikhtiar baginya..

Seperti beburungan dan makhluk lainnya yang telah dijamin rezekinya sama Allah
…tetap berburu menjemput rezeki….dimanapun tempat ..berada?

Place yang tepat adalah keniscayaan.

Teteh Penjual Kopi

 
 Oleh: Iwangendut

Bicara tentang keberhasilan suatu produk sebagai komoditi (dagangan) tergantung banyak faktor. Secara ilmu marketing, keberhasilan penjualan produk bisa karena, penetapan P4 yang tepat. Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat)  dan Promotion (promosi). Juga bisa mempertimbangkan analisa SWOT. Strenghts (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Oppurtunities ( Peluang ) dan Treats (Ancaman). Meramu secara tepat Strategi Pemasaran.

Ahhh…..begitu kompleksnya turunan dari permasalahan diatas. Kita pasti yakin bahwa

Teteh penjual kopi…tidak akan memakai semua tetek bengek diatas.

Ia hanya berjualan dan berjualan saja. Menjual produk yang menurut pemikirannya , orang membutuhkan produk tersebut. Belanja dari Toko besar, dijual kembali dengan mengambil keuntungan sekedarnya. Sewajarnya.

Setiap pcs dagangan yang laku disyukuri. Setiap keuntungan disyukuri dan diterimanya. Dengan senang hati dan tawakal.

Syukur dan narimo ini lah..yang bisa menjungkir balikan semua teori diatas. Teori yang disandarkan pada keberhasilan secara materi, kebendaan

Materialisme saja.

Tapi yang menjadi pembeda adalah kemampuan menerima keuntungan yang tidak seberapa, dengan syukur dan “nerimo” sehingga untung yang “kecil” menurut kacamata kita itu, sebenarnya mempunyai “Kekuatan besar”, added value, ..yang namanya berkah.

Tidak memikirkan quantitatif (jumlah), namun mementingkan Qualitas (mutu).

Dengan syukur semua berkah mengikuti dengan sendirinya.

Sehingga setiap penjualan yang terjadi, otomatis memberikan kekuatan berkah…

Dan apabila dilihat secara hasil akhir…

Walaupun hasilnya sedikit akan Terlihat Banyak Karena Fadillah Berkah Tersebut.

Teteh Penjual Kopi menyadarkan semua lakunya kepada pemilik berkah yaitu Allah Yang Maha Kaya.

Ngopi depan keranda

—lanjutan dari Sebelumnya

Kenapa ngopi depan keranda, karena keranda itu diletakan depan rumah almarhum ibu mertuaku. Entahlah, memang sudah biasa di sini, setiap usai penguburan jenazah orang-orang seperti takut pada keranda. Mereka seakan tak mau melihat atau mengembalikannya ke balai dusun. karena itulah sementara disimpan dulu di rumah keluarga yang meninggal. Dan itu menjadi biasa, hingga timbul saran-saran yang yang jelas dimana setidaknya harus seminggu keranda iru di tunda di sana. Kecuali jika ada yang meninggal sebelum waktu itu.

Oke, ya..ngopilah saya. Memang sebelumnya di sini saya sering ngopi seraya nunggu si sakit, sementara selanjutnya ngopi dalam rangka mengusir duka keluarga yang ditinggalkan –terlebih istri saya. Ngopi usai acara tahlil yang berlangsung selama 7 hari.

Adakah nuansa horor atau aroma mistis di sana? Kalau tak  ada buat apa soal ini pakai ditulis segala, apanya yang menarik. Siapa yang mau baca,  membebani hostisng aja. Sama saja postingan ini semacam spam.

Tidak kok, tak ada nuansa horor atau aroma mistisnya. Cuma saat enak-enaknya ngopi kami –saat itu saya bersama Sunarto dan Madrobi tiba-tiba dikejutkan dengan suara tokek yang keras menggema dari keranda. Dalam beberapa detik sih ada nuansa mistisnya, mengingat sebelumnya kami telah mengutuk mahkluk predator berkulit kasar itu. Kenapa mengutuk, karena makhluk tersebut kadang resfonsiv atau tak menolak ketika sering dipakai media pengiriman teluh. Hal itu terbukti setelah suara ‘lelegot’ nyaris lebih dari satu dasarwarsa tak terdengar lagi. Alasannya karena suara birung halis yang berbunyi “kot..kot..kot..” tersebut sudah tak bisa disamarkan lagi.

Orang kampung semua tahu lelegot itu merupakan angkara yang disebar melalui burung tertentu. Tak jelas entah burung apa, karena ketika burung itu datang dari arah silang mata angin. Seperti timur laut, tenggara, barat laut atau barat daya, ia hadir melayang memutar di atas rumah warga. Kendati dalam rasa gemetar, orang-orang yang mendengar suara lelegot iti biasanya bereaksi dari dalam rumahnya dengan berteriak “lebok dungan sia” (artinya: “makan saja majikanmu). Begitulah sebelum suara kot..kot..kot itu menghilang  biasanya berakgir dengan suara seperti muntah, “kwaaakk…!” Esoknya jika tak ada yang meninggal langsung, seridaknya akan ada yang sakit keras.

Media penyamaran angkara itu tiba-tiba berganti pada mahluk yang bernama tokek dan burung hantu alias bueuk. dampak dan motiv keduanya sama seperti  sebelumnya. Semula tak ada yang mengira jika tokek dan burung hantu dapat disuruh kerjasama untuk mengirim guna-guna, namun setelah beberapa orang mencocokan pada beberapa peristiwa akhirnya percaya juga. Terlebih orang-orang yang biasa ngopi sambil ngeronda.

“Koung…, kouung…kouung, kong!” demikianlah suara tokek tersebut. kami perhatikan yakin suara itu dari keranda mayat yang diletakan di dipan pemandian jenazah depan kami. Namun kami sempat heran, sebab setelah beberapa kali diperiksa bahkan pakai senter, pemilik suara itu tak tampak sama sekali. Lantas mahluk apa namanya?

Namun ketika malam berikutnya suara itu terdengar lagi, langsung diburu. Ternyata suara itu berasal dari salah satu lobang di gagang keranda. makhluknya kecil banget, hampir seukuran cecak, agak gede sedikit. Kami tak ambil pusing, selain hanya menanggapinya dengan lelucon-lelucon yang menyegarkan. Namun dalam hati kecil saya ingin segera mengembalikan keranda tersebut ke tempatnya, yakni di samping mesjid ke-RT-an di dusun itu. Semula ia disimpan di balai dusun yang kebetulan bangunannya bersanding dengan madrasah Diniyah. Dengan alasan anak-anak banyak yang takut Pak Ustadz tak mengijinkan benda tersebut di simpan di sana.

Usai tahlilan 7 harinya,  keranda itu saya gotong dengan anak saya. Seraya bergurau, setiap tetangga yang kebetulan rumahnya terlewati kami tawarkan keranda.

“Barangkali mau menggunakannya, mumpung ada,” demikian kata saya. Makudnya sekadar humor. Tapi tanggapan mereka beragam, selain ada yang bergidik, menolaknya bak ketakutan,  ada pula yang menjawabnya dengan kelakar juga.

“Mangga, silahkan duluan, nanti saya nyusul belakangan.”

Tapi ketika keranda itu  sudah disimpan pada tempatnya, satu jam kemudian seorang tetangga (pas tetangga almarhum ibu mertuaku) meninggal akibat terjatuh dari pohon kelapa. Melihat kondisi itu anak saya yang baru 2 bulan menikah dan hendak menempati rumah neneknya mendadak pias, terlebih jika hari menjelang malam.

Ya, yang meinggal itu tetangga ibu mertuaku. Bahkan saat acara tahlil 7 harinya, siangnya ia ikut menanak nasi di halaman rumah, bahkan ia tertawa penuh kelakar. Ia adalah seorang tukang nyenso (penebang/gergaji) kayu. Koronologisnya, saat ia memotong pohon kelapa di atas tubuhnya terbawa jatuh bersama potongan batang kelapa itu hingga saat badannya nyentuh tanah ditimpal kembali oleh batang pohon kelapa tersebut. Sungguh mengenaskan, namun  demikianlah semua tak lepas atas kuasaNya. Soal terjatuh, apa pun itu hanyalah sekadar jalan menuju kepulangnya.***

 

Ingin berbagi pengalaman atau bayangan misteri, horor?  Tampilkan di website ini. Kirimkan tulisan (Ms Word) Anda via email: redaksi@ buanakata.top atau otangk234@gmail.com

 

 

 

Catatan Mata dan Imaji Liar

Oleh  Otang K.Baddy

Mana kopi, mana? Duh betapa candu ini begitu lekat, hingga tanpa dengannya jiwa ini seakan sekarat. Rokok, mana rokok? Tanpamu kehidupan ini seakan dingin!

Entahlah, saat menulis ini saya benar-benar ngantuk. Padahal saya seharusnya jangan ngantuk, apalagi jika sampai tertidur. Mungkin selain perut saya terlalu banyak isi juga karena  terlalu banyak minum kopi yang terlalu manis. Harapan utuk melek sampai dini hari sepertinya bakal kandas terjegal diraja kantuk.

Masalahnya saya ini bukan pekerja keras, selain kerjanya harus tak terlalu banyak tidur, terlebih jika malam hari. Pun  seharusnya jangan terlalu banyak makan, terlebih saat-saat waktunya tak tidur. Kenapa harus demikian, karena jika saya banyak tidur –apalagi sampai lebih dari enam jam hasilnya bakal puyeng.

Apa tidak merusak kesehatan? Demikian mungkin Anda  bertanya. Jawabnya, entahlah, dalam sesi ini saya seakan tak memikirkan apakah saya ini sehat atau tidak. Yang penting tubuh terasa ringan, pikiran serasa terang dan tenang. Namun bukan berarti karena rasa terang atau rasa tenang itu kemudian saya harus bernyanyi riang, bertralala-trilili, bersiul-siul seperti kutilang. Tidak. Melainkan malah harus selalu berhati-hati, sebab dalam ketenangan itu nyatanya malah banyak ancaman. Benda-benda yang semula dikira mati, kaku membisu  itu seketika menjadi hidup. Riap daun, gerimis, suara serangga, desir angin dlsb termasuk juga kentut menjadi daya pukau tersendiri yang mesti disikapi secara arif. Sebab kalau tidak ia akan jadi prasangka yang mengambang, samar rupa maupun rasa. Kalau tak menyejukan kadang harmoni itu bisa saja menyakitkan yang berujung pada kematian.  Terlebih matinya hati  dimana ia sebagai sopir dalam mengarungi kehidupan ini.

Apakah itu sebuah ilusi?
Saya tak bisa menjawab ya atau pun tidak sebab semua yang terjadi dan saya alami itu kadang seperti mimpi. Seperti mimpi yang jadi kenyataan. Ketika saat itu saya mau ngopi, bagaimana pun proses dan caranya saya bisa merasakan nikmatnya kopi. Ketika seorang tampak ramah, ia memberiku seulas senyum. Ketika orang-orang tampak suka hati ini merasa lega.

Ya, seperti mimpi yang jadi nyata. Kendati saya bukan ahli tafsir soal mimpi tapi dapat menarik kesimpulan dari yang telah saya baca dari pengalaman yang telah terjadi. Jadi bukan menafsirkan dulu, melainkan membaca jejak sebelumnya. Orang bijak janganlah melupakan sejarah, kelam maupun terang kisah masa lalu adalah ilmu yang mesti dihayati. Ambil yang baik dan campakan buruknya. Namun bukan berarti harus seutuhnya meniru seperti zaman tersebut di mana menyiratkan pelajaran kepada kita, melainkan cerdas-cerdaslah mengerjapkan mata dan pandangan. Jika masa lalu orang-orang menggosok gigi pakai sabut kelapa, daun ilalang atau serbuk batu bata, kini tak perlu. Begitu pun seandainya dulu konon manusia berpakaian dengan kulit kayu, kini juga tak harus. Lagi pula kulit kayu apa yang pantasnya kini bisa dijadikan pakaian.

Ada yang perlu digarisbawahi di celoteh ngawur ini. Yakni soal mimpi, mimpi di sini pengertiannya mutlak mimpi saat tidur. Bukan mimpi/impian yang artinya sebuah harapan. Mimpi dikejar-kejar ular, dikejar hewan lainnya macam sapi atau babi, pertanda apakah itu. Sekali lagi saya bukanlah ahli tafsir, terlebih tafsir mimpi. Namun semula menyangka saat mimpi didatangi seekor ular akan bertemu ancaman mematikan. Tapi maaf, ini hanya dalam versi mimpi saya, terlebih dalam mimpi itu ular yang menjumpai saya tampaknya gemulai dan jinak. Kata orang jika seorang lelaki yang mimpi tersebut dalam kehidupan nyatanya tengah dikejar seorang wanita.

Diuber wanita? Oih..
Saya mulai mengingat-ingat itu. Kendati kesannya tak perkasa saya ini memang lelaki. Dan pernah mimpi diikuti ular –bukan dikejar. Lantas mencocokannya dengan kehidupan sehari-hari saat itu. Saat baru merebaknya penggunaan telpon seluler, seketika saya pun ikut  tergila dengan barang yang bak sakti tersebut. Entah kenapa saat itu banyak telpon nyasar, mungkin dari mereka yang sekadar melacak nomor. Maka tersangkutlah saya dengan seorang wanita. Ya, sekedar gombal-gombal gitulah, tapi ia seperti tergila dan bahkan ingin sekali bertemu dengan saya. Wuih….. Tapi untunglah dari rentetan peristiswa meningkatnya perceraian rumahtangga akibat korban penyalahgunaan gadget tersebut saya tak ikut terlibat. Demikianlah kesimpulan mimpi dikejar ular dalam versi saya.

Bagaimana jika mimpi  dikejar hewan lainnya? Saya belum mengalami selain hanya mimpi diseruduk sapi dan diikuti monyet. Biasanya ada orang yang iri dan maunya hendak mengenyahkan kita dari kehidupan ini. Sebelumnya saya tak pernah percaya kalau cuma ‘katanya’. Apalagi saya bukan ahli tafsir mimpi, namun ya seperti apa yang telah saya ceritakan di atas. Saya ingat-ingat ada permasalahan apa dalam kehidupan sehari-hari. Selidik punya selidik ternyata sebab akibat dari sengketa masalah perbatasan tanah. Dari batas pagarnya yang kerap melebar dan nyerobot ia tampak mau memiliki tanah itu. Lantas soal monyet yang kerap mengikuti atau hendak mencakar, ya hampir sama dengan mimpi diseruduk sapi. Namun jika yang tampak monyetnya setengah manusia dan berujud hitam itu berasal dari mahluk genderuwo, yang kerap disuruh-suruh oleh majikannya. Tentu masalahnya tak jauh dengan yang disebut iri dengki dan mengharap kekayaan tak wajar. Mereka bersekutu dengan mahluk halus sebagai balatentara yang dipelihara demi keserakahan duniawi. Dari ekonomi, karir maupun pembangunan yang dirancang kita, ia tak suka dengan kemajuan orang lain.  Makanya,  jangan heran jika siang mereka seperti manusia dan malam menggentayang seperti binatang buas yang mencari mangsa.

Dalam hidup ini kadang banyak sekali penyamaran dan kesannya seperti terbalik. Yang hitam dikemas putih, sebaliknya yang putih kadang sengaja dibungkusnya dengan yang hitam. Biasanya yang putih (yang asli) tak mau kentara. Intinya kebenaran, kejujuran kerap kali bersembunyi dan tidak menggembor-gemborkan diri. Semua biar kita sebagai mahluk yang berbudi mau berpikir.

Solusi yang terbilang gampang-gampang susah untuk menangkal hal buruk macam gambaran mimpi tadi tiada lain jangan terlalu banyak tidur. Setidaknya sejak waktu Asar sampai tengah malam lebih sedikit. Sebab pengaruh buruk itu kerap nyebarnya di saat-saat seperti itu. Biasanya jika akan datang pengaruh buruk tersebut  perbawanya ngantuk berat. Apalagi jika sebelumnya terlalu banyak makan lemak. Kesimpulannya, tentu saja selain ucap perilaku yang baik kita harus rajin meronda. Meronda berarti terjaga, menjaga lingkungan dari pengaruh jahat yang hendak merongrong. baik di lingkungan luar maupun dalam diri ini. Meronda di sini bisa juga diartikan berdzikir, membaca ayat-ayatmu yang tertulis di kertas semesta. Dengan rajin meronda, ibaratnya setelah Hp dicharger segala pengoperasiannya akan terasa cling!

Wualah, kok jadi ngawur ya. Tapi tak apa lah judulnya pun kan ada imajinasi liarnya, Jadi tak terikat dengan topik tertentu. karenanya jika kamu tak suka dengan celoteh ini segera beranjak dari konten ini. Atau jika terasa puyeng mendingnya ngopi saja. Aduh jadi kepikiran mau ngopi.

“Ngopi, Mang?  Ayo..!”
“Tidak ah, nanti tak bisa tidur!”
“Ah, moso iya?”
“Iya, Kang.”
Kok bisa gitu, ya?
Aneh, kalau saya setelah minum kopi tetap saja ngantuk. Memang saat meminumnya tidak karena air kopi itu hangat. Masuk dan melintas tenggorokan, “bray”, sebelum kemudian meredam isi di lambung. Cairan itu mendingin, maka ngantuklah.

“Paling susah jika terbangun tengah malam sulit tidur lagi. Malam terasa panjang, namun jelang pagi atau waktu subuh kantuk itu menyerang. Tidur sejenak sebelum kemudian pagi bangun, duh puyengnya. Bahkan puyengna tak juga hilang sampai malam berikutnya.”

Bersebrangan. Ngopi jadi tak enak, terlebih menurutnya ngopi merupakan tindakan yang royal dan buang duit. Begitu pun merokok, di samping boros anggaran juga akan cepat membunuhmu. Karena itu aku tak suka kopi, apalagi rokok, sebab kedua-duanya merupakan pembunuh!

Kalau begitu terserah kamu mau apa, jika ngantuk tidurlah. Sebab seperti yang telah saya ceritakan tadi minum ngopi –sekalipun kopi hitam, tetap saja tak bisa menjamin sampai tengah malam melaksanakan ronda. Tetap saja kewalahan dan terkapar tak berdaya. Tak tahu peristiwa apa yang terjadi dalam detik, menit, atau jam-jam berikutnya..

Aduh, ngantuk berat nih. padahal sebelumnya saya hendak meneruskan cerita tentang ketiduran sejak sore hari dan malamnya terjadi seperti huru-hara. Dalam keadaan siuman saya mendengar suara sorak-serai. Ternyata telah terjadi kebakaran di rumah tetangga. Di lain sesi, ketika siuman saya mendengar teriakan histeris istri saya dan  setelah diketahui anak sulung saya muntah darah. Yang jadi pertanyaan kenapa saya yang tidur di kamar tak diketahui. Orang-orang malah mencari saya ke tempat jauh seraya nelpon-nelpon yang katanya Hp saya tak aktif karena sengaja dimatikan.

Kecolongan lagi, coy! Padahal telah saya perhatikan dan cemas sebelumnya ketika ia tidurnya bak sembunyi dalam gowok. Kenapa kamar itu tak dipasang lampu, jadi gelap gulita. Bagaimana kalau si kegelapan itu menjegal. Ya, seperti pada pohon beringin yang hijau rindang  di tepi jalan itu. Kesannya gelap, lembab. Terlebih pohon itu memayungi sumur di bawahnya. Di tikungan lagi adanya. Kendati saat purnama, karena kerindangan itu tetap saja gelap. Karenanya tak heran jika imajinasi ini mencipta sesuatu di balik gelap itu. Ada sosok yang entah berupa apa, begitu seram dan bulu kuduk merinding. Ya, karena imajinasinya kuat maka tumbuh di hati, hingga yang terbayang itu jadilah nyata. Nyata gelap. Terlebih hati yang gelap menebak yang gelap.

Ngopi dulu, coy!

Gitu, ngerti juga kau. Pemilik pabrik pengolahan kayu itu akhirnya memasang lampu di batang pohon beringin tersebut. Kan kalau terang hati ini juga jadi terang, tak ada hantu atau makhluk halus di sana. Ngerti juga ya kamu. Pasti seneng ngopi, ya. Tentu  satu selera, kopi hitam yang kadang bisa membuat lambung ini perih. Tapi kendati perih kamu tak akan cengeng karena dibalik rasa sakit itu setidaknya tak cepat ngantuk..

Oya, karena lambung ini terasa perih, tunggu saya akan obati dengan buah pisang rajasiem. Pasti perihnya hilang. Tunggu, ya…nanti dilanjut lagi…

***

Ya, menang semua tak terlepas dari masalah ngopi. Ngopi malam minggu di Pos Ronda lingkungan keRT-an. Oh iya, dirasa-rasa dunia seperti kembali ke zaman dulu, ya? Ada pos ronda lagi. Ada penilaian mengenai prestasi atas kekompakan warga dan kebaikan bangunan gardunya. Lantas diberi nilai, siapa yang menang itu juara. pak RT yang Posnya jadi juara tersenyum, sementara nyengir kuda bagi yang nilainya buruk. Padahal enak katanya, bagi pencinta bola tak ada alasan lagi untuk malas keluar rumah, soalnya di pos juga ada tivinya. Ya cuma seminggu sekali kok..moso gk dateng..

Tapi saya kurang serius nonton bola, apalagi jika tim yang didukung mainnya  tak konsen, terlebih jika gawangnya  sudah kebobolan 1 atau 2 gol. Satu gol tak semangat apalagi jika kekalahannya sampai 4-0, 5-0 dan seterusnya. Bikin gemes lah.

Tapi untung saja ngeronda malam minggu ada yang nraktir kopi dan rokok. Enak lah. Biarlah yang lain nonton bola atau melihat  tayangan lainnya. Sebagian main gapleh. Bagus lah, demikian pikiran saya. Ya itu karena ada kopi lah. Ngomong ngalor ngidul, tentang masa kini dan masa lalu. Pokoknya cocoklah!

Karenanya saat ibu saya butuh dironda malam itu, saya sampai tega meninggalkannya karena tergila mau ngopi di pos ronda. Segelas kopi dan dua batang rokok tandas sudah. Saya tersentak dan  bergegas ketika pukul satu dini hari  sms dari istriku mengabarkan ibu tiada. Eh, ternyata saat itu belum mutlak. Cuma kesadarannya telah hilang. Mungkin kalau kata isyilah  Mas Parman yang aslinya telah tiada.

Yang asli dari istilah sedulur papat kelima pancer. Pancernya telah pulang. Yang bergerak-gerak bak pikun itu katanya yang terbuat dari empat anasir, empat cahaya, yakni dari tanah, api, air dan angin. Mereka merupakan energi, ibaratnya sebuah mesin yang tanpa operator karena operatornya telah pergi memenuhi panggilan Illahi. Minggu siang ibu belum juga sadar, ia seperti lupa pada dunia dan lupa siapa yang berada di dekatnya. Matanya biasa berkedip-kedip, ia seperti tak merasakan sakit. hanya saja mesin itu tak ada pengemudinya. Jasad itu terus melemah, hingga sampai hari Senin pagi ia dikebumikan menyusul orang-orang terdahulu.

Malam setelah kepergiannya kembali saya ngopi, bahkan ngopinya agak unik, yakni depan keranda..

 

 

Kedekatan Dan Kehilangan

Oleh Meisya Zahida
Seperti engkau aku juga tak paham, pagi yang gelisah, atau derap batin sesak dengan kata-kata. Mengejar yang jauh dan mengacuhkan yang dekat, serupa luas rerumputan setinggi mata kaki, hilang begitu saja saat ilalang membelukar sebatas dada. Kau masih bertanya arti kedekatan, juga mengapa harus ada kehilangan.

Kebersamaan memang sering diumpamakan, untuk mengukur nilai rasa yang membenih karenanya. Layaknya cinta, kadang tertakar dalam jeda begitu lama, bahkan terbagi di menit tak terduga. Di sinilah Tuhan menyematkan tali kinasih, merekatkan jiwa yang berbeda dalam satu dermaga. Membawa kapal kehidupan berlayar di tengah lautan, melewati pasang surut gelombang, mengendalikan laju mata angin bahkan membendung berbagai aral yang merintang meski dengan tangisan.

Masihkah kau menistakan hakikat penyempurna yang dianugerahkan untuk kita, ibarat mata, hati mampu melihat, mendengar, bahkan lebih peka menerjemah apa yang tersembunyi dan yang sering terdustai. Saat rasamu goncang, kadar setiamu diuji untuk hal yang kusebut pengkhianatan aku dapat membedakan, apakah dirimu masih dalam dekapan atau tengah memberontak untuk perburuan yang tak layak diagungkan.

Bukan hakku menahanmu untuk tetap tinggal, jika di suatu masa kau lebih rela menggugurkan bunga-bunga yang tertanam dengan paksa. Bukan juga tak peduli atau tak menjaganya dengan hati-hati. Aku pun harus menyadari dalam setiap ikatan yang kita teguhkan dengan janji, Tuhan juga pasti menempatkan batasan sejauh mana aku harus mengabdi dan kapan kepercayaan itu direnggut kembali.

Karenanya, aku tak lagi ingin bertanya. Apakah cinta masih bersemi di dada atau telah purna karena hadirnya orang ketiga? Engkau pun pasti ingat bagaimana kau mengenaliku pertama kali, dan tujuan apa mempersuntingku sebagai istri. Kau dan aku dua kewajiban yang tak kan terhindar dari pertanggung jawaban.

Aku bebaskan dirimu dengan segenap hasrat yang kau nilai layak, tak usah berpura-pura memaniskan luka dengan empedu yang kaubawa, karena memoriku tak kan pernah bisa menghapus apa yang sudah kau lakukan. Seperti wanita kebanyakan, “Aku memang memaafkan tapi, tidak akan mungkin melupakan.”

Inilah yang kunamai kehilangan, berdekatan untuk waktu yang tiba-tiba ditinggalkan. Bagai tamu datang bertandang kemudian, berpamitan meneruskan perjalanan setelah menikmati peristirahatan. Masihkah kau ragu pada sebuah kepastian? Bila maut kunjungan terakhir kan memanggilmu tanpa kau undang. Dan, kita akan mengerti kepergian yang sebenarnya.

Madura, 05102016

 

Meisya Zahida Lahir di sumenep-jawa timur. Tanggal 29 Desember. Menulis adalah cara paling indah menuangkan isi hati, mengungkapkan perih juga emosi. Jangan pernah ada kata berhenti, sebab berhenti adalah kekalahan. Sebelum kau meraih mimpi. Bisa dihubungi di akun Facebook Meisya zahida.

Sesaat Pagi Di Sudut Taman

oleh : Marina Novianti

Ada sejuk angin berembus di sudut taman. Dua helai daun gugur menari turun perlahan bersamanya. Lembut aroma kuntum melati pagi malu – malu menghampiri hidungku, mengumumkan kejelitaan yang masih hijau. Lamat-lamat kudengar suara bocah kecil yang asyik bermain perosotan.  Ada tawa, ada canda, ada kata-kata kotor.

“Tai anjing, bau pesing, kurang ajar!” begitu racau si kecil, sambil terus bermain.

Sebentar! Rentetan kata-katanya tak serasi dengan suasana indah pagi ini. Mengapa kata-kata semacam itu keluar dari mulut bocah kecil yang sedang bermain di taman? Kutolehkan kepala mencari-cari kemana ibu atau pengasuh si kecil bermulut lancang.
Oh, itu dia! Sedang sibuk menyapu halaman depan sebuah rumah mungil bercat kuning. Sesekali kepalanya terdongak, memastikan bocah kecil itu belum mencelakakan dirinya sendiri dengan segala permainannya di taman. Sempat terpikir untuk menghampiri si ibu dan melontarkan kritik, jeng, kok anaknya bicara seperti itu dibiarkan saja? Apa tidak pernah diajarkan untuk berkata-kata yang lebih sopan, lebih indah?
Sesaat sebelum kulangkahkan kaki mendekati si ibu, kulihat ia kembali menegakkan tubuhnya. Didongakkannya kepala mengawasi si bocah. Ada sesuatu pada sorot mata ibu ini, ada makna mendalam pada seiris senyum manis di raut wajah yang mulai berhias kerutan letih. Aku tertegun saat mulai sadar, betapa ia sangat mengerti bahwa bocah kecilnya sedang belajar tumbuh mendewasa.
Si kecil sedang melatih semua kemampuan dan ketrampilannya, termasuk ketrampilan berbahasa dan berlogika.  Ia tak layak dituntut memenuhi standar kompetensi seorang dewasa. Jadi untuknya, berkata-kata kotor adalah semacam percobaan : seberapa ampuh kata-kata ini menarik perhatian dunia sekitarku, reaksi apa yang bisa kuperoleh bila kata-kata ini kulontarkan pada orangtua dan masyarakat? Dan dengan kagum kusadari, betapa si ibu sangat paham bahwa semakin besar respons keras dan negatif yang dia berikan untuk tiap kata-kata lancang bocahnya, semakin yakin si pembelajar kecil itu bahwa kata-kata lancang sangat ampuh sebagai senjata pemikat perhatian dunia.

Sambil menelisik ke dalam ruang hati, diam-diam terlontar umpatan malu pada diri sendiri. Siapa aku, berani-berani mengkritik ibu tadi, yang telah mengasuh dan memahami si kecil darah dagingnya sejak dalam kandungan? Di mana aku, saat ibu ini mengamati tiap peristiwa dalam tumbuh kembang anaknya? Apa yang telah kulakukan dalam kehidupan si kecil, sehingga aku berhak mengatai dia sebagai lancang, bocah bermulut kotor? Adakah aku mampu menyamai setengah saja pemahaman bijaksana si ibu tadi, dalam mendidik anakku sendiri?

“Nak, ayo masuk, mandi dulu, ya!” seru si ibu memanggil bocahnya.

“Nanti bu, aku masih mau main!” si bocah menegangkan tengkuk dan mengeraskan rahangnya. Tersenyum, si ibu meninggalkan sapunya dan menghampiri si bocah. Dengan lembut  ia menuntun lengan pemuda cilik yang darahnya menggelegak, berjalan menuju rumah mereka.

“Sebentar saja, sayang, setelah itu bisa bermain lagi,” bujuk si ibu.

“Aku tak mau! Maunya main saja! Ibu jahat!” racau si kecil, namun sambil menurut ia menggenggam erat tangan ibunya dan ikut melangkah ke rumah. Kupandangi dua manusia itu berjalan berdampingan, punggung mereka perlahan menjauhiku. Si ibu menelengkan kepala menatap buah hatinya,sementara kepala si kecil bersandar pada pinggang ibunya. Deras kata-kata protes bernada tinggi yang terdengar menjadi tak berarti, dimentahkan oleh sinaran kasih yang terpancar dari ibu dan anak.  Sesaat sebelum punggung keduanya menghilang kebalik pintu rumah bercat kuning, semua racauan si bocah pun sudah hilang dari pendengaranku.

*

Angin pagi masih berembus, walau tak lagi sesejuk tadi. Dedaunan gugur masih melayang turun ke tanah di sudut taman ini, yang coklat basah sisa hujan semalam. Lembaran mahkota flamboyan merah turut terbang dan menggelitik ujung mataku,  yang masih memandangi daun pintu rumah mungil bercat kuning. Sambil mengusap wajah, kutatap ke langit cerah dengan rasa malu. Di sana, di balik awan putih, ada seiris senyum seindah milik ibu tadi. Senyum itu untukku, senyum bijak penuh kasih dan pemahaman untuk semua kelancangan dan kekurangajaranku.  Diam-diam penuh rasa malu, kembali kulontarkan umpatan pada diri sendiri. (November 2013)

***

Latihan Bercerita

Latihan Bercerita

Sehari sebelum Idul Fitri tahun 2017 ini, ibuku menghadap yang Maha. Saat nafasnya memburu, dan detak nadi sudah tak terasa di kakinya, lalu bola matanya berputar 180 derajat, kami yang mengantarkannya dengan “talkin”, segera menangis serempak. Nafas terakhir berlalu. Innalillahi…

Aku berserta kakak dan adik-adikku, bibi dan sepupu, juga para tetangga, segera saling pandang. Bidan yang memeriksa kondisi tubuhnya dengan stateskop, menyatakan beliau sudah mangkat. Lalu kami tutupkan kelopak matanya. Bibirnya dikatupkan, kemudian ditutupi dengan samping corak batik warna coklat.

Aku makin mengerti, kenapa kain batik yang digemari para orang tua cenderung warna coklat. Karena coklat dekat pada warna tanah, dan tanah adalah pralambang dari muasal sekaligus tempat kembali. Dan setiap yang bernafas, akan “mudik” ke Lebaran masing-masing.

Pelayat segera berdatangan, cukup banyak, meski sebagian tetangga sudah mudik. Mungkin karena ibuku seorang guru mengaji, dan aktivis PKK untuk tingkat madrasah/mesjid, maka murid-muridnya segera memenuhi rumah kami. Usai dimandikan, dan disalatkan, aku mengantarkannya ke peristirahatan terakhir di Kabupaten Subang, tentu bersama warga dan sanak famili.

Di Subang, kerabat keluarga telah menunggu, lalu menyalatkannya. Setelah itu, kami mengatarkan jenazah ke pemakaman keluarga. Di sana, telah menunggu kakek dan nenek dari pihak ayah, para uwa dan sepupu, dan tentu ayahku yang lebih duluan berkalang tanah. Iring-iringan yang mengantarkan ayahku dari Bandung kala itu, jumlahnya jauh lebih banyak, diperkirakakn dua kali lipat. Aku teringat kejadian sembilan tahun silam, saat jasad ayahku dibenamkan pada liang lahat, lalu ditutup dengan padung, adikku yang “keras kepala”, meneteskan air mata. Tentu aku juga. Namun aku segera menghapusnya. Tapi saat ibuku yang dimasukkan ke liang lahat, justru aku yang duluan menitikkan air mata.

Aku masih belum percaya bahwa beliau telah berpulang. Pagi-pagi sekitar pukul 9, aku masih menyapanya. Malamnya, ia masih tersenyum dan menggenggam jemariku. Ada kontak batin yang cukup kuat antara ibuku denganku. Berkali-kali ia sakit, tak lama kemudian jadi pulih setelah kujenguk. Juga malam itu, saat ia menggenggam jemariku, aku masih berpikir bahwa ia kembali pulih. Pada akhirnya, manusia hanya memiliki prakiraan dan keinginan, tapi urusan maut, tak seorang pun dapat mempercepat atau menundanya.
Selesai hotbah terakhir dalam ritual pemakaman itu, dan para pelayat melangkah balik badan, aku sempat menekur di papan nisan. Mengenangnya, dan berdoa, dan seakan berbisik kepadanya. Dan serasa ia mendengarku. Aku yakin itu hanya perasaan. Sebelum akhirnya berlalu, aku sempat merenung di gigir nisan itu. Bila aku disolatkan, lalu dimakamkan, akan sebanyak inikah para pendoa yang ikhlas mengantarku untuk berkalang tanah?

Telah ratusan kali kusaksikan orang-orang dikuburkan, termasuk ibu dan ayahku. Tak seorang pun dari mereka yang membawa kekayaan, selain tiga helai kain kafan, setampuk kapas, serbuk kamper, dan minyak Si Nyong-nyong atau Putri Duyung. Hanya amal perbuatan yang menyertai manusia ke akhirat, dan sungguh kesenangan dunia termasuk mengumpulkkan material, adalah permainan belaka.

Tetapi sejujurnya, aku ingin memiliki kapal pesiar untuk sekolah terapung, yang bisa membelah samudra, dan mengenalkan lautan luas kepada anak bangsa. Bukankah nenek moyang kita para pelaut, dan negeri ini dikelilingi laut? Tapi kenapa lautan dikuasai orang asing?

Keinginan itu terlalu angkuh dan jauh. Ada kesan sombong di dalamnya. Padahal sekarang ini, peralatan kerjaku saja masih terbatas. Kalau memang mau mengajar, mengabdi, kenapa pula harus menunggu kapal pesiar. Bukankah selama ini aku biasa menyampaikan materi pelatihan menulis di manapun? Bukankah pernah kusampaikan pelatihan menulis di hotel, di kelas, di rumah ibadat, di emperan jalan, di bawah pohon beringin, bahkan di kuburan? Tidak, sungguh tidak mesti harus menunggu kapal pesiar untuk berbuat.

Ibu dan bapak guru yang budiman, sungguh tidak pernah kurasakan gairah seperti sekarang ini. Aku bersyukur, dapat ikut menyaksikan suatu era di mana para guru begitu antusias berlatih menulis, kemudian menulis, kemudian membukukannya. Itikad para guru itu, bagiku, adalah secercah cahaya “aufklarung”, adalah pengharapan akan terbitnya fajar pencerahan. Bangsa ini akan dan pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik, yang lebih kreatif, yang sanggup bersaing di masa depan dengan bangsa-bangsa yang jauh lebih maju dan menguasai berbagai sendi kehidupan.

Sudah sejak tahun 2000-an, aku sering berkoar-koar di media massa, bahwa perubahan negeri ini tidak bisa diharapkan lahir dari para politikus zaman sekarang. Sebab kebanyakan dari mereka nyaris serupa dan semuka, yaitu muka badak. Ujung perjuangan para politikus adalah berebut kekuasaan. Pameo yang berbunyi “Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, yang abadi adalah kepentingan,” teramat vulgar dipertontonkan oleh para politikus, bahkan termasuk para politikus dari kalangan muslim. Bapak dan Ibu tentu masih ingat, siapa yang mengangkat Gusdur, dan siapa pula yang menurunkannya.
Perubahan ke arah yang lebih beradab, juga sulit diharapkan dapat lahir dari kalangan para pengusaha. Di dalam pikiran mereka, kekayaan alam yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, tak lebih dari aset yang dapat diperjual-belikan. Bila tidak menguntungkan, maka bisnis garam ditinggalkan. Alhasil, harga garam tiba-tiba menohok ulu-hati bangsa yang hidupnya dikelilingi lautan.
Pun para agamawan, sepanjang mereka masih menjual ayat-ayat suci untuk kepentingan yang lebih duniawi, maka harapan akan lahirnya era pencerahan, atau era ufklarung menurut orang Jerman, rasanya masih jauh panggang dari api. Maka betapa kita saksikan belakangan ini, cukup banyak ustad yang berpenampilan seperti artis, atau berlomba melawak dalam televisi. Peringatan yang berbunyi: “Janganlah kalian menjual ayat-ayat Kami dengan harga yang murah, sedangkan kalian menggenggam kitab suci,” seakan hanya rambu laluintas menjelang berangkat dan pulang kerja.
Kepada para gurulah aku berharap. Lebih jauh lagi, di lengan para guru kemajuan peradaban bangsa ini dapat diharapkan. Untuk hal ini, tentu sudah banyak contohnya. Jepang, Mekkah, Yunani, dan negara-negara maju, adalah bangsa-bangsa yang menghormati dan memberikan keistimewaan kepada para guru, disebabkan guru adalah agen perubahan, adalah yang mencetak sumber daya manusia. Tetapi di negeri “ing ngarso sung tulodo” ini, eksistensi guru terasa dibungkam, dan daya juang mereka digembosi, sehingga guru menjelma jadi sapi perah bagi orang dinas, dan menjelma jadi robot bagi para perancang kurikulum dan administrasi. Betapa gila, hanya mengubah kata “A” (SMA) menjadi “U” (SMU), dan mengembalikannya lagi ke “A” (SMA), uang milyaran rupiah kala itu, digelontorkan untuk mengganti bet, plang, stempel, dan serluruh atribut.
Guru sudah waktunya menjelma sebagai “ummatan wasathon,” yaitu warga yang paripurna, dan mengemban jiwa kerasulan. Ciri-ciri kerasulan adalah beriman dan bertakwa, kritis dan menjadi pembelajar sepanjang hayat, berbuat untuk keadilan serta kemaslahatan lingkungan. Untuk melaksanakan ketiga perkara tersebut, terkadang rasul dimusuhi oleh umat sekampung, bahkan oleh keluarganya sendiri. Tentu para guru di Indonesia tidak perlu sedahsyat rasul. Cukup berubah dari robot penyampai pelajaran, menjadi manusia pembelajar yang sungguh-sungguh. Dengan kesungguhan dalam belajar, siapapun punya harapan akan sampai pada aras “sangkan paraning dumadhi”, atau pada prinsip “aparigraha” dan “nirartha”. Salah satu metode belajar yang cukup efektif, menurut hematku, adalah dengan menggunakan logika terbalik: Menulislah, baru kau akan melakukan IQRA!

(dikopas dari Fb Doddi Ahmad Fauji)

Jangan Perkosa Ibu Kita

Oleh: Marina Novianti

“Eropaku bukanlah Eropamu. Engkau berbicara tentang Eropa, tapi bedanya, bagimu Eropa adalah harta milik, sedangkan bagi kami sebaliknya, Eropalah yang memiliki kami.” (Surat Ketiga dari Surat Kepada Seorang Teman di Jerman, Albert Camus)

Dan kita? Adakah kita berbicara tentang Indonesia sebagai harta milik, atau sebagai pemilik kita; ibu yang melahirkan kita? Sebab kita pun teruja, tak sabar untuk mengangkangi Indonesia. Atas nama tanggung jawab sebagai pengelola, atas nama pemilik warisan kekayaan, kita merasa berhak melakukannya. Saat Indonesia dan lekuk – lekuknya telah berada di tangan, yang kita lakukan adalah mengambil, memakai, mengotori, merusakkan. Meraba-raba dan memperkosa Indonesia.

“Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati. airmatanya berlinang, diperkosa anak tersayang.”

Indonesia adalah Ibu. Kepadanya aku selalu ingin pulang dan mengadu. Ibu akan menerimaku dengan tangannya yang pecah – pecah, upah kerja kerasnya untuk segenggam kehidupan. Kebaya lusuh seolah bersaing dengan kerut – kerut yang menghiasi senyuman teduh anggun, di wajah Ibu. Langkah yang tertatih tak menghalanginya memanggul bakul dagangan ke pasar dan berjalan kaki belasan kilometer jauhnya. Punggung yang ngilu tak menyebabkannya enggan menggendongku sambil mencangkul di sawah. Melihat ibuku seperti ini, aku semakin, semakin mencintainya. Ingin kubuat ibuku bangga, ingin kulekangkan senyum anggun itu di wajahnya, saat kuserukan padanya,

”Lihat Bu, semua kerja keras dan keberhasilanku adalah karenamu, untukmu, Indonesiaku!”

Jadi, adakah Indonesiamu juga Indonesiaku, yang Ibu? Kalau begitu, jangan perkosa ibu kita.

(Penulis adalah seorang cerpenis dari Medan)

Selalu Diuji dan Diuji

Oleh: Virgorini Dwi Fatayati

Pasca saya mengalami kecelakaan, tetangga ibu saya yang merasa penasaran sampai bertanya perihal ujian yang menimpa kami. Dia menilai kami keluarga yang religius, suami istri dan anak-anak soleh-soleh, tapi mengapa diberi ujian yang begitu berat? Begitu tanyanya.

Aih, malu betul dinilai orang sebagai orang soleh, padahal kami masih belajar terus dan berusaha untuk berada di jalan Allah, belum tentu penilaian Allah dan manusia sama. Namun ibu saya menjawab bahwa orang soleh itu justru malah lebih berat ujiannya. Dengan serta merta si tetangga mengatakan, ”oh, kalau begitu mah, nggak mau ah saya jadi orang soleh, nanti ujiannya berat.”

Lho kok?

Pikirannya bisa begitu? Bukankah kita semua bakal pulang ke kampung akhirat? Rugi kalau kita tidak bersungguh-sungguh dengan Allah kalau hanya sekedar takut dengan ujian di dunia, mending dapat ujian saat masih di dunia daripada nanti di akhirat.

Siapa nyana di waktu berikutnya sang tetangga ibu saya ini justru mendapat musibah yang tak terperi, anaknya yang sudah remaja dibunuh temannya sendiri sesaat setelah berbuka puasa. Motifnya apa tak pernah diketahui karena kasusnya tak pernah diusut tuntas. Ujian apalagi yang lebih berat daripada kehilangan anak? Padahal sang ibu bertekad tidak mau jadi orang soleh karena khawatir mendapat ujian, tapi nyatanya dia dapat juga ujian. Ternyata mau orang soleh, mau orang tidak soleh tetap sajaTuhan memberi ujian, mau orang kafir atau pun orang beriman sama-sama diuji.

Jadi pilih mana? Pilih jadi orang tidak soleh yang diuji atau jadi orang soleh yang diuji? Nilainya tentu berbeda di sisi Allah, bagi orang beriman ujian yang didapat di dunia dan diterima dengan ridloinsya Allah bisa meringankan hukuman di akhirat, namun ujian yang diterima oleh orang tidak beriman apalagi kalau dia tidak ridlo apakah ada nilainya juga?

Tetanggaibusayaituselamaberbulan-bulanseperti orang stress, bicarasendiri, tidakmaumakanberhari-hari, berteriak histeris saat kembali menyadari anaknya sudah tak ada dan bahkan sampai tidur di makam anaknya.

Saya tidak bisa menyalahkan beliau karena ditinggal mati oleh anak memang sebuah ujian yang luarbiasa berat. Saya  sendiri mengalaminya, dan saya sempat khawatir saya akan menjadi gila. Bayangkan, di saat air susu saya masih deras-derasnya mengalir, di saat sabun mandinya masih tersedia banyak, di saat minyak telonnya masih penuh, Tuhan mengambilnya dari pelukan saya. Bagaimana rasanya? Luar biasa sakit, luar biasa sedih.

Satu-satunya tempat yang membuat saya tenang adalah mengadu pada Allah.Saya punya Allah dan berpegang pada tali Allah, namun tetap saja air mata saya tak mampu terbendung, tetap saja ada perasaan tak rela, tetap saja saya seperti menggugat Allah, bagaimana dengan ibu yang sengaja tidak mau berpegang padatali Allah? Tentu perasaannya lebih berat lagi. Dan menjadi gila itu adalah sesuatu yang mungkin.

Mungkin kadar ujian kita memang berbeda-beda, seperti yang saya alami, sepertinyaTuhan memberi saya ujian secara bertahap, mungkinTuhan menganggap saya sudah naik kelas hingga diberi ujian yang lebih beratlagi. Wallahualam.

Jadimaupilihmana? Jadi orang yang beriman dan diuji atau tidak beriman namun tetap diuji?

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai