Arsip Kategori: Puisi

Puisi puisi Arif Tunjung Pradana

Perpisahan

namamu begitu manja saat letupan suara memayungi rintik hujan; mengenang kepergian. barangkali kematian adalah pengingat, bahwa umur tidak harus usai dengan semestinya. kemudian angin memecah serangkaian perjanjian yang tak pernah berhenti;  hilang dan timbul secara tiba-tiba disertai air,  hembusan, dan pilu yang menyetujui adanya perpisahan.

 

Hujan

Hujan adalah ruang pesan tanpa kata dari  langit. Tulus dan ikhlas menyusuri setiap pasang anak mata yang kehilangan induknya. Ia tak kenal dengan hitungan waktu mundur yang kian mendesak,

namun ia paham bahwa ada pilu yang harus segera diselamatkan.

 

Puisiku

Puisiku menggertak, menuntut

atas orang-orang yang pernah hidup

dalam rahimnya.

 

Sinar Mata

Matamu berpendar menghitung mundur sang waktu. Ketika sepi dan hujan saling bertautan di beranda rumah.Sinarmu lirih diatas lorong waktu yang semakin menepi. Apakah kau akan kehabisan sinar, saat jari-jariku akan menggenggam hangatmu?

 

Selepas Hujan

selepas hujan reda ia menanggalkan mantel yang mengikat menggigil sepanjang suara gemuruh terus mengalir melewati sela-sela urat nadi. jalanan yang berlumpur membayangkan pertemuan dengan tapak derap langkah yang selalu meninggalkan jejak saat ia mulai memasuki hutan. tiba-tiba ia membakar denyut nadinya sendiri dengan kobaran hujan yang terus mendera rasa ketakutan dengan begitu nyaring. matanya terpejam setelah hujan tak satu pun menyentuh pipinya.

“Berikan aku tetes hujan untuk malam ini saja, agar aku bisa menyamar”. Ucapnya lirih dengan luka dalam.

“Baiklah,  tunggu sebentar”.

 

Mengapa Jari-jari Jendela Terus Terbuka?

kemudian ia begitu usang dan menghibur ketika lonceng mulai berbunyi dalam kekekalan malam yang semakin memanjang. ruangan yang sangat gaib dan hampa dicerca penuh rahasia, bergoyang-goyang tanpa menyebut nama anak kecil yang bertemu saat hujan terus menembus rongga dada yang menganga. kutanyakan “mengapa jari-jari jendela itu terus terbuka?” “agar aku bisa masuk tanpa permisi ataupun agar kau sadar bahwa hujan sudah sejak lama berubah” jawab siapa.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Puisi Iwangendut

Iwan Setiawan atau lebih dikenal Iwangendut

 
 
 
 

SENJA UNTUKMU

Ra, seperak kemilau pantaimu
Angin dan ombak
Ditingkah ceritaan beburungan
Menandai sebentar lagi
Senja akan turun
Bola merah bersiap di kaki cakrawala
Udara menyejuk, langit berubah warna

Ra,
Ku ingin kau selalu ingat
Bahwa di setiap senja
Ada cerita antara
Aku dan Kamu

 

 

RINDUKU

Ra,
Senja di sini
Mengingatkan ku pada mu
Rindu mengental dalam
Lewat senja ku cari wajah mu
Karena ku yakin
Di mana pun kau berada
Senja adalah tempat terindah
menguntai benang merah ikatan asmara

Walau jarak
Memisahkan kita

 

 

SENJA UNTUKNYA

Lelaki itu berdiri seperti siluet berlatar belakang senja muram di kaki cakrawala.
Tubuhnya ramping , dengan geriap rambut liar diusik angin pantai mendesir liar.
Tatapannya saga dan kosong. Memandang batas terjauh, mengulik senja misteri.

Sekian lama , ia berdiri mematung,
menyesap matahari istirah tanpa berpaling
Udara dingin, langit turun tirainya.

Ia tetap mematung, menanti bulan muda.

##

Lelaki telah berkaca di temaram malam
di telannya sisa rembulan disudut jalan sana
Hilanglah seri nya tinggal gulita
Lelaki bergeming diraupnya gemintang
melenyapkan saksi
menderas malam di ujung penantiaan

 

Iwangendut adalah nama populer dari Iwan Setiawan, selain menulis puisi ia pun semangat  pula dalam menulis prosa seperti cerpen, cerbung silat, baik itu kisah klasik maupun modern. Selain itu sebelumnya si Bapa muda ganteng perkasa ini sering pula main teater yang merangkap penulis naskah dan juga sutradaranya. Saat ini berdomisili di Kota Bekasi, Jawa Barat

Puisi Siti Nurlaela

Keratabasa

Agaknya lagamu ini sedikit angkuh

Suruh aku terjatuh

Pakai tongkat sihir

Jabatanmu yang amatir

Kadang ku merebak kaku

Sebab kau injak sepatuku

atau dengan ucapan naas untukku

“ Aku suka padamu “

Tapi aku menjadi pemasang paku

Supaya kau sedikit menjauh dariku

Wakyu itu berbaju merah jambu

Sekarang putih abu

Sial….

Ku semakin terpikat olehmu

Tunanetra

Semesta ini sama

Gelap, Kelam seperti malam

Ku tak tau di mana tinggal

Dan kapan gigiku menanggal

Semuanya sama

Tidak ada hari

Tidak ada hiasan warna – warni

Kecuali Satu

Hanya Satu

Tentang diri dan rasa ini

Diriku melihat tapi merasa

Dirimu melihat tapi tak merasa

 

Bayang yang Bercermin

 

Aku tak ingin iri

Pada bayang merekat

Diatas daksa yang terikat

Dawat dawat

Subuh ini aku terbangun

Ada panggup yang meriap

Menuntunku kearah raib

Aku telusuri terus

Hingga ke ujung cungkup

Tapi namaku semakin pupus

Mengeropos di makan rayap

Jadi sehablur tembereng

Yang meneluh

Tapi sore ini

Aku ingin menengokmu

Dengan setumpuk bunga

Juga sejumput

Uraian kata

Dalam cermin

( 2017 )

Siti Nurlaela dari Sukabumi , pelajar di Ponpes Al Ittihad Cianjur , Saat ini tengah belajar menulis bersama anak anak katapuri dan pernah mengikuti organisasi jurnalistik serta OSIS IP4A

Puisi Muhammad Alamsyah

HUJANLAH MEMAHAMI RINDU

Tuhan
Akulah lumpur hitam itu
Meramu hidup dalam laknat menggores waktu
Tamak bertuan musyrik, terjebak  hudup yang semu

Inilah jiwa ingkar mendustakan janji peribadatan
Berjalan di atas keakuan keangkuhan
Bintanglah penunjuk jalan keresahan
Pertigaan putaran jam kesah dalam penyesalan

Hujanlah memahami rindu
Menepis bayang pada cahaya tuhanku
Pada-Mu diriku berlabuh
Atas nama hamba di senyapnya subuh

Inilah sukma menjumpa pada Kau Maha
Kawal roh menyulam nur sampai batas usia
Pada sujud memohon ampun
Kelabu luluh dzikir tobat beruntun

Aku bersanding pasrah
Pada-Mu Allah Azzawajallah
Tuntunan langkah mengarah
Takdir mengalun ibah

Pangkep, 12  November 2017

 

BETAPA KEJINYA DUNIA

Telah aku warisi sanksi Adam
Terjerembap menghumai bumi
Tak mungkin aku lari wahai sang takdir
Bukankah hidup dan mati bahkan kebangkitanku pun di sini?
Namun sungguh
Demi masa melingkupi laju angin
Betapa kejinya dunia
Menjebak jiwa berayun-ayun dalam lembah neraka

O……. kehidupan
Persingkatlah waktu  memburu malam
Ketika aku larut dalam janji-janji Tuhan
Biarkan sunyi menapaki roh yang suci
Mengiringi syahadatku menjumpai hakiki

Maros, 05 Desember 2017

DIMANA KAU WAHAI ORANG GILA

Tragis
Hilang mantera suci para nabi berabad –abad adab
Tuhan dijadikan boneka
Disembah di meja judi  pangsa kuasa
Tiada lagi jalan pulang
Gelap , sesat tak bertepi
Dunia ini sudah sakit
Dimana kau wahai orang gila ?
Antarkan aku pulang
Tunjukkan rumahku
Menyusu dalam rahim ibuku
Bermain ketuban tanpa polusi duniawi

Pangkep, 2017

KIBLAT PADA SAFIRNYA LANGIT KE EMPAT

Bukan keresahan tapi kesenyapan yang lena
Kerahasiaan tersimpan pada keabadian jiwa-jiwa nabi
Kekosongan difahami arwah tercabuti islam

Telah aku temukan jalan menuju kiblat
Cahaya murni antara ungu dan saga pada safirnya langit ke empat
Membentang di batas-batas subuh menggauli tubuh para sufi
Aku menapakinya dengan langkah-langkah tafakur
Seirama decak tasbih mengukur jejak, jarak arasy dan bumi mati

Makassar, 7 Desember 2017

 

 

BIODATA PENULIS

Muhammad Alamsyah. lahir di Maros, 17 September 1985. Nama pena sosial media : Alamsyahdewa alam. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai. Aktif dalam berbagai kegiatan seni- budaya. Lelaki yang akrab di sapa Alam, bergabung dalam beberapa komunitas seni sastra maya maupun nyata, dan bebagai komunitas seni rupa di Sulawesi Selatan. Karya sastranya telah banyak terbit di berbagai media cetak dan media online. Kecintaanya terhadap seni sastra tidak membuat bakatnya dalam seni rupa ( lukis) terlupakan. Giat cipta lukisan -lukisan eksperimental yang abstrak natural. WA : 085230739973 / No Rek BCA: 8735001236 atas nama Muhammad Alamsyah. semestaalan@gmail.com

Puisi Muhammad Fajar Andi

MENUNGGU KEPASTIAN CINTA

Aku masih berharap cinta datang
Kuyakin cinta akan datang
Untuk menemaniku yang kesepian
Yang kuinginkan cinta sejati

Aku rasakan bahagia penuh harapan
Aku mencari cinta tulus
Langkahku penuh cinta
Bahagia pasti kudapatkan

Kubisa temukan waita yang kuinginkan
Menunggu kepastian cinta
Yang buatku bahagia jalani hidup bersama
Aku pasti dapatkan cinta

Keyakinanku pada Allah sangat kuat
Aku percaya diri cinta sejati
Karena Allah aku jalani hidup
penuh cahaya yang terang

Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur 15 Desember 2017

Fajar Andi Suharja atau Muhammad Fajar Andi   kerap disapa Andi,  Pernah belajar di SLB Pandaan Kab. Pasuruan. Saat ini tinggal  Jl raya Ahmad Yani no 5 RT 2 RW 7 Petungwulung, lingkungan petungasri depan kantor kecamatan Pandaan Pasuruan-Jawa Timur.  WA: 089678244486

Puisi Moh.Romli

CHANDA

 

Chanda, Garis di bibir itu terhampar kisah lalu

serupa gerakan gelombang sore yang di iringiri sepoi bayu

dan lagu camar yang mulai bisu mengantukkan diriku.

 

Chanda, kau curi waktu sore itu

kau buat tuli telingaku

kau buat lalai kaki dan tanganku

hingga setiap gemahan

aku lupa harus menari dan bernyanyi

 

begitupun dibawah sadarku

senjatamu bagai tombak penghisap darah hamzah dulu

kau telah buatku lupa

dimana aku harus tunduk pada kebenaran.

 

Chanda, kau serupa hujan yang jatuh di tengah-tengah musim kemarau

walau tak mampu menyuburkan tanaman di halaman rumahku

namun aku merasakan kesejukan dalam hatiku

meski ku harus buang jauh.

 

MATAMU SUNNA

Pada angin timur

aku bertanya tentang matamu yang lupa

Pada senja lamur

aku bertanya tentang wajah bersalin rupa

 

Apa karena semua telah di murka?

 

Rindu, rindu, rindu, jadi luka

lalu bagaimana dengan kedamain yang pernah kita sapa

apa takkan menyapa?

 

aku hanya termangu

andai saja aku bisa seperti bayi

yang damai dengan ibu jarinya sendiri

mungkin aku telah lupa, matamu yang berduri.

 

AKU INGIN

Aku ingin menjadi penyakit rindu

yang takkan pernah ku rindui

 

aku ingin mejadi pengukir waktu

yang takkan pernah ku waktui

 

aku ingin menjadi pengarang lagu

yang takkan pernah ku lagui.

 

namun aku tak pernah ingin menjadi seperti kamu

yang terus menyakiti.

 

SAUDARA KU

Sungguh tak seperti yang aku cipta

benih yang telah lama kita tanam

kucoba pupuki dengan mainannya sendiri

namun tawa begitu dalam sembunyi di pekat malam

hingga kini telah berbuah duri, Duri cengkrama malam

 

Saudaraku, kalian saudaraku!

tak ku pahami faktornya

pupuk atau benar racun kuberi

tak kubiarkan duri itu tumbuh hingga padat

nantinya pasti menusuk kaki kita sendiri

 

barangkali kita harus mengutuknya

dalam dzikir kita yang sama

hingga nanti, Kembali berbuahi rindu.

KARJE MADURE

Musim kemarau adalah lagu diantara siang dan malam

dimana tontonan jadi tuntunan

dogma suci jadi cacian

kemaksiatan, kebenaran

tanamkan kemurkaan

pada generasi yang di korbankan

tuli, buta, sampai setiap nikmat disiakan

jadi semakin jadi, jadi semakin jadi

setiap karsanya racun mengalir kencang

hingga bermacam jenis ekor menjadi sasaran

menebus dosa dari hasil curian.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)

No. 085232343060

083853208689

Puisi Arif Tunjung Pradana

Puan

Perempuan itu berlarian dengan kata-katanya sendiri; memanjang kepada mata mawar yang telah menua. Tubuhnya mengeras dan tersapu suara menggema yang entah dari siapa. Gerimis mengancam matanya yang berkaca-kaca dan terpercik tajam ke empat penjuru mata angin.

Tiba-tiba ia merasa asing dalam waktu yang hening; dengan derai di sekelilingnya.

 

Taman Kala

Di sebuah taman gaunmu terkubur rapi dengan pertengkaran saat cahaya bulan menari-nari tepat di atas senyuman wajahmu. Bercak warna yang begitu ringan kemudian memerah lekat dengan rahang-rahang belati yang tersentak dan mencatut urat nadimu dalam pandangan tajam. Menghabiskan malam-malam yang mencekik kewarasan begitu juga akan kehormatan. Ambisi adalah sampah dan kotoran yang menyematkan rangkaian bunga dalam dada kemudian mengakar dipikiran. Aku adalah kebodohan; tak pernah usai mengancam setiap senyuman.

 

Menumbuhkembangkan Kenangan

Kita telah berhasil menumbuhkan kenangan yang membanggakan sekaligus menyakitkan. Bahkan derap langkah tumpukan nama-nama baru dalam berkas-berkas tua itu masih tertata rapi dalam ingatan. Bayangan harapan, ambisi, dan kekekalan kerap memandangi tubuh-tubuh kita yang takluk akan kenyamanan dengan perlahan.

 

Ambisi

Kematian mengawali cerita tentang ambisi, kehormatan,  dan dendam yang tak pernah usai. Teka-teki kehidupan selalu berpaling kepada adab yang purba. Bercak darah menyayat pandangan yang perlahan memutih. Perhelatan perihal ambisi adalah keteduhan hati. Pertikaian akan kehormatan adalah kerusuhan jiwa. Dan,  dendam yang tak pernah usai adalah tagihan-tagihan yang menumbuh-kembangkan perasaan.

 

Ranjana

Sebulan terakhir Ranjana melewati jalan kecil dengan kaki telanjang; penuh denyut nadi para pemeran. Setumpuk berkas berisi rencana-rencana kecil menatap mata kita. Nyaman mengkristal dan membaur ke segala penjuru sudut senyuman dalam detak detik waktu. Lelah mulai menghukum beberapa prasangka bersalah ketika suara-suara menyusur menjelma bayang-bayang angka. Barangkali rindu adalah penjara yang pandai menghitung mundur angka-angka itu dan menghancurkan kenyamanan yang telah menua. Hanya nafas kita yang mampu menyelesaikannya; menjadi harapan dan halaman rapi yang disusun dalam kotak memori dalam hati. Genangan sungguh akan menjadi kenangan dan perihal ketegangan biarlah menjadikan kita kebanggaan.

Melingkari Wajahmu

anak kecil berlarian di sekujur lingkar wajahmu, bernyanyi-nyanyi di kaki langit kemudian menyulam senyum dengan denting hujan di balik lengkung alismu.

ia menggertakan tubuhnya ke dalam rumah yang mematang dirajam waktu. dadanya menganga dengan segala teduh yang menengadah.

sempurna abadi dalam kantung matamu dengan dentuman memejam.

 

Beranda Rumah Tua

/1/

Kenangan menggenang di beranda rumah tua itu, menggenapi peristiwa-peristiwa yang tak pernah terbayang dalam pelukan, hentakan, ataupun lengking ingatan. Hujan menembus sela-sela kelopak bibirmu dengan murka, menunggu detakan nama yang mulai mengabur.

/2/

Bekas kopi tak lagi terlihat dalam permukaan bibir cangkir yang tersaji di atas meja tua. Ia sudah meletup berkali-kali semenjak hujan dan sepi menghantam ruang tamu dalam rumah tua itu. Ia pun mengepung lingkar matahari yang menanggalkan sinarnya pagi ini.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Puisi Puisi Ari Vidianto

Ari Vidianto, seorang Guru di SD Negeri 2 Lumbir, Banyumas

 

Sentuhan Terlembut 

Keheningan malam membisikkan sepi

Hanya desahan angin yang menemani

Lirih berhembus menerpa jiwa

Yang haus akan gelimangnya cinta

Sentuhan terlembut yang din anti

Hanya angan-angan tak pasti

Berharap suatu saat menjadi nyata

Kebahagiaan yang hadir penuh warna

Lumbir, 31 Mei 2017

 

Gertakan Jiwa 

Kenangan itu masih membara

Belum hilang dan sirna

Menyisakan luka perih di dada

Menusuk menyayat di relung jiwa

Merobek-robek hati yang tersiksa

Menahan pahitnya gertakan jiwa

Lumbir, 31 Mei 2017

 

 

Pergilah Cepat 

Senyummu kini basi

Tak berirama dan bermelodi

 

Wajah cantikmu telah sayu

Seperti daun yang merontok sendu

 

Luka hati yang tersisa di jiwamu

Masih mendekam tak berlalu

 

Hilanglah luka cepat hilanglah

Pergilah cepat oh pergilah 

Lumbir, 31 Mei 2017 

 

Haus Cinta 

Serumpun wajah bahagia
Berkumpul dalam persatuan jiwa

Terekam memori tanpa sandiwara
Semuanya mengalir penuh cinta

Sinar hangat gejolak asamara
Membelai jiwa-jiwa yang haus cinta

Lumbir, 31 Mei 2017

 

Pesona Mimpi 

Tabir malam berdenyut sunyi

Irama syahdu membentuk melodi

Haus penuh luka debaran hati

Semesta jiwa mencoba mengobati

Rintihan pilu mengalun sendu

Mencabik-cabik gelora jiwaku

Tamparan perihnya hari-hari

Kan menyongsong pesona mimpi

   Lumbir, 6 Juni 2017

 

 

Ari Vidianto,lahir di Banyumas, 27 Januari 1984. Bekerja sebagai Guru di SD Negeri 2 Lumbir.Bukunya yang sudah terbit yaitu “ Ibu Maafkan Aku” &  Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat  di Media Massa seperti di Tabloid Gaul, Majalah Sang Guru, Majalah Ancas,SatelitPost, Readzone.com, Buanakata.com,Sultrakini.Com, Riaurealita.Com, Duta Masyarakat, Solopos,Wartalambar.Com, LPM Arena, Sastranesia.Com, Majalah Derap Guru,Kedaulatan Rakyat,Radar Mojokerto, Kedaulatan Rakyat,Artebia.Com, Buanakata.Top, Joglosemar,Palembang Ekspres, Haluan, Majalah Simalaba.Com & Padang Ekspres . No Hp 081575448984.  Facebook Ari Vidianto & Penulis Lumbir, Sastra Lumbir,email : ari.vidianto@gmail.com & Blog: http://penulislumbir.blogspot.co.id/

Puisi-Puisi Isa Asmaul Khusna

Melodi-melodi rerupa

Ambang sepi mati di pangkuan. Termenuk di samping seekor kucing kurus di dekat perapian. Mendengar dongeng-dongeng perempuan tua di kursi goyang.

Puisi yang malang

Tak sempat hidup, mati terjepit nafsu-nafsu hewan di pangkal tenggorokan. Kemudian dinyanyikan lagu-lagu kematian. Memainkan melodi-melodi yang mengenaskan, menyakitkan.

Sepi mati di dekat perapian. Di pangkuan.

Kediri, 26/05/2017 15:38

 

Aku dan sekawanan sepi

Aku berkawan dengan sekawanan sepi.

Yang datang bertamu kala sembilu mengoyak dinding-dinding hati

Aku tak ingin mengiyakan, namun alam terlanjur mengijinkan

Lalu mau dikata apa?

Bait-bait syairnya terlalu menyanjungku, menghiburku

Dengan melodi-melodi yang candu; syahdu

 

Ini derita,

Ia nyanyikan nyanyian-nyanyian luka

Kulayani sepi dengan alunan-alunan pelipur lara

Untuknya, tentangnya, dan atas namanya

Kediri, 16/05/2017

 

Kota

Sedan-sedan yang mengerang di kemacetan.

Klakson-klakson dibunyikan; mengadu keburukan dan kelumpuhan.

Soal hiatus-hiatus kebencian dan kabar-kabar soal pemerintahan.

Komentar-komentar ditudingkan.

Polemik-polemik diperdebatkan meluas, melupakan akar masalahnya.

Ah, bujan negeriku kini sangatlah lucu.

 

Pedagang asongan, penjual koran, kuli bangunan

Tenaga sipil, resepsionis, guru besar,  penjual kaos

Ahli tata negara, kritikus, penjual bakmi,

Mengoceh di koran-koran dan sosial media

Ini kotaku, sayang. Yang jatuh cinta pada sensasi

Kegaduhan, dan  kepopuleran

Tapi isi kotaku ramah tamah

Lihatlah! Menurutmu?

Kediri, 26/05/2017 20:08

 

Malam bercahaya

Adakah kota yang lebih padam?

Dari bohlam-bohlam lampu taman yang menyilaukan? Dari sorot-sorot lampu mobil yang pecah dalam pandangan?

Dari  ketransparanan sayatan-sayatan penyimpangan di dinding-dinding dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar nakal.

Soal cabul, dan graviti-graviti yang tak senonoh.

O bujan, ini kota yang terlalu berwarna, hingga larut.

Menyamahi sinar-sinar chandra kala malam tlah tiba.

Merah, hijau, kuning, biru menyala di lampu-lampu ruko-ruko semi permanent, pinggir-pinggir jalan dan motel-motel yang menjamur di ibukota.

O bujan, kuceritakan tentang sebuah kota yang besar, dihuni para pembesar, orang kecilpun bercakap besar.

Kediri, 27/05/2017 10:35

 

BIODATA

Isa Asmaul Khusna, lahir di Kediri 12 Maret 1999. Saat ini menempuh pendidikan di Tadris Bahasa Indonesia IAIN Tulungagung. Menulis cerpen dan puisi di isaasna.blogspot.com. Menyukai puisi-puisi Rendra. Dapat dihubungi di akun FB: Isa Asmaul Khusna,  email: Isaasna@gmail.com atau WA: 0895334085559 bertempat di Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung

Puisi Moh.Romli

UNTUK YANG DISANA, HT
Untukmu yang disana.
masihkah dirimu hafal dengan wajahku
wajah yang selalu kau harap rebah di hatimu, lima abad yang lalu

diantara bentangan rindu yang tak bertepi
diantara jarak-jarak yang tak berujung
aku masih mengenang seribu tanya di sini

tentang langit yang lugu
membuatku bisu
dan segalanya untukmu.

masih mengingatmu di sini
masih menggenggam cintamu yang lalu
yang pernah terpahat di hatimu, hanya untukku.

masihkah kau genggam erat rasa itu?
rasa yang pernah kau janjikan pada senja hingga membuatnya tenggelam

rasa yang kau sematkan kan pada petang hingga membuatnya terang

disini aku masih bertanya tentang itu
tentang tiga istana yang akan kita harungi berdua.

 

KABAR DARI DESA

Di ujung seketsa gelora bengis
di uluran jari mentari sengit
ku lihat sosok seorang perempuan tua layat

dari pecahan cermin-cermin bening yang terpang-pang di mata
sangat terlihat jelas
bahwa perempuan itu sudah meningal

seperti kabar yang kudapat sebelumnya
membekas lengkung di hamparan pasir kelabu yang basah
yang menjadi tumpuan amarah temannya, tempat dimana ia mengaduh.

semoga saja perempuan tua itu korban dari takdir tuhannya
bukan dari takdir amarahnya sendiri.

 

MALAM MUTIARA KITA

Maret sampai juli.
malam mutiara kita adalah malam minggu, senin dan kamis.

kita relakan tetes peluh deras mengalir

kita relakan jari-jari kita terus menari kekal sampai di penghujung

dan kita relakan mata kita berdarah-darah

demi sang raja yang datang berbondong menyapa kita di malam-malam itu
pastilah kita lupa letih, desah dan urat-urat yang berbisik.

kita jadi jongos
kita jadi budek
kita jadi bodoh
semata tak ingin mengecewakannya.

 

HARAPAN KITA

Kali ini suara rintik hujan malah lebih sedih dari lagu yang biasa kita dengarkan kawan

dari pagi sampai tengah pengharapan tetap sama tak ada yang beda
semoga saja tak sampai di penghujung nya

menghitung kotak per kotak, ekor per ekor, dan bahkan batang per batangpun kita layani meski cukup melelahkan dan membosankan

kita harus sabar dan iklas kawan
layaknya secarik kertas dan pena yang berada di atas meja
pencatat sejarah kita.

 

KABAR PAGI

Engkaukah itu, embun yang hinggap di keningku pagi hari
meluap berasa asin yang pernah aku cicipi, engkaukah itu.

engkaukah itu, pembius, perangsang otot-otot kaku sehabis mati, engkaukah itu.

jika ia, maka jiwa-jiwaku kekal di siang dan malam-malam yang beku.

ku kabarkan pada mentari
ku kabarkan pada hujan
ku kabarkan pada angin

bersiaplah, aku menangtangmu
dan kau kan rebah di saku untuk ku tumbal.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)

No. 085232343060
083853208689