Fajar Andi Suharja atau kerap disapa Andi, Pernah belajar di SLB Pandaan Kab. Pasuruan. Saat ini tinggal Jl raya Ahmad Yani no 5 RT 2 RW 7 Petungwulung, lingkungan petungasri depan kantor kecamatan Pandaan Pasuruan-Jawa Timur. WA: 089678244486
Burung-burung kecil beterbangan mengelilingi kepala seorang sarjana baru yang mengendap-ngendap dalam selangkangan kurikulum baru dan bergabung dengan gerombolan pengangguran baru. Otaknya yang compang-camping mencair diaduk dalam cangkir didihan kopi, disentakkan dengan pembaruan-pembaruan negeri, dan dicabik oleh asu-asu berdasi.
Sarjana baru tentunya sudah tau, asu-asu itu memiliki sejuta siasat untuk mencabik-cabik isi kantongnya sebelum ia diterima kerja di sana. Hidup memang asu!
Baju Kematian Ibu
” Ibu, malam ini kematian akan menjemputku. Mungkin pukul 12 lebih 5. Apakah ada baju baru untuk kukenakan malam ini? ”
Ibu bergegas menjahit baju bolong milik Karjo untuk merayakan kematiannya malam ini.
” Biarkan kematian menjemputmu dengan khidmat Karjo. Ibu akan menunggumu. ”
Barangkali Karjo tau maksud Tuhan mempertemukannya dengan Ibu sebelum merayakan kematian.
Perlahan Karjo abadi dengan baju jahitan Ibu.
Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.
Mereka berbisik kepada pepohonan “Tolong, kabarkan berita duka kami”. Perlahan kematian menjemput dengan khidmat, mereda dihantam ketidaksiapan melawan perubahan. Kehidupan-kehidupan baru bermunculan; berkembang-biak dengan leluasa dan tidak semestinya.
Jelaga kerinduan masa purba terus-menerus meraba tubuh-tubuh baru.
Membalas Perbuatan
Sekelompok pendosa menyembah dengan segala desakan pertolongan. Tuhan menunjukan jalan yang benar. Murka dan sesat segera menyelusup di tengah-tengah mereka, kemudian sesal dan sesak tumbuh dalam dada, pembuluh darah, dan pemikiran sempit mereka.
Pada Manusia
Aku hidup di sela-sela dirimu. Berbisik, bersembunyi, dan tumbuh pada lubang menganga dalam dadamu. Tuhan ataupun rajamu salah kaprah dalam bermuslihat.
Percayalah, neraka adalah tempat ternyaman untuk mencintai kehidupan.
Luka Kakiku
Kakiku meraba tanah bergema di pinggiran jurang dengan luka menganga pada bagian samping; tergores air mata. Seorang perempuan mencari-cari sebabnya.
Dalam jurang ada tubuh saling menuduh.
Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.
Ilusi mengutuk neraka
Mimpi-mimpi tak percaya
Binasalah liang lahat pada kiamatmu
Terpapan sebuah nama
Dalam kumpulan kertas
Bakar sia-sia
Sampai menjelang matimu
Dan terpapan sepenah jiwamu
Ajaib waktumu
Sedangkan disana sangat teduh
Jika membawa peluru api
Hujan api menyangga mulutmu
Sungguh parah yang tak ditentukan
Selaras belenggu setan membidikmu
Bukan lagi di dunia
Namun lebihkan di akhiratmu
Surabaya, 18 Juli 2017
Membayangkan Sosial Media
Lintas sosial media di otakmu
Sebelah mana yang ditampilkan
Maklum jika terpasang foto mesum
Maklum jika membaca kata buruk
Maklum jika membaca dibentrok habis
Setelah terkepung belahan jiwamu
Segenap dirimu akan melusuh
Deringkan belenggu pada padi merah
Membesuk lalai dengan sendirinya
Setelah itu akan diusapkan samudra jiwamu
Seakan-akan alunan musik terpaku hampa
Begitu pula rindu dan kenangan akan lepas sebulan lagi
Tangan meleleh hingga tanpa sadar
Habislah sudah riwayatmu
Surabaya, 18 Juli 2017
Siapakah Dirimu?
Belum seberapa kenal
Menunggu sekian tahun yang berjumpa
Seperti puisi diarungi jiwamu
Seluk beluk di belah namamu
Seperti mengusang dening keangkuhanmu
Kemudian terisah tangis
Namamu siapa?
Asal darimana dirimu?
Setelah lama-lama tersiar pada nadi-nadi jiwamu
Terlumpuh orang tanpa dikenal
Kenapa sampaikan satu suara
Tanpa lirik apapun seberapa jauh ku kenang
Surabaya, 18 Juli 2017
Penjabat Terlibat Koruptor
Koruptor merebah dimana-mana
Tersanjung uang di hangus
Melipat jarak di antara lebah-lebah penjabat
Libatkan hampa kepada serdadu merah
Menutup mata langsung diadili
Baca pikiran masa lalu
Yang tersimpan peristiwa begitu tak lazim
Seperti biasa tak mampu diampuni dosa
Bukan lagi doa yang dipanjatkan
Hanya menggema sayup-sayup terlentang jari
Sakit tiada alasan lagi
Bahwa hidup di dunia hanya sementara
Surabaya, 18 Juli 2017
Belenggu Gadis Manja
:Agustha Ningrum
Selepas setahun
Tinggalkan segala pertemanan
Kini meninggalkan segala kepunahan
Sama seperti selimut bayang-bayang malam
Elegi gadis manja meninggalkan api merebah
Sebelum mengayomi suami
Lupa dengan kami
Belenggu tanpa sebab
Tak lekang dimana-mana
Hadirkan segala yang disembunyikan
Mengeming nada-nada keperihanmu
Semua tak lagi bertemu
Surabaya, 18 Juli 2017
Video Viral
Video semata-mata terkenal
Seolah-olah dikenal karena dinilai sosok setia
Inilah di viral ke berbagai sosial media
Mengiring orang dilihat pada video tersebut
Dijaga oleh jaksa agung
Bila terhangus sia-sia
Hukum dunia dan akhirat akan ditimbang
Surabaya, 18 Juli 2017
BIODATA PENULIS
M Ivan Aulia Rokhman, Lahir di Jember, 21 April 1996. Mahasiswa Universitas Dr Soetomo. Karyanya dimuat di koran lokal dan Nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan Komunitas Serat Panika. Seorang Penulis ditengah Berkebutuhan Khusus.
Telepon/WA : 083830696435
Email : rokhmansyahdika@gmail.com”>rokhmansyahdika@gmail.com
Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117
sekecil apa pun ‘weisku memendam rasa benci pada nueiku’
sebesar apa pun nueiku’ menaruh harapan pada ‘weisku
matahari dan bulan menjadi saksi
dalam segala perubahan musim
dan orang-orang pergi menyeret sunyi dengan pedih hati
‘weisku, hanya engkau yang paham pada malam yang turun perlahan
dengan kunang-kunang melintas-lintas di atas taman bunga
(entah sejak kapan, diam-diam ‘weisku jatuh hati pada lelaki yang selalu berjalan sepanjang malam dengan menimang kunang-kunang)
terkadang nueiku’ seperti melihat seorang dalam rasa sakit
melintas– terhuyung seraya memegang dadanya yang rapuh
dan panas-dingin yang tak kunjung sembuh
: apakah ia maut? nueiku’ kian menua dalam ruang kian sunyi (ia terlanjur menabur keringatnya di laut yang maha luas apakah ia benar-benar bisa lepas dari kepungan ombak?)
ia memejamkan mata: ia lihat langit jingga
ia lihat seseorang tersaruk-saruk
menuju ruang hati ‘weisku
april demam: nueiku’ belajar bagaimana menelan pahitnya
kehidupan agar mei manis di tenggorokan
nyaman sepanjang bulan
seberapa sering engkau susah tidur?
nueiku’lah imsonianis kambuhan yang selalu ingin menemanimu
kesendirianmu dan kesunyianmu
dalam larik-larik sajak pendek ‘weisku
seseorang yang selalu menyusuri jalan paling sunyi
berbisik di telinga ‘weisku dengan sangat hati-hati
: “bahkan keringat yang mengucur dari tubuhmu
tidak akan mampu memperbaiki masa depanmu
andai engkau tidak pernah membasuh tubuhmu dengan
embun di atas dedaunan sebelum cahaya pagi!”
hati ‘weisku pualam, nueiku’ penjaganya
agar tak retak hingga berabad-abad
dalam hujan menderas
ia temukan jasad rindumu serupa pisau
berkilat tajam
hendak mengiris hati-jiwamu?
ou, ‘weisku, irislah!
(maaf bila ia lupa menyematkan anggrek ungu di rambut di atas telinga kananmu padahal telah ia kecup keningmu ia seret juga masa lalumu yang lama membeku ke taman kota yang jauh)
nueiku’ bertekuk-lutut; hatinya remuk
perempuan bergamis-berhijab hitam menatapnya dengan mata teduh
lalu tidak acuh dan sibuk membersihkan musala dan halamannya
lalu melangkah pelan ke barat laut
ribuan sayap malaikat mengurung tubuhnya yang menyala
dan kemilau; nueiku’ lebur!
kepada nueiku’ selalu aku tekankan dengan kata-kata yang keras
: jangan buang-buang usiamu hanya berkelakar dengan nasib
piuhlah keringat, kayuhlah sampan berlumut
sebelum karang melipat ombak, sebelum maut menjemput
piuh keringat sajakmu sekarang jua! Cirebah, 26 April sd 8 Mei 2016
KETIKA SENJA MENGAPUNG
ketika senja mengapuñg dan airmatamu pecah juga, mungkin aku tengah berlatih musikalisasi dan baca puisi untuk pertunjukan sosial anak zaman yang getir: gersuas– malam lusa di kampungku yang jauh dan senyap tetapi bukankah engkau tengah berpesta dengan ratusan temanmu, mestinya engkau paham bahwa keberpihakanku pada keserbakekurangan orang lain selalu saja menghanyutkanku, merobek-robek serat hatiku sekecil apa pun, sesederhana apa pun aku ingin mengulurkan tangan puisiku, o, tangan puisiku, chin!
Cilacap, 23 Juli 2015
SEPERTI DANGDUT
engkau terlalu manis untukku, chin
aku sangat tidak tahu malu menyatakan perasaanku
walau sambil bercanda dan lalu berlari
seperti dangdut; kau orang kaya, aku orang tak punya
dan dirimu tergelak-gelak
entah karena senang atau mungkin hanya menganggap lucu saja
entahlah, yang jelas; dirimu memang terlalu manis, chin!
Cilacap, 22 Juli 2015
Eddy Pranata, Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah.
Wajah malam terbakar
tak ada senyum rembulan
bulan gemintang menahan malu
langit pun mengirim kebodohan
kemanakah jiwa-jiwa bersih berpaling?
Ataukah Tuhan telah bersembunyi dari hadapan kita?
dan kita tetap saja hidup dengan diri sendiri
tak pernah mendengar sesuatu yang tersembunyi
ditertawai angin yang menebar dingin
sementara hamparan pasir membawa panas
sungguh, kita sangat kecil
sungguh, kita adalah hina
ucapkanlah takbir dengan lantang
agar tanah ini tidak mengeringkan
jiwa dan raga kita
– dan sujudlah di atas tanah itu
: Tanah Muzdalifah
Malang – 2017
Munajat Jiwaku
Aku berlari pada lipatan air
menggulung jelagah hitam
Tapi napas seakan merintih, lirih
pada lorong sempit menyampaikan pesan
sesaat lagi jiwa tiba di penghentian akhir
Bayangan putih membawa sebuah isyarat
ada malam terlewatkan
ada siang terhempaskan
Setiap saat ada aroma dosa kutaburkan
lewat langkah
lewat kenaifan pikiran
lewat kemungkaran tangan
lewat kedangkalan nalarku
Masih adakah tersisa
untuk jiwaku yang tersesat?
Dalam sepinya malam
hanya kefakiran doaku bisa kupanjatkan
pintu munajat tak pernah terkunci
Disitu kutumpahkan tangisan jiwaku
aku hanya setitik kecil
pada hamparan dunia ini
– yang tak punya apa-apa
Selain hanya bisa berpasrah
pada pemilik jiwa
Malang – 2017
Jalan Barzah
keluh lidah terbakar sekam
mengarungi perjalanan menuju barzah
jasad kering meninggalkan tulang belulang
ketika nalar bertanya, dimana diriku
tetapi sesungguhnya itu jiwa
karena (dia) telah mati
meninggalkan wujud raga hina
dan mulut terkatup tanpa doa
tak sanggup berteriak lantang
selain melihat diri tanpa selembar pakaian
berlari liar, telanjang tanpa nafsu
(2017)
Hujjah
Angin jiwa senantiasa bergejolak
hidup berjalan bersama pikiran manusia
dan berteriak tentang kebenaran
hingga kadang melupakan
Rabb-lah pemilik kebenaran
sunnah Rasul S.A.W pun jadi pertentangan
katanya bid’ah, karena bukan ajaran Rasul S.A.W
hingga pikiran orang seakan lebih suci
sesungguhnya kita tak pernah
melihat kebenaran dengan mata hati
selain dengan kasat jiwa dan pikiran
apakah karena hujjah telah mengingkari kita?
(2017)
Di Pertapaan Tasawuf
(1)
tujuan keraguan itu adalah ketiadaan
pergilah dari keraguan sedikitpun
buanglah keraguan, semuanya
benamkan diri pada kebenaran
karena itulah keindahan
bukan hidup dunia
bukalah mata hati
sedalam-dalamnya
hingga jiwa terkelupas
disitu ada sifat-sifat-Nya
(2)
Aku menggigil dingin
Aku puasa, aku lapar
pakaianku hanya muraqqa’ah tua
jasadku terasa begitu hina
Saat nafsu sudah membekap kesucian jiwa
sementara aku mengingkari kekotoran jiwa
Matahari pun hampir terbenam
mataku hanya sepenggal dusta
selalu berlari dari pikiran
Kusentuh air, membasuh wajah
disitu tampak
bening wajah Kitab al-Hikam, penuh nur
(3)
Aku hidup dalam masa silam
dalam ujian kesulitan
tapi, hidup semakin tumbuh
mengikis kecelaan manusia-ku
rasa sombong pun mencuri kesempatan
Masa telah mengukir
tercatat pada kitab-kitab bersih
mataku pun terantuk
membacanya, menuntun pikiran dangkal
lalu sebuah nama terlintas
penuh ma’rifat
begitu lekat nama itu
seakan terkunci pada batas nalarku
Kini pertapaannya musnah
tinggal puing dan bebatuan
sajakku pun tak sanggup menghidupkannya
(2017)
Biodata:
VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar (Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar
Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya
Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – HarianPikiran Rakyat (Bandung) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – HarianRadar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian DigitalNusantaranews.co –Harian Buanakata.Com – Majalah Puisi – Harian Digital LiniKini (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar) – Mingguan Utusan Malaysia (Kualalumpur) – Harian OnlineMalang Voice (Malang) – Majalah SIMALABA (Versi Digital)
Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016
Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Aku tertinggal menetap pada pertengkaran saudara yang membabi buta. Berseteru atas dasar batas wilayah dan beberapa pohon jati besar; tinggi menjulang di sisi utara Kedhung Ombo. Suara-suara meneriaki penuh siasat, bambu uluh menyembunyikan dua induk jati, menanam perkataan abdi dalem yang menyindirnya; untuk pulang.
Saka Majapahit Sunan Giri
Sunan Giri menyusuri sisi selatan Bengawan Solo melaksanakan tugas sebagai penegak ajaran. Sinden Ki Donosari mengantarkan jati melewati tepian dengan tembang mocopat. Hutan dan gunung memenuhi perjalan dan pikiran dengan nama-nama baru.
Waduk Mungkur
Perpindahan adalah hal yang menyebalkan, membuatku melupakan kenyamanan dan menumbuhkan kenangan yang menyakitkan. Kubangan berlebur dengan lebih dari sejuta harapan pada tiang-tiang dan ruang-ruang sesak dalam dada. Genangan dan gusaran sejarah menjadi lubang yang beradu di tanah perantauan; seberang jalan.
Tri Darma Said
Hidup atau mati dalam pertempuran membuatku segera bertindak mengenali bahagia dan duka yang berkerabat erat, saling mengancam juga membenamkan. Semayam adalah rumah paling nyaman setelah pelukan darah tanah kelahiran.
Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.
Mungkin harus ku mulai dari sini sebelumnya
sebelum semua usai
sebelum semuanya terberai
diantara lelah, luka, dan gerimis yang siap menampar
Kau tau itu bukan?
bukan merupakan sesuatu yang ku inginkan
juga bukan merupakan sesuatu yang tak ku harapkan
namun memang seharusnya di lepaskan
dua pencalang hidup di rusuhnya gelombang.
Kawan, tetaplah berlayar
jangan terpengaruh akan gaduh topan
apalagi sampai mencium bau karang
menarilah dan terus menyanyi
walau dalam lagu yang amat pedih kita nikmati
demi pesta di ujung jeda waktu nanti
buatlah ia tunduk dan mati.
KU TEBUS KAMPUNGKU
Langit jangan menangis karenaku
sebab jiwa tak punya wadah
jika untuk menampung air matamu
jangan cegat
takkan mampu kau bentangi arah
sudah ku bilang takdirmu tak senada hasratku
jangan paksa
jika kau tak ingin patah tubuhmu
kau laksana iblis penggrogot hati.
kalah, jika aku merasa mati.
SENJA LAMONGAN
Kejam malam menyekap
ding-ding kaca melamur
wajah langit masih sendu
tatap lubang nyembur kesap
mata semakin gelap
sementara tubuh tak kelar di isap
juga kulit kaki jadi putih kerut
bak hamba layat.
Aku menuju kampung halaman
tubuh terjungkal diantara siang dan malam
entah kapan embun akan melupakan malam
entah kapan alam akan bersalin rupa
ku coba tanya asap yang lupa untuk setia pada kopinya
hembus bayu dan jari mentarilah jawabanya.
AENG PASESER
Tak seperti yang ku duga
asin dan tawar masih lekat terasa
namun sentuhannya tak ada yang beda
aku masih merasa seperti dulu kala
ketika manja, nakal, dan tubuh nan ter-elus mesra
aku menangis, tak tau bagaimana orang dimanja
aku nakal, tak tau bagaimana orang peduli
dan aku geram, tak tau bagaimana orang di sayang
yang aku tau,
asin dan tawar adalah air kita yang masih damai.
LAGU AGUSTUS
Deru ombak malam
menitip duka angin topan
penghuni paseser terkabar
terkapar di pulau-pulau mengasingkan
pencalang, biduk, diam
pasrah pada asap putih gelombang
jungkal-jungkil gelora semakin geram
menumpuk rindu dari paseser hingga pulau sebrang
akankah semua terbenahkan?..
tak ada yang mampu menahan tangis di bulan agustus
sampai janur-janur menangis
mengiring langkah para pahlawan yang mulai hilang perlahan
sampai setiap lambayan harus di relakan
angin timur tak karuan.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995 Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Kumpulan Puisi Terbarunya. MENGHITUNG LUKA DAN RINDU SEPANJANG JALAN JAKARTA – SUMENEP. (2016)
Sebuah koran di lempar seorang kurir. bersepeda di pagi kabut
Dikabarkan dua juta hektar hutan terbakar
Aku membacanya di teras rumah sambil meneguk segelas kopi yang asap-asapnya mengepul dari hutan-hutan
Di pojok bawah, 10 desa dari dua kabupaten kebanjiran: ratusan rumah terendam sebab hujan tak kunjung reda. aku melihat langit: masih berkabung saja
Di bagian lain seorang istri di bunuh selingkuhan suami: Alangkah lucunya negeri ini!
Lembar berikut adalah lapak-lapak sesak lahan parkir mobilmobil,kavling rumah,warung makan,hotel,atau jajanan obat kuat
Mataku berjalan lalu saja membaca kabarkabar itu:Dari Barat ke Timur: sepenjuru mata angin: Kemacetan, Demo kenaikan sembako—BBM—,Mogok kerja, Politik yang sama panas dengan dua juta hektar hutan terbakar
Dan tangis rakyat membuat banjir bendungan dangkal
Kolomkolom pekerjaan sepi. padahal jutaan sarjana kita bosan cuti panjang sejak hari wisuda
Rubrikrubrik artis foyafoya subur ditanam di pojok utara. padahal jutaan anakanak kita kelaparan
Ahhh!
Inilah kemarau panjang. duka tak berkesudahan di negeri ini
Korankoran penuh berita tak mengenakan. sesak pencitraan
Inilah zaman baru
A-Z jadi murahan!
Ladangladang puisi kekeringan
Penyairpenyair bisu membela
Sebab semua huruf habis terjual
Para pembaca jadi penyakitan. berita penuh gula, micin, asin, keasaman
Ahhh!
inilah zaman baru Nestapa
inilah zaman baru Nestapa
inilah duka baru Nestapa
Aku tertawa
kopiku tumpah
koran jadi hitam dan basah
lalu ku koyak dan buang ke tong sampah
“Sudah habis episode koran hari ini”
Teras Rumah, Bulan Delapan 2017
Buku Catatan Harian Tentang Ibu
Kepada Rumah: tempat masa kanak berlari riang
di kafe ini. aku benar-benar sendiri. selembar tisu baru saja diterbangkan angin. gelembung dari minuman—bernama Honey….—yang setengah jam lalu ku pesan hampir habis meletup sejak sampai di permukaan. kursi di depanku diduduki sepi. senja membanjiri lantai dan dinding ruangan
sedang dilantai dua. di Kota Solo
setelah hari ini
“selamat datang SENDIRI. kamu sudah jadi penjajah. lalu bagaimana caranya merdeka? aku lupa. maafkan. aku sedang tidak menikmati ini: ia meletup di dada. seperti kenangan sebagai luka-luka.”
dan aku terjebak sepi yang membuka catatan harian tentang “rumah”. tangan Ibu yang senantiasa harum ketumbar, merica, cabai, bawang, dan rempah-rempah kala aku menciumnya
aku menghirup aroma dapur milik Ibu, tempat ia menghidangkan cintanya paling tulus setiap hari. meracik sesuatu yang kami suka. mendengar suara radionya yang baru dibeli tiga bulan lalu. alasan baginya untuk mengusir sepi yang seringkali mengusik
aku teringat oven besar milik Ibu. yang menebar hawa panas kala ia tengah membuat roti, diisinya keju, cokelat, dan kacang gula.
aku teringat meja makan. ada tujuh kursi dan hanya penuh di akhir ramadan. mejanya bisa diputar, sering kami rebutan makanan kesukaan
menyantap remah tawa. tak perlu memesan apa-apa: di atas meja, Ibu sudah menyiapkan semua yang kami suka: perkedel, tempe bacem, lempah kuning, bayem, kerupuk, atau lainnya. kadang ada bonus pempek atau martabak Bangka
tentang buku catatan harianku yang terbuka di atas meja kafe ini. aku tak memesan apa-apa selain segelas minuman tadi. lalu kuteguk beberapa rasa sakit di dada
lampu di lantai dua sudah dinyalakan. rinduku memancar
tentang Ibu. ia paling paham jika ada sesuatu yang rubuh di tubuhku. aku belajar betapa indahnya rahim bungamu. di tempat ini. puluhan mil terbentang antara aku dan Ibu. ditubuhku: malam hampir ranum. memoriku berguguran. menyemai selembar kertas di depanku
dalam dadaku. kolam jiwa menciptakan arus. ia berdebur begitu kencang. dan angin bergemuruh di antara perbukitan cadas yang curam. rindu makin runcing menghunus sisa jingga yang membakar tubuhku
Ibu
bidadarikah engkau?
aku tengah terpenjara kini. tiap detik yang berdetak menyebut namamu. hanya namamu Ibu. kenapa rindu seperti dua mata pisau yang menusukku?
Surakarta, Sembilan—Sembilan—Tujuhbelas 05.15 pm
Habib Safillah Akbariski
BIODATA PENULIS Habib Safillah Akbariski, demikianlah ia populer. Lahir 10 Juni 1999 di Bandung. Jadi usianya 18 tahun , terhitung sejak profil ini ditampilkan di Buanakata. Terlahir dari rahim orang yang paling dicintainya, Heniar dan lelaki yang bersedia berpeluh untuknya, Otto Rikintara. Namun secara teknis pria berwajah cakep ini dibesarkan di Bangka Belitung sejak umur empat tahun dan belajar merantau sejak umur 15 tahun. Sekarang tengah memulai dunia perkuliahan di Prodi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta: berharap suka dan lulus secepatnya. Amin.
Info lebih lanjut beliau bisa dihubungi di Hp/Wa: 087797252549 dan aktif bersosial media di FB: Habib Safillah, Ig: Habibsafillah. Beberapa karyanya disemayamkan di habibsafillah.tumblr.com dan di tempat yang ia kehendaki. Alamat: Jl. Dahlia Dalam 1 No. 446 RT 003 RW 001 Kel. Bukit Merapin Kec. Gerunggang Kota Pangkalpinang Prov. Kep. Bangka Belitung (kode pos: 33123)
Kenangan indah
Yang terpisah jauh
Entah kemanakah perjalanan saat ini?
Mungkin sudah benci di kota ini
Sedangkan memandang muka begitu kumuh
Lantas percayakah padamu
Sudah tidak layak lagi menjadi sahabat kecil
Aku sudah meninggalkanmu tanpa sekadar pertanyaan
Mengapa ia pergi tanpa merindukan pesan
Dimanakah kamu pindah?
Kenapa kau hendak pergi tanpa meninggalkan sahabat kami
Kami ini satu generasi denganmu
Jangan heran melepas hanya sepintas lupa
Dimanakah menempuh sekolah yang sedang diraih saat ini?
Surabaya, 06092017
Berdoa Untuk Sahabat yang Sedang Meninggal Dunia
Tak terasa ia rela meninggalkan segala musibah
Banyak cobaan yang dilewati
Akan tetapi ia berujung duka hati
Apa yang telah dihadapi
Lalu terjun ke kubur
Selepas usia kelam
Ia menghembuskan nafas terakhir
Semua itu ada kenangan di sini
Seperti itulah waktu yang dilampui
Sedangkan hampir mendekati genggaman
Sudah seharusnya bintang kecil mengantarmu di Surga
Menemui masa lalu yang sempat meninggalkan jejak
Semua ini antara dirindukan hatimu
Akan ada cinta dan suka duka
Serta tawa yang melampuimu
Berdoakan untuk sahabat
Agar senantiasa menghendaki sisi tuhan
Kepada sang maha kuasa
Selamat jalan sahabatku
Sudah menemani usia yang belia
Surabaya, 06092017
Indonesia Bersedia untuk Mengungsi Masyarakat Rohingya
Betapa kekerasan belum berakhir
Masyarakat Rohingya sedang menunggu kabar
Sedangkan di sana masih terjadi perang
Penduduk telah memencar di berbagai wilayah
Karena ingin mencari hidup sederhana
Alangkah baiknya Indonesia bersedia
Untuk mengungsi bagi masyarakat Rohingya
Berupa hadiah sedekah dan infaq untuk menerima santunan kemanusiaan
Kita berharap
Kota Myanmar dan Rohingya segera damai
Jangan pernah bentrok satu sama lain
Terimalah keikhlasan atas umat Muslim
Ku junjung persatuan demi adil makmur dan sentosa
Surabaya, 06092017
Hilang Persamaan Antar Teman
Teman telah meninggalkan desa
Berlari di dalam hutan untuk menempati suasana hening
Konon hutan banyak bencana
Terdapat keracunan di antara binatang
Hanya mencari mangsa
Pagi berkabar
Ia barusan hilang tanpa jejak
Kalau terus begini akan segera dievakuasi
Wanita senggang meninggalkan kekasih
Dimanakah ia pergi?
Hilangnya persamaan
Berujung pada kematian
Lalu berbaring tanah
Dua tahun telah menganomali hutan
Kini bermukim di pohon
Bulan purnama mengisahkan suara serigala
Tak akan mencariku lagi
Surabaya, 06092017
Boneka Menyelip di Kursi Saat Tengah Malam
Boneka keliaran di kursi
Duduk dengan tenang
Apakah ia boneka beneran
Atau kutukan bekas pembunuhan pemilik boneka
Jawaban belum pasti
Jika disentuh
Disitulah akan membangkitkan dimensi seram
Fisik berubah jadi hantu
Pernahkah Annabelle dan The Conjuring sebagai kutukan terbesar dalam lingkungan makhluk supernatural?
Inilah The Doll disebut makhluk kasat mata
Yang terletak di bangunan tua
Bekas suara tangisan
Menampakan suara mengerikan
Akan mendatangkan malapetaka
Surabaya, 06092017
Mencari Kesempatan
Sudahkah hendak mencari kesempatan?
Yakin ia menempati posisi jadi pria sejati?
Sudah layak nggak menjadi pacarku?
Lantas apa yang membuat penampilan makin menggoda?
Inilah yang disebut mencari tahta kekuasaan?
Kesempatan hanya dua kali. Apakah benar seperti itu?
Surabaya, 06092017
Salah Pergaulan
Bertemu dengan kawan-kawan
Akhirnya salah pergaulan
Jujur belum menyangka
Apakah diundangan hanya asli
Ternyata berkawan oleh teman lalu perasaan terada beda
Ia merayakan pesta penyembahan hewan
Duduk lalu menceritakan tentang mistis
Melihat video sejarah penyembahan
Ia terasa nyeri
Genggaman tangan
Ia bertanya “maukah bergabung bersama kami?”
Wajah meringgas
Lalu meneriak “Tolong!”
Surabaya, 07092017
M Ivan Aulia Rokhman, Lahir di Jember, 21 April 1996. Mahasiswa Universitas Dr Soetomo. Karyanya dimuat di koran lokal dan Nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan Komunitas Serat Panika. Seorang Penulis ditengah Berkebutuhan Khusus. Ia paling sering mengirimkan puisinya ke Buanakata seperti di antaranya yang ditampilkan di atas
M Ivan Aulia Rokhman
Telepon/WA : 083830696435
Email : rokhmansyahdika@gmail.com
Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117