Arsip Kategori: Puisi

Puisi Moh.Romli

SIAPA SEBENARNYA DIRIMU

Di alunan kidung malam

wajahmu tak enggan menyapa

di setiap petikan gitar hitam selalu menari dan menari

 

siapa sebenarnya dirimu?

selalu menampar hati dalam sunyi

selalu menabur garam dalam luka

dan selalu paksa hati untuk berhenti melangkah.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

kau yang kerap membuatku melayang ke arah yang tak kutuju

kau gemar menuntunku ke jalan yang buntu

dan kau juga yang membuatku lumpuh.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

apakah kau hanya sebatas rasa kecewa yang memalu

yang hinggap di imajinasi hingga akhir hayatku.

 

atau mungkin hanya angin malam yang membisikkan rindu

yang membuatku tak henti melempar dadu.

 

MENYEDUH RINDU

Di ujung senja, perahu sebrang pulau utara

sekedar mencari dan melampiaskan rindu manja selera

sesampainya di pulau itu, tampak hamparan altar putih yang memanjang dengan tongkat besi berwarna hijau , disitu perahuku tertambat

memanja mata dengan warna-warni tumbal untuk gelar pesta malam nanti

lalu ku coba untuk menyeduh rindu sendiri, dengan buah api bersimbolis rindu yang sudah siap saji

tinggallah aku memilih, untuk mengambil sebagian tumbal dan kujadikan selera rindu yang merekah di lentik jarimu, ibu.

sempatlah kucipta, walau sebenarnya tak beraroma kasih sayang darimu.

 

PENA

Tiada henti pena membuatku tersenyum dan menangis

dalam suka dia selalu tertawa seakan dia juga merasa apa yang aku rasa

 

begitu juga dalam tangis, dia tak pernah enggan menangis, malah dia seakan lebih sedih dariku

 

pena, engkaulah teman sejati

setia dalam suka maupun duka

 

engkau pencatat sejarah diantara terbitnya mentari hingga sungset senja

 

hanya engkau yang tak pernah bosan mendengar keluh

walaupun kau harus menumpahkan darahmu untukku

 

pena, hanya engkau setia mati di tanganku.

maaf kan aku

jika hidupku terus menyiksamu hingga nanti kau mati.

 

CINTAKU PADAMU

Untuk, Hoy.

Cintaku padamu serupa tetes embun yang jatuh di pangkuan keladi

selalu saja kau hiraukan

meski pada hakekatnya senantiasa membutuhkan

 

cintaku padamu serupa angin topan nan geram

yang dimana ketika nelayan menangis, menjerit ketakutan

tak sadar, bahwasanya itu rekahan gerbang hidir pembawa risalah

 

cintaku padamu serupa gigimu sendiri nikmat tuhan

lupa dan menangis seketika di ingatkan.

 

MALAM MINGGU

Entah dengan malam minggu

seperti semua bisu

seperti semua batu

 

tak ada lagu

tak ada malu

tak ada ragu

tak ada deru

 

semua jadi lugu

jadi tumbu

jadi beku

jadi rindu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya KITAB RINDU. (2016)

No. 085232343060

        083853208689

Puisi Endang Supriadi

Endang Supriadi, menulis puisi dan cerpen sejak 1983

 

SUDAH KALAH AKU

sudah kalah aku. percuma atap kubangun
pintu kupasang, roda kuputar, payung
kubuka. aku renta, tumbuh langsung tua
dagingmu dagingku beda. aku berdarah
awan, engkau berdarah kawah
benar-benar jauh panggang dari api

sukmaku menggelontor seperti air bah
yang tak berakar, namun justru
mengepung seluruh tempat persembunyianmu
ini aku, cemara yang bergoyang
rantingku tempat senggama burung-burung
langit membungkusnya berabad-abad,
tapi engkau begitu rela membakarnya

sudah kalah aku. percuma kuberi nama manis
pada pisau, kuberi nama salju pada batu
kuberi nama rindu pada badai, kuberi nama
sorga pada kubur. kereta kepedihan ini,
terus melangsir di sendi-sendi pikiranku.

Citayam, Pebruari 2006

 

KEKASIHKU MEMBUNUHKU DARI BELAKANG

kekalahanku membentuk figura yang
terbakar. sudut-sudut menjelma kabut
dan di kepalaku tumbuh mercon, meledak
setiap hari. jiwaku diarak sepanjang rel,
dihujani kritik yang terlontar dari ujung-ujung
jalan.. di setiap orang berlari, ada
darahku yang tumpah. sedang kekasihku
kerap membunuhku dari arah belakang

aku terhuyung dari dinding ke dinding
mengendus bau kematian yang agung
aku tahu kekalahanku ini bukan untuk
yang terakhir, karena pohon mawar yang
kutanam selalu berbunga kecubung. dan
getahnya selalu mengisi gelas kehidupanku
setiap hari. entah pisau manalagi yang akan
menguliti pikiran dan mengukir luka-luka
baru. sebab aku tak bisa lepas dari rantai ini.

Citayam, 2006

(Diambil dari buku kumpulan puisi Endang Supriadi, “Lumpur di Mulutmu” atas seizinnya)

 

 

  Tentang Endang Supriadi

Endang Supriadi lahir di Bogor, 1 Agustus 1960. Menulis puisi dan cerpen sejak 1983. karyanya tersebar di berbagai media cetak dan antologi bersama. Antologi puisinya, Tontonan dalam Jam dan Lumpur dalam Mulutmu (2010). Lima buah cerpennya dijadikan skenario audiovisual untuk sinetron televisi, yaitu: Lelaki itu Bernama Oding, Sosok Bertopeng, Protes, Sumirah, dan Dendam. Alamat surat, Gedung AKA, Jl. Bangka Raya No. 2  Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. HP. 08128556494.

 

Catatan tentang “Lumpur di Mulutmu”

Judul : Lumpur di Mulutmu
Penulis : Endang Supriadi
Cetakan : I, 2010
Penerbit : Pustaka Yashiba.
Tebal  : 68 halaman (50 puisi)
ISBN : 978-979-17857-2-0
Desain sampul dan tata letak : Dewi Prenji

Antologi puisi ini menandai 50 tahun sang penyair hidup di dunia. Buku ini juga dipersembahkan untuk cucu pertamanya. Di halaman awal ada tulisan begini: Buku yang amat sederhana ini, terkirim buat Bung Micky Hidayat. Salam kreatif. Endang Supriadi. Tentu ada tanda tangan si penyair dan tanggal: Depok, 16 Juli 2010. Tentang bagaimana buku itu bisa sampai ke rak Hajri, tanya yang bersangkutan saja.

 

Puisi Ferry Fansuri

Ulurkan Tanganmu

Mengapa tidak abadi seketika
Segala rasa cinta
Kesejukan yang menyertai cerita kita

Mengapa tidak abadi seketika
Hati tempat berlabuh
Tali yang mengikat janji-janji

Jangan pernah usai kita inginkan
Namun pil pahit yang harus kita telan
Inilah puisi jalan kita kasih
Segala prahara mendera
Segenap dusta menyerta

Tiba saatnya prahara membiru warnanya
Namun kita harus tetap waspada

Ulurkan tanganmu kasih, tetaplah ulurkan
Agar kita senantiasa dapat bergandangen
Berjalan bersama menuju satu tujuan
Sebuah jalan terang

 

Jalan di Tengah Samudera

Cakrawala yang kita tuju
Nyatanya masih jauh
Namun percayalah kepada angin
Yang senantiasa menuntun

Maka jagalah perahu ini
Jangan sampai pecah di tengah samudera
Dan tegakkan tonggak layar

Mengapa harus berkecil hati?
Sedangkan rembulan dan mentari
Masih tetap setia mengirimkan cahaya
Meskipun harus melewati jalan yang tak mudah
Di sela-sela mendung dan mega

Mestinya kita selalu terjaga
Menahan ombak dengan kekuatan jiwa raya
Mengingat kita harus bertahan
Maka jangan terhenti di tengah cerita
Jika disini masih ada jalan
Untuk menuju keabadian

 

Yang Terindah

Yang terindah kuberikan untukmu
Terlahir dalam dekapan jiwaku

Yang mencari….

Tertatihku coba berdiri
Terhempas ku disana menantimu
Mendambakan kau yang terindah
Persembahan dariku tercipta dalam

Alunan langkahku yang terhenti
Menatap jejakku sendiri
Tertinggal ku disana menantimu

Mendambakan dirimu
Semua yang tersisa
Hanya persembahanku yang terakhir

Kau yang terindah
Jangan biarkan diriku
Terhempas keraguan

 

Cinta

Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu

Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya
Angin datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang

Dan menyelimutinya dengan kegelapan
Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya

Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma
Kau disampingku
Aku disampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang

 

Tak lekang oleh waktu

Telah lama kutunggu
Hadirmu disini
Namun hanya ruang semu
Yang nampak padaku
Meski sulit haarus kudapatkan

Sambutlah tangan ini terima janjiku
Rasakan cinta yang tulus
Lewat aliran darahmu
Menyatu seiring dalam kasih

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terimalah pengertian adanya dua beda menyatu
Masilah panjang, jalan hidup merki ditempuh
Semoga tak lekang oleh waktu

Surabaya, Desember 2016
Yang tersisa dari yang terkasih


Biodata Penulis :

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

 

Puisi Ahmad Radhitya Alam

RUANG TANYA

Janjimu semanis madu
Mengambil hati yang tertipu
Bayang nanar bak sembilu
Merombak tatanan baru

Demikuasa, kau lakukan segala
Menindas yang jelata
Lorong gelap kepahitan
Tak perlulah sedu sedan

Luka menganga
Membawa derita
Ruang-ruangtanya
Terbuka

Ruang Imaji, 2017

 

OH ALAMKU, OH NEGERIKU

Oh alamku
Oh negeriku
Kemanakah elokmu
Yang dulu membuat kami merindu

Kemanakah pohonku
Yang dulu hijau indah
Kemana lagi rawaku
Yang jernih memantulkan cahya cerah

Pohon ditebang
Tanah menjadi gersang
Rawa dialih fungsi
Di mana-mana banyak polusi

Oh alamku
Oh negeriku
Aku tak tahu lagi dimana akan bertemu
Dengan alamku yang seperti dulu

Efek rumah kaca menerpa
Alamku tak lagi mau menyapa
Salah siapa ?
Aku, kita, mereka, atausemua

Gubuk Sastra, 2017

 

ANASTASIA

Irama suara menggema
Nada-nada melagu
Nyala suara
Berpadu

Melodi
Indah tak berperi
Memberi kehangatan jiwa
Melepas, meluruh rasa dalam tawa

Blitar, 02 Maret 2016

 

FRAGMEN RINDU

Rindu kami seteguh besi
Menunggu di gelap sunyi
Luka elegi menggunung
Padapalung hati terujung
Semburat cerita luka
Segunung tinggi derita
Hancur jiwa musnah
Menunggu tanpa arah

Blitar, 7 April 2016

 

KEBOHONGAN

Duniadipenuhi dengan kebohongan
Senyum kebohongan
Tawa kedustaan
Atau juga tangisan buaya kenistaan
Ketika hati bingung menghadapi asa semu
Ketika mawar yang dulunya mekar menja dilayu
Aku hanya meminta petunjuk kepadamu
Tuhan

Blitar, 2015

 

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar 2Maret2001. SiswaSMAN1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat diFLP Blitar, Awalita, vdanTeater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di beberapa media.
AlamatFacebook :Ahmad Radhitya Alam/facebook.com/mask.vendeta.5
NomorHP :085706022133
Email :ahmadradhityaalam@gmail.com

Puisi Soni Farid Maulana

Soni Farid Maulana

Batu Hiu

Terdampar di pantai
sebab rakus dan buas

Ia dikutuk jadi batu
orang-orang menyebutnya:

batu hiu. Lalu bagaimana
dengan mereka yang bengis

melebihi binatang buas?
Demi kuasa, tahta, dan harta

menyingkirkan sesama?
Sungguh lebih dari:

Malin Kundang

2017

Soni Farid Maulana, lahir di Tasikmalaya 18 Februari 1962. Saat ini tinggal di Ciamis, Jawa Barat. Buku puisi yang ditulisnya, Arus Pagi *2015) meraih Anugerah Buku Utama dari Yayasan Puisi Indonesia 2015. Buku lainnya yang sudah terbit antara l;ain Sisa Senja *KKK, 2015), Kisah Suatu Pagi (KKK 2017) dan Sehabis Hujan (KKK, 2017)

Tetap Ku Rindu – Puisi Moh.Romli

KENAPA?

Untuk Shinta.
Mencari rerindang malam

bersemayam dalam sunyi

adalah pilihan kita kala  itu

 

namun kenapa kita masih enggan bertanya

pada lagu-lagu dedahan, dan tarian dedaunan yang juga bersemayam di jembatan tua itu

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa, menitipkan janji suci kita pada ikan-ikan berloncatan yang juga sempat kegirangan lantaran gurauan kita

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa pesan riak-riak air ditepian batu itu

 

kenapa?.

kenapa kita lupa, atas rindu yang sempat kita cicipi berdua

 

dan kenapa kita juga lupa untuk kembali ke muasal rerindu jembatan tua.

 

TETAP KU RINDU

Mamakku perkasa

kurindu dirimu di hamparan karang-karang yang menusuk mata

 

kurindu dirimu di serbuan angin gaduh yang mencekam jiwa

 

kurindu dirimu di cercah-cercah cawan yang menjelma tawa

 

Kurindu dirimu.

meniti pasir basah di ujung gelora yang murka

tak kenal lelah dari ujung desa utara hingga di ujung desa selatan beringin tua

 

kau lelaki yang kekar

kau lelaki yang tegar

dan kau jua lelaki yang berhati mulia

rela menjadi budak

hanya tak ingin membuat anakmu kecewa.

 

NOSTALGIA

Untuk Sunna.

 

C G

Am Em

F C Am G.

Kunci itu menjelma semua tentang kita

disini, di kota kejauhan aku menyanyikan lagunya

dengan lirik adanya serupa wajah kita dulu

 

disini, di tengah hujan deras aku harus menimangnya

dengan raungan tangis dihati yang merana

 

disini, di heningnya malam aku kembali terhanyut di wajahmu yang semu, yang senantiasa menjanjikan damai dalam setiap takdirku.

 

Masih terhampar dengan jelas rasa yang tak sempat kita seduh di matamu yang indah

 

masih tumbuh dengan subur

walau ladang di hatiku sudah penuh dengan batu

 

dan masih berbuah lebat, walau rusuhnya topan terus menerjang.

disini, aku masih mengenangmu untuk kulupakan. SUNNA.

 

LUKA DI UJUNG RINDU

Padahal janjimu tak pernah rebah di saku

namun kenapa kau masih saja tampak begitu anggun di mataku

 

selalu merayu, mengayu, mengharu dan selalu meminta untuk meramaikan malammu dengan lelahku.

 

seperempat malam waktunya dimana aku harus mulai beranjak

dengan berjuta harapan di esok hari dapat memikul buah benang-benang kaca yang sudah ku rangkai sedemikian rupa

 

namun tadir berkata lain malam itu

harus berpulang dengan tangan hampa

dan membawa berjuta luka.

masih lelahku.

 

 

TAKDIRMU LAKNAT

 

Samping warung depan mesjid gang kecil jalan keluar dari sarangnya

keramain dan sunyi sepertiga malam waktu jalan siasatnya

mengundang nada desah

sehalus dan semerdu desau sunyi saat sendiri

nyaris tak ku pahami

kau tanpak cerdik bermain

minnyak di atas air

memarkan hati yang damai

memagut mata menanar

hingga hasratpun

mampu menyamar

Hemm..

hati-hati gadis merang

jika tubuhmu tak ingin terbakar

kau iblis serupa bidadari

aku tau itu..

mendekatlah dan lihatlah

pedangku masih terhunus dengan tajam jika hanya untuk menembus tubuhmu

jangan menangis

jangan sampai kecewa

karna pasti aku melampauimu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

 

Puisi Iwan Ridwan

Kepulangan

Kepulanganku disambut hujan

Di sekeliling bandara.

Awan-awan hitam menghardikku.

Kepulanganku dibalas kabar kepulangan kakekku.

Ayahku meraung-raung

dalam telponnya.

Kodrat ilahi di bulan suci

Yang menyimpan misteri. Ya Ilahi,

kepulangan macam apa ini.

2016

Suara Rahasia

Terdengar lirih, syahdu, merdu

Menyentuh kalbuku. Ada suara

Yang tak kukenal dan tak pernah kudengar

Suara itu begitu lembut dan sayup

Membawa angin ke utara

Terbang ke langit meninggalkan daratan

Tanpa rumah kata di bumi.

Tanpa perpisahan pada lautan,

Jauh…

tak terdengar lagi.

2016 

 

Mencari Suara

Lagi-lagi terdengar suaramu

Dimana dirimu? Tolonglah aku sedari

Tadi mabuk di siang hari. Kelelawar

Yang tak menemukan tempat di bumi.

ayam yang buta di malam hari. Tanaman

yang layu di kemarau esok.

Hei suara-suara kudus

Dimanakah dirimu?

Tuntunlah aku ke jalanmu

2016 

 

Tamsil Hujan II 

Hujan pula yang mengabarkan duka pada kita

Bahwa kebenaran selalu datang

Setelah kesalahan. Itu pula yang dipalukan hujan

Untuk menguji kita

Makhluk yang fana

Di alam semesta raya

Hujan pulalah yang mengantarkan kita

Pada banjir

Bersama rumah-rumahnya.

Hujan pula yang berjasa pada kita

Di kala terang

kita

berpandang

Mata biji saga dalam  mengasuh bumi,

Bukannya mata langit yang menerangi semesta.

2016

 

Tamsil Hujan III 

Hujan menghalangi kita

membakar sampah-sampah nafsu.

Barangkali ada sisa peristiwa

Yang masih tersisa, didaur ulang

Agar lebih hijau di masa depan.

Bersiaplah saat sampah-sampah busuk

Mendatangi kita akibat luka silam

Sehingga hidung hilang di muka.

Basuhlah sampah itu dengan tanah yang kita tanami

Kejujuran. Dipupuki kebaikan, dan dirawat keikhlasan

Hingga tumbuh dalam asupan sari-sari surga. Dan baunya

Berubah menjadi wewangian kasturi. Begitupun sampah-sampah

Kita yang tak berupa dari masa kelam bangsa kita;

Dapat dikompos untuk orang papa. Juga sekadar

Obat penawar bagi bumi kita yang tua

2016

 

Biodata Penulis

Iwan Ridwan. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. Menulis Puisi dan Esai. Alamatnya di Jl. Gerlong Girang Gg. Geger Arum 2 No. 26 Rt 04/06 Kec. Sukasari Bandung, 40154. Nomor kontak: 089663739806

Puisi Moh. Romli

TOPENG SUCI

Intan,
Kumohon Jangan menyentuhku kali ini
jika tak ingin ku lumat bibir merahmu
hingga berdarah-darah
mengalir jadi telaga di tubuhku

hingga hutan-hutan kembali subur
berbuah lebat bebani dahannya

hingga hewan-hewan gemuk
juga singa-singa girang dengannya

sebabnya darahmu melebur
maka topeng suci ini akan hancur
dan imanku akan terguyur.

JELANG WAKTU

Aku bukan lagi bulu di matamu
yang setiap saat dapat melindungi matamu dari debu
aku juga bukan lagi kuku di ujung jarimu
yang sejeatinya masih kau butuhkan setiap waktu

tapi aku hanyalah bekas kulit yang menimpel di tubuhmu
yang terlepas dari darah dagingmu
dan itu tak lagi kau butuhkan dalam hidupmu
bahkan tiadapun takkan pernah merasa kehilangan
apalagi sampai kesakitan

buang saja diriku
jika sudah tak berkarisma lagi di tubuhmu
aku tak pernah berharap apa darimu

aku hanya ingin memberi apa yang mampu aku beri
sebab cinta tak mempunyai apa yang ingin aku dapatkan,
tapi cinta mempunyai apa yang aku mampu berikan.

GADIS ASING

Dibalik gantungan sampah maknai
setiap lubang berasap tak sempati
samping etalase tak sengaja dapati
bibir merah manis menjadi

pesonanya yang tak henti
anggun ulurkan lentik jari berduri
dantang mengusik ketenangan hati
entah siapa dan darimana tak pasti

namun cantikmu takkan abadi
kecuali kecantikan yang dari hati
kau tak lebih dari sampah dalam buih negri
nyaris terbawa mati.

 

PAGI YANG MALU

Bagaimana mungkin ini terjadi
pagi tercipta dari pecahan kaca yang tuhan ciptakan untuk membakar diriku sendiri

sepertinya pagi sudah enggan bercumbu denganku
atau mungkin dia cemburu dengan dinginnya malam yang terus mendekapku

hingga akhirnya geram, dan melemparku di wajah mentari yang bengis

dan memaksaku menyapa ribuan orang di pasar dengan wajah malu.
sebab batu-batu di tepian kolam itu belum aku benahi.

KARENA TUAN

Ketika jalur kehidupan mulai menyempit
mengimpit setiap air kehidupan senantiasa mengungkap jujur

merah memerah
Kaca berkaca
menjelma sebuah noktah

tubuh yang lelap
semakin melenyap
geming dalam penat
pada angkuhnya kota tetap bertuan

dasi melilit tanpak menjilat

dan kami adalah korban
tuan yang melamban
hanya demi umpan
yang mapan.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya PASAR ASMARA (2016).
No.085232343060
083853208689

Puisi Eddy Pranata PNP

PERNAHKAH TELAPAK KAKIMU DINGIN DAN JANTUNG BEDEBAR

pernahkah telapak kakimu dingin dan jantung berdebar, seperti kualami ketika pertama aku jatuh cinta? di usiamu yang sudah setua sekarang, apakah mungkin hal itu terjadi, sebenarnya hal ini tidak perlu aku pertanyakan kepadamu, tapi, hal itu tidaklah salah tentunya; cinta bisa datang kapan saja dalam suasana yang tidak terduga, dan dirimu boleh bernyanyi-nyanyi, menari-nari, juga menulis puisi karena jatuh cinta, o, cinta!

Cilacap, 02 Juli 2015 

MENGEMAS LUKA-CAHAYA

selalu; dirimu mendengar detak-detik jarum jam dinding, apakah sering perih dan ngilu

kecewa pada malam yang turun perlahan?

chin, beberapa hari lagi padang kujelang

bandara minangkabau kujejak

kita pergi ke telukbayur, ke bukit lampu, ke pantai bungus

atau ke indarung rumah yunizar nassyam

mengemas luka-cahayaku

atau bila dirimu ingin mandi-mandi di laut, aku akan menjelma karang

karang tempat dirimu berlindung dari hempasan ombak

lalu sorenya, chin, kita makan sate padang dan minum es durian patimura ya?

Cilacap, 01 Juli 2015 

SEGELAS AIRMATA

ia selalu menawarkan kepadamu segelas airmatanya untuk kauminum

nyaris pada setiap pertemuan yang selalu tidak direncanakan

bisa jadi di pesisir laut, di ruang tunggu bandara, di peron stasiun atau bahkan di sebuah kafe

dan engkau akan meminum airmatanya dengan begitu tenang

lalu beberapa saat kau dan ia saling peluk, kemudian berpisah lagi

dan entah kapan bertemu lagi.

Cilacap, 01 Juli 2015 

 

SKETSA PUISI

berapa macam penyakit yang kauderita

engkau selalu menutupinya dengan tersenyum

izinkan, aku mengantarmu bila ke dokter

aku mau kau berobat dan bila harus dirujuk ke rumah sakit

aku akan menungguimu sambil terus membuat sketsa puisi

o, sketsa puisi!

Cilacap, 30 Juni 2015 

 

RUANG INI TERLALU GADUH

ruang ini terlalu gaduh, bagaimana mungkin aku melukis bayang wajahmu

yang bergemuruh, wajah mulai menua tapi matamu masih menyala

dan parau suaramu memanggil-manggil namaku

: “edelweis, edelweis! bunga hutan yang tumbuh di dadaku

mersik di kedalaman jiwaku!”

Cilacap, 30 Juni 2015

 

 

BIODATA:

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat.  Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla  Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos,  Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.

 

Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.

Handphone: 082322062966

 

Puisi Moh.Romli

PENJARA RUPIAH

gigih motorku melawan angin gaduh
riuh pohon mengancamku kala itu
ranting-ranting patah tebanting kepusar jalan
juga daun-daun berhamburan serupa debu.

hasrat menampar dengan bengis, mendorongku semakin kencang berlari
mengejar target diantara nyawa-nyawa perantau yang gigih
namun takdir berkata lain kala itu

hujan telah menguyur gesah-gesah tadi
hingga pada akhirnya aku lupa jalan kebenaran
nyaris saja tuhan murka padaku.

 

MALAM SUNYI

Malam itu rembulan menatapku
sisik-sisik sunyi diam bisu
menjadi penonton wayang
dua pendekar yang sedang jihad

pernak pernik tanpak jauh menatap
namun setianya mampu bertaruh
meski di selimuti dinginnya malam
sehening kalimaya india

bulan, mengapa dirimu senyum menatapku?
melangkah keluar kedalam yang sibuk menukar recehan itu.

 

TENTANG KITA DI MUSIM SEMI

Sebatang kayu kaki kita
batu bulat dan tali warna biru penimang nya
dan takdir kita adalah benang yang berujung besi malu

tentu kau ingat itu bukan?
biduk karet yang terbakar lunak akibat ter-elus besi-besi panjang memerah di ujungnya
kain membasah kotor berlumut tanah adalah pembentuknya
kita rakit di tengah samudra.

tentu kau ingat itu bukan?
tempat dimana kita hidup
dan tertidur pulas di pangkuannya
sambil memegang benang di tangan sampai di jari kaki
hingga gema suci buyarkan mimpi.

 

AKU MALU

Aku malu padamu
mengapa kau begitu tampak pendiam
sudah kubilang lepaskan suara hatimu
dan tebaskan egomu
buatlah aku sedikit lumpuh
sekiranya aku tak mampu
lagi mencekam mu
aku malu.

 

 

LAGU YANG BISU

Kisah seorang remaja
terkesut sembunyi bisu

kedua tangan menari
menggeluti masalalu

mestinya kau tak ragu
dengan apa yang ku tau

karna kau mampu
dan tak perlu kau menjaminkan perawanmu
jika hanya untuk sekedar penawar malu,

sebab tanpa kau tau
perawanmu telah banyak menghabiskan waktuku.

 

PUTRI KHAYALAN

Hay Gadis kecil
jangan tampakkan senyummu
jika tak mau beradu

merahnya takkan mampu
melahap yang sudah berdebu

mustahil semuanya akan berlalu

jika senyummu
masih saja mencubit hatiku.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya KISAH SEORANG REMAJA YANG MENCARI TAKDIR NYA (2016)
No. 085232343060
083853208689