SIAPA SEBENARNYA DIRIMU
Di alunan kidung malam
wajahmu tak enggan menyapa
di setiap petikan gitar hitam selalu menari dan menari
siapa sebenarnya dirimu?
selalu menampar hati dalam sunyi
selalu menabur garam dalam luka
dan selalu paksa hati untuk berhenti melangkah.
Siapa sebenarnya dirimu?
kau yang kerap membuatku melayang ke arah yang tak kutuju
kau gemar menuntunku ke jalan yang buntu
dan kau juga yang membuatku lumpuh.
Siapa sebenarnya dirimu?
apakah kau hanya sebatas rasa kecewa yang memalu
yang hinggap di imajinasi hingga akhir hayatku.
atau mungkin hanya angin malam yang membisikkan rindu
yang membuatku tak henti melempar dadu.
MENYEDUH RINDU
Di ujung senja, perahu sebrang pulau utara
sekedar mencari dan melampiaskan rindu manja selera
sesampainya di pulau itu, tampak hamparan altar putih yang memanjang dengan tongkat besi berwarna hijau , disitu perahuku tertambat
memanja mata dengan warna-warni tumbal untuk gelar pesta malam nanti
lalu ku coba untuk menyeduh rindu sendiri, dengan buah api bersimbolis rindu yang sudah siap saji
tinggallah aku memilih, untuk mengambil sebagian tumbal dan kujadikan selera rindu yang merekah di lentik jarimu, ibu.
sempatlah kucipta, walau sebenarnya tak beraroma kasih sayang darimu.
PENA
Tiada henti pena membuatku tersenyum dan menangis
dalam suka dia selalu tertawa seakan dia juga merasa apa yang aku rasa
begitu juga dalam tangis, dia tak pernah enggan menangis, malah dia seakan lebih sedih dariku
pena, engkaulah teman sejati
setia dalam suka maupun duka
engkau pencatat sejarah diantara terbitnya mentari hingga sungset senja
hanya engkau yang tak pernah bosan mendengar keluh
walaupun kau harus menumpahkan darahmu untukku
pena, hanya engkau setia mati di tanganku.
maaf kan aku
jika hidupku terus menyiksamu hingga nanti kau mati.
CINTAKU PADAMU
Untuk, Hoy.
Cintaku padamu serupa tetes embun yang jatuh di pangkuan keladi
selalu saja kau hiraukan
meski pada hakekatnya senantiasa membutuhkan
cintaku padamu serupa angin topan nan geram
yang dimana ketika nelayan menangis, menjerit ketakutan
tak sadar, bahwasanya itu rekahan gerbang hidir pembawa risalah
cintaku padamu serupa gigimu sendiri nikmat tuhan
lupa dan menangis seketika di ingatkan.
MALAM MINGGU
Entah dengan malam minggu
seperti semua bisu
seperti semua batu
tak ada lagu
tak ada malu
tak ada ragu
tak ada deru
semua jadi lugu
jadi tumbu
jadi beku
jadi rindu.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya KITAB RINDU. (2016)
No. 085232343060
083853208689
Tentang Endang Supriadi

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995