Arsip Kategori: Puisi

Puisi Abd.Sofi

Kepada mantan

Ku ucap selamat tinggal,jiwa terpenggal

Tanggal-tanggal gagal, yang telah sejengkal

Bulan buncit telah kempis,jalan sempit

Tempias angin sakau,hujan sakal

 

Jam berlari meniti perih

Memandang hanya mengundang petang datang

Senyum biru muda telah membongkar isi dada

Dari balik jendela kita mencoba pasrah pada kenyataan yang ada.

 

Perempuan luka 1

Luka telah ia sebut bahagia

kesetiaannya tegah birdiri di antara reruntuah

Di tepi pantai telah ia tancapkan janji dan munajad yang meninggi

Langit jadi sepi menyetebui kuncug bianglala

kini lukanya ia pinang-pinang,bersama gugur air mata

Menelannya pada setiap sayatan bayang-bayang

Menghujam menikam malam  ,khusuk kelam

 

Setangkup kecup melekat di pintu kamar

Menaiki malam memar

Saat angin timur mengantar pulang ke blitar

Benih-benihnya tak juga pudar

Getar jiwa berputar-putar.

 

Di senja

Senja ke senja langit berdarah

Angin kemarau hitam tua,

Dari kuncup sabit ingatanku jadi celurit

Air laut pasang mengantar langit merah saga

Ku eja setiap hunus bayang silam

Dari balik setangkai bunga temaram

Dan sepasang kupu-kupu yang lepas dari kekasihnya

Musim demi musim layu awan kelebu aku pilu

 

Di senja ini

Riak-riak ombak telah jadi gelombang

Meretakkan kuat batu karang

Aku duduk di atas batu

Di tepi pantai tempat pertama kita saksikan sepasang kupu-kupu bermesraan

Namum kini senja telah karam bersama rerempah duka

Tuhan . Di mana tempat berteduh ?

Membuang segala empedu rindu

 

Senja telah sempurna mengantar matahari mati

Angin timur mengirim gelombang

Perahuku karam pada purnama ke enam

Namamu kuhafal,matamu kuhafal

Ku abadikan di bukit dada

Ku adadikan di luka.

 

 

Memandang lautan dimatamu

Aku ingin berlayar hingga ke ujung debar

Aku ingin menyelamimu hingga kutemukan mutiara-mutiara itu

Aku ingin duduk hingga senja menenggelamkan tubuhku nanti

Aku ingin menulis puisi-puisi indah di bibirmu

Aku ingin damai seperti riak ombak perlahan meletakkan getar dada

 

Memandang lautan

Aku ingin tenggelam, menemukan malam pegantin di sana

Dan purnama bermekaran di atasnya

Lewat cahaya yang membacakan puisi-puisiku padamu.

 

Membuang masa lalu

Aku melangkah ke senja

Melaju,menjauh dari masa lalu

Memasuki gelap kian pengap

Angin-angin kencang

Burung-burung berlarian

 

Di tepianmu aku membuang segala bunyi kebisingngan dari bermusim bentuk paling asin

Kemurungan kuterbangkan kepada angin kemarau

Dan jenis-jenis luka kulempar pada lautan dan gelombang bergulung

 

Aku pulang membuang sesak masa silam yang muram

Menggikuti arah bintang yang jatuh itu

Mencari pintu-pintu tempat berlabuh dengan jiwa rubuh.

 

83 pesan dari masa lalu

kubaca hingga mata basah

Kuberi makna luka dan bahagia

Segala jenis gemuruh telah kita lafadkan mendaki keterasingan yang memuncah

tanggal bergerak purnama

Sambil mengengam bayang-bayang

Keriap embun dan tetes hujan kita terjamahkan didalamnya

Kepungan dingin membasuh kesepian

Malam telanjang kelam

Kita saling menutupi luka agar tak berdarah.

 

 

 

Abd.Sofi ,lahir di sumenep madura 17 juli 1991

Dan sekarang ia sedang megembara menemukan takdirnya

Kumpulan puisi-puisinya Di Ujung Senja (2015)

Dan aktif di Rumah Sajak

Puisi Anistia Patma

Kata-kata

Kata-kataku berserak
Saat dia mendekat
Seperti permusuhan anak-anak

Telah kususun kata-kata
Dalam kepala
Agar saat berjumpa
Dapat bercerita
Lalu tertawa

Telah kususun kata-kata
Untuk ungkap semua rasa
Yang beriak dalam dada
Agar kau dapat mengetahuinya
Dan kita menuju masa depan yang sama

Degup jantungku telah menjelma
Angina pada debu
Saat akhirnya kita berjumpa

Hilang semua
Yang telah kususun sedemikian rupa
Membuat detak jam
Menguasai kita
Yang berkawan sepi

2016

 

Puisiku

Kurajutkan kata menjadi kalimat
Menjadi bait
Menjadi puisi

Berisi banyak isi
Yang mungkin tak dimengerti
Kecuali pemnyuka puisi
Yang membaca dengan teliti

 

Lagu Sendu

Musikmu mengalun tak menentu
Menggambarkan cerita hidupmu
Yang dirangkum ruang itu
Ruang dekat sumber debaran

Nadamu menjelaskan cuaca
Dalam ruang segenggam tangan
Yang dilukiskan Tuhan
Dekat sumber detakan

Matamu jendelanya
Mengatakannya lewat cahanya
Memaksa semua orang tenggelam
Dalam lagumu

Bait-baitnya semakin menyatakannya
Menjadikannya ruang penuh cahaya
Hingga semua yang disana melihatnya

2016

 

Rahasia Hati

Waktu bercerita padaku
Tentang hujan yang terusir
Mathari yang berkuasa
Menghapus abu-abu di langit
Memberinya warna biru cerah
Menyisakan seberkas putih
Agar mahluk tetap teduh
Melahirkan obat lembab
Menumbuhkan bunga-bunga
Menumpahkan warna pelangi di taman
Menyembuhkan banjir
Menyisakan syukur
Serta hidup makmur
Namun ia berucap
Terjadi beberapa putaran setelah ini
Setelah hujan berkali-kali
Perjuangan dan ketahanan hati
Yang belum pasti

 

Merah Jalanku

Merah jalanku bukan urusanmu
Merah jalanku bukan hidupmu
Merah jalanku bukan menujumu
Merah jalanku aku tanpamu

Merah yang berdarah menyelimuti jalanku
Merah yang membakar
Silih berganti menghadang
Merah ayng mampu merenggut nyawaku
Jika ia keluar
Dari pintu tempat tubuhku berjalan
Atau dari detak itu berasal

Merah jalanku
Bukan untuk kau mengerti
Bukan untuk kau debatkan
Bukan untuk kau tandingi
Tak perlu kau mengamini
Merah jalanku sudah bulat

 

Pesan Untuk Masa Depan

Datanglah bersama kegembiraan
Membawa kisah yang kehilangan
Duka lara, tangisan air mata

Bersiaplah sejak sekarang
Ubahlah doaku bukan bayang
Hadirkan cita-citaku

Kuberikan daftar impian
Kita bersama kerjakan
Agar ia menjadi bagian kedatangan
Mu, masa depan

2016

Anistia, atau nama lengkapnya Anistia Patma, lahir di Madiun 17 Agustus, saat ini tinggal di Banten. Pembaca setia sastra koran hari minggu.

 

Puisi Novy Eko Permono

 

Muntah

Aku membuka mata
Merasa seluruh tubuh remuk
Aku melihat langit namun tampak tidak seperti biasanya
Ia mengedipkan mata, langit tampak begitu dekat
Ia mengedip (lagi) beberapa kali, kedipan yang lemah
Aku mencoba, namun terasa berat untuk bangun
Terasa
angin mengantarkan debu-debu,
dan bau kandang ke teras rumah
aku ingin muntah

Ruang tamu, 08/16

 

Menuju Kartasura

Pada sebuah minggu
Perjalanku ke Kartasura penuh kantuk
Berbekal kuah soto dengan cabe bubuk
Motor-mobil serupa burung pelatuk
Bertengger pada dahan jalanan yang sibuk

2016

Bunga Anggrek

: Nureini Hanik
Pada lidahmu pernah tertanam
Deretan pot-pot hitam di halaman
Pada ingatanmu pernah tergambar
Sebuah anggrek dengan tangkai yang memudar
Pada sakuku pernah kau titipkan
Vas dan kelopak bunga jantan
Kita adalah dua kuntum anggrek
Padanya  terdapat keindahan,
kerahasiaan yang mengasyikkan.

Kelas menulis, Oktober 2016
 

Jendi dan Masa Silam

: Isnan A.H
Roda berputar
melaju kencang
melawan cahaya keelokan
sawah terjepit deretan pertokoan
Antara rimbun bambu dan kebun tebu
ranting-ranting sengon melambai lugu
derap langkah bocah
bersautan lonceng jam tujuh
Seorang tua
berbaju lekukan batik
tampak olehnya kebingungan
menjual aneka dolanan
memecah senyap
keramaian jalan
Dijalanku pulang
anak-anak berjalan
setengah menari
setengah menyanyi
setengah meledek
“Kok sudah pulang?”
“Gurunya rapat bu.”
aku tertawa
kursi tertawa
dipan tertawa
baju seragam tertawa seragam

2016

 

Ruang yang Biru

Pada ruang yang biru
Aku melihat keluar jendela
Menatap sejauh-jauhnya
Ke arah kolam dengan teratai di tengahnya
Pada ruangan itu
Tersusun tembok-tembok angkuh
Bertatahkan motivasi masa kini
Papan-papan administrasi
Jua poto pak Jokowi
Pada ruang yang biru
Huruf-huruf mulai berpendar
Dari lembaran-lembaran soal
Menuju setiap mata pemandangnya yang kumal
Pada ruangan yang bisu
Penuh laku mengingat
Rumus-rumus yang terpahat
Pada saku celana ketat
Pada ruangan itu
Pedal-pedal dikayuh
Melewati deretan huruf yang lusuh
Pena-pena mulai meliuk malas
Pada lembaran-lembaran kertas
Kejujuran hanya penghias
Kulihat dari sudut ruangan
Udara mulai riuh
Mulut-mulut mulai mencuit
Kode-kode rahasia, kode-kode entah apa
2016

 

Semak Menggiring Malam

Pagi menjemput
Kerbau-kerbau mengisut berjalan
Sepanjang petak-petak
Membuatnya mandi tanah
Sepasang domba
Digiring ke padang rumput punggung bukit
Menggembala bersama bocah lain
Roman mukanya riang
Bunga sepatu
Mendatangkan kupu-kupu
Membenamkan tanah lembab kebiruan
Menyatu bersama lengkung bibirmu
Tak berapa lama
Setelah adzan ashar
Sore segera mengubah banyak hal
Semak-semak belukar berhimpitan
Menerobos dinding berkedip putih
Pekarangan hening
Semak-semak pejal menggiring malam
2016

Menjelma Pasar

Di surau selepas mengaji
mereka datang
berjejalan di atas gerobak
menempuh jalan koral
kubangan kerbau
terbenam di balik kerudung hujan

Rumah kosong sudut jalan
kaca-kaca
lantai keramik
gading yang terus berpijar
menjelma pasar
menggelar baju-baju cantik
sepeda tua
kopra, singkong dan paya

Tukang cukur
bercermin besar
kotak-kotak perkakas
meja kursi
berkalung handuk yang khas

Di sudut lain
bocah-bocah
beradu gambar
duduk
berbaring di langit basah
menenggelamkan diri
dalam kerahasiaan yang menyenangkan

Rumah bukanlah rumah
tak ada kamar
tak ada dapur
kotak-kotak tembok selembaran
memanjang beberapa depa

ketika matahari berpulang pada laut
merekapun pergi
lamat-lamat
menjauh
menghilang
rumah kembali dalam kebisuan
Wonogiri, 2016
Penulis

Novy Eko Permono penggemar tempe ‘mendoan’ garis keras. Saat ini aktif sebagai koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Wonogiri. Terkadang bermain peran sebagai ‘guru’ di Teater Dua Sisi SKND. Dapat disapa via email: novyekop@gmail.com, fb: Novy Eko Permono, hp: 085725073433

Puisi Puisi: An Najmi

Ruang-Ruang Waktu

Waktu bercerita tentang rentang yang singkat, di ruang itu, kuberbaring tanpa satupun kegelisahan, aku sendiri tak mengerti, ruang-ruang seperti menyodorkan ketentraman, kaca-kaca bergetar, tapi bukan hatiku, dan aku tetap diam menyaksikan apa yang kusebut kesendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa.

Prabumulih, 2017

 

Malam Liontin
;Sergio

Mengapa selalu kau ceritakan malam keramat yang menentukan, bukankah ada kesenangan yang kau gali setelah gelap: katamu, seperti aku yang kau tarik menjadi setubuhmu ke dalam cerita, bukan?

Malam seperti guratan kata yang terangkai di mulutmu, pada seutas karangan berkilau dan berkaca-kaca dari canda ke canda

Tugu, 2015-2017

 

di Bawah Alis Mata

di bawah alis mata kurengkuh segala cinta, tanpa pandang bulu-bulunya,
dan semua terkesan lapang, tanpa halang, kulihat begitu saja kau bersentuhan dengan bola mata, mengalirkan tawa, suka dan segenggam bahagia kepada lekukannya, walau kadang tersangkut di air mata, menerawang pandang yang jingga, kepadamu tetap kurebah

Malik Fatih, 2017

 

Pohon Tua Yang Berdosa

di pohon tua ada burung hantu yang hinggap di dahannya, kulihat ia memain-mainkan ranting dan daun dengan hikayat dosa, sesekali berlaga bak primadona dan melengking dengan suara soprannya, kejadian itu sangat menakutiku
menakuti hatiku

2017

 

Lady Gajah

seekor gajah menunjukkan kejantanannya dengan menginjak-injak masa lalu, Lady sudah tiada?; katamu, dan gajah kembali ingin tampan, siap sarapan perempuan-perempuan

2017

Kota Yang Berdo(s)a

Setiap hari langit menjerit bersama awan, sebelum datang hujan, mendung yang tak ketahanan, ia menceritakan bahwa manusia telah berdosa tangannya, tapi hujan menghapus cerita dengan seketika, dengan amarah yang tumpah, ruah ke badan kota, kota yang berdosa

2017

Merobek Napas

di dada, hati, jantung dan paru membisu dari kejaran masa lalu, menekan napas haru, dari seonggok sesal terlampau, yang sangat jauh, di ubun deritaku,

kau yang pernah tumbuh, telah tumbang di kalbu, dalam jajaran yang tak lagi utuh, tersingkap dari tabir ke tabir yang biru, melepas luruh, cerita dan napas lampauku, degub-degub rindu

2017

 

 

Biodata :

An Najmi. Berdomisili di kota kecil Prabumulih, Sumatera Selatan.  Saat ini bergiat sebagai ketua di komunitas puisi COMPETER (Community Pena Terbang) Palembang, Sumatera Selatan. Merupakan cabang COMPETER (Community Pena Terbang) – Pekanbaru.  Untuk mengenalnya bisa add FB-nya An Najmi email : star.annajmi@gmail.com atau handphone : 0822 8057 3060

Puisi Maisyaroh el-shoby

LUKA  PARA PETANI 

Pada musim yang berlabuh

Pada kemarau tandus menusuk hati kami yang rapuh

iIalang senja memahat hati kami yang nanar

luka bekas pacul membias membelah samudra

lain kali hati kami merasa senang dengan ini

tak pernah memaksakan diri

sehingga ku biarkan sapi-sapi mengelilingi jagat raya

antara tani dan polisi sama saja

lukanya tak sampai menggores sukma

lantaran hatinya dipahat didinding kaca

bahwa anak kami yang kecil akan merebut warna jingga menjadi kejora

niatnya tak sampai melukai pada dirinya

hati tak pernah salah menbedakan antara uang rakyat dan Negara

sekalipun ada mereka adalah pecundang dimasa lalu

yang datang dalam keadaan miskin meminta uang pada  rakyat

sebenarnya tidak ada bedanya  antara tikus dan pejabat

yang kerjaanaya mengupas uang melarat

tangan tangannya menjalar keseluruh arah

sekalipun ada mereka akan selamat

karena mereka dilindungi oleh uang laknat

 

MENATAP MUSIM

dan aku,

berlari-lari pada musim hujan

gemuruh angin dan Guntur bercengkrama dalam siang

wajah langit cemas pada hati kami yang nakal

ada sedikit bimbang dan ragu

wajahnya masam menyambutku tak peduli

dan aku,

tertawa bahagia bermain bola dengan kakiku yang nakal

kata ku “jangan hawatir bu, hati kami bermain penuh bahagia”

hari seperti berselimut malam

tak ada yang mengenal waktu

matahari lari dan bersembunyi

dan aku,

mata ku perih

suara ku tak didengarnya

teman ku yang baik berhasil memasukkan kedalam sarang

hati ku berdengus

sial wajah langit kembali terang

wajahku pucat bekas luka semakin tampak dan terang

dan aku,

tersenyum geli mengingat itu

dan akhirnya angan ku mulai terang

tak terasa waktu telah gelap

anak ku sayang telah tidur pulas.

28 oktober 2016

 

Potret Indonesia Kita

Adalah aku mencari angin

Dimana arah menebus luka

Kemana jiwa membahas  petuah

Sebuah senyum yang tersungging

Kembali kepada hening

Sebuah dosa jika tuhan tak member ampun

Hanya menciptakan bahasa luka dan sepi

Tak pantas luka ini terobati

Lantas kemarin tertawa bersama

Ya, itu sebuah gelisah rindu

Permainan kita di masalalu

Pa’-opa’ iling, ilingnga sakoranjang

Peloto’ pelghedeng

Saparea!

Riuh tawa  melepas dahaga

Adalah ciri Indonesia

Kemana kah ketenangan kita?

Sumenep, 7 Agustus 2016

 

Birahi yang terluka

Suara ku serak

Membasahi daun dipagi hari

Menghirup dan melepaskan

Diantara musim kemarau

Bibir yang basah kuyup diterpa angin

Menjelma kemarau panjang dimataku

Hatiku lelah,

Bahasaku layu dalam raung wajahmu

Entah, apa yang terjadi

Adalah rinduku diujung senja

Sengaja membajak langit dimalam hari

Lalu mengembalikan sebagian kepada tuhan

Tentang kehampaan yang tertuah dihati kami

Tak perna dimengerti

Hati kami gersang ya illahi

Bibir kami lelah bertakbir

Atas nama selain engkau

Menjadi budak sepanjang masa

Jika mereka basah dengan mengingatmu

Entah, apa yang terjadi pada hati kami

Gemulai dan senang tertanggap kehampaan hidup

Hati kami gersang

Padang tandus

Tak mampu menyimpan air dimata kami

Oh tuhan,

Kami adalah sebagian yang jahat

Kami adalah jiwa-jiwa yang rapuh disepanjang hidup manusia.

 

MAHASISWA  KEPADA  NEGARA

Kepada bangsa!

Kami adalah kumpulan para pecundang yang tak berdosa

Membiarkan anak anak kami bahagia di hari esok

Menaruh beras dan karung untuk sekedar diterka

Lalu tubuh kami kering dan kerontang

Bibir kami basah sekejap memecahkan langit

Lalu berbaring dan membusuk

Hati kami terenyu tak sempat kami saksikan kematian pak soekarno

Dalam ceritanya di tembak mati oleh pak harto

Bangsa dibeli dengan hasil uang kami

Kepada Negara !

Hari ini sumpah kami berbeda

Sekedar bercanda tikus berdasi tak pernah mati

Mereka semakin bercengkrama dengan puisi

Buku dan  mulut kami dibakar api

Bangsa  dijadikan tumbal peradaban

Keperawanan bangsa diambil paksa

Tubuh tak berdosa merasa puas dan perkasa

Padahal  tubuh yang ranum  tak boleh tinggal diam

Membahasakan puisinya sendiri  kedalam masa lalu

Luka ini terlalu parah untuk sekedar disembuhkan

hati kami hampir rapuh

beribu mahasiswa berlomba menyeret dasi dasi

tak hanya  makanan yang busuk dan basi

ternyata agama telah ditinggal mati

lalu pergi melarikan diri ke ujung sunyi

kepada politisi !

silahkan tumpahkan hati kami yang sunyi

darah tuhan tak pernah mati

aku akan tersenyum melawan diri

karena itu bunuh lah kami

dalam kesesatan yang berbeda

tubuh akan tetap bangkit

suara rakyat adalah senjata sejati yang tak pernah mati.

27 september 2016

 

Dibulan agustus

Malam telah dingin

Menyeruap pada tulang belulang

Yang menggigil diterpa angin

Membawa arus  penyakit menyanyat merasuk jiwa

Seakan pudar dalam angan

Seakan pudar dalam kelam

Mengganti musim pada bulan agustus

Adalah rindu pada ikhtiar  para santri

Yah, aku menahan sakit

Pada sekur tubuh

Lalu kau setia menemaniku disepanjang malam

Sahabat sejati ku

Adalah kebahagian dimusim musim

Tak sadar air mata ku mengalir deras.

08 januari, 2017

 

Menutup senja

Sebenarnya kelelahan telah mencapai puncaknya

Luruh dan gelisah melebur air mata

Secercah harapan dulu hampa

Rindu sekian lama membelah samudra

Ada yang hilang

Ada yang merindukan senyuman malam

Saat sepi dan tertawa

Mungkin saja kau disana

Menggeluti sakit hati mu yang lama

Biar kita buang air yang keruh

Aku ingin mengenalmu kembali

Yang terlahir tuk ku miliki

Maafkan aku yang kaku

Maafkan aku yang lalu

Karena berani menutup mata

08 desember 2016

 

*)M.elshoby  atau Maisyaroh el-shoby  Lahir pada 18 Juli 1997 di Pasongsongan Sumenep. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA). Saat ini, nyantri di PP. Aqidah Usymuni Tarate PandianSumenep. Juga aktif bergiat di LSA (lembaga santri aktif) CANDRA dan UKM  Komunitas  Pelar  STITA Sumenep, no. hp: 085104004932

 

Puisi Maulidan Rahman Siregar

PENYAIR HESTI

penyair hesti menulis puisi

peri hati dan lapar imaji,

dibagi-bagi, dipisahkan mana

madu mana belati, apa yang

terjual dan siapa pembeli

 

selain puisi, sehari-hari

penyair hesti mengaji

mencari siapa betul yang

meminta Adam makan pohon kuldi

 

jangan-jangan bukan setan

barangkali ada pengecualian

gemuruh penyair hesti di dada kanan

 

di ujung kata, penyair hesti bilang

pada dadanya yang lapang bahwa kadang

saya hanya menduga-duga

jangan kejar saya dengan babi yang buta

2016

 

TIDUR, PUKUL SEPULUH MALAM

Tidur bersama buku-buku

tingkahi setiap putaran waktu, menari

menyanyi, riang semesta

du du du…

 

usah kawan, jangan diamkan

lirih hati yang memanggil

ke arah kebenaran

ke arah tenang

 

mengejar masa lalu

sembunyi di bilk hari depan

tulis sesuatu

nyanyikan bila perlu, du du du…

akhir kata

tolong maafkan

kesalahan tak untuk dimakan

 

kau melayang, kau terbang

du du du…

 

YUNUS IBRAHIM DIMAKAN MALAM

la ila ha illallah

kau bertemu gelap maha gelap

gelap lautan, gelap malam

gelap perut ikan

 

kau dibakar atas nama tuhan-tuhan

yang sebenarnya tak pantas dituhankan

 

api tunduk di hadapan

tak ada kuasa lain bagi orang-orang

selain heran

 

la ila ha illallah

kau bernyanyi seperti band indie

2016

 

DOA PENGHILANG KABUT

ya Tuhan, tidurkan Mikail

kami sedang ingin berburu

untuk hidup yang selelu tergesa

 

nanti dulu kirimkan air

kami butuh uang untuk beli air

 

ya Tuhan, tidurkan Mikail

dongengkan kisah cinta, tentang

Adam yang diusir, tentang Hawa

yang penasaran

2016

 

SATE PADANG

hujan, hujan kau tetap mengipas

asap minyak mengepul ke udara

setiap yang berhenti adalah pembeli

 

malam telah larut

dingin-dingin kau berdoa,

“semoga biaya pendidikan menurun

dan buku-buku dapat diunduh gratis”

 

tinggi asap ke udara

memanggil kaum yang menggigil

selamat datang, hai mata uang rendah

Tunggul Hitam, 2016

 

LELAKI PATAH KEMUDI

nasib sepantun dengan tepian patahan

digerus terus digerus air lalu

siap-siap untuk habis

siap-siap hilang

 

menjadi yang diam di lautan

diam batu karang

diam ketika pasang

diam bila surut

 

dijemur mentari

dieram hari esok

biduk sansai menghitung untung

rugi melulu sekujur detik

 

ya Allah, ya Allah, kau panggil

apa yang bisa diselesaikan sablon kaos

2016

 

BAGAIMANA PUISI MENYELESAIKAN INI

aku mencintaimu, dan berpikir keras

bagaimana puisi menyelesaikan ini

 

kurangkai bunga manis bahasa

rima seluas samudera

dalam bola mata

 

cahaya sebagai haluan

memilih singgah atau lanjut

berjalan

2016

 

BERTEDUH, MENEPI

hati kita tak lagi bersua,

meski rindu tak ujung reda.

Seperti butir habbah* yang dipatuki merpati

peziarah, aku bersedia tiada.

 

Siiruu!**, kau kata

tak usah pamit

jangan lagi meminta.

2016

* = Habbah adalah sejenis gabah. Dinukil dari cerpen Triyanto Triwikromo.

**= Pergilah (Bahasa Arab)

 

BIODATA PENULIS

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Puisinya disiarkan Haluan, Singgalang, Padang Ekspress, DinamikaNews, Metro Riau, Harian Rakyat Sumbar, Mata Banua, Buletin Jejak, Buletin Tubuh Jendela, Biem.co, Brikolase.com, DetakPekanbaru.com, Riaurealita.com, tarbijahislamijah.com.

Puisi Ahmad Ginanjar

Aku Ingin Menjadi Mereka

Ada gunung es membongkah

Di bungkuk tubuh

Setiap kita bercakap.

 

Ada danau berair hangat

Di pipi rekah mulut madu

Setiap engkau berkata-kata

Dengan mereka.

 

Aku hangat, engkau es

Aku gigil.

Aku beku, engkau panas

Aku gagal.

 

Mengapa bicara denganmu

Demikian sukar?

 

Harus menjadi apa aku denganmu?

Berpura-pura hura padahal haru,

Atau berpura-pura haru agar hura?

 

Atau bila kauminta aku menjadi selain aku,

Tikamlah aku lebih dahulu.

(2016)

 

Akulah Nestapa

Akulah nestapa,

Denganku kau bisa apa?

 

Tiada candle dinner

Di sebuah meja kafe mewah.

 

Tak ada kelopak mawar berpita

Sampai di pintu matamu

Yang rekah-mekarnya sepanjang duabelas keretek.

 

Tak ada tamasya taman, pantai, atau wahana pasar malam.

Sebab akulah goa sunyi yang berteriak lolong malang.

 

Akulah nestapa,

Bertahanmu sebab apa?

 

Sarapanmu kata-kata

Makan siangmu timbel sajak

Makan malammu lagu senyap.

 

Wisata kita tempat paling angker

Yang ditinggalkan manusia biasa.

Tanpa kendaraan,

Tanpa bekal.

 

Kalau aku nestapa,

Engkau masih siapa?

(2016)

 

 

Ahmad Ginanjar, lahir di Cianjur 24 Januari 1993
Guru Bahasa Indonesia SMA Al-Ittihad Cianjur
Penyair. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul “Lantai Dansa” terbit Maret 2014.

 

Puisi Khairani Piliang

  • SKETSA
  • Bosan aku pada huruf-huruf bergelantungan
  • Bosan pada kata
  • Pada kalimat
  • Pada paragraf
  • Pada cerita dan kisah yang berlompatan di kepala
  • Masuk ke lorong-lorong kosong
  • Berbondong mencari kantong-kantong kepompong
  • Yang akhirnya melompong
  • Lalu guratan-guratan takdir semakin renta
  • Terlukis mematri di dahi-dahi berlubang
  • Ada yang serupa sumur tak berair,
  • Kadang kala berupa lubang hitam tak berdasar
  • Puisiku hanya sepotong huruf yang langka
  • Dan sajak malam berlarian, serupa kuda liar berkejaran
  • Berebut perhatian sang betina
  • Menghitung derapnya hingga bulan terjaga
  • Mataharikah yang kau tunggu?
  • Hanya ada luka, tenang dan tak terlihat
  • Tapi ini ada, tapi ini nyata
  • Jakarta, 091115

 

Jangan Menoleh ke Belakang

Aku menitip sebait sajak yang kuselipkan di saku bajumu
Sajak dengan kata terangkai yang pernah kita susun bersama
Sajak tanpa koma, juga tak ada titik di akhir kalimatnya

Ketika itu hujan baru mulai menitip jejaknya
Pada tanah-tanah retak
Pada batang-batang meranggas
Pada sumur-sumur kosong
Pada sungai yang kehilangan muara
Ada sepotong harap

Kelak ketika kau lupa jalan pulang
Bacalah jejak hujan
Kau pasti temukan selarik kisah
Yang pernah menjadi milik kita
Meski kini telah mengukir
Jadi nisan tertutup lumut tanpa nama di sana

Jkt, 031115

 

Akar Pikiranku

Selepas hujan turun
Kau susuri jalan licin itu
Ketika mendung kemarin menebal
Namun air enggan menyapa
Kini gerimis mengiris hatimu

Selepas badai berlalu
Porakporandakan mimpimu
Ketika langit kemarin kelabu
Namun setitik warna menyembul
Mengukir jejak pelangi di harimu

Kaulah sajak di pikiranku
Selepas semua itu
Kau coba berdamai dengan waktu
Kau hadir kembali
Temukan masa lalu
Dengungkan nama di hatimu
Karena Kau adalah Aku

Jakarta, 031115

 

INTUISI 1

Aku melukismu di secangkir kopi hitamku yang nyaris tandas. Kopi pahit tanpa gula, tapi kusuka. Kepulan hangatnya menyelimutiku dari gigil suasana. Dan manis yang tersirat setelah pahit yang kutelan mengajarkanku untuk bisa sedikit lebih lama mempermainkan rasa.

Satu ketika aku bertanya, apa yang kau cari ketika gerimis mulai menggelitikmu, setelah sekian lama kering melingkupi? Kau hanya tersenyum serupa bulan yang rekah ketika cuaca sedang purnama. Dan aku paham, karena tak ada yang bisa paham kecuali kita.

Cinta adalah, ketika kau mulai mencicipi pengorbanan di balik manis yang kau telan, dan jiwa kita mulai saling rengkuh menambat serupa jaring laba-laba mengikat tembok usang. Inilah prosaku dalam batas ambang rasa yang tertuang di cangkir kopi yang kau hidangkan pagi ini. Kita baru mulai, masih ada sejuta cangkir lagi dengan lukisan berbeda nanti.

Sabtucerahselepasmendung, 141115

 

INTUISI 2


Ini waktu ketika mentari masih memegang janji yang sama saat senyumnya menyentuh bumi, menjadikan siang yang kita lalui masih seperti hari kemarin. Hanya saja di musim penghujan ini menjadikan pancaroba bergulir mewarna hari.

“Buat hujan ini menjadi butiranbutiran salju, membeku ketika berada dalam genggaman,” ucapmu satu waktu dalam cuaca yang menjadikan hembus napasmu serupa embun menyinggahi kaca jendela kamarku. Kau tetap bersidekap dengan mantel bulu dengan tatapan hangat melebur dari hari yang kian beku.

Dan untuk tahun kesekian kita menjalani ini sebagai dejavu yang kita cipta dalam dimensi berbeda, namun tetap melebur dalam wadah cangkir yang sama, yaitu rasa. KAU, AKU adalah KITA.

 

 

Biodata narasi:
Saya Khairani dengan nama pena Ranpil.
Karir saya di dunia literasi baru dimulai lebih kurang 2 tahun terakhir.
Mempunyai beberapa buku antologi bersama dan aktif di beberapa grup kepenulisan.

Puisi Puisi Tjahjono Widarmanto

 BERKACA PADA URAT POHON

berkacalah pada urat pohon saat segala ranting dan daun

meninggalkan dahan getah-getah akar yang dijemput kematian

 

urat-urat pohon adalah kitab yang terbuka

meriwayatkan hidup kita lahir dari rahim tanah

tumbuh dengan buah yang rimbun

namanya: usia!

 

semuanya menuju ke tanah

cahaya matahari seterang apapun

tak sanggup terangi semua yang kembali

pelan-pelan segalanya terkubur diam

wajah-wajah tengadah tanpa nafas

mencari warna di uban rambutnya

lantas menyerahkannya pada malam

 

TAK ADA YANG LEBIH INDAH

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

selain duri

di ranting mawarMu

 

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

saat hati dirajam

ranting duriMu

 

tuhan, penyair ini

terpanggang api

rinduMU

sebab sejak

mengenalMu

: Engkau tak pernah serupa!

 

SAJAK PARA PENYAIR

sajak-sajak kami menerima segala yang berlangsung dan berlari

: hujan yang tersisa di pepohonan, tikus merayap di langit-langit kamar, kuda-kuda

meringkik di kandang yang bersebelahan dinding kamar losmen murahan

yang di dalamnya terdengar ringkik perempuan di ujung telanjangnya

 

sajak-sajak kami adalah tidur yang menampung igau dan mimpi perawan tua

merindu jejaka, tangis gadis muda yang ditinggal lari perawannya saat akil balik,

suara bergemuruh di sepanjang rel kereta api tua atau kering matahari membentuk

bulatan bulatan uap yang membuat bumi keriput seperti usia yang tak putus-putus

meniup isyarat, melambai lambaikan bendera dan menggoncang lonceng-lonceng

 

sajak-sajak kami adalah bejana di dapur yang terisi air minum dan kali selokan

yang menggenangi lantai ruang tamu mengalir hingga ranjang serupa kolam

untuk mencopot dahaga dan membasuh peluh dan bilur pedih wajah dan mata

 

sajak-sajak kami adalah radio penuh suara riuh decit dan dengung benda-benda

yang mengabarkan hal-hal tak terduga, suara-suara yang melampaui lengking peluit,

gaung nada melebihi segala makna bahasa dan galau kota yang di bom para teroris,

segala suara cemas para serdadu di medan pertempuran, desah putus asa tahanan

yang dieksekusi pagi nanti, harapan yang kabur dari penumpang yang terikat di kursi

pesawat terbakar dan sekejap nyungsep mengambang di antara hiu yang meringis

 

sajak-sajak kami adalah juga kata-kata segar sekaligus kata-kata muskil yang aneh

melebihi semua mantra pawang, nyaris melampaui mukjizat para rahib

 

kami, para penyar melalui kata dan suara menumbuhkan segala

makna yang dicatat zaman!

(Ngawi, kedungdani)

 

 

HIKAYAT HASRAT

*) mencatat Gilles Deleuze

1/

ia membaca tubuh-tubuh itu.tubuh tanpa organ

mesin hasrat yang terpilin dari semacam sel atau telur

menetas, berubah wujud dan menumbuh

menjadi sesuatu yang tampak utuh seperti puzle

sejatinya terpisah serta terus menerus bergerak menuju entah

 

hasrat yang sembunyi di balik kerang

katup yang terbuka dan menutup

saat mata terbuka atau terpejam

tak peduli itu tanda atau makna

 

2/

ia merasa amat bahagia seperti bayi

yang melompat dari lumpur ketuban

yang belum peduli dengan pembenaran-pembenaran

sebab baginya tak ada yang baru dari kelahiran dan kematian

segalanya hanya sekedar tirai tersingkap menampakkan yang tersembunyi

 

semenjak bayi, hasrat telah meletup-letup

seperti nasib yang selalu keliru diramal

persis sebuah revolusi atau reformasi yang sibuk menemu pintu

 

segalanya selalu merambat bersama waktu

ia merasa manusia harus takluk pada dunia yang lain

 

 

3/

hasrat seperti kurcaci yang tiwikrama

tak satu pun bisa memeluknya dengan hangat

saat melompat-lompat seperti katak

berayun-ayun dari yang berubah dan yang terjadi

muncul dari yang tak terduga menuju nyata

temukan habitatnya sendiri sarang tempat

mendewasakan segala olah pikir, keinginan dan birahi

 

4/

sesuatu yang tampak nyata tak sanggup dipahami

walau sudah dibahasakan dengan sepeti makna

 

segala ingatan dan pengalaman luput digenggam

sebab makna melarikan diri kabur dari peristiwa

 

5/

ia suka permainan itu

semacam petak umpet yang tak punya satu peraturan

titik yang selalu bergerak dari satu garis lengkung ke lengkung lain

mirip bintang alihan, bergeser sepanjang masa

melacak makna dan mengikatnya

 

6/

ia sudah diramal oleh seorang peramal botak dan homo

disabda menjadi seorang santo atau rahib atau brahmana

 

karena hasratnya yang meluap ia dikutuk menjadi kitab

rujukan para musafir yang mencari peta dan pulau

 

 

namun, ia menolak menjadi mitos dan menggantung lehernya di pintu rumah

tangannya yang mengepal menggenggam sebuah wasiat

: ini cuma sekedar hasrat dan sebuah peristiwa!

 

(surabaya-ketintang)

 

RAINKARNASI DAJJAL (2)

aku biakkan kecemasan itu seperti kelelawar bertaring

melayang berterbangan menebarkan was di jalan hingga kolong ranjang

 

kubiakkan kecemasan itu untuk menumbuhkan gentar

maka duniamu akan terlipat di ketiakku

akan kubangkitkan kerajaan nero dan machiavelli

agar api menyala membakar apa saja

hingga takut dan gemetar mendengung seperti tawon

 

engkau pun akan meringkuk seperti trenggiling

atau babi yang akan kutusuk anusmu melengking-lengking

 

di tengah cemasmu kubangun surga. nirwanaku sendiri

rumah harem bidadari-bidadari telanjangku

 

 

RITUAL YANG MEREKA NAMAI: TEROR!

kau ganti bahasa dengan ledakan-dentuman

kau menyebutnya sebagai pertarungan suci

sorga bagimu harus dipetakan dengan darah

dan mesti dijaga dengan jubah-jubah suci

 

granat itu pun tiba-tiba hadir di meja makan anak-anak kami

 

maka, keramahan membusuk di mana-mana

pandangan mata menebar cemas curiga

koran-koran dan televisi pagi mengabarkan berita-berita kematian

 

namun mereka telah demikian biasa dengan pesona buruk itu

mereka jejalkan bersama takut yang was-was membuat kami linglung

 

sekarat itu mereka pilihkan untuk kami

 

angan-angan mitos mereka tentang sorga dan perang suci

menjadi kabar lelembut menebarkan dengki dan prasangka

menjalar bagai ular menjulurkan amarah yang diasah seperti kelewang

menyembelih siapa saja, tak peduli ibu atau anak perempuan sendiri

 

konon mereka impikan kafilah dengan pasukan surga

 

pemimpi yang percaya ayat-ayat bencana

dan mereka mengusungnya bersama keranda penuh bom

menjadi sesaji pesta-pesta pemakaman bersulang di atas nisan

 

itulah ritual yang mereka namai: teror!

 

TAN (5)

aku tak pernah cemas dengan takdir, sebab ini pilihanku

 

walau para serdadu dungu itu

akan mencungkil kedua biji mataku

aku tak pernah terpengaruh dengan gelap

 

segala cahaya telah kusimpan tidak pada mata

namun kulekatkan pada telapak kaki

 

dalam jalan paling rumpil, gelap dan berkabut

tetap saja aku mudah berlari-lari

kalian akan mengejar terseok

sebab lampu sejarah itu telah kucuri!

 

HIKAYAT ULAR YANG MENDESIS DI KEPALANYA

di kepalanya mendekam seekor ular dengan lidah bercabang

mendesis-desis beranak pinak di tiap serabut sel kelenjar otak

(persis ulat-ulat yang menggerogoti sebutir khuldi di genggaman eva)

 

desisnya menjilat pintu langit

: bukankah telah kau tukar keabadianmu dengan secuil kelamin syahwat?

 

langit lantas bukakan pintunya, julurkan sulur-sulurnya

mulailah ia melata merambatinya

lantas terperangkap dalam selokan tua

 

sabda itu berdengung

: mulailah perjalananmu mewaspadai ketololan sendiri!

 

riwayat itu pun dimulai

sejarah kelak mencatatnya sebagai sebuah legenda sepetak kebun

yang hilang bersama segenap prasastinya

(ular di kelenjar kepalanya itu masih saja mendesis-desis)

                                                                                    Ngawi

 

LELAKI PENAKLUK BUAYA

                                                                    :buat penyair mashuri

Lihat, telah kuasah tombak dan kapak tajam-tajam pada padas karang. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Lelaki itu mendorong rakitnya ke tengah sungai. Ngalir, ngalirlah ke muara menyisir hilir. Berkisah tentang seorang lelaki berikat kepala wulung menjagai sungai-sungai. Mengulang perjalanan Khidir yang dikuntit Musa menelisik pesisir mencuri kitab rahasia nasib, sorga, dan neraka.

 

Sigra milir sang getek. Lelaki dan rakitnya terapung-apung telusuri air dan kisah-kisah kuno, saat angka-angka tak jelas mana genap dan yang mana ganjil. Saat abjad-abjad tak jelas mana yang vokal mana konsonan. Sigra milir. Kuteriakkan mantram-mantram penakluk segala penghuni sungai. Kembang telon tujuh warna, cok bakal beserta putik asoka ditebar, terbuka segala pintu hantu, tersibak segala kabut. Mari timbullah segala buaya. Buaya sungai, buaya rawa, buaya darat, buaya samudera, buaya siluman. Buaya segala buaya, buaya maha buaya

 

Sigra milir. Rakit beringsut. Matram-matram mengigau. Inilah kidungku. Muncul engkau segala buaya. Merangkaklah ke mari, segera kubelah perutmu yang selalu bunting, sebab di sana kutemu segala frase dan kata-kata. Ayo, manis, merangkaklah dengan gairah. Di sini telah kusediakan ranjang hangatmu. Nina bobok oh nina bobok. Tidurlah manis dengan telentang, bentangkan buntingmu akan kutombak dan kubelah dengan kapak dan gergaji.

 

Sigra milir sang getek sinangga bajul. Segala buaya. Buaya sungai. Buaya rawa. Buaya darat. Buaya laut. Buaya siluman. Buaya maha buaya. Merintih-rintih. Perut buntingnya meledak. Muncrat janin kata-kata. Ohoi, Columbus temukan benua, aku temukan makna! Lantas, segalanya berubah aksara, terpahat di gerbang-gerbang kota, puing-puing candi, dinding-dinding biara, lonceng-lonceng gereja, kubah-kubah masjid, mercu suar dan rumah-rumah keong.

Lelaki itu masih setia mendorong-dorong rakitnya ke segala sungai-sungai. Ngalir susuri hilir. Tak sampai-sampai ke muara. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Menabur mantram panggili segala buaya. Engkau mahluk manis baringkan buntingmu, dalam ketubanmu akan kutemu segenap rahasia lambang-lambang.

Sigra milir. Lelaki itu berdiri di tengah rakit, tegak dengan tombak dan kapak, menyisir hilir. Akulah penyair penjaga sungai kata-kata. Akulah penyair penakluk buaya!

Ngawi, kedungdani-kedung glagah

 

RUANG KERJA AYAH

ruang kerja ayah di loteng lantai dua.kalau jendelanya terbuka, lampu menyala

ia pasti ada di dalam menekuri pesawat komputer dengan mata setengah terpejam

sebelum memiliki komputer ayah bekerja dengan sebuah mesik tik tua setua ubannya

ibu amat senang mendengar tik tak tuk mesik ketik itu.

ditempelnya telinga di pintu mencuri dengar

sebab ayah melarang siapa saja masuk ke kamar kerjanya saat ia mendekam di situ

 

kata ibu, ayah adalah penyair.berkerja sebagai penyair.

sungguh aku tak paham profesi itu. sepengetahuanku, bekerja itu harus seperti

ayah kawan-kawanku si Kaila, Agis atau Sifak; berangkat ke kantor, jadi guru

atau pedagang di pasar besar, setidaknya jadi hansip di gardu jaga

 

kata ibu, ayah adalah penyair. seolah tuhan kecil yang sanggup mencipta apa saja

leluasa mencipta riang, petaka, harapan, senyum, caci maki atau kedunguan

seperti juga tuhan, kata ibu, ayah tak peduli dengan uang atau penghasilan.

tugasnya adalah mencipta. itu saja. mencipta sabda menuliskan firman kata-kata

 

tuhan merahasiakan bagaimana ia menciptakan mahluk dan menuliskan petuahnya

begitu juga ayah melarang siapa saja masuk ke ruang kerjanya

saat mencipta dan bersabda

ini rahasia sebuah penciptaan”, katanya sambil mendelik

 

diam-diam aku pernah mengintipnya saat bekerja: ternyata saat menekuri komputernya

ayah hanya mengenakan celana dalam.kaki bergerak-gerak mengikuti jari-jari

mulut komat-kamit seperti presiden pidato atau dukun baca mantra

 

seperti juga tuhan, ayahku juga gemar menghukum, mengancam dan menakut-nakuti

acapkali ibu gemetar ketakutan saat wajahnya dituding-tuding dengan rotan

biasanya jika bertanya tentang rekening listrik dan tagihan pajak

 

diam-diam aku ingin seperti ayah, menjadi seorang penyair

: begitu berkuasa dan boleh hanya memakai celana dalam!

-ngawi-klitik-

Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa.

Bukunya yang baru terbit MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH (2014)

MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013)

Bukunya yang lain yang telah terbit terdahulu : MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013), DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997), KUBUR PENYAIR (buku puisi:2002),  KITAB KELAHIRAN (buku puisI, 2003), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011),dan  DRAMA: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), UMAYI (buku puisi, 2012).

Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA  Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. Telp. (0351)746225 atau 085643653271. E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id,

Puisi Muhammad Lutfi

 

Api di Dunia Pendidikan

Pendidikan hanya memberi sebuah harapan palsu

Kepada anak-anak yang pergi jauh dari rumah

Dan kepada orang tua, bapak ibu yang bersusah payah mulutnya kering gemetaran

Mendoakan anaknya siang malam.

 

Sebuah kurikulum hanya akan meranggas moral dan akal sehat,

Kalau para pejabat mendikte memori-memori

Penuh hitungan matematika dan bahasa asing.

 

Bahasa kita tersingkirkan, diri kita akan menjadi terbodohi

Dan senantiasa mengacu pada nilai, nilai, dan nilai.

Sedangkan nilai tidak pernah melambangkan kepuasan.

Hanya akan mendidik nurani menjadi orang yang curang, culas, dan manja.

Menyetor uang ke meja dan laci kepala sekolah.

 

Kita adalah bangsa yang payah, yang pongah, dan ragu.

Hati kita bimbang melihat ruang dan aset papan tulis para pendidik.

 

Lebih baik kita menjadi pengkritik nafsu serakah

Yang dihuni oleh kebejatan dinas maupun sipil.

Jangan sampai, hanya demi uang, kemuliannmu sebagai pahlawan

Hilang begitu saja,

Seolah begitu tak mengenal arti.

 

Sedangkan zaman selalu merundung pilu.

Waktu yang berbobot membuat kita menjadi tanpa bobot.

Dan keadaan yang terkoyak seperti ini,

Diriku sendiripun sedih dan bimbang, bingung.

Terkoyak oleh penjajahan hati nurani,

Baik dalam negeri sendiri, maupun dari luar.

Surakarta, 10 Maret 2017

 

Membongkar Kepalsuan

Dari balik jubahmu yang rapi, pecimu yang licin, dan suaramu yang fasih

Apakah benar kau tak pernah menyimpan dusta,

Tak pernah berkata khianat, atapun bertingkah serong.

 

Dari balik sikapmu yang diam, dudukmu yang sopan, dan gerakmu yang gemulai.

Apakah benar kau tak pernah mendurhakai, mencoba masa kenakalan,

Dan bersembunyi karena dikejar-kejar oleh ketidaktenangan.

Jangan bohong! Dirimu berkata lain,

Tapi masa lalu, adalah waktu yang berkata apa adanya.

Dirimu terbaca dan dibaca.

Olehku, olehnya, ataupun olehmu sendiri.

 

Kita bukan keturunan ningrat yang mewarisi harta, istri yang berlimpah,

Dan kenikmatan yang tidak terkikis sampai tujuh generasi.

Kita bukan anak seorang ulama yang paham agama,

Yang terjaga dari sebuah dosa karena kesucian.

Kita adalah orang yang pernah gagal, bersalah, dan mencuri.

Kita menyimpan derita, menanggung dosa yang kita pikul di pundak.

Karena apa?

Karena kita adalah manusia, yang jauh dari kata sempurna.

Yang selalu di penuhi oleh kelemahan.

Dipenuhi oleh ketidakmampuan,

Dan berbagai prasangka yang mencebloskan kita kedalam keterpurukan.

Makanan kita adalah ubi dan nasi, yang di tanam di tanah berkapur

Di belakang rumah masing-masing.

Tetapi kita tak merasa kalah, aku tak merasa sendiri.

Karena kita semua punya cerita dari warna hitam-putih.

Surakarta, 10 Maret 2017

 

 

Biodata

Nama saya Muhammad Lutfi. Saya bertempat tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. E-mail saya ajidika69@yahoo.com. Saya lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997. No.Hp: 085200135657. Fb: Muhammad Lutfi. Sekarang berstatus sebagai pelajar di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta.