Arsip Kategori: Puisi

Puisi Alfa Anisa

Peziarah Waktu

Sepasang ruh malam meniupkan kesunyian

pada rembulan yang bersandar di punggung langit

Mencegat ribuan malaikat yang terjatuh satu persatu

di haribaan dini hari

Hari ini kita akan menjadi peziarah waktu

Memikul hening pada puncak malam

Setelah itu tujuh macam kembang ditaburkan

Tujuh macam doa dirapalkan

Air jampi-jampi dalam kendi dituangkan

Siapa yang didatangi kematian, ketika jarum jam berhenti berputar ?

Sedang masing-masing dari kita masih khusyuk mengabadikan sinar bulan

dalam genggaman tangan

Hangudi, 2015

 

Perempuan Di Sudut Taman Sidoarjo

Di antara daun-daun yang berguguran, angin berembus manja

mengelilingi pohon-pohon tua yang kehabisan ruang

dan orangorang yang sedang khusyuk memelihara tawa

Sepasang burung berkicau mesra,  duduk berdua di ranting kemesraan

Seperti benih-benih cinta tumbuh disengaja

Berkicau dengan sapaan paling bahagia

 

Namun, lihatlah! perempuan berwajah kesedihan sedang duduk terdiam

Menampung tangisan di telapak tangan, kedua bibir tak henti merapal ayat-ayat kesetiaan

Yang terlanjur betah menghuni ruang-ruang di rongga dada

Binar matanya telah kehilangan masa depan, sebab masa lalu kerapkali datang tak diundang

Dan pada langit biru,  gerumbul awan yang hilir mudik

Perempuan itu menitipkan pesan penantian

Bagi sang tuan yang mungkin lupa jalan pulang

Atau sembunyi dari sumpah kesetiaan dan restu Tuhan

Blitar, 2015

 

Waktu Paling Luka

Seringkali aku mencari-cari waktu paling luka

Mengingat suaramu yang datang tiba-tiba

Saat tengah malam, saat orang-orang terbaring dalam buaian

Aku ingin merendam jejak masa lalu dalam kubangan air mata

Lalu menukarnya dengan harapan hari depan

Meski begitu setiap musim berlalu pergi

Rinduku akan habis ditelan rencana yang terkikis

Dan dalam waktu yang paling luka

Aku mengikuti langkah kakimu yang tergesa-gesa

Mencari-cari sebuah kebaikan nasib, atau memilih kenangan tak lagi berkarib

Blitar, Januari 2016    

 

Pawang

menatap birunya langit untuk dikelabui, ketika bumi masih alpa  menerima nyala api.

jari-jemari sucimu menyentuh bumi, mengumpulkan bait-bait mantra dari sekujur tubuh ke ujung kuku

angin pagi itu mengirim kecemasan, mantra-mantra dirapalkan, pelepah tanganmu diacungkan ke langit, menangkap sejumlah udara buruk yang berkelit

sambil mencegat sinar matahari yang jatuh di tanah lapang, membiarkan mendung berayun-ayun manja.

lalu sejumlah embusan angin kembali berontak, mengusir panas yang menyala ke tepian bumi.

dan pada detak jam yang hampir habis, sinar matahari raib dalam komat-kamit. sehari penuh didatangi awan abu-abu, entah datang dari seberang hulu menuju hilir

Blitar, 2016

 

 

_________________________________________________________                   

Biodata:

Alfa Anisa adalah nama pena dari Anisa Alfi Nur Fadilah. Lahir di Blitar, 28 Maret 1995. Mahasiswa program ilmu komunikasi di Universitas Islam Balitar, saat ini aktif bergiat di komunitas sastra Hangudi di Bumi Bung Karno Blitar. Bisa dihubungi di akun facebook Alfa Anisa.

Puisi Puisi: Fajrus Shiddiq

Magan

Saat air laut belum tenang

Sampan-sampan dari ranting diapungkan

Dengan sedih dibungkus senyum

Lalu nelayan bergoyang bersama ombak

Menunggu ikan-ikan

Mungkin untuk sekedar makan malam

 

Ada Slamet dan Sumarni

Bersandar pasir berselimut sedikit dedaunan

Menunggu ayahnya

Menghilang dibalik ombak

 

Rasti

Reinkarnasi cintamu, Rasti

Hanya berkamuflase dibalik embrio

Dan tak terfikirkan

Meski sesekali mengeruhkan urat nadi

 

Jantung hatimu, Rasti

Menjelma labirin dengan nafas membasah

Membekukan kelenjar dengan derajat rendah

Menidurkan saraf

 

Rasti, cantik

Leukosit dan trombosit terenyuh

Ketika kau hadirkan wajah lusuh

 

Seret aku dengan pasti, Rasti

Agar tak lagi terbagi

Setangkai mawar yang masih tertusuk di hati

 

Jani

Selamat malam, Jani

Maukah kau duduk bersamaku

Di meja yang aku tak tahu hulu-hilirnya

Dan aku tak pernah tahu tentang menunya

 

Seduh saja,

Karena empedu menjelma racun

Lalu racun telah kuendap

 

Hanya karena kau, Jani

Aku mabuk bukan karena vodka

Dan aku sakit tidak juga sembuh

 

Kapan kau mampir, Jani

Ruang ini menunggumu harum aroma melati

Kurajut dari duri mawar

Dan aku telah terluka

2009

 

Titipan Yang Maha

Kukarang namamu pada proposal

Tak lelah selalu aku semogakan

Lewat tuan yang melahirkan

Melukis mawar tak sebegitu merah

Yang Maha Cinta

 

Aransemen sanjung dipanjat  di tinggian

Masih tentang namamu yang kembang

Terus menjalar lekat eritrosit

Pintu delapan belas pada surat dua tiga

Yang Maha Cipta

 

Ruh kata sayembara

Belum saja berani menusuk pori membangunkan bulu-bulu

Hatimu terpenjara di kamar sembahyang

Dibalut lembut helaian mesra

Yang Maha Suci

Malang, 16 Maret 2015

 

Membaca Ka’bah

Gantung aku puisi

Pusar kitaran sesembahan Ibrahim

Perbawa ababil hapus hikayat kawanan gajah

Petarangan legojo gadis-gadis kersik

Rumah telah dibangun, milik tuannya

 

Tujuh pujangga mati

Aksara wangi dupa-dupa dan puja

Melontar kerikil mengusir diabolos

Arah pulang matahari di tempurung waktu penghisab tarikh

 

Ada puisi yang kuat dan teduh

Di Ka’bah

Malang 2015

 

Laghouat Cemburu

Laman pagi ini adalah etiket pertemuan

Di gedung yang hangat oleh cemburu

Aku dan duri mawar

 

Jadilah surat terakhir,

Oase keruh karena kau mengarau

Tercebur aku belum entas di kubangan

Kau hadiahi senyum

Pesan tak sampai

 

Laman siang ini adalah salam

Aku dzikir sumringahmu

 

 

Suatu Pagi yang Ping Pong

Ada karib membunuh sepagian

Seutas waktu bercengkrama dengan guru

 

Ping pong dekat patembayan minum kopi

Sepintas perawan melangkah ping pong

Semakin ping pong, kedatangan sekawanan membual

Desahku ping pong tak simetris

 

Lampu hijau perempatan

Aku telah gegas ke perteduhan

Sebingkis legum hadiah lora

Mengalpakan

Suatu pagi yang ping pong

 

 

Sketsa Pagi

Luminositas kota

Topeng-topeng gerilya di lingkarnya

Ada kaki lima dirintih gebuk hujan

Sempoyong kaku bermata kaca

Kehidupan baru dimulai

Disemogakan

 

 

Melodia Pagi

Ruang ini hampa

Saat tak lama aku menjumpa

Pagi yang mesra

Kantin yang sepi kosa kata

 

Kulihat kembang senyum

Perawan-perawan menebar harum

Graptophyllum pictum

 

Maka waktu ini semakin kusut

Hati tertambat sayang terpaut

 

Adakah yang lebih perih dari harap ?

 

================================================

Tentang Penulis

Fajrus Shiddiq, lahir di pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1 Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Puisinya tak jarang dimuat di berbagai antologi Senja Bercerita, Muara Pelangi, dan Pada Batas Tualang. Serta media lokal Qalam dan KOMUNIKASI. Aktif tulis menulis semenjak masih nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab), FLP ranting UM, dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI.

______________________________________________________________________________

 

Puisi Puisi: Vito Prasetyo

Buku Catatan Kita

Masa lalu…..
Puluhan tahun silam
seakan hidup ini milikmu
semua membelaimu
mengusapmu,
menimangmu,
dan menyayangimu
Begitu polos
penuh kasih sayang
Saat tangismu pecah
semua akan peduli padamu
Tak pernah ada bohong di wajahmu
tak pernah ada dusta di hatimu

Kini, masa itu telah berlalu
sering engkau menentang takdir
nasib seakan bisa terbeli
bohong dan dusta jadi bumbu hidup
segala nista terasa bagai hiasan dunia
terus memburu kenikmatan sesat
seakan tak pernah punah
tak pernah pupus diterjang badai
tak lapuk ditelan waktu
Aku datang sebagai sahabatmu
bukan malaikat yang mengingatkanmu
juga bukan perantara taubat
Diriku hanya hamba sahaja
masih penuh peluh di badan
dekil masih melekat di tubuhku
Mari kita uraikan waktu
mengenang masa kecil
saat hujan mengguyur tubuh kita
saat terik matahari memayungi tubuh kita
melepas tawa dan canda
seperti menggurat cakrawala di langit
menggaris lembayung di sudut pandang
dan membias dalam keceriaan kita

Roda hidup terus berputar
seperti matahari mengitari bumi
laksana bulan mengelilingi bumi
menyusuri semua lorong waktu
menuntaskan perjalanan hidup
Hingga tiba giliran kita
menutup buku catatan
saat penghujung waktu t’lah berakhir
– dan kadang hadir tanpa pesan

Malang – 2016

 

Bingkai Merenung

rindu ini seakan menjebakku
pada bingkai pigura ini wajahku pernah tersenyum
sekian lama ruang waktu kuarungi
jagad nusantara kujelajahi
kadang bintang gemintang turut mengiringi langkahku
aku tersanjung
terkadang kecewa menyelinap di antara goresan tintaku
itu semua membuat beban nafsu diriku
emosiku pun turut bicara
penaku mulai kehilangan nalar
ada sesuatu yang menyayat bathin
mungkin juga aku telah kehilangan perenungan diriapakah Tuhan mulai berpaling dariku

jiwa seakan mengarungin laut maha luas
disitu tangis seperti batu karang yang rapuh
ombak menerjang menelanjangi kulit tubuh
tetapi biarlah semua terbasuh
mungkin ada kesucian yang melebur kekotoran jiwa
hingga aku tetap terpaku pada bingkai itu—

(Tumapel – 2016)

 

Bidadari Langit Berpita Jingga

Saat sebuah tatapan terkesima langit
dan dari kaki-kaki langit
menjulur warna-warni pelangi
bercumbu garis lembayung
seakan menanti kehadiran bidadari
bidadari itu berpita jingga
membawa senandung merdu
memanjakan kicauan burung-burung
– yang bercengkrama di pucuk pepohonan
 

Pucuk pepohonan diam termenung
gemuruh angin datang menyibak rambutnya
tak ingin terlena menyambut datangnya bidadari
tatapannya penuh makna
seakan menerobos putihnya sinar
dan berkelana menggapai awan

 

Segenap langkah terhenti
di tepian telaga bertilam angin
meninggalkan sutera selimut malam
setelah melumat semua keindahan mimpi
Bidadari berpita jingga, di tengah kerinduan itu
menghujam batas pandang
dibaringkannya segenap penat
di antara garis lembayung dan kilau pelangi
membenamkan diri di telaga bisu
bermandikan bunga-bunga rindu
membasuh penat dan peluh tubuh
merekatkan kembali aroma baru
pada sekujur tubuh yang mempesona
mengundang kumbang berlalu-lalang
mencari serbuk-serbuk cinta
hingga tertanam di balik sekat resah
tanpa bisa memandang pesona bidadari
(makhluk indah turun dari langit)

 
Dalam tapaknya turun ke bumi
(dia) telah mencari bisikan hati
di atas bahu angin kemarau
tergenggam dalam kerapuhan tubuh
tertusuk rindu dengan jemari cintanya
Kini impiannya tertidur pulas
sebelum pesona malam hadir kembali
menggesek biola di tengah padang rumput
menyanyikan rindu kasmaran yang terpendam
ingin rasanya dia melepas kegelisahan sisa malam
dan berharap ada keteduhan air telaga
Sepasang merpati di kejauhan atap rumah
menyaksikan keresahan hatinya
seakan menerangkan tentang hidup
menuangkan dalam bejana waktu
mungkin esok masih tersisa kerinduan cinta

Malang – 2016

 

Biarkanlah Langit Berbicara                       

Aku melihat jiwamu
di mata langit
tertikam benang hitam
mengembara bersama mendung
suaramu merintih tersayat
entah apa yang menyiksamu
bidadari pun menatap dari kaki langit
berdiri di pangkuan pelangi
tanpa busana, nyaris telanjang
seakan ingin melumat semua birahi jiwamu
dan merobek sisa-sisa jasadmu

 
Sempat engkau berkata pada mereka
tapi mataku terlalu buta untuk memaknai itu
tanganmu ingin meraih benang hitam
benang itu menggulung
terjerat dan ditelan lidah pelangi
menyisakan napas-napasmu
bercengkrama di bahu angin
tergantung sesat di tubuh langit

 
Kalau saja aku punya sayap
ingin kuhantarkan padamu
memohon dengan segenap kekuatan bathin
saat Sang Ilahi masih iba
– dengan semua doa-doaku
agar jiwamu berkumpul bersama
anak-isterimu yang masih menunggu
membakar semua mimpi-mimpi kotor
menggantinya dengan menulis kata-kata suci
mungkin itu dinamakan ilham dari langit
tertulis pada kitab-kitab cinta di rumahmu

 
Sekali lagi kutatap tubuh langit
begitu dangkal nalarku membaca misteri itu
kadang kubaca aksara langit dengan sebuah kebohongan
mencoba menggapai jiwamu
entah dimana bisa kutemukan dirimu
karena takdir telah memvonis kasat mataku, dan
biarkanlah langit berbicara

(2016)

 

Biarkanlah Aksara Berbicara

Sudah lama tidur itu tanpa mimpi
kini angin berhembus menguak mimpi
menerangi akal lewat cahaya mentari
di tubuhnya ada segenggam senyum
selaksa keinginan pun menuangkan hasrat
dihembus angin dalam keranjang aksara
 

Dalam diam tidaklah harus terasa sunyi
semua kepalan tangan menyatukan keinginan
tak perlu lagi berjalan dengan langkah gontai
karena perang nalar hanyalah bias zaman
kadang (dia) berkelana pada ruas-ruas waktu
kadang menjelajah ke sudut-sudut kotor
hingga aksara itu menjadi sebuah kejernihan pikir
membuat semua malam jadi terkesima
– dan siapa pun serasa ingin memeluknya

 
Kalau saja boleh
aku ingin hidup pada dunia itu
meneruskan titah para penulis syair indah
mungkin, masih banyak mimpi “mereka” tersimpan
di balik pusara “mereka”, yang duduk membisu
tanpa peduli panas dan hujan
menerjang tanah-tanah penyimpan jasad “mereka”
– yang kadang berharap ada kiriman doa di atas tanah itu
atau mungkin kita hanya terbelenggu
dalam keindahan aksara peninggalan “mereka”
lewat susunan bait-bait pelipur makna
 

Zaman telah mengubah sejarah
walaupun pena terus memacu langkah
mencari batas-batas yang tak bertepi
dan aksara itu terus bicara
lewat orang-orang penulis syair
hingga dunia tak bisa lagi berpaling darinya

Malang – 2016

 

Bait-Bait Duka

Tak lagi kususun sebait kata
nalar ini seakan pergi
menembus gelapnya malam
 

Disitu, ada luka menganga
entah kapan akan kuobati
telah lama terkunci
– dan berselimut duka
 

Hari-hari berlalu
melangkah semakin jauh
meninggalkan keterpurukan nalarku
Haruskah bait-bait itu kubuang,
memenggalnya dengan pedang doa
atau dengan mensucikan diri?
Agar nalar ini tidak tersesat di persimpangan jalan
atau mungkin bait-bait itu telah terkunci
terbelenggu menyekat pikiran

 
Kini kuberharap untuk memulai lagi
menyusun aksara ke dalam bait-bait
penuh makna…
penuh harap…

Malang – 2016

 

 

Biodata:

 

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Bernama lengkap: VICTORIO PRASETYO W — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983

Karya-karya Sastra pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Jawa Pos Radar Malang (Malang) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantara News.co – Harian Buanakata.Com

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), Jurnal SM II (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Kumpulan Cerpen “Wanita-wanita, Menuju Ridho Allah” (2014 – 2015)

Sedang membuat Buku Antologi Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

Puisi Puisi: Achmad Hidayat Alsair

Tanah Hindia

Bakar! Semua telah kau bakar!
Rampas! Semua telah kau rampas!
Harga diri dan kehormatan
jejalan bekas kebesaran

Kami gulung celana lusuh ini
berpeluh bukan untuk diri sendiri
tetap lapar, hidangan penjajahan
sebagian memilih melawan
lalu disapa tiang gantungan

Hampir habis! Dalam bara terkikis!
Hampir lenyap! Berontak lalu tengkurap!
Saat kami bertanya sesuatu
bedil lekas menjadi juru bicara
Saat kami meminta sesuatu
ancaman membuat nyali sia-sia
maka ini tinggal masalah waktu
kau telah nyalakan sumbu

Kami mengepalkan tangan
dan teteran sisa keberanian
Kami menjalar, menyebar
Jawa, Maluku, Sumatera
Bali, Kalimantan, Madura
Sulawesi hingga Maluku
Nusa Tenggara, Papua (sungguh merdu!)

Di balik hutan malam
kami susun siasat rinci
kuda-kuda dalam temali
keris dan parang, begitu tajam
Tanah ini milik kami
ke pangkuan lah akan kembali
Itu pasti

– Makassar, 22 Juni 2016

 

Mencari Sunyi

Aku mencari dirimu di sela-sela reruntuhan
yang musnah dimakan oleh peradaban
sebagai proses alamiah penuh kepasrahan
dalam debur alur almanak pergantian zaman.

Aku mencari dirimu di bunyi-bunyi halilintar
yang kini sayu karena dimakan oleh ingar-bingar
deru kendara kota yang dari hari ke hari memencar
hingga roda-rodanya sanggup kangkangi pagar

Aku mencari dirimu di tugu-tugu batu
yang kini warnanya pudar tak lagi baru
karena dibasahi oleh mendung yang berpacu
bersama badai dan karat pengisi rasa pilu

Aku mencari dirimu di berbagai tempat
namun kini hanya terpekur melihat kertas nubuat
mulai pula berdendang irama-irama penuh hikmat
lalu cekikmu melingkar semakin erat

– Makassar, 16 April 2016

 

Nonsensikal

Kulihat orang itu, membelah lautan dengan menggunakan sebuah sendok perak mengkilap
yang dia curi dari pasar loak yang penuh dengan barang-barang legal lagi baru.
Di jendela kamar kulihat seorang wanita dengan mata yang berjumlah seribu kelopak
memandang anak-anak yang sedang bermain sepakbola bersama Beckenbauer dan Cruyff.
Beranjak ke ruang sidang dimana mata hakimnya tertutup kain hitam
dan si terdakwa didudukkan dalam kandang singa yang lapar akan daging.
Lalu di pantai aku melihat orang-orang mencoba menghitung seluruh butiran pasir
menggunakan jari jemari yang keriput hasil direndam dalam minyak sepanjang hari.

Di hutan aku melihat traktor-traktor berjalan di atas awan kapas berwarna putih
sementara di bawahnya pepohonan sibuk menghitung daun demi daun yang berguguran.
Layar televisi menampakkan senjata-senjata yang berwarna merah muda cerah
menembakkan amunisi berupa butiran pelangi dan orang-orang yang tertembak jadi bahagia.
Aku menonton acara debat dimana seluruh narasumbernya adalah anak balita
yang berbincang serius mengenai kenapa kucing dan anjing bermusuhan sejak lama.
Di barisan buku perpustakaan kemudian aku melihat huruf-huruf menari riang gembira
sembari merayakan kejatuhan tiran bernama penerbit dan antek-anteknya.

Dan kemudian pandanganku tertuju kepada sebuah panggung tanpa alat musik
di mana penontonnya menyemut berebut menyalami seorang figur tanpa otak.
Tengadah aku ke atas melihat langit dengan ribuan rembulan berwarna hitam kelam
dan diriku berubah menjadi burung kondor yang makan malamnya berupa nasi uduk.

– Makassar, 20 Februari 2016

 

Melarung Kenangan

Kutatap sebuah perahu, sendu.
Angin puyuh mulai berbicara mengenai pilu
suaranya meraba-raba dinding beranda
sembari mencari luka untuk tubuhnya.

Kini laut memberiku pelukan hangat, kuat.
Sebab tulangku tak ingin melar sempurna
darahku kesiap diberi jalan untuk minggat
dan detak jantung terus menggurat tanda koma.

Aku membius diri sendiri, pedih.
Namun sedih malu-malu beranjak
dan jemarinya mulai nyalang oleh api
sebab sampan ingin dilarung tanpa jejak.

Kulepaskan temali tempat tambat, berat.
Perlahan menjauh dia dari daratan pijaknya
kusebar segera air mata yang melekat,
ingatanku ingin segera menjadi remah.

– Makassar, April 2016

 

Sebuah Meja Makan Di Ladang  Pembantaian

Kerja lidah hanya membeda rasa
ketika di meja dijejerkan hidangan derita
teraduk bersama bumbu-bumbu kealpaan
tangan menyatu menyuguhkan kepalan

Dan panas adalah kepul yang bergumul
dalam lindung batang berujung tumpul
Sembunyikan estetika ladang bernama jeritan
ditepinya bergantung keranda kesakitan

Rumput memerah oleh tinta hitam abadi
tanah adalah semayam tanpa nisan sejati
setiap langkah hanya berujung pada reka
tubuh-tubuh ngilu teronggok jadi kerangka

Tengkorak hanya termangu menunggu terka
tanya mengapa dirinya istirahat sangat lama

– Makassar, 9 Mei 2016

 

Penulis bernama Achmad Hidayat Alsair. Lahir di sebuah kota kecil bernama Pomalaa (Sulawesi Tenggara), 15 Mei 1995. Sekarang tengah berkuliah di Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Hobi menuangkan hal-hal yang melintas di pikirannya ke atas kertas. Puisi-puisinya pernah dimuat di harian Fajar Makassar, Tanjungpinang Pos, Jurnal Asia Medan, Litera.co.id, FloresSastra.com, ReadZone.com, SultraKini.com, MahasiswaBicara.com dan beberapa antologi puisi. Yang terbaru, salah satu puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Temu Penyair Nusantara 2016 “Pasie Karam” (2016). Bisa dihubungi melalui ayatautum95@gmail.com.

Kerinduan di Puncak Malam – Puisi Iwan Setiawan

Kerinduan di Puncak Malam

biarkan malam ini
kabut tidur di bawah sinar bulan
jangan kau sentuh mimpiku
dengan kisah lalumu
biarkan embun turun
dalam jelaga kejujuran

jangan kau halangi
angin gunung yang semilir
bertiup menerpa pohon pohon cinta
karena malam ini
aku ingin terlelap
dalam dawai getar asmaradhana
sang puspa dewi rinjani,

bulan
di malam ini begitu indah
menggantung di langit anjasmara
wajahnya penuh
berseri di atas bukit batu,
o

bibir siapa yang mampu mengecup bulatnya

kunang berterbangan
di kebun-kebun bunga
melintasi kabut-kabut putih
yang menipis di sela temaram
baying-bayang pohon hutan,

malam yang indah,….
aku masih berdiri
dia atas batu-batu sungai kenangan
di bawah puncak-puncak bukit kerinduan

padang, 2016

 

Ruang Kita

ruang ini
masih meninggalkan jelaga debu usang
dan seonggok kisah yang pernah alpa
di antara gemuruh angin yang meruncing
menghembus bumi

perlahan kupungut sedikit rerindu
yang meleleh
di sela bebatuan tajam
yang dulu pernah kita ramu
sebagai penjaga kalbu

dan di sini, di pesisir pasir
kita selalu menghitung waktu
mengeja bait bait indah yang biru
merengkuh syahdu dalam dekap jemari rindu

hingga
membiarkan camar
membawa pulang petang ke peraduannya
hingga denting waktu
menangkap bayang-bayang malam
yang tak jemu
melarut dalam rindu

padang, 2013

 

Sajak Rindu di Tengah Hujan

hujan turun begitu sedih
aku berjalan lalui malam
yang begitu dingin
kulihat rembulan
telah tenggelam di batas telaga
cahayanya redup membelai namamu
seperti seuntai kembang,

kemudian
sebatang pohon mimpi
menunjuk kepucuk anjasmara
tempat sepasang alap-alap terbang bermanja
memadu cinta di langit asmara

oh,…
aku begitu rindu
pada tembang asmaradhanamu
yang selalu menebar renjana
dan merasuk hingga ke kalbu

lalu
aku begitu sulit
untuk menolak
panah cintamu
yang selalu menghujam ke detak jantungku,

hujan yang turun
bagai air mata kesedihan
tanpa angin
tanpa gemuruh
hanya dingin
menyelimut beku,

entah
sampai berapa zaman
aku di landa kesepian
sedang mimpi
selalu mengusik masa lalu
tentang kita yang pernah satu

oh,
di mana kau sembunyikan wajah manjamu
di mana kau simpan desah rindumu kepadaku
hingga
sepuluh tahun
aku harus berperang melawan
kesepian,
tanpamu, di sini

(hujan masih turun dengan sedihnya)

Padang, 2013

 

Sajak Luka

kepada perempuaku 1983

tinggalkan sebuah komentar
di atas rak waktu yang usang
tanpa lentera juga nyala kunang
masih juga seperti dulu,
sajak lara yang kau tinggalkan
pada bait sepi

mungkin aku masih bisa temukan kata cinta di sini
bila saja di akhir sajakmu aku temukan kata”perjumpaan”
namun,ku lihat kau makin terlelap pada bait luka
pada kata yang kau sebut nestapa

aku masih terjaga
menyusun makna di akhir kalimatmu
yang penuh butiran dendam

semoga saja kau bisa temukan kembali
ayat Tuhan untuk memaafkan kesalahanku

sejak fajar sampai perbatasan
dari penjara fana hingga lorong hampa

tak juga kutemui sajak perjumpaan
yang kau tinggalkan

kucoba cium dahi rembulan
saat malam kembali menjelang
sepi, sepi dan tetap sepi
tak bisa lagi kubaitkan
doa-doa pembebasan jiwa

semua telah menjadi
luka di akhir kalimat
sajakmu

padang, 2016

 

Perempuan Tanpa  Judul

di atas bukit kapur
ada bulan sepotong
menyerupa wajahmu yang melompong
semerbak bunga adalah harummu
namun, di taman hatimu
tak ada aroma yang menanda

di atas bukit kapur
ada bintang sepotong
menyerupa manjamu yang bengong
dan angin berkibar
menerpa rambutmu yang menjalar
menyusup hingga menyapa hembus nafasmu
yang masih setia
mengutarakan kesepian
di ujung-ujung embun yang melantun turun
hingga di perbatasan
mata kakimu yang bisu

di atas bukit kapur
kau masih menjadi perempuan
yang mengabjad rembulan
bersama kumpulan sunyi
yang di lontarkan gemerisik angin dedaunan

di atas bukit kapur
kau masih menjadi perempuan
yang terdiam dalam gemuruh waktu
yang terhunus belati sepi

di atas bukit kapur
kau telah menjadi perempuan tanpa judul
yang menghitung hari demi hari
tanpa mimpi yang terkabul,

padang, 2013

 

Astana Rasa

diri rindu padamu
duhai jelita kemayu
sapalah daku dengan kulum seyummu
agar rupa merona semu

tiada suara
kukatakan kata-kata
tiada makna
merubah rasa

kau masih indah
berbaur dalam harum debar kenanga
aku selalu sumringah
mendapat kau tetap setia

tiada hati menolak kelak
saat kita bersanding menapak puncak
menuju hidup penuh corak
degan ikatan cinta yag kuarak

kasih, kasihku yang terkasih
mari jaga hati saling asih
memberi rasa menuju mimpi tanpa perih
kemudian kita tanamkan diri menjadi benih

semoga,
gelanggang di dada
berpacu membaca bagai memantra
dan melumuri hasrat untuk segera membuka cerita

dan,kita kembali ada
sama merasa,sama membaca
memakna segala suarasuara bergelora

hingga kita terkapar di rangkaian cuaca suwarga

roemah bamboe, 24-12-14

 

Aku, Kau Dan Januari

kunang-kunang dan hujan
tak juga pulang
malam yang kesekian
aku masih di balut kesepian
mimpi tak berujung akal
di sini kau letakkan secawan kata
lalu hilang
aku kembali tenggelam
tergulung dalam gelombang makna
penuh ambigu
hutan-hutan kabut
menjilat maut
sepi yang meniti sisakan kepedihan
aku terpenjara dalam hujan diammu
januari pertama yang sedih
mataku masih mengenang wajahmu
bahkan beratus-ratus kali
aku kembali menata retak cinta ini
o,
kunang-kunang dan hujan
tak kunjung pulang
kau tahu tentang sepi ini
sepi yang tak pernah tuntas

januari, 2107

 

Kesetiaan Cintaku

andien,
biarkanlah bulan di malam ini
datang membawa cahaya kerinduan
menyinari di segala lekuk tubuh lusuhku
yang masih terbalut sendu

andien,
gemericik sungai kedung masih meriak tenang
membawa sejuta irama cinta yang panjang
melahap seisi embun dalam gletar usang
dan bayangmu semakin jauh di cumbu silirnya gunung karang

andien,
andai,kau ada di malam ini
mungkin pintu hatiku tak akan rapat terkunci
dan segala bintang yang telah hadir di sini
akan menjadi saksi cintaku yang abadi
kepadamu
hanya kepadamulah cinta ini berlabuh
hanya untukmu semua rindu yang tercipta di hatiku
hanya kepadamu
seluruh ruh asmaraku berteduh

andien,
kau tau, malam ini aku lewati semua udara dengan gemetar
sambil terus mengenang wajah cantikmu
agar tiba kantukku nanti
aku dapat bertemu denganmu walau itu hanya di alam mimpi
dan aku akan terus bertahan
mengemas semua bongkah kesepian
sampai kau datang kembali menemui aku di sini
di pinggir kali kedung tempat kita mengikat janji

andien,
pernah aku mecoba untuk berkelana
singgah ke dermaga hati para wanita
namun sampan kesetiaan itu tak mampu kukayuh
higga aku kembali teggelam
di laut cintamu yang begitu dalam

andien,
pulanglah sayang
aka kubelai rona wajahmu dengan wanginya kembang
lalu kutanamkan pohon sabar yang rindang
di taman hatimu,
agar pengembaraan hatiku dapat berteduh lama di pohon kasihmu
andien
jangan kau buat harapan hatiku menjadi serpihan yang sia-sia
pulanglah sayang
temui aku di pinggir kali kedung
yang di bawahnya mengalir air yang begitu jerih
sejernih bola matamu
andien

roemah bamboe,2013

 

Cintamu Telah Membakar Cemburuku

malam ini
aku kembali meratapi diri
setelah kepulanganmu melukai cintaku
tiada lagi harap
jalan kecil di tepian sungai itu
telah kupagari api
bunga-bunga dandelion
yang selalu kita mainkan bersama angin
pun, aku hancurkan
malam ini
aku ingin lampiaskan segala
dari kekecewaanku yang mendalam
hingga seluruh kelukaan hatiku yang mendendam
akan kucabik semua kesukaanmu
dari almari rinduku
aku tak ingin lagi
melukis senyum, apalagi wajahmu
kesakitanku yang mencintaimu
sudah memerah bara
mendidih magma
hariku hitam
mataku kelam
embun-embun hilang
udara pengap sekejap
dalam kamarku ada kehampaan
matahari ke tujuh telah hadir menabrakku
dari perpisahan yang terjadi
sinarnya tak lagi hangat
seperti waktu kau masih bersamaku
tak perlu lagi kau temui aku
cukup dustamu saja
yang aku nikmati
dengan secangkir kopi pahit
dari balik beranda rumahku yang
masih penuh cerita
tentang, kita

lampoeng, 2016

 

================================================

Iwan Setiawan kelahiran kotabumi lampung utara 23 agustus1980, menyukai puisi sejak SD, baginya puisi adalah ruh dalam tubuhnya, pernah tergabung dalam antologi 55 penyair coretan dinding kita, 30 penyair sastra roemah bamboe, dan 3 penyair ilalang muda, kini tinggal dan menetap di padang tepatnya di lubuk begalung padang Sumatra barat. Nomor hp: 082386725726

Puisi Galeh Pramudianto

Tamsil Caraka

ajarkanlah aku bagaimana mengeja sunyi

dari altar paling lindap, berlinang di jari meja makan

yang kenyang dari gemuruh dan rusuk tubuh

 

tuturkanlah berita ini pada anak dan cucumu

bahwa kau menganggit benda itu

yang sampai pada kedua tanganmu

dan tulangnya tak terbit pada sebuah adalah

 

kubisikan pada angin di sebuah perjalanan

tentang kesik yang mengudara di duri-duri

juga malam yang tak kunjung padam

di hela pusaka dan nyanyian istana

 

sebagaimana utusan, kidung ialah jaduk dalam nurani

menuntun tajali, dari gelap yang abadi

 

dengarlah baris-baris ini

pusaka terbang tak jauh dari bayang dirimu

memeluk lirih rangkul dan pangku tubuhmu

Bintaro, Juli 2016

 

Dora Sambada

aku tidak dusta pada api dalam mulutmu

tidak pergi dengan tahi di atas punggungmu

kubayangkan amsal ular dalam panu merekah

di sela tubuh yang dengki paling purbawi

 

aku tidak remuk dalam doamu

mencemari asap banal pun profan dalam paru-paru

kulihat lidah yang menari di sekujur tubuh

desis bisa menyiratkan api suci

 

aku tidak tidur dalam tangismu

menyanyikan kidung kesetiaan

pada bilik sembab dan sembah

kudengar derap langkah gagah

terbang di atas sebuah kisah kasih

tak sudah-sudah.

Bintaro, Juli 2016

 

Mendengar Kecipak Air

selimut cuacamu

memayungi batu-batu penyangga kepala

yang kerap bersuara

 

di dalam langit-langit kepakan sayap

ombak bertapa dan sauh buritan

meluncur di selebu

 

mimpi yang bergelombang pada riak

hibuk mudik membuka makrifat,

desir pantai yang raun-raun di sepanjang bibir

menyalakan senja yang tawar dalam dadamu

 

di atas tebing rindu dan di bawah pualam kalbu

wajahku terhapus oleh kaki-kaki geladak

yang membakar doa

dalam avontur laksamana mengunyah pembajak

 

mendengar kecipak air

setidaknya kepalaku mengalir tenang

nujum ikan-ikan

kembali dansa mendekap jaring nelayan.

Bintaro, Juli 2016

 

Pulau

jangkar tak mampu lagi menahan perhentian kita

yang ada hanya karat pada batu karang

dan kau tak mampu lagi menyusun pasir

yang kita tinggalkan pada peristirahatan kemarin.

 

apa yang tersisa dari jejak yang dihapuskan pasir kepada air?

lumbung kaki yang menimbun ingatan-ingatan perjalanan,

angin dan genggaman hujan.

 

apa yang terpelihara dari tubuh-tubuh yang datang silih berganti,

menuangkan tujuan mereka masing-masing lalu melaut bersama udara

yang dingin memekakkan tas, pakaian dan wewangian sementara?

 

kita dicurigai orang-orang dan diusir oleh dermaga kita sendiri.

pergi dan pulang hanya omong-omong kendaraan,

membawa gugusan petang

lalu akan segera terbenam menjadi malam.

 

palung hati mengubur perahu-perahu

yang mondar-mandir di perhentian keterasingan.

menakhodai badai yang datang

membawa tumpukan makanan cepat saji

yang hangat senantiasa menidurkan kita dari piring-piring kebahagian

sebentar saja.  

Bintaro, Juli 2016

 

Sampyuh

demikian kita sampai di sini

tidak di mana-mana dan tidak apa-apa

langkah yang kulalui gumul dengan angin sembap

asap lembap dan aspal tak henti-henti

 

penaka paradoks zeno, langkah kita

tak tiba dalam beberapa cuaca

achiles, kura-kura dan kita

mencoba berlari sekuat tenaga

menembus lorong-lorong beliak

mendayung mimpi kian beriak

 

aku di atas, kau di atas dan terus berperang

di antara kantata cemas tak berkesudahan

 

kita bertapa dalam ombak gerak

menabrak celah langit-langit yang bergejolak

di bawah gema semu dan belian lindur

lahir anak panah dalam riwayat papa

 

panah itu,

panah yang kuhujamkan di langit-langitmu,

menerobos dinding waktu kita

kita bersidekap di antara bayang-bayang remang

merawi gamang yang bersarang di tiang-tiang

Bintaro, Juli 2016

 

Tatahan

jikalau jalan raya mendengar lebam semut

dan bersin seseorang dari kamar yang dikunci

adakah mobil-mobil itu memejamkan mata

dari langkah-langkah beribu sunyi?

 

jikalau airmata menertawai bola mata yang berkaca-kaca

adakah yang peduli pada gemercik yang turun setetes demi tetes?

 

jikalau tetes itu menggunung di kasur dan tisu

adakah yang didapat dari tisu yang berwisata

ke tempat sampah—dan kasur yang dijemur?

 

jikalau lembayung masih menatap kita

adakah jawaban meluncur dari sekon-sekon kesekian?

 

jikalau andaimu itu terbit di sebuah adalah

maka tiada belum dalam pertanyaan-pertanyaan kita.

 

Bintaro, Juli 2016

 Galeh Pramudianto, mahasiswa akhir Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta. Menulis naskah drama, puisi, esai dan skenario. Penerima beasiswa menulis fiksi Tempo Institute. Manuskrip puisinya (Kacukan) masuk nominasi 10 besar (masih berlangsung, dengan juri Herman J. Waluyo dan Gunawan Maryanto) dan akan diterbitkan dua bahasa (Indonesia dan Inggris) oleh Pena Kawindra. Pengajar teater dan sutradara di Sanggar Embun Cileungsi—juga kadang bergiat di Riset Teater Jakarta. Buku puisi tunggalnya: Skenario Menyusun Antena (2015).

Pernah memenangkan sayembara antara lain: 10 besar Festival Film Bandung IKAPI JABAR 2014 (Cipta film), UNJ Art Festival 2014 (Juara 1 penulisan lakon), Peksimida 2014 (Juara 1 penulisan lakon), Peksiminas 2014 (Juara 3 penulisan lakon), Festival Seni UNJ 2015 (Juara 1 cipta puisi), Falasido UI Bulan Bahasa 2015 (Juara 2 cipta puisi). G-Sastrasia Bulan Bahasa UNJ 2015 (Juara 1 Cipta Puisi). Piala Indonesia UNJ (Juara 1 Cipta Puisi dan Juara 2 Cipta Cerpen).

Naskah dramanya: Sesuka-suka (2013), Opera Oposan (2014) dan Parabel Pembelot (2014). Beberapa puisinya termaktub di pelbagai antologi: Dari Negeri Poci: Negeri Langit (2014), Rodin Memahat Le Penseur (2015), Buletin Jejak Forum Sastra Bekasi, Buletin Sastra Stomata Rawamangun, Dari Negeri Poci: Negeri Laut (2015) dan beberapa media daring. Bisa ditemui di senandungmendung.com atau melalui akun twitter @galehpramdianto. Korespondensi: galeh.pramudianto@gmail.com dan 0856-175-7768.

Puisi Puisi: Bagus Setyoko Purwo

Sajak Tak Kesampai

darahku membeku diterpa badai salju
menujumu bagai menjemput maut
bila aku mati membeku
niatku telah melesat menemuimu

dahulu aku memang dungu
menunggu bergulirnya waktu
dari berangkatnya kata-kata
sajakku tak kesampai dirimu

Sajak Kepada Dambaan Jiwa

dari sayatan waktu yang kugenggam
cintaku membara mengelupas sumsum
dari setangkai mawar segar yang kubawa
cintaku berangkat menemui dambaan jiwa

oh jiwaku peluklah erat sampai ku membeku
tiada keabadian menjalar ke jiwa
langit tempat kita bersemayam
aku tiba menyuarakan sajak kepada dambaan jiwa

Melingkari Majlis

kita bersitatap beradu dengkul
membuka salam dengan salam
menyusuri bibir gelas kopi kental
sehisapan jarum filter menguap menutupi malam.

cerita berkembang ke mahabbah kepada sang pencipta
atau puncak kerinduan hamba kepada sang pemilik Rindu

Sajak-sajak Muharam

bermula sebait niat menghujam keheningan batin
dalam diri mendegupkan rindu tak tertahan
meneruskan kebajikan melalui pintu ramadan
menghidupkan sebulan dengan getar-getar al quran

Maghrib ke berapa sekarang

adzan hampir menyeruak ke dada

rakaat ke rakaat membimbing manusia
salam kanan kiri
membagi kasih abadi

Tuhan

Tuhan, rawatlah mereka yang terlantar di wilayah dunia.
Tuhan, rawatlah mereka yang diabaikan kemujuran.
Tuhan, rawatlah kebahagiaan mereka dalam semua hal.

Sebaik Ibu: Bukan ia, Angeline

ibu sejatimu ialah ia yang suka mendongengkan kisah-kisah
Ibu hatimu ialah ia yang tak lupa menyirami bunga-bunga di kebunmu
ibu kasihmu ialah ia yang tak tega menghujanimu dengan duka lara mencengkam

Angeline baik-baiklah engkau
dikemudian hari

Usap Derai Itu

aku membaca nasibmu dari layar kaca yang menggemaskan
bagaimana bisa nurani perempuan berlaku keji
mengiris sedih berkali-kali

usap kepiluanmu dengan tisu bahagia
sebab di luar rumah
surga terbentang rumahmu berada..

Penyair Koran

aku membeli kulkas dari laba menyerahkan sepuluh puisi ke meja redaksi.
aku menunaikan hajat sebulan dari laba menuliskan kisah perselingkuhan dari ranjang ke ranjang.
aku menyelesaikan itu semua tanpa rasa bersalah.

sebab telah kulunasi hakekat kata-kata yang mengisi tiap bait dalam puisi-puisi itu

Om Malaikat

om… om, bagaimana agar tanganku bisa menggapai bintang?

lebarkan sayapmu, nak.
kepakkan sekuatmu.

kau akan mudah meraih banyak bintang itu
sajakku berjudul om malaikat

Bagus Setyoko Purwo, tinggal di Babelan Town, kab.Bekasi, menulis fiksi dan non fiksi, berkegiatan di Forum Sastra Bekasi, mengajar di SMK Ananda, Bekasi Timur, STIE Indonesia, Jakarta, dan STIE Kalpataru, Cileungsi, kab. Bogor

Kembara Mimpi – Puisi Ahmad Radhitya Alam

KEMBARA MIMPI
adalah mimpi
harapan yang harus dicapai
mendaki getirnya puncak tantangan
sambil menerjang karang yang melintang
sedangkan cobaan-cobaan masih terbentang
berpeluh cacian dan umpatan yang tak bertuan

telah berapa usaha kucoba
kurapal ritus-ritus doa
untuk menggapai harapan asa

dan angan bukan lagi remah-remah, menjelma
pengharapan mimpi yang nyata
di huluan capai yang sunyi
‘kan ku kembarai mimpi
sambil menunggang badai

peluh-peluh membaur
bersama angin yang menghempas, keras
menjual pasrah, membeli rela
di mana mimpi akan ku renda

Blitar, 23 Desember 2016

PEMUJA RAHASIA

Untukmu yang ku rindu
Untukmu yang selalu ada dalam mimpiku

Tahukah engkau
apa yang ada dalam rasaku
dalam diam aku menatapmu
dalam redam senyummu membuatku terpaku

Kau tetap ada dalam jiwa
Kau bagai separuh nyawa

Andai aku tak dapat memilikimu
Biarkan aku mengagumimu
Ijinkan aku mencintaimu
Mendekapmu dalam palung hatiku

Aku adalah pemuja rahasia
Yang selalu ada untuk menyapa

Ruang Imaji, 2016

PELANGI CAKRAWALA
Mataku terpejam
Aku termangu, dan diam
Menerawang jauh ke masa silam
Menembus lorong-lorong dimensi yang redam

Aku sendiri,
berdiri menyendiri

Kutatap pada embun pagi yang merona
hangatkan dahaga pesona
pelangi cakrawala
luruhkan
nestapa

Dan kuharap, itu semua
bukanlah fatamorgana
biasan belaka

Blitar, 4 April 2016

FRAGMEN RINDU
Rinduku seteguh besi
Menunggumu di gelap sunyi
Luka elegi menggunung
Pada palung hati terujung

Semburat cerita luka
Segunung tinggi derita
Hancur jiwa musnah
Menunggu tanpa arah

Blitar, 7 April 2016

MALAM MEMINANG PURNAMA
Berkas-berkas cahaya menyinari langit yang tampak legam
lentera malam tampak cerah di peron sebuah stasiun
hilang sudah derita nestapa, rona ekspresi muram
saat gerbong-gerbong kereta datang berduyun
tak ada lagi bara yang membakar jiwa
yang tampak hanyalah tawa bahagia

Malam meminang purnama
bintang-bintang merenda cahya
di tengah hiruk pikuk gembira
semarak pesta memesona

Blitar, 23 Mei 2016

MUARA RINDU
Malam tak lagi purnama
Hilang gemintang yang dahulu menyala
Sepi sunyi tanpa suara,
Hilang sudah rasa

Merajut satu persatu harap
Berterbangan rindu tak bersayap
Berkumpul membelenggu malam
Yang kian waktu semakin kelam
Lorong imaji angan yang sembilu
Mendayung tanya pada muara rindu

Mengayuh harap pada mimpi
rindu yang api

Blitar, 24 April 2016

BUNGKAM
Kami menolak diam
Walau mulut dibungkam
Mata, hati, telinga ditikam
Terhimpit di bawah tilam

Suaraku mungkin tedengar tajam
Bergerak terus menyusuri kelam
Mencari arah keluar
Daripada semak belukar

Aku mungkin bisa diracun di udara
Aku bisa tenggelam di lautan
Atau ditikam di pinggir jalan
Tapi suaraku akan tetap bergema

Gema suara di udara
Menelisik ribuan berita
Begerak menempuh keadilan
Karena kebenaran akan terus hidup, walau dilenyapkan

Aku dibungkam
Aku ditikam
Hilang dari alam
Tapi suaraku takkan pernah padam
Blitar, 7 Januari 2016

________________________________________________

 

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, Harian Amanah, Read Zone, dan Malang Post.
Alamat Facebook : Ahmad RadhityaAlam/ facebook.com/mask.vendeta.5
Nomor HP : 085 706 022 133
Email : ahmadradhityaalam@gmail.com