Arsip Kategori: Puisi Pilihan

Puisi Arif Tunjung Pradana

Puan

Perempuan itu berlarian dengan kata-katanya sendiri; memanjang kepada mata mawar yang telah menua. Tubuhnya mengeras dan tersapu suara menggema yang entah dari siapa. Gerimis mengancam matanya yang berkaca-kaca dan terpercik tajam ke empat penjuru mata angin.

Tiba-tiba ia merasa asing dalam waktu yang hening; dengan derai di sekelilingnya.

 

Taman Kala

Di sebuah taman gaunmu terkubur rapi dengan pertengkaran saat cahaya bulan menari-nari tepat di atas senyuman wajahmu. Bercak warna yang begitu ringan kemudian memerah lekat dengan rahang-rahang belati yang tersentak dan mencatut urat nadimu dalam pandangan tajam. Menghabiskan malam-malam yang mencekik kewarasan begitu juga akan kehormatan. Ambisi adalah sampah dan kotoran yang menyematkan rangkaian bunga dalam dada kemudian mengakar dipikiran. Aku adalah kebodohan; tak pernah usai mengancam setiap senyuman.

 

Menumbuhkembangkan Kenangan

Kita telah berhasil menumbuhkan kenangan yang membanggakan sekaligus menyakitkan. Bahkan derap langkah tumpukan nama-nama baru dalam berkas-berkas tua itu masih tertata rapi dalam ingatan. Bayangan harapan, ambisi, dan kekekalan kerap memandangi tubuh-tubuh kita yang takluk akan kenyamanan dengan perlahan.

 

Ambisi

Kematian mengawali cerita tentang ambisi, kehormatan,  dan dendam yang tak pernah usai. Teka-teki kehidupan selalu berpaling kepada adab yang purba. Bercak darah menyayat pandangan yang perlahan memutih. Perhelatan perihal ambisi adalah keteduhan hati. Pertikaian akan kehormatan adalah kerusuhan jiwa. Dan,  dendam yang tak pernah usai adalah tagihan-tagihan yang menumbuh-kembangkan perasaan.

 

Ranjana

Sebulan terakhir Ranjana melewati jalan kecil dengan kaki telanjang; penuh denyut nadi para pemeran. Setumpuk berkas berisi rencana-rencana kecil menatap mata kita. Nyaman mengkristal dan membaur ke segala penjuru sudut senyuman dalam detak detik waktu. Lelah mulai menghukum beberapa prasangka bersalah ketika suara-suara menyusur menjelma bayang-bayang angka. Barangkali rindu adalah penjara yang pandai menghitung mundur angka-angka itu dan menghancurkan kenyamanan yang telah menua. Hanya nafas kita yang mampu menyelesaikannya; menjadi harapan dan halaman rapi yang disusun dalam kotak memori dalam hati. Genangan sungguh akan menjadi kenangan dan perihal ketegangan biarlah menjadikan kita kebanggaan.

Melingkari Wajahmu

anak kecil berlarian di sekujur lingkar wajahmu, bernyanyi-nyanyi di kaki langit kemudian menyulam senyum dengan denting hujan di balik lengkung alismu.

ia menggertakan tubuhnya ke dalam rumah yang mematang dirajam waktu. dadanya menganga dengan segala teduh yang menengadah.

sempurna abadi dalam kantung matamu dengan dentuman memejam.

 

Beranda Rumah Tua

/1/

Kenangan menggenang di beranda rumah tua itu, menggenapi peristiwa-peristiwa yang tak pernah terbayang dalam pelukan, hentakan, ataupun lengking ingatan. Hujan menembus sela-sela kelopak bibirmu dengan murka, menunggu detakan nama yang mulai mengabur.

/2/

Bekas kopi tak lagi terlihat dalam permukaan bibir cangkir yang tersaji di atas meja tua. Ia sudah meletup berkali-kali semenjak hujan dan sepi menghantam ruang tamu dalam rumah tua itu. Ia pun mengepung lingkar matahari yang menanggalkan sinarnya pagi ini.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Puisi Endang Supriadi

Endang Supriadi, menulis puisi dan cerpen sejak 1983

 

SUDAH KALAH AKU

sudah kalah aku. percuma atap kubangun
pintu kupasang, roda kuputar, payung
kubuka. aku renta, tumbuh langsung tua
dagingmu dagingku beda. aku berdarah
awan, engkau berdarah kawah
benar-benar jauh panggang dari api

sukmaku menggelontor seperti air bah
yang tak berakar, namun justru
mengepung seluruh tempat persembunyianmu
ini aku, cemara yang bergoyang
rantingku tempat senggama burung-burung
langit membungkusnya berabad-abad,
tapi engkau begitu rela membakarnya

sudah kalah aku. percuma kuberi nama manis
pada pisau, kuberi nama salju pada batu
kuberi nama rindu pada badai, kuberi nama
sorga pada kubur. kereta kepedihan ini,
terus melangsir di sendi-sendi pikiranku.

Citayam, Pebruari 2006

 

KEKASIHKU MEMBUNUHKU DARI BELAKANG

kekalahanku membentuk figura yang
terbakar. sudut-sudut menjelma kabut
dan di kepalaku tumbuh mercon, meledak
setiap hari. jiwaku diarak sepanjang rel,
dihujani kritik yang terlontar dari ujung-ujung
jalan.. di setiap orang berlari, ada
darahku yang tumpah. sedang kekasihku
kerap membunuhku dari arah belakang

aku terhuyung dari dinding ke dinding
mengendus bau kematian yang agung
aku tahu kekalahanku ini bukan untuk
yang terakhir, karena pohon mawar yang
kutanam selalu berbunga kecubung. dan
getahnya selalu mengisi gelas kehidupanku
setiap hari. entah pisau manalagi yang akan
menguliti pikiran dan mengukir luka-luka
baru. sebab aku tak bisa lepas dari rantai ini.

Citayam, 2006

(Diambil dari buku kumpulan puisi Endang Supriadi, “Lumpur di Mulutmu” atas seizinnya)

 

 

  Tentang Endang Supriadi

Endang Supriadi lahir di Bogor, 1 Agustus 1960. Menulis puisi dan cerpen sejak 1983. karyanya tersebar di berbagai media cetak dan antologi bersama. Antologi puisinya, Tontonan dalam Jam dan Lumpur dalam Mulutmu (2010). Lima buah cerpennya dijadikan skenario audiovisual untuk sinetron televisi, yaitu: Lelaki itu Bernama Oding, Sosok Bertopeng, Protes, Sumirah, dan Dendam. Alamat surat, Gedung AKA, Jl. Bangka Raya No. 2  Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. HP. 08128556494.

 

Catatan tentang “Lumpur di Mulutmu”

Judul : Lumpur di Mulutmu
Penulis : Endang Supriadi
Cetakan : I, 2010
Penerbit : Pustaka Yashiba.
Tebal  : 68 halaman (50 puisi)
ISBN : 978-979-17857-2-0
Desain sampul dan tata letak : Dewi Prenji

Antologi puisi ini menandai 50 tahun sang penyair hidup di dunia. Buku ini juga dipersembahkan untuk cucu pertamanya. Di halaman awal ada tulisan begini: Buku yang amat sederhana ini, terkirim buat Bung Micky Hidayat. Salam kreatif. Endang Supriadi. Tentu ada tanda tangan si penyair dan tanggal: Depok, 16 Juli 2010. Tentang bagaimana buku itu bisa sampai ke rak Hajri, tanya yang bersangkutan saja.

 

Puisi Soni Farid Maulana

Soni Farid Maulana

Batu Hiu

Terdampar di pantai
sebab rakus dan buas

Ia dikutuk jadi batu
orang-orang menyebutnya:

batu hiu. Lalu bagaimana
dengan mereka yang bengis

melebihi binatang buas?
Demi kuasa, tahta, dan harta

menyingkirkan sesama?
Sungguh lebih dari:

Malin Kundang

2017

Soni Farid Maulana, lahir di Tasikmalaya 18 Februari 1962. Saat ini tinggal di Ciamis, Jawa Barat. Buku puisi yang ditulisnya, Arus Pagi *2015) meraih Anugerah Buku Utama dari Yayasan Puisi Indonesia 2015. Buku lainnya yang sudah terbit antara l;ain Sisa Senja *KKK, 2015), Kisah Suatu Pagi (KKK 2017) dan Sehabis Hujan (KKK, 2017)