Puan
Perempuan itu berlarian dengan kata-katanya sendiri; memanjang kepada mata mawar yang telah menua. Tubuhnya mengeras dan tersapu suara menggema yang entah dari siapa. Gerimis mengancam matanya yang berkaca-kaca dan terpercik tajam ke empat penjuru mata angin.
Tiba-tiba ia merasa asing dalam waktu yang hening; dengan derai di sekelilingnya.
Taman Kala
Di sebuah taman gaunmu terkubur rapi dengan pertengkaran saat cahaya bulan menari-nari tepat di atas senyuman wajahmu. Bercak warna yang begitu ringan kemudian memerah lekat dengan rahang-rahang belati yang tersentak dan mencatut urat nadimu dalam pandangan tajam. Menghabiskan malam-malam yang mencekik kewarasan begitu juga akan kehormatan. Ambisi adalah sampah dan kotoran yang menyematkan rangkaian bunga dalam dada kemudian mengakar dipikiran. Aku adalah kebodohan; tak pernah usai mengancam setiap senyuman.
Menumbuhkembangkan Kenangan
Kita telah berhasil menumbuhkan kenangan yang membanggakan sekaligus menyakitkan. Bahkan derap langkah tumpukan nama-nama baru dalam berkas-berkas tua itu masih tertata rapi dalam ingatan. Bayangan harapan, ambisi, dan kekekalan kerap memandangi tubuh-tubuh kita yang takluk akan kenyamanan dengan perlahan.
Ambisi
Kematian mengawali cerita tentang ambisi, kehormatan, dan dendam yang tak pernah usai. Teka-teki kehidupan selalu berpaling kepada adab yang purba. Bercak darah menyayat pandangan yang perlahan memutih. Perhelatan perihal ambisi adalah keteduhan hati. Pertikaian akan kehormatan adalah kerusuhan jiwa. Dan, dendam yang tak pernah usai adalah tagihan-tagihan yang menumbuh-kembangkan perasaan.
Ranjana
Sebulan terakhir Ranjana melewati jalan kecil dengan kaki telanjang; penuh denyut nadi para pemeran. Setumpuk berkas berisi rencana-rencana kecil menatap mata kita. Nyaman mengkristal dan membaur ke segala penjuru sudut senyuman dalam detak detik waktu. Lelah mulai menghukum beberapa prasangka bersalah ketika suara-suara menyusur menjelma bayang-bayang angka. Barangkali rindu adalah penjara yang pandai menghitung mundur angka-angka itu dan menghancurkan kenyamanan yang telah menua. Hanya nafas kita yang mampu menyelesaikannya; menjadi harapan dan halaman rapi yang disusun dalam kotak memori dalam hati. Genangan sungguh akan menjadi kenangan dan perihal ketegangan biarlah menjadikan kita kebanggaan.
Melingkari Wajahmu
anak kecil berlarian di sekujur lingkar wajahmu, bernyanyi-nyanyi di kaki langit kemudian menyulam senyum dengan denting hujan di balik lengkung alismu.
ia menggertakan tubuhnya ke dalam rumah yang mematang dirajam waktu. dadanya menganga dengan segala teduh yang menengadah.
sempurna abadi dalam kantung matamu dengan dentuman memejam.
Beranda Rumah Tua
/1/
Kenangan menggenang di beranda rumah tua itu, menggenapi peristiwa-peristiwa yang tak pernah terbayang dalam pelukan, hentakan, ataupun lengking ingatan. Hujan menembus sela-sela kelopak bibirmu dengan murka, menunggu detakan nama yang mulai mengabur.
/2/
Bekas kopi tak lagi terlihat dalam permukaan bibir cangkir yang tersaji di atas meja tua. Ia sudah meletup berkali-kali semenjak hujan dan sepi menghantam ruang tamu dalam rumah tua itu. Ia pun mengepung lingkar matahari yang menanggalkan sinarnya pagi ini.
Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.
Tentang Endang Supriadi