Arsip Kategori: Ragam

Unik, Menteri Susi Ajak Bocah 1 Tahun Berkano di Tengah Laut

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat berkano bersama anak angkatnya, Selasa (17/10). NS/SPC 

Pangandaran, SPC – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak anak angkatnya Malika (1) main kano di laut Pangandaran, Selasa (17/10). Sebelumnya, Susi juga menyempatkan melarung jempana yang menjadi tradisi lama masyarakat nelayan Pangandaran setiap bulan Muharam.

Pantauan SPC, Menteri Susi melaut setelah menutup Gerakan Cinta Laut (Gita Laut) yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di kawasan Lokabina Pramuka, pantai Pamugaran, Pangandaran. Ia kemudian menuju kawasan Pantai Barat dan menaiki perahu nelayan setempat. Iring-iringan perahu melaju menuju tempat melarung jempana yang berjarak sekitar 3 kilometer dari bibir pantai.

Menteri Susi tampak begitu menikmati perjalanan di laut bersama anak angkatnya. Usai melarung jempana, Susi kemudian menceburkan diri ke laut dan mengajak anak angkatnya bermain kano. Dua anggota Kopaska turut mendampinginya. Satu orang menjaga Malika yang terlihat menikmati bermain kano di tengah laut. Setelah satu jam di laut, Susi kemudian mengayuh kanonya hingga mendarat di kawasan Pantai Barat. Ia pun sempat melayani warga yang ingin foto bersama.

“Kita sudah biasa main di laut, kita mah santai saja menikmati sekali,” ujarnya singkat.

Saat di tengah laut, Susi juga sempat bercanda gurau dengan sejumlah nelayan yang ikut mendampingi.

Komandan Pos TNI AL Pangandaran Peltu Dayat Sudrajat yang turut mengawal Menteri Susi mengatakan, bermain kano merupakan hobi yang sering dilakukan menteri asal Pangandaran itu. “Kalau Bu Susi pulang, ada waktu santai ya main kano, kita sering mengawal beliau,” ujarnya.

Dayat memuji kekuatan fisik Menteri Susi yang kuat berlama-lama di laut. “Saya salut di usiannya ibu masih kuat berenang di tengah laut, main kano, itu sangat menguras tenaga,” ungkapnya.
Editor: Andi Nurroni/swarapangandaran.com

Inalillahi… Tokoh Silat Pangandaran Meninggal Usai Ikut Karnaval Budaya

Info dari wartapriangan.com – Pangandaran> Kabar duka dan mengejutkan datang dari Pangandaran, Jawa Barat. Abah Usup, salah satu tokoh silat warga Desa/Kecamatan Cijulang meninggal dunia sesaat setelah mengisi acara penyambutan iring-iringan Karnaval Budaya dalam rangka Milangkala ke 5 Kabupaten Pangandaran Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 12.30 WIB.

Menurut Ketua IPSI Kabupaten Pangandaran Hendar Suhendar, Almarhum adalah Ketua Paguron Silat Panglipur di Cijulang, dan sangat familiar bagi masyarakat Pangandaran karena sering mengisi sejumlah acara budaya.

Dari informasi yang diterima Warta Priangan, almarhum meninggal dunia mendadak setelah beberapa jam mengisi acara menyambut iring-iringan karnaval saat sedang duduk di Taman Sunset Pangandaran.

Semula dikira hanya pingsan saat duduk di taman, langsung dibawa ke Puskesmas Pangandaran, namun begitu sampai di Puskesmas sudah meninggal.

Setelah diketahui meninggal, jenazah langsung dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan.

Banyak pihak menduga-duga terkait penyebab kematian korban. Dari serangan jantung, dehidrasi, dan kelelahan.(Iwan Mulyadi/WP)

Sosok Abah Usup dimata Ketua IPSI Pangandaran

Meninggalnya Maestro Pencak Silat Kabupaten Pangandaran Abah Usup, usai menampilkan prosesi penyambutan Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran di Karnaval Budaya, pada Sabtu (21/10/2017) siang tadi, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Pangandaran.

 

Begitu halnya, duka yang sama dirasakan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pangandaran, Hendar Suhendar.

“Abah usup bagi saya merupakan tokoh dan pejuang pencak silat yang tanpa pamrih,”ujar Hendar, kepada Warta Priangan.

Dirinya mengaku, kenal dengan Almarhum sejak tahun 1993, saat pertama kali datang untuk bekerja di Ciamis hingga ke Pangandaran.

“Sampai akhir hayatnya Almarhum tetap konsisten mengajar silat kepada siapapun. Bagi saya almarhum merupakan ikon Jawara Pakidulan,”pungkasnya. (Iwan Mulyadi/WP)

Iwan Mulyadi, mengawali karier sebagai jurnalis sejak 1988, antusias terhadap filssafat, media buku dan seni –terutama seni visual , seperti lukisan, patung, instalasi, desain dan fotografi

Tentang Makna Intertekstualitas

Intertekstualitas adalah pembentukan makna teks dengan teks lain. Kata intertekstual meliputi: kiasan, kutipan, calque, plagiarisme, terjemahan, pastiche dan parodi. Ketepatan konteks adalah perangkat sastra yang menciptakan ‘hubungan timbal balik antara teks’ dan menghasilkan pemahaman yang terkait dalam karya terpisah (“Intertekstualitas”, 2015). Referensi ini dibuat untuk memengaruhi pembaca dan menambahkan lapisan kedalaman ke teks, berdasarkan pengetahuan dan pemahaman pembaca sebelumnya.

Intertekstualitas adalah strategi wacana sastra (Gadavanij, n.d.) yang digunakan oleh penulis dalam novel, puisi, teater dan bahkan teks-teks non-tertulis (seperti pertunjukan dan media digital). Contoh intertekstualitas adalah pinjaman dan transformasi penulis dari teks sebelumnya, dan referensi pembaca tentang satu teks dalam membaca yang lain.

Intertekstualitas tidak memerlukan kutipan atau referensi tanda baca (seperti tanda petik) dan sering keliru untuk plagiarisme (Ivanic, 1998). Intertekstualitas dapat diproduksi dalam teks menggunakan berbagai fungsi termasuk kiasan, kutipan dan referensi (Hebel, 1989). Namun, intertekstualitas tidak selalu disengaja dan bisa dimanfaatkan secara tidak sengaja. Seperti yang ditulis oleh filsuf William Irwin, istilah “telah memiliki makna yang hampir sama banyaknya dengan pengguna, dari orang-orang yang setia dengan visi asli Julia Kristeva kepada mereka yang menggunakannya sebagai cara yang bergaya untuk membicarakan kiasan dan pengaruh”

Jenis
Intertekstualitas dan hubungan intertekstual dapat dipisahkan menjadi tiga jenis: wajib, opsional dan tidak disengaja (Fitzsimmons, 2013). Variasi ini bergantung pada dua faktor kunci: maksud penulis, dan pentingnya referensi. Perbedaan antara jenis ini dan perbedaan antara kategori tidak mutlak dan eksklusif (Miola, 2004) namun dimanipulasi dengan cara yang memungkinkan mereka hidup berdampingan dalam teks yang sama.

Wajib
Intertekstualitas wajib adalah ketika penulis dengan sengaja meminta perbandingan atau keterkaitan antara dua teks (atau lebih). Tanpa pra-pemahaman atau kesuksesan ini untuk ‘memahami tautan’, pemahaman pembaca terhadap teks dianggap tidak memadai (Fitzsimmons, 2013). Intertekstualitas wajib bergantung pada pembacaan atau pemahaman tentang hipotesis sebelumnya, sebelum pemahaman penuh tentang hiperteks dapat dicapai (Jacobmeyer, 1998).

Contoh
Untuk memahami konteks dan karakter spesifik dalam ‘Rosencrantz and Guildenstern’ milik Tom Stoppard adalah Mati ‘, seseorang harus terlebih dahulu mengenal’ Hamlet ‘Shakespeare (Mitchell, n.d.). Di Dukuh kami pertama kali bertemu karakter ini sebagai karakter kecil dan, saat plot Rosencrantz dan Guildenstern terungkap, adegan spesifik dari Hamlet benar-benar dilakukan dan dilihat dari perspektif yang berbeda. Pemahaman Hamlet hipotetis ini, memberi arti lebih dalam pada dalih karena banyak tema implisit dari Rosencrantz dan Guildenstern lebih mudah dikenali.

Pilihan
Intertekstualitas opsional memiliki dampak yang kurang penting terhadap signifikansi hypertext. Ini adalah hubungan intertekstual yang mungkin, namun tidak penting, jika dikenali, hubungannya akan sedikit mengubah pemahaman teks (Fitzsimmons, 2013). Opsional Intertekstualitas berarti adalah mungkin untuk menemukan koneksi ke beberapa teks dengan satu frase tunggal, atau tidak ada hubungan sama sekali (Ivanic, 1998). Maksud penulis saat menggunakan intertekstualitas opsional, adalah memberi penghormatan kepada penulis ‘asli’, atau memberi penghargaan kepada orang-orang yang telah membaca hipotesa tersebut. Namun, pembacaan hipotesis ini tidak diperlukan untuk memahami hypertext.

Contoh
Penggunaan intertekstualitas opsional mungkin sesuatu yang sederhana seperti karakter paralel atau alur cerita. Misalnya, J.K. Seri Harry Potter Rowling berbagi banyak kesamaan dengan trilogi Lord R. the Rings dari J. R. R. Tolkien. Mereka berdua menerapkan penggunaan mentor penyihir penuaan (Profesor Dumbledore dan Gandalf) dan sebuah kelompok persahabatan kunci dibentuk untuk membantu tokoh protagonis (anak laki-laki yang tidak bersalah) dalam usaha mereka yang sulit untuk mengalahkan seorang penyihir yang hebat dan untuk menghancurkan makhluk yang kuat (Keller , 2013).

 

Poststrukturalisme

Julia Kristeva adalah orang pertama yang menemukan istilah “intertekstualitas” dalam usaha mensintesis semiotika Ferdinand de Saussure – studinya tentang bagaimana tanda-tanda memperoleh makna mereka di dalam struktur teks – dengan dialogisme Bakhtin – teorinya yang menyarankan sebuah dialog terus-menerus dengan yang lain. karya sastra dan penulis lainnya – dan pemeriksaannya terhadap banyak makna, atau “heteroglossia”, dalam setiap teks (terutama novel) dan dalam setiap kata. Bagi Kristeva, “pengertian intertekstualitas menggantikan gagasan” intersubjektivitas “ketika kita menyadari bahwa makna tidak ditransfer langsung dari penulis ke pembaca namun dimediasi melalui, atau disaring oleh,” kode “yang disampaikan kepada penulis dan pembaca melalui teks-teks lain. Misalnya, ketika kita membaca Ulysses karya James Joyce, kita dapat memecahkan kode itu sebagai eksperimen sastra modernis, atau sebagai tanggapan terhadap tradisi epik, atau sebagai bagian dari percakapan lain, atau sebagai bagian dari semua percakapan ini sekaligus. Pandangan intertekstual ini literatur, seperti yang ditunjukkan oleh Roland Barthes, mendukung konsep bahwa makna sebuah teks tidak ada dalam teks, namun diproduksi oleh pembaca dalam hubungan tidak hanya dengan teks yang dipermasalahkan, tetapi juga jaringan teks kompleks yang dipanggil di dalam teks. proses membaca.

Teori post-strukturalis yang lebih baru, seperti yang diformulasikan dalam Daniela Caselli’s Beckett’s Dantes: Intertekstualitas dalam Fiksi dan Kritik (MUP 2005), meneliti kembali “intertekstualitas” sebagai produksi dalam teks, bukan sebagai rangkaian hubungan antara teks yang berbeda.  Beberapa teoretikus postmodern suka membicarakan hubungan antara “intertekstualitas” dan “hiperteksualitas” (jangan dikelirukan dengan hypertext, istilah semiotik lain yang diciptakan oleh Gérard Genette); intertekstualitas membuat setiap teks menjadi “neraka neraka yang hidup di bumi” dan bagian dari mosaik teks yang lebih besar, sama seperti setiap hypertext dapat menjadi jaringan tautan dan bagian dari keseluruhan World Wide Web. Memang, World Wide Web telah berteori sebagai wilayah unik intertekstualitas timbal balik, di mana tidak ada teks tertentu yang mengklaim sentralitas, namun teks Web akhirnya menghasilkan citra komunitas – kelompok orang yang menulis dan membaca teks menggunakan strategi diskursif spesifik

Seseorang juga dapat membuat perbedaan antara pengertian “intertext”, “hypertext” dan “supertext”. [Rujukan?] Ambil contoh Kamus Orang Khazars oleh Milorad Pavić. Sebagai sebuah interteks, ia menggunakan kutipan dari tulisan suci agama-agama Ibrahim. Sebagai hypertext, itu terdiri dari link ke artikel yang berbeda dalam dirinya sendiri dan juga setiap lintasan pembacaannya. Sebagai supertext, ia menggabungkan versi pria dan wanita dari dirinya sendiri, serta tiga kamus mini di setiap versi.

Ragam Ketentuan
Beberapa kritikus mengeluhkan bahwa di mana-mana istilah “intertekstualitas” dalam kritik postmodern telah memenuhi syarat dan nuansa penting. Irwin  menyesalkan bahwa intertekstualitas telah melampaui kiasan sebagai objek studi sastra sementara tidak memiliki definisi jelas, Linda Hutcheon berpendapat bahwa ketertarikan yang berlebihan terhadap intertekstualitas menolak peran penulis, karena intertekstualitas dapat ditemukan “di mata orang yang melihatnya” dan tidak mengandung maksud seorang komunikator. Sebaliknya, dalam A Theory of Parody Hutcheon mencatat parodi selalu menampilkan seorang penulis yang secara aktif mengkodekan sebuah teks sebagai tiruan dengan perbedaan kritis. Namun, ada juga upaya untuk menentukan jenis intertekstualitas yang lebih ketat.

Sarjana media Australia John Fiske telah membuat perbedaan antara apa yang dia labelkan ‘vertikal’ dan ‘horizontal’ intertekstualitas. Intertekstual horizontal menunjukkan referensi yang ada pada tingkat yang sama yaitu ketika buku membuat rujukan ke buku lain, sedangkan keterkaitan vertikal ditemukan saat, misalnya, sebuah buku merujuk pada film atau lagu atau sebaliknya. Semenatara Ahli bahasa Norman Fairclough membedakan antara ‘manifest intertextuality’ dan ‘intertextuality konstitutif’. Yang pertama menandakan elemen intertekstual seperti prasuposisi, negasi, parodi, ironi, dan sebagainya. Yang terakhir ini menandakan keterkaitan fitur diskursif dalam teks, seperti struktur, bentuk, atau genre. Intertekstualitas Konstitutif juga disebut interdisipasif, meskipun demikian, umumnya interdisccerivity mengacu pada hubungan antara formasi teks yang lebih besar.

Kiasan
Sementara intertekstualitas adalah istilah sastra yang kompleks dan multilevel, seringkali membingungkan dengan istilah ‘allusion’ yang lebih santai. Alusi adalah referensi yang lewat atau santai; penyebutan sesuatu secara langsung atau implikasinya (“Plagiarisme”, 2015). Ini berarti hubungan ini sangat erat kaitannya dengan intertekstualitas yang bersifat wajib dan kebetulan, karena ‘kiasan’ bergantung pada pendengar atau penampil yang mengetahui tentang sumber aslinya. Hal ini juga dilihat sebagai kebetulan Namun, karena biasanya frasa yang sering digunakan atau sering digunakan, arti sebenarnya dari kata-kata tersebut tidak sepenuhnya dihargai. Alusi paling sering digunakan dalam percakapan, dialog atau metafora. Misalnya, “Saya terkejut hidungnya tidak tumbuh seperti Pinocchio’s.” Ini membuat referensi untuk Petualangan Pinokio, yang ditulis oleh Carlo Collodi saat boneka kayu kecil itu terletak (YourDictionary, 2015). Jika ini adalah intertekstualitas wajib dalam sebuah teks, beberapa referensi untuk ini (atau novel lain dengan tema yang sama) akan digunakan di seluruh hypertext.

Plagiat
“Intertekstualitas adalah area dengan kompleksitas etis yang cukup besar” (Share, 2006). Karena keterkaitan, menurut definisi, melibatkan penggunaan pekerjaan sesekali dengan tujuan yang sama tanpa kutipan yang tepat, seringkali keliru untuk plagiarisme. Plagiarisme adalah tindakan “menggunakan atau meniru bahasa dan pemikiran penulis lain tanpa otorisasi-” (“Plagiarisme”, 2015). Sementara ini tampaknya mencakup intertekstualitas, maksud dan tujuan penggunaan karya orang lain, adalah apa yang memungkinkan keterkaitan dimasingkan dari definisi ini. Bila menggunakan intertekstualitas, biasanya merupakan cuplikan kecil hipotetis yang membantu pemahaman tema, karakter, atau konteks awal hypertext (Ivanic, 1998) yang baru. Mereka menggunakan sebagian dari teks lain dan mengubah maknanya dengan menempatkannya dalam konteks yang berbeda (Jabri, 2004). Ini berarti bahwa mereka menggunakan gagasan orang lain untuk menciptakan atau meningkatkan gagasan baru mereka sendiri, bukan sekadar menjiplak mereka. Intertekstualitas didasarkan pada ‘penciptaan gagasan baru’, sementara plagiarisme sering ditemukan dalam proyek berdasarkan penelitian untuk mengkonfirmasi gagasan Anda. “Ada banyak perbedaan antara meniru pria dan memalsukannya” (Benjamin Franklin, n.d).

 

Konsep terkait

Ahli bahasa Norman Fairclough menyatakan bahwa “intertekstualitas adalah masalah rekontekstualisasi”. [14] Menurut Per Linell, rekontekstualisasi dapat didefinisikan sebagai “transfer dan transformasi dinamis sesuatu dari satu wacana / teks dalam konteks … ke yang lain”.Recontextualization dapat relatif eksplisit-misalnya, ketika satu teks secara langsung mengutip yang lain-atau yang secara implisit-seperti ketika “makna” generik yang sama diartikan kembali di berbagai teks yang berbeda. 132-133

Sejumlah ilmuwan telah mengamati bahwa rekontontikasi dapat memiliki konsekuensi ideologis dan politik yang penting. Misalnya, Adam Hodges telah mempelajari bagaimana pejabat Gedung Putih mengontrontkan dan mengubah komentar jenderal militer untuk tujuan politik, menyoroti aspek yang menguntungkan dari ucapan umum sambil meremehkan aspek yang merusak. Ulama retoris Jeanne Fahnestock telah menunjukkan bahwa ketika majalah populer mengkontemplasikan kembali penelitian ilmiah, mereka meningkatkan keunikan temuan ilmiah dan memberikan kepastian yang lebih besar mengenai fakta yang dilaporkan. Demikian pula, John Oddo menemukan bahwa wartawan Amerika yang meliput pidato U.N. pidato Colin Powell mengubah nuansa Powell saat mereka mengkontemplasikannya kembali, memberikan tuduhan Powell dengan kepastian dan kemungkinan yang lebih besar dan bahkan menambahkan bukti baru untuk mendukung klaim Powell.

Oddo juga berpendapat bahwa rekontextualization memiliki tandingan berorientasi masa depan, yang ia dubs “precontextualization”. Menurut Oddo, precontextualization adalah bentuk intertekstualitas antisipatif dimana “sebuah teks memperkenalkan dan memprediksi elemen dari sebuah peristiwa simbolis yang belum terungkap”. Misalnya, Oddo berpendapat, wartawan Amerika mengantisipasi dan melihat dulu alamat UN di Colin Powell. , menggambar wacana masa depannya menjadi hadiah normatif.

(berbagai sumber)

 

Karnaval Seni Tradisional Meriahkan Syukuran Nelayan di Pangandaran

Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval di belakangnya/foto:Iwan Mulyadi/WP

Pangandaran/WP- Ratusan nelayan, warga dan wisatawan beramai ramai berbaur menghadiri prosesi budaya Syukuran Nelayan yang dipusatkan di Pantai Timur Pangandaran, Kamis (21/9) pagi.

Kegiatan yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah serta keselamatan kepada para nelayan ini dihadiri oleh ribuan warga yang berbaur dengan wisatawan.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari, Anggota DPRD Jawa Barat H Ijah Hartini, para anggota Dewan DPRD Kabupaten Pangandaran dan undangan lainnya.

Prosesi ini diawali dengan pelaksanaan karnaval yang mengambil rute dari depan Kantor Desa Pangandaran, menyusuri Jalan Kidang Pananjung dan akan berakhir di lokasi Syukuran nelayan di komplek Pasar Ikan Pantai Timur Pangandaran.

Dalam Kesempatan tersebut Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval lain dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Pangandaran. (Iwan Mulyadi/Warta Priangan)

A Room of One’s Own: Ayu Utami

Oleh: Dias Novita Wuri

Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, “Kenalin, ini Kacung dan Lobo. Lobo agak galak, susah percaya orang asing. Maklum dulu pernah trauma. Kalau Kacung gobloknya setengah mati.” Kemudian secara berkesinambungan bermunculan peliharaannya yang lain, yaitu sembilan ekor kucing yang masing-masing bernama Ayah Ham, Semi, Mulan, Jenglot, Lolita, Tombola, Francesco, Rodriguez, dan Katam. Memang sulit memisahkan kehidupan di rumah itu dengan kehadiran sekian banyak binatang lucu di dalamnya.

Sejengkal dari pintu masuk utama rumah, kita akan langsung mendapati meja kerja Ayu Utami berikut rak buku sangat besar menjulang memenuhi dinging dan nyaris menyentuh langit-langit. Ada tangga logam bersandar pada rak tersebut, tentunya untuk membantu Ayu meraih buku-buku di bagian rak teratas. “Dulu pernah kena rayap, begitulah komentar Erik Prasetya, seorang fotografer kenamaan sekaligus suami Ayu Utami. Rak bukunya enggak boleh nempel dinding.” Ruangan kerjanya penuh artifak mereka berdua: sebuah piano tua, dua foto hasil jepretan Erik berukuran besar dipajang di dinding, patung kayu melayang dari langit-langit, kotak tisu berbentuk rol film, meja lain penuh buku, termasuk satu eksemplar majalah Bintang Home edisi akhir tahun lalu yang menampilkan Ayu Utami beserta rumahnya yang indah dan unik.

Rumah itu menimbulkan kesan desa—sangat teduh, lapang, berangin, ruang-ruang terbukanya dinaungi pohon-pohon bambu rimbun dan pohon-pohon lainnya yang senantiasa menggugurkan daun-daunnya. Kita tidak akan tahu bahwa saat itu tepat tengah hari bolong dan panasnya bukan main di luar sana. Bambu-bambu, pepohonan, dan suara nyanyian seekor burung Nuri Kepala Hitam Papua peliharaan Ayu dan Erik sungguh membuat kita lupa kita berada di Jakarta. Lebih jauhnya, begitu menginjakkan sebelah kaki di kediaman mereka, kita teringat “nuansa” magis yang kerap dihadirkan tulisan-tulisan fiksi Ayu Utami. Nuansa magis itu bertambah kuat oleh aroma dupa yang dari waktu ke waktu dinyalakan Ayu dan ditancapkannya di tanah pekarangannya.

Raknya berlimpah-ruah oleh bermacam buku; mulai dari karya-karyanya sendiri dalam berbagai bahasa (kita mengamati lamat-lamat dan menemukan tiga jilid Bilangan Fu edisi Belanda, Het Getal Fu, menyempil di tengah-tengah), berbagai karya fiksi, non-fiksi, filsafat, politik, sejarah, dan lainnya. Meja kerjanya terletak tepat di samping rak, membelakangi sebuah jendela, namun juga menghadap jendela lain yang membuka ke arah pekarangan tempat Ayu dan Erik menggantung kandang si burung nuri. Di meja itulah sehari-hari Ayu melakukan sihirnya—menulis. Mejanya lebar dan kokoh, terbuat dari kayu berwarna gelap. Sebuah laptop MacBook Air ukuran 11,6 inci bertengger di permukaannya. Menurut Ayu, ia sesungguhnya tak begitu betah menulis di ruang tertutup, tapi dari meja itu ia bisa melihat bulan di malam-malam tertentu.

Ketika sedang tidak ingin terkungkung dinding dan atap dan jika cuaca mendukung, Ayu akan memindahkan ruang kerjanya ke sebuah meja bekas meja menenun yang diletakkannya di sisi pekarangan, beberapa jengkal dari tebing resin tinggi yang digunakan Ayu dan Erik untuk latihan memanjat. Ia akan bekerja di sana seharian, dikelilingi sulur beringin, sambil mendengarkan suara-suara binatang dan angin dan terkadang suara dari masjid tetangga. Ia bekerja berpindah-pindah sesuai keinginan hatinya.

Namun di meja kerja di dalam ruangan itulah kita bisa menemukan ciri-ciri Ayu Utami. Terkadang ada satu pak kartu tarot tergeletak di sana. Cangkir kopi. Segelintir alat tulis. Buku-buku catatan. Alkitab yang sampulnya ditempeli foto masa kecil. Sebuah kotak musik ukuran mini yang dibeli Ayu di Venesia, yang kalau diputar akan memainkan gubahan Antonio Vivaldi, The Four Seasons, bagian pertama Spring. Ketika melihat meja itu tak berpenghuni, kita tetap bisa dengan mudah membayangkan Ayu duduk bekerja di sana, mengenakan celana panjang dan kaus oblong yang silir.

Bagaimana rutinitas menulisnya? Ayu Utami biasa bangun pagi-pagi sekali lalu mulai menulis sejak pukul enam pagi. Apabila sedang tidak terlalu intens mengerjakan suatu tulisan, sebelum menulis ia akan terlebih dahulu menggiling biji kopi (sekalian melatih otot tangan), dan menyeduhnya. Ia senang menulis di pagi hari sambil sarapan muesli atau granola, dan nyemil pisang, sukun, dan cempedak goreng bikinan Erik di sore hari. Di pagi hari Ayu biasanya menulis sampai pukul sepuluh. Setelah itu ia akan pergi berkendara ke Komunitas Salihara atau Teater Utan Kayu, atau ke kantor penerbit, atau mengurus berbagai keperluan lainnya di luar rumah, sebelum akhirnya pulang dan melanjutkan menulis di malam hari sebelum tidur. (Kamar tidurnya sendiri lapang tanpa begitu banyak perabotan, lengkap dengan tempat tidur berkelambu, daun pintunya dicat warna kuning terang.)

Ia merupakan penulis yang mampu bekerja dengan relatif cepat. Satu buku dikerjakan selama rata-rata delapan bulan. Rekor tercepatnya adalah dua minggu untuk buku Soegija Seratus Persen Indonesia, sudah lengkap dengan desain dan ilustrasi serta foto, sementara rekor terlamanya adalah empat setengah tahun untuk Bilangan Fu (namun kita tahu buku itu merupakan sesosok babon setebal 548 halaman dengan topik yang lumayan bikin garuk-garuk kepala). Ayu menerangkan bahwa ia melakukan riset sembari menulis, bukan sebelumnya. Itu juga yang diajarkannya kepada murid-muridnya di kelas menulis.

Hingga hari ini, Ayu Utami telah menghasilkan hampir dua lusin buku fiksi, nonfiksi, esai, buku biografi populer, juga telah menulis banyak sekali cerpen di berbagai media massa dan bunga rampai. Karya-karyanya juga telah diterjemahkan dan terbit di berbagai negara, menyihir banyak orang sejak tahun sembilan puluhan.

Dan sihirnya dimulai di sana, di meja itu./jakartabeat.net

Dias Novita Wuri

Penulis kelahiran Jakarta, 11 November. Ia menyelesaikan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI jurusan Sastra Rusia. Telah beberapa kali cerpennya diterbitkan Koran Tempo dan terpilih sebagai Emerging Writers di Ubud WRF pada 2014. Pernah bekerja sebagai asisten program di Komunitas Salihara.  Awal 2016 bergabung dalam keredaksian Jakartabeat sebagai redaktur sastra.

 Last modified on: 9 Agustus 2017

Ini di Bali, Ada tradisi culik perempuan, yang merasa jomlo mari merapat

Pengunjung desa tertua di Bali mendadak membludak. Tak hanya turis, warga setempat pun turut merayakan tradisi unik di Desa Tenganan yang terletak di Kabupaten Karangasem ini.

Di desa yang terletak dekat dengan perbatasan wilayah Kabupaten Klungkung pada bagian barat Kabupaten Karangasem ini, warga dan turis merayakan kegembiraan dengan menggelar tradisi Perang Pandang.

Baik warga setempat maupun wisatawan yang melihat acara di pinggir arena tak jarang ditarik paksa ke dalam gelanggang untuk duel, untuk merasakan bagamana serunya tradisi itu.

Usai duel, para peserta Perang Pandang akan merasakan perih dan nyeri akibat terkena goresan duri-duri pandan yang digunakan dalam aksi duel. Acara tradisi Perang Pandan ini digelar pada Senin (12/6), dari mulai sore hingga menjelang malam.

I Ketut Sudiastika, selaku tetua di desa ini dan salah satu Klian Adat di Tenganan Pegringsingan menjelaskan bahwa tradisi Perang Pandan digelar setiap tahun.

Acara ini merupakan puncak dari upacara besar di Desa Tenganan yang digelar sejak sebulan lalu.

“Jadi ini rangkaian puncak dari upacara kami yang kita gelar sejak sebulan lalu,” kata Sudiastika, mengutip Merdeka.com, Senin (12/6).

Sebelum digelarnya Perang Pandang, di desa adat Tenganan Pegringsingan, terlebih dahulu menggelar acara penyepian desa atau Nyepi. Hari Nyepi itu sudah dilakukan kemarin, Minggu (11/6).

Pelaksanaan Nyepi tidak jauh beda dengan pelaksanaan Nyepi pada umumnya di Bali. Di mana warga dilarang bepergian atau keluar desa maupun keluar rumah. Termasuk juga tidak melakukan kegiatan dan tanpa penerangan pada malam hari.

Pelaksanaan upacara yang digelar selama sebulan penuh ini, disebut Usabha Sembah yang merupakan satu-satunya upacara besar yang dimiliki Desa Tenganan Pegringsingan.

Upacara ini digelar berdasarkan perhitungan kalender yang dimiliki desa adat. Di mana 1 tahun dari kalender desa adat Tenganan ada 13 bulan.

“Tradisi Usaba Sembah ini merupakan tradisi yang wajib kita laksanakan setiap setahun sekali berdasarkan perhitungan kalender kami. Upacara ini merupakan tradisi ritual memuja Dewa Indra sebagai dewa perang, karenanya di puncak acara itulah kita gelar perang pandan ini,” tuturnya.

Menculik perempuan

Ada banyak keunikan dari tradisi Usaba Sembah ini. Salah satunya sebelum tradisi perang digelar, beberapa hari sebelumnya ada upacara maling-malingan.

Maling-malingan ini dilakukan oleh sejumlah pemuda yang disahkan sebagai pemuda dewasa. Malam itu juga diperbolehkan mencari pasangan, yang nantinya diperuntukkan untuk mendampingi saat dimulai hari Perang Pandan.

Tidak jarang dari pasangan ini berlanjut sampai pelaminan.

Tidak hanya itu, usai acara maling-malingan atau Mulan Saat. Dilanjutkan dengan Tradisi Mayunan. Untuk diketahui di desa tua ini ada ayunan tua dan tinggi. Pada tradisi Mayunan ini, hanya wanita yang masih perawan saja yang boleh menaiki ayunan tersebut.

“Setelah upacara Perang Pandan ini, nantinya akan ada rangkaian tradisi megibung (makan bersama). Ini merupakan penyatuan rasa yang terjadi di arena sehingga nantinya tidak ada lagi dendam atau sakit hati setelah rangkaian upacara besar ini berakhir,” tutup Sudiastika. (jurnalsumut/mc)

 

Abdullah Harahap, Penulis Novel Horor/Misteri Legendaris Indonesia

Abdullah Harahap, merupakan penulis novel misteri (horor) Indonesia terbaik. Novel-novel horornya memiliki gaya yang menarik dan khas, hingga terkadang kontroversial karena dibumbui dengan hal-hal berbau seksual. Tidak banyak penulis Indonesia yang memilih kisah-kisah horor, dan terbukti AH mampu bertahan di jalur tersebut. Ia lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan pada 17 Juli 1943. Sebelum menulis novel horor misteri, ia juga menulis novel roman percintaan, namun namanya melambung berkat novel horor yang dikarangnya.

Awal karier
Abdullah Harahap mengawali karier semenjak masih duduk di bangku SMA di kota Medan dengan menulis sejumlah cerita pendek serta puisi yang dimuat oleh media cetak setempat. Tahun 1963, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di IKIP (kini UPI) sambil meneruskan aktivitas menulis cerpen yang sempat membanjiri sejumlah media cetak baik yang terbit di Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, dan paling terutama Jakarta (yang oleh Abdullah Harahap dianggap sebagai kota yang membesarkan namanya sebagai penulis).

Di tengah perjalanan kuliahnya, AH menekuni profesi sebagai jurnalis di SK Mingguan GAYA dan GALA (cikal bakal SK Harian Galamedia), lalu kemudian menjadi perwakilan tetap untuk wilayah Jawa Barat dari Majalah Selecta Grup (Selecta, Detektif & Romantika, Senang, Stop, Nova). Perjalanan karier sebagai wartawan yang ditekuni AH selama seperempat abad lebih (1965-1995) menambah luas wawasan serta pengetahuan AH sebagai penulis novel. Karena sebagai wartawan, AH bukan hanya sekadar meliput berita sesuai tanggung jawab yang diembannya, akan tetapi juga memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan riset ke tempat-tempat tertentu yang dia inginkan untuk bahan novelnya.

Riset yang dilakukan oleh Abdullah Harahap ini saya rasa menjadi sebuah keungulan kengerian yang diciptakan di novel-novel horor/misterynya. Jadi horornya tidak melulu hantu penasaran yang sembarangan membunuh orang orang. Ada latar belakang budaya, dendam kesumat, bahkan seringnya sex sebagai latar belakang kemunculan iblis iblis yang menebar teror.

Abdullah Harahap mendatangi lalu bertukar pikiran dengan tokoh masyarakat setempat, terutama yang kehidupan sehari-harinya berhubungan dengan alam mistis, baik itu dari aliran putih maupun aliran hitam, tanpa melibatkan diri di dalamnya. Ilmu-ilmu mana kemudian (sesuai kebutuhan), dikembangkan sendiri oleh AH di depan mesin tik atau komputer sesuai dengan imajinasi AH yang ia kehendaki. Tercatat keseluruhan buku sudah diterbitkan dari imajinasinya itu berjumlah sekitar 60 judul (Drama), 75 judul (Misteri) dan 15 judul Pulpen (Kumpulan cerita pendek). Sebagian di antaranya telah diangkat ke layar lebar dan yang terbanyak ke layar kaca (TPI, SCTV, RCTI, dan Indosiar), baik dalam bentuk sinetron seri maupun FTV.

Berhenti Menulis

Abdullah Harahap berhenti menulis sekitar tahun 1990-an. Beberapa penerbit yang biasa menerbitkan buku-bukunya tutup. Novel-novel Abdullah Harahap seringkali dianggap picisan dan murahan, karena selalu bercerita tentang horor, dibalut dengan adegan sex. Tetapi, Abdullah Harahap tidak peduli. Yang penting ia bisa berkarya. Walaupun dianggap picisan, novel-novelnya selalu habis terjual. Bahkan banyak yang diangkat ke layar kaca dan layar perak.

Abdullah Harahap berhenti menulis karena ia adalah seorang yang penakut juga. Tetapi, ketakutannya itu sangat bermanfaat dalam proses pengerjaan novel horornya. Ia berkata, kalau kita tidak takut saat menulis bagian seramnya, maka itu bearti novel tersebut gagal. Kalau sang pengarang saja tidak takut, apalagi yang membacanya?

Akibat terlalu banyak menulis novel horor, Abdullah Harahap menjadi seorang yang sangat penakut. Dan hasil novelnya juga tidak maksimal, dan penerbitnya pun tutup. Maka ia segera berhenti menulis, dan beralih menjadi penulis skenario untuk layar lebar dan layar kaca. Ia pun hanya sesekali menulis novel, yaitu Misteri Boneka Cinta (dimuat bersambung di Sk Galamedia Bandung), Misteri Janda Hitam (Harian Jawa Pos Surabaya), dan Misteri Sebuah Peti Mati (Harian Surabaya Post), yang kini sudah diterbitkan dalam format buku saku oleh Paradoks).

Penerbit Paradoks

Tahun 2010, novel-novel lama dan baru Abdullah Harahap diterbitkan ulang oleh Penerbit Paradoks ( imprint Gramedia ). Paradoks ini awalnya dibentuk untuk menerbitkan ulang novel-novel horor Abdullah Harahap, sebelum akhirnya dibuka untuk penulis yang lain. Paradoks adalah sebuah penerbit khusus buku-buku misteri dan horor.

Bibliografi

( Seandainya Judul buku Abdullah Harahap ini belum lengkap. Tolong dilengkapi di komentar )

  • Misteri Perawan Kubur
  • Misteri Sebuah Peti Mati 1
  • Misteri Sebuah Peti Mati 2
  • Misteri Lemari Antik
  • Manusia Serigala
  • Misteri Rumah Diatas Bukit
  • Manekin
  • Penunggu Jenazah
  • Misteri Kalung Setan
  • Sumpah Berdarah
  • Babi Ngepet
  • Dosa Turunan
  • Suara dari Alam Gaib
  • Bisikan Arwah
  • Pemuja Setan
  • Sumpah Leluhur
  • Penjelmaan Berdarah
  • Penghuni Hutan Parigi
  • Misteri Penari Topeng
  • Dendam Berkarat dalam Kubur
  • Penunggu Dari Kegelapan
  • Lukisan Berlumur Darah
  • Wajah-wajah Setan
  • Mahkluk Pemakan Bangkai
  • Kembalinya Seorang Terkutuk
  • Dalam Cengkeraman Iblis
  • Dendam di Balik Kubur
  • Roh dari Masa Lampau
  • Penjaga Kubur
  • Penghuni-penghuni Rumah Tua
  • Dendam Roh Jejaden
  • Pengemban Kutuk
  • Bercinta dengan Syaitan
  • Penghisap Darah
  • Pewaris Iblis
  • Sepasang Mata Iblis
  • Panggilan dari Neraka
  • Misteri pintu Gaib
  • Misteri Anjing Hutan
  • Arwah yang Datang Menuntut Balas
  • Perawan Sembahan Setan
  • Tumbal Kalung Setan
  • Pemuja Setan
  • Manusia Penuntut Balas
  • Senggama Kubur
  • Misteri Alam Gaib
  • Jeritan Dari Pintu Kubur
  • Arwah Yang Tersia-Sia
  • Misteri Putri Peneluh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perbedaan Cara Mengolah Daging Kambing di Indonesia dan Eropa

Daging Kambing Panggang ala Turki.
Daging Kambing Panggang ala Turki.(KOMPAS/LASTI KURNIA)

 

Daging kambing sebagai bahan baku masakan ternyata tak hanya lazim digunakan di Indonesia. Di Eropa, kambing juga diolah menjadi beberapa jenis makanan.

Cara mengolah kambing yang lazim di Indonesia ternyata begitu berbeda dengan cara mengolah daging tersebut di Eropa. Mulai dari menyembelih atau memotong kambing, pembagian ruas daging, sampai pengolahan sebelum dimasak.

“Mulai dari memotong, di Indonesia jelas peraturannya disembelih, sesuai sunnah. Kambingnya tidak boleh cacat, usia kambing minimal enam bulan, domba satu tahun,” ujar chef Haryo Pramoe saat dihubungi KompasTravel, Senin (28/8/2017).

Sedangkan di Eropa peraturannya cenderung bebas. Mulai dari cara memotong hingga pilihan usia kambing yang disesuaikan dengan kebutuhan.

“Soal jenis kelamin kambing, di Indonesia pun bebas mau jantan atau betina. Di peraturan sunnah Islam juga tidak ada yang membedakan, dan ternyata memang sama saja dagingnya juga,” ungkap Chef Haryo.

 

Selain itu, untuk pembagian daging, Eropa memiliki pakem meat map standar internasional. Dalam satu ekor kambing, yang bisa dipotong untuk dimanfaatkan hanya sembilan bagian. Antara lain leher, tulang belikat, betis depan, payudara, punggung, pinggang, bokong, paha, dan betis.

“Kalau di Indonesia, lebih kepada tradisional caranya. Jadi yang penting daging terbagi rata, mana saja yang mau dipakai,” ujar chef Haryo.

Gunakan parutan nanas untuk membuat daging kambing jadi lebih empuk
Gunakan parutan nanas untuk membuat daging kambing jadi lebih empuk(shutterstock)

Menurut Chef Haryo, bagian terbaik untuk dimasak tetaplah bagian paha belakang. Juga bagian tenderloin yang terletak di punggung.

Setelah daging dipotong, dalam tradisi masyarakat Eropa dan Amerika, ada proses peristirahatan dan pelayuan daging yang disebut resting atau egeding. Daging besar yang sudah dipotong, diistirahatkan dalam suhu stabil empat derajat Celsius.

“Tujuannya saat daging kambing tegang setelah dipotong, daging diistirahatkan biar rileks, lalu akan melemas. Memang akan menghasilkan daging yang enak nantinya,” ujar Chef Haryo.

Sedangkan di Indonesia, lazimnya menggunakan proses tradisional yang spontan. Setelah kambing dipotong, daging masih dalam keadaan tegang langsung bisa dimasak. Baik disup, direbus, atau dikuah dengan proses yang lama.

“Bedanya proses memasak di Indonesia lama, berjam-jam hingga benar-benar empuk. Jadi proses pengempukannya itu terjadi di saat masaknya, disebut proses tradisional,” ungkap celebrity chef yang kini sedang giat mendalami ilmu sunnah termasuk untuk kuliner itu. (komaps.com)

Kisah Pendiri Penerbit Erlangga Marulam Hutauruk

SOPO – Ia seorang guru, kemudian menjadi pengusaha, mendirikan penerbit Erlangga. Airlangga atau sering pula ditulis Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga berarti “Air yang melompat.” Erlangga lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang.


                                             Logo Erlangga.

Sebagai seorang raja, dia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Nama Erlangga sampai saat ini masih terkenal dalam berbagai cerita rakyat, dan sering diabadikan di berbagai tempat di Indonesia. Dari cerita di atas, penerbit Erlangga kerap kali dianggap didirikan orang Jawa Timur, padahal pendiri penerbit Erlangga adalah orang Batak. Pendirinya sendiri terinspirasi dari kisah seorang raja ini, membuat nama penerbitnya Erlangga.

Penerbit yang sudah lebih dari 60 Tahun melayani pembacanya ini didirikan oleh Marulam Hutauruk. Marulam adalah seorang putra Batak kelahiran Sipoholon, Tapanuli Utara, hasil didikan zending gereja. Dirinya seusai studi di Tarutung, kemudian menjadi guru di Semarang, puncaknya menjadi Kepala Sekolah. Awalnya, sebagai guru Marulam tak mau hanya berpangku tangan, lalu membuat stensilan untuk bahan ajar anak didiknya. Lama-lama berkembang berniat menulis buku sendiri, sebagai bahan ajar.

Masa itu masa penjajahan Belanda, dia merasakan kesulitan yang sangat, isi buku-buku yang tersedia nirnasionalisme, semuanya memuji kolonial Belanda. Selain itu, dia melihat banyak muridnya yang tak bisa belajar dengan baik karena minimnya buku ajar berbahasa Indonesia. Buku pelajaran dalam bahasa Indonesia yang waktu itu sangat minim dan sulit diperoleh, yanga da malah buku-buku berbahasa Belanda. Untuk mengatasi kelangkaan buku tersebut, dirinya berinisiatif sendiri membuat bahan ajar sendiri, kemudian hari mengajak kawan-kawannya sesama guru untuk menulis, mandiri. Tujuannya, untuk menggantikan buku-buku pelajaran berbahasa Belanda.

Berlahan, peminatnya makin banyak, dia mulai membuat brandnya. Maka, jadilah nama penerbit Erlangga. Awal didirikan Erlangga berkantor di sebuah rumah di Semarang, bersama teman-temanya Marulam berhasil menulis beberapa buku. Antara lain buku pelajaran Ilmu Alam, karya Widagdo, Ilmu Kimia, karya Ir.Polling dan Ragam Bahasa Indonesia, dan karya bukunya sendiri. Buku-buku itu semua diterbitkan dengan memakai nama Penerbit Erlangga. Karena itu, dia bertekat mendirikan penerbit dengan dikelola profesional. Sejujurnya, buku-buku Erlangga di awalnya tak terlalu menarik, tak seperti produknya sekarang yang mencetak dengan kertas terbaik. Melihat perkembangan tersebut, Marulam pada Tanggal 30 April 1952 menghadap Notaris, di Semarang untuk melegalitas penerbitnya menjadi penerbit berbadan hukum.

Sejak itu, sembari pelan-pelan dia terus menumbuhkembangkan penerbit Erlangga, penerbit yang banyak menaruh perhatian pada buku pelajaran sekolah. “Fokus penerbitan itu sudah muncul sejak awal berdirinya.” Gayung bersambut, ternyata pelan-pelan penerbit Erlangga mulai dikenal masyarakat. Walau dia seorang guru berdarah Batak, namun naluri penciuman bisnis tajam, dia prediksi bahwa kemajuan penerbitan akan makin masif ke depannya. Nyatanya penerbitan makin melaju dan menaik. Memang, saat itu penerbit masih menumpang percetakan, Erlangga tak langsung memiliki mesin cetak sendiri. Takdir baik berpihak kepadanya, kariernya pun menaik menjadi seorang kepala sekolah SMA Negeri 1 di Semarang, jadilah penerbit makin berkembang.

Sembari memimpin sekolah dirinya terus mengarang buku Pelajaran sejarah yang diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat, Yogya. Marulam ahli dalam sejarah, iya itu tadi, termasuk mendalami sosok Raja Erlangga. Akhirnya, jiwa bisnis itu makin kuat, penerbit Erlangga pun bergerak di bidang pengadaan buku di sekolah-sekolah, dan fokus menerbitkan buku-buku bahan ajar. Tapi, dalam perkembangannya, Erlangga kemudian merambah ke buku-buku umum. Buku-buku terbitannya sekarang merambah juga ke buku kesehatan, makanan, kecantikan, mode, novel, hingga biografi. Sedangkan buku-buku bacaan untuk kebutuhan anak-anak, mereka terbitkan di bawah bendera Erlangga for Kids.

Seiring perkembangannya, penerbit Erlangga kemudian mengimbit, pindah ke Jakarta dan berkantor di Jalan Kramat Raya 162, Jakarta Pusat (sekarang Kantor Pusat PT Pegadaian [Persero]). Dari sana pindah ke Jalan H. Baping No. 100, ‎Ciracas‎, Jakarta Timur. Sekarang Erlangga dipimpin generasi ketiga, cucu Marulam. Penerbit ini, sejak kehadirannya terus berbenah mengembangkan penerbitan buku-buku lainnya. Selain itu, Erlangga kerap juga jor-joran melontarkan slogan yang memotivasi masyarakat suka membaca, misalnya; “Buku adalah jendela dunia.”

Slogan tersebut mengingatkan kita, betapa pentingnya membaca untuk memperkaya khazanah, cakrawala diri terhadap ilmu dan pengetahuan. Bisa disebut, salah satu kekuatan penerbitan Erlangga kekonsistennya menyediakan buku-buku yang bermutu, baik dari segi isi dan produk fisik buku, juga kapabel dari penulis-penulisnya. Keunggulan inilah yang membuatnya eksis, seperti satu devisi lain penerbitan Erlangga Esis.

Selain pengusaha, Marulam juga penulis buku handal. Karya-karyanya adalah:

– Pelarian yang tidak punya apa-apa menjadi maharaja (kisah Erlangga), Erlangga, Tahun 1988.
– Menuju terwujudnya suatu masyarakat adil dan makmur di Republik Indonesia tahun 2000-an, Erlangga, Tahun 1987.
– Sejarah Ringkas Tapanuli: Suku Batak, Erlangga, Tahun 1987.
– Garis Besar Ilmu Politik Pelita Keempat 1984-1989, Erlangga, Tahun 1985.
– Gelora Nasionalisme Indonesia, Erlangga, Tahun 1984.
– Peraturan Hak Cipta Nasional, Erlangga, Tahun 1982.
– Kunci Lagak Ragam Bahasa Indonesia, Erlangga, Tahun 1979.
– Azas-azas Ilmu Negara, Erlangga, Tahun 1978 (berbagai sumber/int)

Mengenal Sosok Penulis Populer Eddy D. Iskandar

Eddy D. Iskandar (lahir di Bandung, Jawa Barat, 11 Mei 1951; umur 66 tahun) adalah seorang sutradara dan penulis Indonesia.

Minat menulis Eddy diawali dari hobinya membaca buku. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku yang di pinjam di perpustakaan umum untuk bacaan orang tuanya. Beberapa karya penulis besar, seperti Motinggo Busye, Toha Mohtar, Mochtar Lubis, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail hingga Pramoedya Ananta Toer kerap dibacanya.

Awal karier

Tulisan pertamanya yang berjudul Malam Neraka hadir secara tidak sengaja saat ia mengikuti orientasi mahasiswa baru di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, pada tahun 1970. Tulisan tersebut di muat di Mingguan Mandala yang redaktur budayanya pada saat itu adalah sastrawan Muhammad Rustandi Kartakusumah. Sejak saat itu, ia mulai rajin menulis beragam tulisan, esai, dan puisi.

Hijarah ke Jakarta

Pada tahun 1975, setelah menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, ia pergi ke Jakarta guna menekuni dunia film di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Ia ingin menjadi sutradara. Film dianggapnya sebagai media yang paling mudah mempengaruhi dan melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat.

Di Jakarta, ia kerap berada di Taman Ismail Marzuki yang dikenal sebagai gudangnya penulis dan seniman. Namun, bukan menjadi sutradara, ia justru semakin matang sebagai penulis serba bisa. Selain bergaul dengan seniman dari segala profesi, ia juga sering menyaksikan beragam pementasan di TIM. Eddy juga turut bergabung dalam grup wartawan Zan Zapha Grup yang beranggotakan para penulis muda sepertu El Manik dan Noorca M. Massardi. Tulisan-tulisannya kemudian di distribusikan ke berbagai media cetak, terutama majalah populer.

 

Karya-karya terkenal

Karya tulisnya yang fenomenal, berjudul Gita Cinta Dari SMA dimuat sebagai cerita bersambung di majalah GADIS pada tahun 1976. Karyanya ini banyak menuai pujian. Atas permintaan pembaca, ia membuatkan cerita sambungannya Puspa Indah Taman Hati. Novel Gita Cinta Dari SMA juga diangkat ke layar lebar yang mengorbitkan pasangan, Rano Karno dan Yessy Gusman. Novelnya yang lain, yang berkisah tentang cinta antara tokoh Galih dan Ratna itu juga pernah di reka ulang dalam bentuk sinetron bersambung yang di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Tahun 2004, ia kembali merilis novel Gita Cinta Dari SMA, Pada tahun 2010, Gita Cinta Dari SMA kembali di angkat sebagai drama musikal berjudul “Gita Cinta The Musical”.

Novelnya yang lain, yang juga meraih sukses di pasaran antara lain Cowok Komersil, yang berhasil dicetak enam kali dalam setahun dengan rata-rata 5.000 buku percetak. Selanjutnya novel Semau Gue diminati sineas film dan menjadi film bertabur bintang, seperti Rano Karno, Yessy Gusman dan Yenny Rachman. Sementara novel dengan 100 halaman berjudul Sok Nyentrik yang di selesaikannya hanya dalam kurun waktu sehari, tercatat berhasil berkali-kali cetak ulang. Salah satu kekuatan novel karya Eddy D. Iskandar karena daya ungkap dan dialognya yang mengalir lancar dan tetap aktual, tidak berpengaruh oleh perubahan trend.

Mengelola Budaya Sunda

Ketenaran tidak membuatnya puas. Ia merasa ada kekosongan batin karena jauh dari kultur asalnya, Jawa Barat. Ia kagum dengan seniman dari daerah lain yang bisa membuat berbagai karya berbasis kearifan lokal. Kesempatan pun datang saat ia di tawari mengelola koran mingguan berbahasa Sunda, Galura, meskipun secara finansial kalah jauh dengan menulis novel popular, namun kepuasan batin sulit dicari tutur penulis berambut Gondrong berwarna putih ini.

Berkecimpung di media massa berbahasa Sunda memberikan banyak pengalaman baru. Ia aktif dalam pembuatan karya seni Sunda, antara lain naskah cerita legenda tanah Sunda seperti Kisah Perang Bubat, menggarap pementasan Konser Kecapi Patereman dan musik Perkusi Marakdungga dalam pergelaran kolosal Mahawira Tatar Sunda, sehingga mengangkat pamor tembang Bandungan yang sebelumnya jarang dimainkan. Ia juga aktif merangkul seniman agar berani mementaskan dirinya, seperti Paguyuban Pelawak Sunda atau Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat.

Sekuel film “Si Kabayan”

Meski sudah terjun dalam pelestarian budaya Sunda, bakat besarnya sulit di sembunyikan. Tahun 1989, ia diminta menulis skenario film mitos terpopuler Sunda, Si Kabayan. Ia berhasil mengangkat tokoh Si Kabayan yang di bawakan oleh Didi Petet itu menjadi disukai masyarakat Indonesia. Film sekuel Si Kabayan antara lain Si Kabayan Saba Kota(1989), Si Kabayan dan Anak Jin (1991), Si Kabayan Saba Metropolitan(1992) serta Si Kabayan Mencari Jodoh (1994) menjadi film berbalut kearifan lokal terlaris di Indonesia saat itu. Belakangan Si Kabayan juga di buat dalam bentuk sinetron dengan judul Si Kabayan (1997).

Festival Film Bandung

Salah satu kunci suksesnya saat menggarap sekuel Kabayan adalah keberaniannya mendobrak kemapanan dan membawa ide segar dalam film, Kecintaannya pada film jualah yang mendorong dirinya bersama produser Chad Parwez Servia membidani lahirnya Forum Film Bandung yang rutin menyelenggarakan Festival Film Bandung (FFB) sejak tahun 1988. Kini ia menjabat sebagai ketua umum FFB.

 

Penghargaan

Atas dedikasinya yang besar dibidangnya, tercatat beberapa kali ia meraih penghargaan, diantaranya mendapat nominasi untuk skenario jenis komedi untuk Si Kabayan pada FSI 1997, Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2010 dalam bidang Film dari pemerintah Kota Bandung dan Penghargaan Anugrah Seni Budaya Jawa Barat (2010).

Keluarga

Eddy menikah dengan Evi Kusmiati, dikaruniai tiga orang putri Dini Handayani, Novelia Gitanurani, Asri Kembang kasih dan satu orang putra Andre Anugerah. Sampai saat ini ia tetap produktif menulis termasuk menulis sekian banyak skenario sinetron dan film.

 

 

Karya sastra
  • Malam Neraka
  • Gita Cinta dari SMA
  • Puspa Indah Taman Hati
  • Cowok Komersil
  • Semau Gue
  • Sok Nyentrik

 

Sinematografi

Film

Tahun Film Catatan
1977 Cowok Komersil Sebagai penulis
Semau Gue Sebagai penulis
1978 Musim Bercinta Sebagai penulis
1979 Gita Cinta dari SMA Sebagai penulis
Puspa Indah Taman Hati Sebagai penulis
1980 Roman Picisan Sebagai penulis
Sejoli Cinta Bintang Remaja Sebagai penulis
1981 Bunga Cinta Kasih Sebagai penulis
1988 Biarkan Aku Cemburu Sebagai penulis
1989 Si Kabayan Saba Kota Sebagai sutradara
Si Kabayan dan Gadis Kota Sebagai sutradara
1990 Komar Si Glen Kemon Mudik Sebagai sutradara
Jual Tampang Sebagai sutradara
Di Sana Senang Di Sini Senang Sebagai penulis
1991 Si Kabayan dan Anak Jin Sebagai sutradara
1992 Si Kabayan Saba Metropolitan Sebagai penulis
1994 Si Kabayan Mencari Jodoh Sebagai penulis
Sinetron
Tahun Film Catatan
1996 Bidadari yang Terluka Sebagai penulis
Mentari di Balik Awan Sebagai penulis
Harkat Wanita Sebagai penulis
1997 Tirai Kasih yang Terkoyak Sebagai penulis
Senyum di Wajah Tangis di Hati Sebagai penulis
Si Kabayan Sebagai penulis
Selalu Untuk Selamanya Sebagai penulis

(sumber;Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas}