Arsip Kategori: Budaya

Karnaval Seni Tradisional Meriahkan Syukuran Nelayan di Pangandaran

Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval di belakangnya/foto:Iwan Mulyadi/WP

Pangandaran/WP- Ratusan nelayan, warga dan wisatawan beramai ramai berbaur menghadiri prosesi budaya Syukuran Nelayan yang dipusatkan di Pantai Timur Pangandaran, Kamis (21/9) pagi.

Kegiatan yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah serta keselamatan kepada para nelayan ini dihadiri oleh ribuan warga yang berbaur dengan wisatawan.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari, Anggota DPRD Jawa Barat H Ijah Hartini, para anggota Dewan DPRD Kabupaten Pangandaran dan undangan lainnya.

Prosesi ini diawali dengan pelaksanaan karnaval yang mengambil rute dari depan Kantor Desa Pangandaran, menyusuri Jalan Kidang Pananjung dan akan berakhir di lokasi Syukuran nelayan di komplek Pasar Ikan Pantai Timur Pangandaran.

Dalam Kesempatan tersebut Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval lain dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Pangandaran. (Iwan Mulyadi/Warta Priangan)

Ini di Bali, Ada tradisi culik perempuan, yang merasa jomlo mari merapat

Pengunjung desa tertua di Bali mendadak membludak. Tak hanya turis, warga setempat pun turut merayakan tradisi unik di Desa Tenganan yang terletak di Kabupaten Karangasem ini.

Di desa yang terletak dekat dengan perbatasan wilayah Kabupaten Klungkung pada bagian barat Kabupaten Karangasem ini, warga dan turis merayakan kegembiraan dengan menggelar tradisi Perang Pandang.

Baik warga setempat maupun wisatawan yang melihat acara di pinggir arena tak jarang ditarik paksa ke dalam gelanggang untuk duel, untuk merasakan bagamana serunya tradisi itu.

Usai duel, para peserta Perang Pandang akan merasakan perih dan nyeri akibat terkena goresan duri-duri pandan yang digunakan dalam aksi duel. Acara tradisi Perang Pandan ini digelar pada Senin (12/6), dari mulai sore hingga menjelang malam.

I Ketut Sudiastika, selaku tetua di desa ini dan salah satu Klian Adat di Tenganan Pegringsingan menjelaskan bahwa tradisi Perang Pandan digelar setiap tahun.

Acara ini merupakan puncak dari upacara besar di Desa Tenganan yang digelar sejak sebulan lalu.

“Jadi ini rangkaian puncak dari upacara kami yang kita gelar sejak sebulan lalu,” kata Sudiastika, mengutip Merdeka.com, Senin (12/6).

Sebelum digelarnya Perang Pandang, di desa adat Tenganan Pegringsingan, terlebih dahulu menggelar acara penyepian desa atau Nyepi. Hari Nyepi itu sudah dilakukan kemarin, Minggu (11/6).

Pelaksanaan Nyepi tidak jauh beda dengan pelaksanaan Nyepi pada umumnya di Bali. Di mana warga dilarang bepergian atau keluar desa maupun keluar rumah. Termasuk juga tidak melakukan kegiatan dan tanpa penerangan pada malam hari.

Pelaksanaan upacara yang digelar selama sebulan penuh ini, disebut Usabha Sembah yang merupakan satu-satunya upacara besar yang dimiliki Desa Tenganan Pegringsingan.

Upacara ini digelar berdasarkan perhitungan kalender yang dimiliki desa adat. Di mana 1 tahun dari kalender desa adat Tenganan ada 13 bulan.

“Tradisi Usaba Sembah ini merupakan tradisi yang wajib kita laksanakan setiap setahun sekali berdasarkan perhitungan kalender kami. Upacara ini merupakan tradisi ritual memuja Dewa Indra sebagai dewa perang, karenanya di puncak acara itulah kita gelar perang pandan ini,” tuturnya.

Menculik perempuan

Ada banyak keunikan dari tradisi Usaba Sembah ini. Salah satunya sebelum tradisi perang digelar, beberapa hari sebelumnya ada upacara maling-malingan.

Maling-malingan ini dilakukan oleh sejumlah pemuda yang disahkan sebagai pemuda dewasa. Malam itu juga diperbolehkan mencari pasangan, yang nantinya diperuntukkan untuk mendampingi saat dimulai hari Perang Pandan.

Tidak jarang dari pasangan ini berlanjut sampai pelaminan.

Tidak hanya itu, usai acara maling-malingan atau Mulan Saat. Dilanjutkan dengan Tradisi Mayunan. Untuk diketahui di desa tua ini ada ayunan tua dan tinggi. Pada tradisi Mayunan ini, hanya wanita yang masih perawan saja yang boleh menaiki ayunan tersebut.

“Setelah upacara Perang Pandan ini, nantinya akan ada rangkaian tradisi megibung (makan bersama). Ini merupakan penyatuan rasa yang terjadi di arena sehingga nantinya tidak ada lagi dendam atau sakit hati setelah rangkaian upacara besar ini berakhir,” tutup Sudiastika. (jurnalsumut/mc)

 

Seru, Festival Kuda Lumping Padaherang Diikuti Puluhan Grup

Salah satu grup penampil beraksi dalam ajang Festival Kuda Lumping di Padaherang, Minggu (20/8). Foto: Bid. Kebudayaan Disparbud Pangandaran (atas)

Padaherang, SPC – Puluhan kelompok seni kuda lumping dari Kec. Padaherang, Mangunjaya, dan Kalipucang mengkuti ajang Festival Kuda Lumping di Lapangan Procit Desa Patinggen Kec. Padaherang,  (Minggu 19/8). Selain banyak peserta yang mengikuti hajat seni budaya tersebut, ajang yang digelar pertama kali di Kab Pangandaran, Jawa Barat itu mendapat sambutan meriah dari masyarakat.

Tidak kurang dari 2000 warga sekitar antusias menyaksikan jalannya festival. Para penonton tampak antusias melihat satu demi satu kebolehan kelompok peserta.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Pangandaran Aceng Hasim menjelaskan kategori yang dilombakkan yaitu ibing cakilan, baladewaan dan barongan. Indikator yang dijadikan dasar penilaian di antaranya keluwesan gerak, kesesuaian gerak dengan musik, serta kekompakkan gerak.

Lebih jauh Aceng menyampaikan, kuda lumping bukan seni tradisi asli Kab. Pangandaran. Namun, kata dia, kesenian tersebut tumbuh baik di Pangandaran dibawa dan dirawat oleh leluhur warga suku Jawa asal Jawa Tengah.

“Dibanding kesenian lain yang ada di Pangandaran, kelompok seni ini paling banyak. Menurut catatan kami ada 60 kelompok se-Kab. Pangandaran, terbanyak di Kec Mangunjaya dan Kec. Pangandaran” kata Aceng seperti diberitakan SP.Com.

Kepala Disparbud Kab Pangandaran H Undang Sohbardin dalam sambutannya menyampaikan, ajang budaya di Padaherang selalu nendapat sambutan meriah dari masyarakat, tak terkecuali Festival Kuda Lumping. Potensi seni tersebut dan antusiasme masyarakat, kata Andang, perlu diapresiasi.

Dengan keadaan tersebut pihaknya ingin menyelenggarakan kegiatan tersebut di Padaherang, serta mengundang kelompok seni sejenis dari kabupaten tetangga.

“Ke depan kami ingin mengundang kelompok seni kuda lumping dari kabupaten yang terdekat. Sehingga acara semakin meriah serta bisa menjadi perbandingan, ” papar Undang.

Editor: Andi Nurroni/SP.Com

Mengenal Alat Musik Nafiri Dari Riau

 Nafiri merupakan alat musik tradisional yang berasal dari provinsi Riau di pulau Sumatera yang bentuknya mirip dengan terompet. Masyarakat melayu di Riau sendiri tidak hanya mengembangkan alat musik seperti nafiri tetapi juga alat-alat musik seperti : canang, tetawak, lengkara, kompang, gambus, marwas, gendang, rebana, serunai, rebab, beduk, gong, seruling, kecapi, biola dan akordeon.

Alat-alat musik di atas menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik lainnya. Kita dapat melihat permainan alat musik ini bersama dengan pertunjukkan makyong yang merupakan sebuah bentuk kesenian tradisional yang saat ini masih dimainkan dan diwariskan di provinsi Riau. Selain sebagai alat musik, nafiri juga digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat melayu. Terutama untuk memberitahukan tentang adanya bencana, dan berita tentang kematian.

Sejarah

Asal-usul alat musik tersebut belum begitu jelas. Jika melihat perjalanan sejarah provinsi Riau, sejak dahulu sudah ditempati oleh orang-orang Melayu pada masa kerajaan Sriwijaya. Orang Melayu tersebut menempati berbagai macam tempat di selat malaka. Pembauran yang terjadi antara masyarakat melayu dengan suku bangsa Padang, Jawa, Minangkabau, Bugis, Banjar dan Batak menyebabkan munculnya berbagai macam budaya termasuk di dalamnya alat-alat musik. Akan tetapi, ada suatu pendapat bahwa alat musik ini berasal dari India karena mirip dengan alat musik untuk memainkan ular. Selain itu ada juga pendapat bahwa alat ini berasal dari daerah Timur Tengah karena adanya kemiripan nama yaitu naifr.

Pada zaman kerajaan-kerajaan, nafiri merupakan salah satu alat yang penting untuk digunakan pada acara penobatan raja selain sebagai alat musik di istana. Pada kerajaan melayu dulu alat pusaka Nobat seperti nafiri, gendang, sirih esar, dan cogan merupakan lambang negara atau yang biasa disebut dengan regelia kerajaan yang dijadikan sebagai kekuatan spiritual dan kehormatan kerajaan bersama dengan adat istiadat. Tanpa adanya alat-alat tersebut penobatan seorang raja tidak dapat disahkan.

Ada kepercayaan pada zaman dahulu jika kedua kekuatan spiritual tersebut rusak maka akan hancur dan runtuhlah harkat dan harga diri bangsa tersebut. Bagi Kerajaan Kerajaan Melayu di rantau itu, sebuah kerajaan boleh saja ditaklukan, direbut, dan dikuasai oleh pihak lain. Raja atau sultannya bisa saja terusir dan melarikan diri ke negara atau daerah lain, mencari perlindungan. Tetapi, jika Regelia Kerajaan tidak dirampas dan tidak direbut, selagi Regelia sakti dan keramat itu masih dipegang oleh rajanya, maka kedaulatan negeri itu masih tegak. Sultannya tetap punya kedaulatan, dan dia bisa mendirikan kerajaan di mana saja, dan dijadikan raja di mana saja.

Karena alat-alat yang dianggap memiliki kesaktian itu, belum ditaklukkan. Karena itulah, siapapun yang memegang dan diberi tugas menjaga Regelia itu, adalah seorang yang kuat dan perkasa. Seseorang yang memiliki kekuasaan jauh di atas kekuasaan lain, termasuk sultannya sendiri. Biasanya orang tersebut merupakan penasihat raja.

Di Kedah nafiri bersama dengan alat-alat musik nobat lainnya disimpan di dalam sebuah tempat yang bernama Balai Nobat. Balai Nobat sendiri merupakan bangunan yang khas dengan arsitektur Islam. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya kubah di atasnya. Bangunan ini telah seringkali direnovasi terutama pada zaman pemerintahan Sultan kedah yang ke-25 yaitu Sultan Ahmad Tajuddin Mukarram Shah yang telah menduduki takhta mulai tahun 1854 hingga 1879. Nobat berasal dari Kata Persia ‘Naubat” yang berarti sembilan instrumen.

Nobat merupakan orkestra musik kerajaan yang digunakan terutama untuk penobatan raja, bangsawan serta penyambutan tamu istimewa. Para pemainnya disebut dengan Orang Nobat. Nobat juga dimainkan bersama dengan perayaan-perayaan suci lainnya seperti kematian. Ada sebuah kepercayaan bahwa nobat berasal tradisi India yang ditularkan oleh para pedagang yang saat itu singgah di selat Malaka.

Pada zaman kerajaan dulu, nafiri digunakan sebagai alat untuk menyatakan peperangan terhadap kerajaan lain. Selain itu juga, nafiri digunakan untuk memberitakan tentang kematian raja, diangkatnya raja. Alat ini juga digunakan untuk mengumpulkan rakyat, agar mereka segera datang ke alun-alun istana untuk mendengarkan berita atau pengumuman dari rakyat mereka. Oleh karena itu, alat ini dijadikan sebagai barang pusaka kerajaan.

Di Malaysia kita juga akan menemukan alat musik yang disebut dengan nafiri walaupun dengan bentuk yang sedikit berbeda. Di negara tersebut alat musik ini dapat kita jumpai untuk mengiringi lagu-lagu daerah dan juga upacara adat. Kita dapat melihat alat ini pada orkestra nobat di Malaysia. Alat musik ini juga digunakan untuk penobatan gelar kebangsawanan.

Salah satu orang yang pernah mendapatkan gelar kehormatan Adat di Riau adalah sultan Hamengku Buwono X. Ketika penobatannya berlangsung suara Nafiri bersama dengan Alat musik tradisional lainnya mengiringi acara tersebut di depan sidang Majelis Perapatan Adat Melayu. Alat-alat tersebut digunakan sebagai penanda diangkatnya seseorang sebagai bangsawan. Saat ini fungsi nafiri menjadi lebih berkurang karena hanya digunakan pada acara-acara kerajaan atau perayaan-perayaan yang dilakukan oleh masyarakat melayu.

Menurut kepercayaan orang Melayu Riau, ketika memainkan alat musik ini para pemainnya dirasuki oleh para dewa, mambang, dan peri. Sehingga seolah-olah mereka menyampaikan pesan akan terjadinya bahaya atau kejadian penting lainnya. Oleh karena itu, sebelum ditiup alat musik ini perlu dipusung yaitu diasapi di atas pedupaan. Nafiri ditiup dengan aliran udara yang tidak terputus selama dua atau tiga jam. Pemain Nafiri harus orang yang memiliki napas panjang, sehat badannya, dan memiliki teknik khusus sehingga tidak putus tiupannya. Nafiri ditiup hanya dengan tangan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang bagian bawahnya.

Fungsi dan kegunaan
  1. Pengiring tarian tradisional, tari Inai, tari Jinugroho dan tari Olang.
  2. Sebagai alat musik yang utama di dalam musik robat yang merupakan musik yang dimainkan di lingkungan masyarakat.
  3. Sebagai melodi yang digunakan untuk menentukan gerakan-gerakan silat.
  4. Untuk penobatan raja-raja ketika Riau masih berbentuk kerajaan-kerajaan serta bangsawan.
  5. Tanda terhadap terjadinya peperangan, bencana, dan kematian.
  6. Alat yang digunakan sebagai penanda spiritual untuk memanggil dewa, roh, atau arwah nenek moyang.
Cara membuat Nafiri

Terbuat dari kayu yang berukuran 25 sampai 45 centimeter. Antara batang dengan dan tempat tiupnya diberi batas yang terbuat dari tempurung kelapa. Nafiri menggunakan semacam lidah yang terbelah dua terbuat dari daun kelapa yang muda atau ruas bambu yang sudah kering. Lidah tersebutlah yang disebut dengan vibrator yang akan mengeluarkan suara atau bunyi-bunyian. Lubang jari ada tiga buah yang besarnya kira-kira sebesar biji jagung untuk mengatur tinggi rendahnya nada. Pada bagian pangkalnya diberi sambungan berbentuk seperti bujur telur yang terpotong dan berongga untuk membuat volume yang dikeluarkan lebih besar. Musik yang dikeluarkan terdengar seperti meronta-ronta daripada melodi yang jelas untuk didengar.

Sepotong kayu yang telah dikerat menurut ukuran yang dikehendaki ditoreh besar dipangkalnya sehingga bentuknya mirip dengan telur yang sudah dipotong bagian ujungnya. Kemudian diberi bebatang, proses tersebut yang disebut dengan balan atau bakal nafiri. Kemudian balan tersebut diperhalus dengan menggunakan pisau raut dan digesek untuk dihaluskan dengan daun trap atau kelopak bunga sukon yang hanya ditemukan didaerah sumatera. Kemudian dilubangi dengan menggunakan gurdi kecil dan pahat, hal tersebut akan membuat nafiri tersebut berongga dengan tebal kulitnya kurang lebih setengah centimeter. Pada batang nafiri dibuat lubang-lubang jari dengan menggunakan besi yang dipanaskan. Cara memainkan dan membuat Nafiri diturunkan secara terus menerus dari generasi ke generasi oleh masyarakat Melayu Riau.

sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas