Arsip Kategori: Sosok

Inalillahi… Tokoh Silat Pangandaran Meninggal Usai Ikut Karnaval Budaya

Info dari wartapriangan.com – Pangandaran> Kabar duka dan mengejutkan datang dari Pangandaran, Jawa Barat. Abah Usup, salah satu tokoh silat warga Desa/Kecamatan Cijulang meninggal dunia sesaat setelah mengisi acara penyambutan iring-iringan Karnaval Budaya dalam rangka Milangkala ke 5 Kabupaten Pangandaran Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 12.30 WIB.

Menurut Ketua IPSI Kabupaten Pangandaran Hendar Suhendar, Almarhum adalah Ketua Paguron Silat Panglipur di Cijulang, dan sangat familiar bagi masyarakat Pangandaran karena sering mengisi sejumlah acara budaya.

Dari informasi yang diterima Warta Priangan, almarhum meninggal dunia mendadak setelah beberapa jam mengisi acara menyambut iring-iringan karnaval saat sedang duduk di Taman Sunset Pangandaran.

Semula dikira hanya pingsan saat duduk di taman, langsung dibawa ke Puskesmas Pangandaran, namun begitu sampai di Puskesmas sudah meninggal.

Setelah diketahui meninggal, jenazah langsung dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan.

Banyak pihak menduga-duga terkait penyebab kematian korban. Dari serangan jantung, dehidrasi, dan kelelahan.(Iwan Mulyadi/WP)

Sosok Abah Usup dimata Ketua IPSI Pangandaran

Meninggalnya Maestro Pencak Silat Kabupaten Pangandaran Abah Usup, usai menampilkan prosesi penyambutan Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran di Karnaval Budaya, pada Sabtu (21/10/2017) siang tadi, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Pangandaran.

 

Begitu halnya, duka yang sama dirasakan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pangandaran, Hendar Suhendar.

“Abah usup bagi saya merupakan tokoh dan pejuang pencak silat yang tanpa pamrih,”ujar Hendar, kepada Warta Priangan.

Dirinya mengaku, kenal dengan Almarhum sejak tahun 1993, saat pertama kali datang untuk bekerja di Ciamis hingga ke Pangandaran.

“Sampai akhir hayatnya Almarhum tetap konsisten mengajar silat kepada siapapun. Bagi saya almarhum merupakan ikon Jawara Pakidulan,”pungkasnya. (Iwan Mulyadi/WP)

Iwan Mulyadi, mengawali karier sebagai jurnalis sejak 1988, antusias terhadap filssafat, media buku dan seni –terutama seni visual , seperti lukisan, patung, instalasi, desain dan fotografi

A Room of One’s Own: Ayu Utami

Oleh: Dias Novita Wuri

Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, “Kenalin, ini Kacung dan Lobo. Lobo agak galak, susah percaya orang asing. Maklum dulu pernah trauma. Kalau Kacung gobloknya setengah mati.” Kemudian secara berkesinambungan bermunculan peliharaannya yang lain, yaitu sembilan ekor kucing yang masing-masing bernama Ayah Ham, Semi, Mulan, Jenglot, Lolita, Tombola, Francesco, Rodriguez, dan Katam. Memang sulit memisahkan kehidupan di rumah itu dengan kehadiran sekian banyak binatang lucu di dalamnya.

Sejengkal dari pintu masuk utama rumah, kita akan langsung mendapati meja kerja Ayu Utami berikut rak buku sangat besar menjulang memenuhi dinging dan nyaris menyentuh langit-langit. Ada tangga logam bersandar pada rak tersebut, tentunya untuk membantu Ayu meraih buku-buku di bagian rak teratas. “Dulu pernah kena rayap, begitulah komentar Erik Prasetya, seorang fotografer kenamaan sekaligus suami Ayu Utami. Rak bukunya enggak boleh nempel dinding.” Ruangan kerjanya penuh artifak mereka berdua: sebuah piano tua, dua foto hasil jepretan Erik berukuran besar dipajang di dinding, patung kayu melayang dari langit-langit, kotak tisu berbentuk rol film, meja lain penuh buku, termasuk satu eksemplar majalah Bintang Home edisi akhir tahun lalu yang menampilkan Ayu Utami beserta rumahnya yang indah dan unik.

Rumah itu menimbulkan kesan desa—sangat teduh, lapang, berangin, ruang-ruang terbukanya dinaungi pohon-pohon bambu rimbun dan pohon-pohon lainnya yang senantiasa menggugurkan daun-daunnya. Kita tidak akan tahu bahwa saat itu tepat tengah hari bolong dan panasnya bukan main di luar sana. Bambu-bambu, pepohonan, dan suara nyanyian seekor burung Nuri Kepala Hitam Papua peliharaan Ayu dan Erik sungguh membuat kita lupa kita berada di Jakarta. Lebih jauhnya, begitu menginjakkan sebelah kaki di kediaman mereka, kita teringat “nuansa” magis yang kerap dihadirkan tulisan-tulisan fiksi Ayu Utami. Nuansa magis itu bertambah kuat oleh aroma dupa yang dari waktu ke waktu dinyalakan Ayu dan ditancapkannya di tanah pekarangannya.

Raknya berlimpah-ruah oleh bermacam buku; mulai dari karya-karyanya sendiri dalam berbagai bahasa (kita mengamati lamat-lamat dan menemukan tiga jilid Bilangan Fu edisi Belanda, Het Getal Fu, menyempil di tengah-tengah), berbagai karya fiksi, non-fiksi, filsafat, politik, sejarah, dan lainnya. Meja kerjanya terletak tepat di samping rak, membelakangi sebuah jendela, namun juga menghadap jendela lain yang membuka ke arah pekarangan tempat Ayu dan Erik menggantung kandang si burung nuri. Di meja itulah sehari-hari Ayu melakukan sihirnya—menulis. Mejanya lebar dan kokoh, terbuat dari kayu berwarna gelap. Sebuah laptop MacBook Air ukuran 11,6 inci bertengger di permukaannya. Menurut Ayu, ia sesungguhnya tak begitu betah menulis di ruang tertutup, tapi dari meja itu ia bisa melihat bulan di malam-malam tertentu.

Ketika sedang tidak ingin terkungkung dinding dan atap dan jika cuaca mendukung, Ayu akan memindahkan ruang kerjanya ke sebuah meja bekas meja menenun yang diletakkannya di sisi pekarangan, beberapa jengkal dari tebing resin tinggi yang digunakan Ayu dan Erik untuk latihan memanjat. Ia akan bekerja di sana seharian, dikelilingi sulur beringin, sambil mendengarkan suara-suara binatang dan angin dan terkadang suara dari masjid tetangga. Ia bekerja berpindah-pindah sesuai keinginan hatinya.

Namun di meja kerja di dalam ruangan itulah kita bisa menemukan ciri-ciri Ayu Utami. Terkadang ada satu pak kartu tarot tergeletak di sana. Cangkir kopi. Segelintir alat tulis. Buku-buku catatan. Alkitab yang sampulnya ditempeli foto masa kecil. Sebuah kotak musik ukuran mini yang dibeli Ayu di Venesia, yang kalau diputar akan memainkan gubahan Antonio Vivaldi, The Four Seasons, bagian pertama Spring. Ketika melihat meja itu tak berpenghuni, kita tetap bisa dengan mudah membayangkan Ayu duduk bekerja di sana, mengenakan celana panjang dan kaus oblong yang silir.

Bagaimana rutinitas menulisnya? Ayu Utami biasa bangun pagi-pagi sekali lalu mulai menulis sejak pukul enam pagi. Apabila sedang tidak terlalu intens mengerjakan suatu tulisan, sebelum menulis ia akan terlebih dahulu menggiling biji kopi (sekalian melatih otot tangan), dan menyeduhnya. Ia senang menulis di pagi hari sambil sarapan muesli atau granola, dan nyemil pisang, sukun, dan cempedak goreng bikinan Erik di sore hari. Di pagi hari Ayu biasanya menulis sampai pukul sepuluh. Setelah itu ia akan pergi berkendara ke Komunitas Salihara atau Teater Utan Kayu, atau ke kantor penerbit, atau mengurus berbagai keperluan lainnya di luar rumah, sebelum akhirnya pulang dan melanjutkan menulis di malam hari sebelum tidur. (Kamar tidurnya sendiri lapang tanpa begitu banyak perabotan, lengkap dengan tempat tidur berkelambu, daun pintunya dicat warna kuning terang.)

Ia merupakan penulis yang mampu bekerja dengan relatif cepat. Satu buku dikerjakan selama rata-rata delapan bulan. Rekor tercepatnya adalah dua minggu untuk buku Soegija Seratus Persen Indonesia, sudah lengkap dengan desain dan ilustrasi serta foto, sementara rekor terlamanya adalah empat setengah tahun untuk Bilangan Fu (namun kita tahu buku itu merupakan sesosok babon setebal 548 halaman dengan topik yang lumayan bikin garuk-garuk kepala). Ayu menerangkan bahwa ia melakukan riset sembari menulis, bukan sebelumnya. Itu juga yang diajarkannya kepada murid-muridnya di kelas menulis.

Hingga hari ini, Ayu Utami telah menghasilkan hampir dua lusin buku fiksi, nonfiksi, esai, buku biografi populer, juga telah menulis banyak sekali cerpen di berbagai media massa dan bunga rampai. Karya-karyanya juga telah diterjemahkan dan terbit di berbagai negara, menyihir banyak orang sejak tahun sembilan puluhan.

Dan sihirnya dimulai di sana, di meja itu./jakartabeat.net

Dias Novita Wuri

Penulis kelahiran Jakarta, 11 November. Ia menyelesaikan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI jurusan Sastra Rusia. Telah beberapa kali cerpennya diterbitkan Koran Tempo dan terpilih sebagai Emerging Writers di Ubud WRF pada 2014. Pernah bekerja sebagai asisten program di Komunitas Salihara.  Awal 2016 bergabung dalam keredaksian Jakartabeat sebagai redaktur sastra.

 Last modified on: 9 Agustus 2017

Abdullah Harahap, Penulis Novel Horor/Misteri Legendaris Indonesia

Abdullah Harahap, merupakan penulis novel misteri (horor) Indonesia terbaik. Novel-novel horornya memiliki gaya yang menarik dan khas, hingga terkadang kontroversial karena dibumbui dengan hal-hal berbau seksual. Tidak banyak penulis Indonesia yang memilih kisah-kisah horor, dan terbukti AH mampu bertahan di jalur tersebut. Ia lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan pada 17 Juli 1943. Sebelum menulis novel horor misteri, ia juga menulis novel roman percintaan, namun namanya melambung berkat novel horor yang dikarangnya.

Awal karier
Abdullah Harahap mengawali karier semenjak masih duduk di bangku SMA di kota Medan dengan menulis sejumlah cerita pendek serta puisi yang dimuat oleh media cetak setempat. Tahun 1963, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di IKIP (kini UPI) sambil meneruskan aktivitas menulis cerpen yang sempat membanjiri sejumlah media cetak baik yang terbit di Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, dan paling terutama Jakarta (yang oleh Abdullah Harahap dianggap sebagai kota yang membesarkan namanya sebagai penulis).

Di tengah perjalanan kuliahnya, AH menekuni profesi sebagai jurnalis di SK Mingguan GAYA dan GALA (cikal bakal SK Harian Galamedia), lalu kemudian menjadi perwakilan tetap untuk wilayah Jawa Barat dari Majalah Selecta Grup (Selecta, Detektif & Romantika, Senang, Stop, Nova). Perjalanan karier sebagai wartawan yang ditekuni AH selama seperempat abad lebih (1965-1995) menambah luas wawasan serta pengetahuan AH sebagai penulis novel. Karena sebagai wartawan, AH bukan hanya sekadar meliput berita sesuai tanggung jawab yang diembannya, akan tetapi juga memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan riset ke tempat-tempat tertentu yang dia inginkan untuk bahan novelnya.

Riset yang dilakukan oleh Abdullah Harahap ini saya rasa menjadi sebuah keungulan kengerian yang diciptakan di novel-novel horor/misterynya. Jadi horornya tidak melulu hantu penasaran yang sembarangan membunuh orang orang. Ada latar belakang budaya, dendam kesumat, bahkan seringnya sex sebagai latar belakang kemunculan iblis iblis yang menebar teror.

Abdullah Harahap mendatangi lalu bertukar pikiran dengan tokoh masyarakat setempat, terutama yang kehidupan sehari-harinya berhubungan dengan alam mistis, baik itu dari aliran putih maupun aliran hitam, tanpa melibatkan diri di dalamnya. Ilmu-ilmu mana kemudian (sesuai kebutuhan), dikembangkan sendiri oleh AH di depan mesin tik atau komputer sesuai dengan imajinasi AH yang ia kehendaki. Tercatat keseluruhan buku sudah diterbitkan dari imajinasinya itu berjumlah sekitar 60 judul (Drama), 75 judul (Misteri) dan 15 judul Pulpen (Kumpulan cerita pendek). Sebagian di antaranya telah diangkat ke layar lebar dan yang terbanyak ke layar kaca (TPI, SCTV, RCTI, dan Indosiar), baik dalam bentuk sinetron seri maupun FTV.

Berhenti Menulis

Abdullah Harahap berhenti menulis sekitar tahun 1990-an. Beberapa penerbit yang biasa menerbitkan buku-bukunya tutup. Novel-novel Abdullah Harahap seringkali dianggap picisan dan murahan, karena selalu bercerita tentang horor, dibalut dengan adegan sex. Tetapi, Abdullah Harahap tidak peduli. Yang penting ia bisa berkarya. Walaupun dianggap picisan, novel-novelnya selalu habis terjual. Bahkan banyak yang diangkat ke layar kaca dan layar perak.

Abdullah Harahap berhenti menulis karena ia adalah seorang yang penakut juga. Tetapi, ketakutannya itu sangat bermanfaat dalam proses pengerjaan novel horornya. Ia berkata, kalau kita tidak takut saat menulis bagian seramnya, maka itu bearti novel tersebut gagal. Kalau sang pengarang saja tidak takut, apalagi yang membacanya?

Akibat terlalu banyak menulis novel horor, Abdullah Harahap menjadi seorang yang sangat penakut. Dan hasil novelnya juga tidak maksimal, dan penerbitnya pun tutup. Maka ia segera berhenti menulis, dan beralih menjadi penulis skenario untuk layar lebar dan layar kaca. Ia pun hanya sesekali menulis novel, yaitu Misteri Boneka Cinta (dimuat bersambung di Sk Galamedia Bandung), Misteri Janda Hitam (Harian Jawa Pos Surabaya), dan Misteri Sebuah Peti Mati (Harian Surabaya Post), yang kini sudah diterbitkan dalam format buku saku oleh Paradoks).

Penerbit Paradoks

Tahun 2010, novel-novel lama dan baru Abdullah Harahap diterbitkan ulang oleh Penerbit Paradoks ( imprint Gramedia ). Paradoks ini awalnya dibentuk untuk menerbitkan ulang novel-novel horor Abdullah Harahap, sebelum akhirnya dibuka untuk penulis yang lain. Paradoks adalah sebuah penerbit khusus buku-buku misteri dan horor.

Bibliografi

( Seandainya Judul buku Abdullah Harahap ini belum lengkap. Tolong dilengkapi di komentar )

  • Misteri Perawan Kubur
  • Misteri Sebuah Peti Mati 1
  • Misteri Sebuah Peti Mati 2
  • Misteri Lemari Antik
  • Manusia Serigala
  • Misteri Rumah Diatas Bukit
  • Manekin
  • Penunggu Jenazah
  • Misteri Kalung Setan
  • Sumpah Berdarah
  • Babi Ngepet
  • Dosa Turunan
  • Suara dari Alam Gaib
  • Bisikan Arwah
  • Pemuja Setan
  • Sumpah Leluhur
  • Penjelmaan Berdarah
  • Penghuni Hutan Parigi
  • Misteri Penari Topeng
  • Dendam Berkarat dalam Kubur
  • Penunggu Dari Kegelapan
  • Lukisan Berlumur Darah
  • Wajah-wajah Setan
  • Mahkluk Pemakan Bangkai
  • Kembalinya Seorang Terkutuk
  • Dalam Cengkeraman Iblis
  • Dendam di Balik Kubur
  • Roh dari Masa Lampau
  • Penjaga Kubur
  • Penghuni-penghuni Rumah Tua
  • Dendam Roh Jejaden
  • Pengemban Kutuk
  • Bercinta dengan Syaitan
  • Penghisap Darah
  • Pewaris Iblis
  • Sepasang Mata Iblis
  • Panggilan dari Neraka
  • Misteri pintu Gaib
  • Misteri Anjing Hutan
  • Arwah yang Datang Menuntut Balas
  • Perawan Sembahan Setan
  • Tumbal Kalung Setan
  • Pemuja Setan
  • Manusia Penuntut Balas
  • Senggama Kubur
  • Misteri Alam Gaib
  • Jeritan Dari Pintu Kubur
  • Arwah Yang Tersia-Sia
  • Misteri Putri Peneluh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Mengenal Sosok Penulis Populer Eddy D. Iskandar

Eddy D. Iskandar (lahir di Bandung, Jawa Barat, 11 Mei 1951; umur 66 tahun) adalah seorang sutradara dan penulis Indonesia.

Minat menulis Eddy diawali dari hobinya membaca buku. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku yang di pinjam di perpustakaan umum untuk bacaan orang tuanya. Beberapa karya penulis besar, seperti Motinggo Busye, Toha Mohtar, Mochtar Lubis, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail hingga Pramoedya Ananta Toer kerap dibacanya.

Awal karier

Tulisan pertamanya yang berjudul Malam Neraka hadir secara tidak sengaja saat ia mengikuti orientasi mahasiswa baru di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, pada tahun 1970. Tulisan tersebut di muat di Mingguan Mandala yang redaktur budayanya pada saat itu adalah sastrawan Muhammad Rustandi Kartakusumah. Sejak saat itu, ia mulai rajin menulis beragam tulisan, esai, dan puisi.

Hijarah ke Jakarta

Pada tahun 1975, setelah menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, ia pergi ke Jakarta guna menekuni dunia film di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Ia ingin menjadi sutradara. Film dianggapnya sebagai media yang paling mudah mempengaruhi dan melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat.

Di Jakarta, ia kerap berada di Taman Ismail Marzuki yang dikenal sebagai gudangnya penulis dan seniman. Namun, bukan menjadi sutradara, ia justru semakin matang sebagai penulis serba bisa. Selain bergaul dengan seniman dari segala profesi, ia juga sering menyaksikan beragam pementasan di TIM. Eddy juga turut bergabung dalam grup wartawan Zan Zapha Grup yang beranggotakan para penulis muda sepertu El Manik dan Noorca M. Massardi. Tulisan-tulisannya kemudian di distribusikan ke berbagai media cetak, terutama majalah populer.

 

Karya-karya terkenal

Karya tulisnya yang fenomenal, berjudul Gita Cinta Dari SMA dimuat sebagai cerita bersambung di majalah GADIS pada tahun 1976. Karyanya ini banyak menuai pujian. Atas permintaan pembaca, ia membuatkan cerita sambungannya Puspa Indah Taman Hati. Novel Gita Cinta Dari SMA juga diangkat ke layar lebar yang mengorbitkan pasangan, Rano Karno dan Yessy Gusman. Novelnya yang lain, yang berkisah tentang cinta antara tokoh Galih dan Ratna itu juga pernah di reka ulang dalam bentuk sinetron bersambung yang di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Tahun 2004, ia kembali merilis novel Gita Cinta Dari SMA, Pada tahun 2010, Gita Cinta Dari SMA kembali di angkat sebagai drama musikal berjudul “Gita Cinta The Musical”.

Novelnya yang lain, yang juga meraih sukses di pasaran antara lain Cowok Komersil, yang berhasil dicetak enam kali dalam setahun dengan rata-rata 5.000 buku percetak. Selanjutnya novel Semau Gue diminati sineas film dan menjadi film bertabur bintang, seperti Rano Karno, Yessy Gusman dan Yenny Rachman. Sementara novel dengan 100 halaman berjudul Sok Nyentrik yang di selesaikannya hanya dalam kurun waktu sehari, tercatat berhasil berkali-kali cetak ulang. Salah satu kekuatan novel karya Eddy D. Iskandar karena daya ungkap dan dialognya yang mengalir lancar dan tetap aktual, tidak berpengaruh oleh perubahan trend.

Mengelola Budaya Sunda

Ketenaran tidak membuatnya puas. Ia merasa ada kekosongan batin karena jauh dari kultur asalnya, Jawa Barat. Ia kagum dengan seniman dari daerah lain yang bisa membuat berbagai karya berbasis kearifan lokal. Kesempatan pun datang saat ia di tawari mengelola koran mingguan berbahasa Sunda, Galura, meskipun secara finansial kalah jauh dengan menulis novel popular, namun kepuasan batin sulit dicari tutur penulis berambut Gondrong berwarna putih ini.

Berkecimpung di media massa berbahasa Sunda memberikan banyak pengalaman baru. Ia aktif dalam pembuatan karya seni Sunda, antara lain naskah cerita legenda tanah Sunda seperti Kisah Perang Bubat, menggarap pementasan Konser Kecapi Patereman dan musik Perkusi Marakdungga dalam pergelaran kolosal Mahawira Tatar Sunda, sehingga mengangkat pamor tembang Bandungan yang sebelumnya jarang dimainkan. Ia juga aktif merangkul seniman agar berani mementaskan dirinya, seperti Paguyuban Pelawak Sunda atau Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat.

Sekuel film “Si Kabayan”

Meski sudah terjun dalam pelestarian budaya Sunda, bakat besarnya sulit di sembunyikan. Tahun 1989, ia diminta menulis skenario film mitos terpopuler Sunda, Si Kabayan. Ia berhasil mengangkat tokoh Si Kabayan yang di bawakan oleh Didi Petet itu menjadi disukai masyarakat Indonesia. Film sekuel Si Kabayan antara lain Si Kabayan Saba Kota(1989), Si Kabayan dan Anak Jin (1991), Si Kabayan Saba Metropolitan(1992) serta Si Kabayan Mencari Jodoh (1994) menjadi film berbalut kearifan lokal terlaris di Indonesia saat itu. Belakangan Si Kabayan juga di buat dalam bentuk sinetron dengan judul Si Kabayan (1997).

Festival Film Bandung

Salah satu kunci suksesnya saat menggarap sekuel Kabayan adalah keberaniannya mendobrak kemapanan dan membawa ide segar dalam film, Kecintaannya pada film jualah yang mendorong dirinya bersama produser Chad Parwez Servia membidani lahirnya Forum Film Bandung yang rutin menyelenggarakan Festival Film Bandung (FFB) sejak tahun 1988. Kini ia menjabat sebagai ketua umum FFB.

 

Penghargaan

Atas dedikasinya yang besar dibidangnya, tercatat beberapa kali ia meraih penghargaan, diantaranya mendapat nominasi untuk skenario jenis komedi untuk Si Kabayan pada FSI 1997, Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2010 dalam bidang Film dari pemerintah Kota Bandung dan Penghargaan Anugrah Seni Budaya Jawa Barat (2010).

Keluarga

Eddy menikah dengan Evi Kusmiati, dikaruniai tiga orang putri Dini Handayani, Novelia Gitanurani, Asri Kembang kasih dan satu orang putra Andre Anugerah. Sampai saat ini ia tetap produktif menulis termasuk menulis sekian banyak skenario sinetron dan film.

 

 

Karya sastra
  • Malam Neraka
  • Gita Cinta dari SMA
  • Puspa Indah Taman Hati
  • Cowok Komersil
  • Semau Gue
  • Sok Nyentrik

 

Sinematografi

Film

Tahun Film Catatan
1977 Cowok Komersil Sebagai penulis
Semau Gue Sebagai penulis
1978 Musim Bercinta Sebagai penulis
1979 Gita Cinta dari SMA Sebagai penulis
Puspa Indah Taman Hati Sebagai penulis
1980 Roman Picisan Sebagai penulis
Sejoli Cinta Bintang Remaja Sebagai penulis
1981 Bunga Cinta Kasih Sebagai penulis
1988 Biarkan Aku Cemburu Sebagai penulis
1989 Si Kabayan Saba Kota Sebagai sutradara
Si Kabayan dan Gadis Kota Sebagai sutradara
1990 Komar Si Glen Kemon Mudik Sebagai sutradara
Jual Tampang Sebagai sutradara
Di Sana Senang Di Sini Senang Sebagai penulis
1991 Si Kabayan dan Anak Jin Sebagai sutradara
1992 Si Kabayan Saba Metropolitan Sebagai penulis
1994 Si Kabayan Mencari Jodoh Sebagai penulis
Sinetron
Tahun Film Catatan
1996 Bidadari yang Terluka Sebagai penulis
Mentari di Balik Awan Sebagai penulis
Harkat Wanita Sebagai penulis
1997 Tirai Kasih yang Terkoyak Sebagai penulis
Senyum di Wajah Tangis di Hati Sebagai penulis
Si Kabayan Sebagai penulis
Selalu Untuk Selamanya Sebagai penulis

(sumber;Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas}

Mengenal Soni Farid Maulana, Sastrawan Kelahiran Tasikmalaya

Soni Farid Maulana (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962; umur 55 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya mulai dikenal melalui karya-karyanya yang dipublikasikan di berbagai media massa, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Namanya tercatat dalam dalam entri Enslikopedi Budaya Sunda (PT. Pustaka Jaya, 2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat Buku Utama, 2003). Soni merupakan penerima Anugerah Jurnalistik Zulharmans PWI Pusat, periode 1999 -2000.

Soni Farid Maulana (foto internet)

 

Latar belakang

Soni Farid Maulana menyelesaikan pendidikannya di Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung jurusan teater tahun 1985. Aktif menulis puisi sejak tahun 1976, dipublikasikan di berbagai media massa cetak terbitan daerah dan ibu kota. Sejumlah puisi yang ditulisnya sudah dibukukan dalam sejumlah antologi puisi tunggal dan bersama penyair lain. Karya sajaknya, Tusuk Gigi (1987) oleh musikus Harry Roesli, direpresentasikan ke dalam pertunjukan Opera Tusuk Gigi (1996) di Bandung. Beberapa sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. A. Teeuw dan Linda Voute. Selain itu, sajaknya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. Berthold Damshauser.

Sebagai penyair, Soni berkali-kali diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membacakan sejumlah puisi yang ditulisnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta antara lain dalam forum Puisi Indonesia 1987, dan Cakrawala Sastra Indonesia 2005. Pada tahun 1990 mengikuti South East Asian Writers Conference di Queezon City, Filipina. Pada 1999 mengikuti Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda. Pada 2002 mengikuti Festival Puisi Internasional Indonesia di Bandung, dan International Literary Biennale Living Together 2005 di Bandung. Pada November-Desember 2013 baca puisi dan ceramah sastra Indonesia di INALCO, Paris atas undangan Prof. Dr. Etienne NAVEAU. Pada April 2014, dia tampil baca puisi di Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, atas undangan Prof. Dr. SN Dato Kemala dari komunitas sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera). Saat ini dia aktif di Rumah Baca Ilalang.

Bibliografi

  • Karya tunggal
  1. Variasi Parijs van Java (PT. Kiblat Buku Utama, 2004)
  2. Secangkir Teh (PT. Grasindo, 2005)
  3. Sehampar Kabut (Ultimus, 2006)
  4. Angsana (Ultimus, 2007)
  5. Opera Malam (PT. Kiblat Buku Utama, 2008)
  6. Pemetik Bintang (PT Kiblat Buku Utama, 2008)
  7. Peneguk Sunyi (PT Kiblat Buku Utama, 2009)
  8. Mengukir Sisa Hujan (Ultimus, 2010)
  9. Disekap Hujan (Kelir, 2011)
  10. Telapak Air (KSLS, 2013)
  11. Arus Pagi (Rumah Baca Ilalang, 2015)
  12.  Sisa Senja *KKK, 2015),
  13. Kisah Suatu Pagi (KKK 2017) 
  14. Sehabis Hujan (KKK, 2017)
  • Karya Bersama
  1. Tonggak IV (PT Gramedia, 1987)
  2. Winternachten (Stichting de Winternachten, Den Haag, 1999)
  3. Angkatan 2000 (PT. Gramedia, 2001)
  4. Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001)
  5. Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Penerbit Buku Kompas, 2001)
  6. Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002)
  7. Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002)
  8. Puisi Tak Pernah Pergi Penerbit Buku Kompas, 2003)
  9. Nafas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004)
  10. Living Together (Kalam, 2005)
  11. Antologia de Poéticas (PT Gramedia, 2009)
  12. Negeri Abal-Abal (Kosakatakita, 2013)
  13. Teras Belakang (KSLS, 2014)
  14. Negeri Langit (Kosakatakita, 2014)
  15. Setebas Malam (Rumah baca Ilalang, 2015)
  • Karya berbahasa Sunda
  1. Kalakay Méga (Cetakan 3, 2007, CV Geger Sunten)
  2. Angin Galunggung (CV. Geger Sunten, 2012)
  3. Saratus Sajak Sunda (CV Geger Sunten 1992)
  4. Sajak Sunda Indonesia Emas (CV. Geger Sunten, 1995)
  5. Antologi Puisi Sajak Sunda (PT. Kiblat Buku Utama, 2007)
  • Esai
  1. Pintas Puisi Indonesia (Jilid 1, PT. Grafindo, 2004, dan Jilid 2, 2007)
  2. Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi (PT. Nuansa Cendekia, 2012)
  3. Menulis Puisi Sebuah Pengalaman (KSLS, 2013)
  • Cerpen
  1. Orang Malam (Q-Press, 2005)
  2. Empat Dayang Sumbi (Komunitas Sastra Lingkar Sastra Selatan, 2011)

Penghargaan

  • Karyanya, Sehampar Kabut dan Angsana meraih Hadiah Sastra Lima Besar Khatulistiwa Literary Award untuk periode 2005-2006 dan 2006-2007
  • Karyanya, Telapak Air meraih Hadiah Sastra Lima Besar Khatulistiwa Literary Award untuk periode 2012 -2013.
  • Sajak Tina Sapatu Jeung Baju Sakola Barudak meraih Hadiah Sastra LBSS (1999)
  • Esai yang ditulisnya Taufiq Ismail, Penyair Yang Peka Terhadap Sejarah, meraih Anugerah Jurnalistik Zulharmans dari PWI Pusat, Jakarta (1999).
  • Hadiah Puisi Juniarso Ridwan lewat puisi Sunda yang ditulis dan dipublikasikannya di majalah Sunda, Manglé.
  • Pada bulan Desember 2010 mendapat Anugerah Budaya 2010 dari Gubernur Jawa Barat untuk bidang penulisan karya sastra.
  • Namanya dicatat Ajip Rosidi dalam entri Enslikopedi Budaya Sunda (PT. Pustaka Jaya, 2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat Buku Utama, 2003)

Sonian

Apa itu sonian? Penyair Soni Farid Maulana menjelaskan, bahwa sonian adalah puisi sepanjang empat baris yang dikreasi dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Semakin bawah seorang penyair menulis sonian, maka semakin sulit, karena kata-kata yang dibutuhkan semakin sedikit jumlahnya.

“Hal ini dimaksudkan, agar puisi yang ditulis dalam bentuk ini tidak pecah, melainkan kian fokus pada pengalaman batin macam apa yang ingin diekpresikan. Jika diibaratkan dengan mata panah yang terbalik, maka jelas sudah, bahwa kian bawah kian runcing adanya. Walau demikian, meski nyaris sama pendeknya dengan haiku, sonian bukan haiku yang ditulis dengan pola 5-7-5 suku kata perlariknya, yang dikreasi oleh penyair Jepang kenamaan pada zamannya, Bāsho,” tutur Soni seperti pernah diberitakan PRLM (21 Februari, 2015 lalu).

Dibukanya grup penulisan puisi genre sonian di Jejaring Sosial Facebook pada 21 Januari 2015 lalu oleh penyair bertubuh atleris ini, telah mendapat perhatian yang meluas. Media nasional seperti HU Kompas, pada Sabtu (21/02/2015) telah turut memberitakan gerakan penulisan puisi yang dikreasnya.(okb/berbagai sumber)

Baca: Puisi Soni Farid Maulana

Amir Hamzah, Sastrawan Angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional

Amir Hamzah portrait edit.jpg
Amir Hamzah (28 Februari 1911 – 20 Maret 1946)

Tengkoe Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, atau lebih dikenal hanya dengan nama pena Amir Hamzah (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911 – meninggal di Kwala Begumit, Binjai, Langkat, Indonesia, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional Indonesia. Lahir dari keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Utara, ia dididik di Sumatera dan Jawa. Saat berguru di SMA di Surakarta sekitar 1930, pemuda Amir terlibat dengan gerakan nasionalis dan jatuh cinta dengan seorang teman sekolahnya, Ilik Soendari. Bahkan setelah Amir melanjutkan studinya di sekolah hukum di Batavia (sekarang Jakarta) keduanya tetap dekat, hanya berpisah pada tahun 1937 ketika Amir dipanggil kembali ke Sumatera untuk menikahi putri sultan dan mengambil tanggung jawab di lingkungan keraton.

Meskipun tidak bahagia dengan pernikahannya, dia memenuhi tugas kekeratonannya. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, ia menjabat sebagai wakil pemerintah di Langkat. Namun siapa nyana, pada tahun pertama negara Indonesia yang baru lahir, ia meninggal dalam peristiwa konflik sosial berdarah di Sumatera yang disulut oleh faksi dari Partai Komunis Indonesia dan dimakamkan di sebuah kuburan massal.

Amir mulai menulis puisi saat masih remaja: meskipun karya-karyanya tidak bertanggal, yang paling awal diperkirakan telah ditulis ketika ia pertama kali melakukan perjalanan ke Jawa. Menggambarkan pengaruh dari budaya Melayu aslinya, Islam, Kekristenan, dan Sastra Timur, Amir menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa, dan berbagai karya lainnya, termasuk beberapa terjemahan. Pada tahun 1932 ia turut mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe. Setelah kembali ke Sumatera, ia berhenti menulis. Sebagian besar puisi-puisinya diterbitkan dalam dua koleksi, Njanji Soenji (EYD: “Nyanyi Sunyi”, 1937) dan Boeah Rindoe (EYD: “Buah Rindu”, 1941), awalnya dalam Poedjangga Baroe, kemudian sebagai buku yang diterbitkan.

Puisi-puisi Amir sarat dengan tema cinta dan agama, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam. Diksi pilihannya yang menggunakan kata-kata bahasa Melayu dan bahasa Jawa dan memperluas struktur tradisional, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk ritme dan metrum, serta simbolisme yang berhubungan dengan istilah-istilah tertentu. Karya-karya awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, baik erotis dan ideal, sedangkan karya-karyanya selanjutnya mempunyai makna yang lebih religius. Dari dua koleksinya, Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju. Untuk puisi-puisinya, Amir telah disebut sebagai “Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe” (EYD:”Raja Penyair Zaman Pujangga Baru”) dan satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era pra-Revolusi Nasional Indonesia.( Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Simone de Beauvoir, eksistensialisme dan feminisme

Simone de Beauvoir,  lahir di Paris, 9 Januari 1908 – meninggal di Paris, 14 April 1986 pada umur 78 tahun) adalah tokoh feminisme modern dan ahli filsafat Perancis yang terkenal pada awal abad ke-20 dan juga merupakan pengarang novel, esai, dan drama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Ia dikenal karena karyanya dalam politik, filsafat, eksistensialisme, dan feminisme, terutama karya Le Deuxième Sexe yang diterbitkan pada tahun 1949.

Lanjutkan membaca Simone de Beauvoir, eksistensialisme dan feminisme

Jean-Paul Sartre, seorang filsuf dan penulis Perancis

 Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 – meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme. Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L’existence précède l’essence). Artinya, manusia akan memiliki esensi jika ia telah eksis terlebih dahulu dan esensinya itu akan muncul ketika manusia mati. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya pada masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L’homme est condamné à être libre).
Lanjutkan membaca Jean-Paul Sartre, seorang filsuf dan penulis Perancis