Arsip Kategori: Sastra

Puisi: Ari Vidianto

 Angin Asmara

 Buih-buih dalam rayuan

Membara entah kemana

Tak terlalu mudah di mengerti

Angin yang bersiul bergoyang

menerpa alam raya

Melamunku pun tak ada guna

Karena pohon telah tergoda

Angin asmara kah itu

Mencoba menyatu di hatiku 

Lumbir, 7 Maret 2016

 

Cipta Cinta 

Debaran-debaran asmara

Mengalir mengalun mengisi

Relung jiwa

Lembut sentuhanmu bungaku

Membuat gemuruh di dada

Berdegup kencang

Anganku melayang terbang

Sayap-sayap asmara

Menari indah menciptakan cinta 

Lumbir, 8 Maret 2016

 

Ciri Cinta 

Matamu melirik penuh taktik

Gerak gerikmu mengusik

Hati ini semakin tergelitik

Pandanganmu makin tajam

Semakin keras menghujam

Ciri cinta telah nyata

Kusambut kau dalam buaian

asmara 

Lumbir, 8 Maret 2016

 

Malam

Malam

Penuh gelap dan misteri alam

Tebarkan kesunyian tersepi

Melewati sisi kelamnya hari

Malam

Tak bertabur bintang dan bulan

Keheningan pun makin mencekam

Penuh dengan bisikan rintihan

Malam

Waktumu penuh kehampaan

Aktifitas para pemilik jiwa

Terhenti sejenak dalam peraduan

Lumbir, 12 April 2016

 

Belahan Jiwa 

Hanya kamu belahan jiwa

Gemulai tawamu renyah menyapa

Di senyummu tersimpan rindu

Rindu sayang yang telah layu

Karena terkikis oleh waktu

Wajah cantik dirimu itu

Hilangkan memori luka hati

Luka hati yang kutinggal pergi

Belahan jiwa dekaplah selalu

Jiwa cinta yang meranum sendu

         Lumbir, 12 April 2016

Penulis : Ari Vidianto,lahir di Banyumas, 27 Januari 1984. Bekerja sebagai Guru di SD Negeri 2 Lumbir.Bukunya yang sudah terbit yaitu Ibu Maafkan Aku ( Pustaka Kata, 2015 ) & Wajah-Wajah Penuh Cinta ( Pustaka Kata, 2016 ). 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa seperti di Majalah Sang Guru, Ancas,SatelitPost, Tabloid Gaul, Readzone.com, Buanakata.com,Sultrakini.Com, Riaurealita.Com,Duta Masyarakat, Solopos, Radar Mojokerto, Kedaulatan Rakyat dll . No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto & Penulis Lumbir, email : ari.vidianto@gmail.com

[Cerpen] Habitat Sudarmos

Cerpen Otang K.Baddy

Gila! Kiranya telah minuman apa lelaki itu. Juga tak jelas apa dikonsumsinya itu produk imfor, lokal berizin depkes atau sekadar oplosan. Tak ada yang tahu.  Selain ia tampak merasakan gatal yang luar biasa di sekujur serta tak enjoy duduk di kursinya. Tangan dan kakinya tak bisa diam. Jentak-jentik mirip cacing yang kepanasan di musim kemarau. Apakah ia  tengah  mabuk berat?

“Tidaakkk….!”  ia berteriak seraya menggebrak meja sekuatnya. Karuan saja berkas-berkas yang menumpuk itu terjatuh dan tercecer ke lantai.

“Eling, Tuan Mos?”

“Santai aja, Boss. Jangan emosi begitu, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

“Iyalah, kayak  bocah kampung aja, pake cengeng!”

“Tidaaaakkk….!”

Sudarmos pun melompat keluar,  lalu diikuti beberapa anak buahnya yang takut kehilangan. Dari gerak-gerik serta ucapanya terus dicatat tanpa ada yang terlewat. Bahkan ketika lelaki itu berlari  hendak meninggalkan tanggungjawabnya.
*

Sudarmos melempar baju seragamnya. Kepada para pengikutnya ia mengajak untuk menanggalkan segala atribut yang selama ini telah menjadi kebanggaannya.

“Cih, semuanya cuma tikotok, jadi buat apa dipelihara!” katanya seraya  meludah. Demi melupakan kemelut yang  bak mencekik leher, ia mengajak rilek di tepi pantai.. Menurutnya itu merupakan cara terbaik dan harus dilakukan secara total. Dalam arti  tak cukup cuma dengan menikmati desir angin, melainkan harus diwujudkan dengan car berjoget. Demi keloyalan akan janji dan sumpah bawahan, tak seorang pun yang berani menolak. Bahkan beberapa pengawal bersenjata laras panjang pun segera melucuti senjatanya, lantas ikut pula berjoget bersama Sudarmos.

Mereka berojet tanpa musik. Mereka berdendang bersama debur ombak.
**
Sebenarnya bukan suatu kegembiraan, melainkan pelampiasan atas kemelut tanpa ujung selama ini. Sanjung puja atas kemenangannya menjadi seorang bupati terpilih di Saliwong, telah melahirkan lagu-lagu manja dari para pendukungnya. Minta sekian persen ke, minta tender anu ke, minta pulus pulus lainnya –yang padahal nyata-nyata gatal melebihi daun pulus.

Topik yang paling hangat dalam pembicaraan tiada lain mengenai Wisata Karang Toge. Satu agenda pengembangan wisata bahari andalan di kab Saliwong. Belum apa-apa sudah ricuh. Sedianya batu karang yang sebelumnya sempat dikenal sebagai tempat bertapa pemburu nomor togel tersebut hendak dikemas dengan balutan sorga seribu bidadari. Namun wacana gila itu berujung buntu dan saling lempar tanggungjawab. Semua investor yang sempat diundang tak seorang pun ada yang tertarik untuk menanamkan modalnya.

Hampir setiap hari sejak terpilih menjadi bupati,  Sudarmos sering mengadakan rapat darurat. Tapi hasilnya tetap buntu. Segala solusi yang diajukan tak ada yang pas, malah kesannya merupakan hayalan basa-basi belaka. Solusi terakhir yang dianggap dapat memecahkan masalah dengan kepala dingin, Sudarmos telah memilih tepi pantai yang damai. Namun tetap saja gagal, semua seperti benang kusut bercampur tikotok yang sulit diurai.

“Makanya, sejak kini kita semua tak usah kembali ke kantor. Kita terus berjoget saja di sini.”

“Wah?”
“Sampai kapan kelainan cinta ini berlangsung, Bos?”

Sudarmos tak menjawab. Ia terus saja berjoget. Tubuhnya yang semula kekar menjadi lentur. Ia menari gemulai seperti ular. Di benaknya ia mecoba menikmati sorga dengan seribu bidadarinya. Sesekali ia bersalto di atas ombak. Kadang tubuhnya berjungkir di atas pasir.
Melihat majikannya yang bertingkah aneh, para pengikutnya tak cuma cemas. Melainkan bulu kuduk mereka pun  seketika meremang, terlebih ketika melihat muka sang majikan itu berubah seperti kelelawar.

“Jong, saya berhenti jadi bupati, deh!” katanya dengan suara beda.

“Lho, memangnya kenapa.,boss?”

“Makhluk macamku tak mampu jadi pemimpin manusia!”  katanya, sebelum kemudian ia terbang jauh menuju ke habitanya sebagai hewan pemakan buah-buahan(*)

 

Sastra Tanpa Lembaran Rupiah

Gerai Indonesia di Pameran Buku Frankfurt 2016, Jerman/Foto dw.com.

Sejak menjadi tamu kehormatan di Pameran Buku Frankfurt 2015 silam, Indonesia rajin mempromosikan sastra nasional di luar negeri. Upaya itu disokong oleh Litri, dana penerjemahan pemerintah, yang ironisnya minim dana.

“Suara kita perlu disampaikan,” kata Direktur Litri, Anton Kurnia, dalam sebuah wawancara. Sebab itu “penerjemahan sastra kita penting untuk memperkenalkan karya kita kepada dunia.”

Kesempatan tersebut muncul di arena Pameran Buku Internasional Frankfurt, Jerman. Sejak menjadi tamu kehormatan tahun silam, Indonesia mulai dilirik penerbit asing sebagai lahan menggali cerita. Terutama kehadiran penulis muda seperti Lakshmi Pamuntjak, Leila S. Chudori atau Eka Kurniawan yang tidak jengah bersinggungan dengan isu-isu sensitif bisa memperkuat daya pikat sastra nusantara.

Tapi berbeda dengan tahun lalu yang riuh, kali ini Indonesia tampil sederhana di Frankfurt Book Fair. Selain gerai nasional yang didesain modern menyerupai sawah terasering oleh duo Avianti Armand dan Andro Kaliandi, Indonesia cuma memiliki sebuah tenda kecil sebagai tempat pertunjukan.

Lewat lembaga penerjamahan itu, nantinya penerbit asing bisa meminta dukungan dana penerjemahan untuk karya-karya yang telah dibeli hak terbitnya. Insiatif tersebut diusung oleh Komite Buku Nasional sebagai bagian dari program promosi.

Terkendala Birokrasi

Tapi sebagaimana lazimnya, dana menjadi kendala terbesar mempromosikan sastra Indonesia di dunia. Rumitnya birokrasi di level pemerintah membuat promosi budaya lewat aksara itu sering terhambat.

Anton Kurnia misalnya mengklaim Litri kehilangan lebih dari 50% anggaran yang sudah dijanjikan tahun lalu. Hasilnya “penerjemahan buku yang bisa kami danai menjadi berkurang,” tutur Anton. Dari 200 judul buku, Litri cuma mampu mendanai lima penerjemahan.

“Persoalannya ada pada teknis birokratis,” kata Anton. Meski pemerintah berpandangan sama soal promosi sastra, “mereka belum bisa melepaskan diri dari aturan-aturan” yang mengikat tersebut, tambh direktur Litri itu.

Keberadaan Litri dinilai penting oleh banyak pihak. Pasalnya “menerjemahkan 200 halaman ke dalam bahasa Inggris menelan biaya sangat besar. Sementara kita tidak tahu bukunya laku apa tidak,” kata Sari Meutia, Direktur Utama Mizan Group.

“Kita sangat membutuhkan penerjemahan sastra. Jadi setelah diterjemahkan ke bahasa Inggris misalnya, penerbit asing bisa lebih mudah mempelajarinya dan mengapresiasi karya tersebut,” kata Siti Gretiani, Direktur Utama Gramedia. Dari sekitar 2000 judul yang diterbitkan rumah cetak terbesar Indonesia itu, tidak sampai 10% yang diadaptasi ke dalam bahasa asing. (Dikutif dari dw.com)

Puisi Ratna Ning

Uphoria Sisingaan

Gendang ditabuh gamelan bertalu
Senja pada sebuah euphoria
Kau tlah patahkan gelak
Dari niat dari tekad
Irama rancak
Menyongsong beban
Di pundakmu kau bukanlah tuan-tuan
Tapi hamba yang menjungjung tinggi titah
Mengarak sebuah prasasti janji
Hingga mencapai destinasi

Lalu pertarungan bukanlah serupa kepalan tinju
Tapi bersatunya sebuah gerakan pencak dalam irama bersahabat
Tak terbacakah Tuan?
Lihatlah si bocah kecil tertawa, meliukkan kedua tangannya ke udara
Wajahnya merona jingga, tersipuh sorot lembayung yang merangkak senja
Dia si kecil yang diarak para abdi
Bersatu dalam sebuah tandu
Digotong serempak, bergoyang dan bergerak dalam keseragaman laku
Langkahnya meski maju dan terkadang mundur
Tapi tak ada keraguan saat menapak
Yakin, Pasti
Hingga tiba ke pusat sebuah euphoria
Lalu ketika tandu-tandu itu menjejak
Para hamba tersenyum…Bangga

“Nak! Kami tlah memberimu kenangan indah hari ini
Yang akan terus membekas hingga wajah kami pudar dari album-album terlindas masa”

***

Kepergian

Kau tlah katakan tentang jejak
Yang membekas usai gerimis
Dan bukan saja kita cerita tentang rindu yang ranggas
Ketika kepergian merampas siang dan malam kita
Lalu engkau akan berhenti sesaat
Menatap rembulan dalam mata bocah-bocah tercinta
Kemudian senyap di ruang tamu, di meja makan
Di jeda kita bersenda
Perbincangan tentang mimpi-mimpi yang coba kau nakwilkan
Ahh, aku akan menantimu tanpa syarat
Dalam notasi-notasi sunyi, syimponi akan tetap berkumandang

Untuk Sebuah Catatan Usang
Seperti juga Engkau,
Akupun belajar mengeja jejak
Lewat hujan,
Dan airmataku sembunyi dalam curahnya
Seperti juga Engkau
Akupun belajar mengurai kata
Yang berserak dan tak sempat terbaca
Seperti juga Engkau Tuan,
Akupun belajar pada riak air
Yang tenang mengkamuflase gejolak
Tapi ketika aku belajar menyempurnakan catatan
Lewat sekumpulan Fatwa, Nakwil dan Titahnya
Aku tak seperti Engkau, Tuan
Karena menuju jalan Rabbaniku
Itulah rangkuman dan sinopsis
dalam ensiklopedi Akbar ini
***

Di Lorong Pangsapuri, Perempuan itu

Aku kenal ia..
Perempuan yang membisu rangkuli jejak hidup
Sudahlah banyak cerita sia-sia
Dari sekian purnama ia tinggalkan rumah rapuhnya pada ranah kecil yang tlah kehilangan rindu buat ia pulang
Aku kenal ia
Pada keterasingan
Dari keterbuangan aku hingga ranggas di negeri berantah
Aku kenal ia
Seorang perempuan yang dongakkan dagu menjalani kerancuan nasib
Hidup yang menyerah di kubangg gelap
Atau seperti kunang-kunang yang melayang kitari malam, tanpa cahaya.
Aku kenang ia, kini
Perempuan yang sembunyikan pedihnya
Yang meredamkan suara isaknya
Yang membuka topeng rapuhnya, suatu malam di lorong pangsapuri kumal

***
Batu Sembilan, 2014

 

Biodata:
Ratna Ning lahir di Subang tabggal 19 september. Mulai menulis sejak tahaun 1994. Tyulisan pertamanya di muat di media massa remaja populer Kawanku th. 1994. Aktif jadi freeancer sampai tahun 2005. Sepat vakum karena sibuk bekerja, pada tahun 2013 kembali aktif menulis. Buku-bukunya terbit secara antologi dan indie. Ratna Nng sekarang mengasuh rubrik sastra dan budaya di website Subang.

Baca juga Cerpen Ratna Ning

[Cerpen] Si Janin

Oleh: Zainuddin KR     

         Mestinya pada usia lima bulan si janin tak perlu resah atau bimbang memikirkan masa depannya. Sebab Tuhan , Yang Maha Rahman-Rahim telah memberikan jaminan pada setiap makhluk ciptaanNya. Artinya tidak dibeda-bedakan. Dan segala wewenangNya diserahkan sepenuhnya kepada para malaikat, dengan tugas masing-masing yang harus dipatuhi. Namun entah kenapa sang malaikat yang baru saja meniupkan roh pada si janin itu tiba-tiba tak berdaya. Ia merasa iba ketika menatap daging yang mulai bergerak-gerak pada rahim sang perempuan itu.

Malaikat itu tak mampu lagi terbang ke langit tingkat tujuh, dimana tempat bersemayamnya Loch al Mahfudz. Sayap-sayap yang telah diberikan Tuhan  untuk segala tugasnya bagaikan hilang fungsi.

“Cepatlah terbang sana, segeralah singgah di Loch al Mahfudz, ulislah  nasib saya di sana sesuai janji Tuhan!” ujar si Janin setengah berteriak, dan teriakan itu membuat malaikat semakin gemetar. Kewenangan Tuhan yang diberikannya merasa tidak mutlak.

“Pergilah secepatnya sebelum didahului para setan yang selalu ingin merontokkan daunan pohon itu!” tegas si janin merasa tak sabar, ketika dilihatnya malaikat itu bersimpuh pada dirinya. “Jangan bersimpuh pada saya, sujudlah pada Tuhan dan patuhi perintahNya. Segeralah ke sana, tuliskan nasib saya! Tuliskan nasib saya!”

“Demi Tuhan, nasibmu mutlak milikNya,” malaikat itu berucap datar, ”Aku diutus cuma memberimu gerak dari kebekuan. Coba tanyakan pada bapakmu, ada maksud apa dia menampung spermanya di rahim ibumu.”  Lalu malaikat itu merangkak sebisanya. Keluar dari rahim perempuan yang mengandung si Janin.

Dan perempuan ibunya si janin itu bergegas menyambut sang malaikat dengan wajah sumringah. Ia tergopoh-gopoh memanggil-manggil suaminya yang tengah rapat di bale desa, membahas soal pembebasan tanah warga.

“Akang, pulang dulu Kang,” rujuk perempuan itu pada suaminya. Semua mata yang ikut rapat itu menoleh. “Biarlah tak usah dipikir tentang ganti rugi yang tak seberapa itu,Kang. Tak ada nilainya uang sedikit di zaman sekarang dibanding tamu yang bertandang ke rumah kita. Malaikat..Kang!”

Suami perempuan itu terbelalak. Demikian juga Pak Lurah yang saat itu memimpin rapat pun melotot. Kaget dan juga campur kesal karena konsentrasi rapat sesaat buyar karena kedatangan perempuan itu. Walau mangkel, lelaki itu melangkah mendekati istrinya yang mengajak pulang.

“Lihatlah Kang, malaikat itu kemari membawa kabar baik,” kata perempuan itu sesampainya di rumah, mengarahkan pandangan suaminya di ruang tamu. Namun suaminya tak melihat siapa-siapa di sana.

“Si Janin sudah hidup Kang, sekarang sudah bisa bergerak-gerak. Dia sudah minta dibikin rujak. Sudah minta ditingkebi. Ya..sesuai adat kita, setiap usia Janin lima atau tujuh bulan harus ditingkebi. Kata ajengan acara tingkeban atau kekeba, adalah merupakan bukti ucapan terimakasih kita kepada Tuhan yang akan memberi kita anak. Ya..tasyakuran begitu.”

Lelaki itu menatap istrinya dengan tajam. Ia khawatir, bahwa istrinya telah terkena gangguan jiwa akibat akan terjadinya penggusuran.

“Ini lho tuan, suami saya masih tak percaya dengan apa-apa yang telah terjadi. Padahal dia seharusnya gembira dengan kabar baik ini.”

Malaikat yang diajak bicara itu tiba-tiba menghilang dari hadapan perempuan itu. Ia tak sanggup, tak tega, atau mungkin tak merasa perlu menyampaikan perihal yang dialami oleh Janin dalam rahim perempuan itu.

“Hah, malaikat itu telah pergi Kang!?” kata perempuan itu merasa kaget. Lalu ia segera memburunya, tapi tidak tahu kemana malaikat itu perginya. Hanya saja sebelum terbang ia sempat mendengar pesan; “si Janin sekarang urusan kalian”.

Perempuan itu terus melangkah. Tapi tidak ada sesuatu pun yang ditemuinya dalam perjalanan itu. Pohon-pohon sudah ditumbangkan, rumputan sekeliling pada mengering, dangubuk-gubuk telah rata dengan tanah. Tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu yang menghadang langkahnya, ia berdiri tegak di depan hidungnya. Dari sayup-sayup suaranya yang terdengar, menandakan bahwa sesuatu itu adalah bisikan jaman, yang sngaja dilahirkan.

“Arahmu menuju jalan buntu”, kata buldoser.

“Saya mau mencari malaikat, adakah ia melewati jalanan ini?” kata perempuan itu.

“Saya tak kenal malaikat, tugas kami hanya melaksanakan pembangunan yang rasional,” jawab besi baja.

“Malaikat dan Tuhan adalah urusan orang yang kalah perang, atau gagal membentuk dirinya dengan akal, lalu mereka berhamburan mencariNya untuk mengadukan nasibnya,” tukas beton-beton sembari mengusir perempuan itu.

Perempuan itu mengalihkan langkahnya, ia menuju jalanan lain. Di jalan ini, jalan yang baru pertamakali dilaluinya. Banyak sekali peristiwa yang dijumpainya. Ayam, kambing, kerbau, sapi dan binatang-binatang ternak lainnya berbaris memadati jalan.

“Kalian mau kemana?” tanya perempuan itu pada ayam.

“Kami mau mencari pasar,” jawab kambing.

“Tuan-tuan kami pada sibuk dengan dirinya sendiri. Kami tidak sempat dirawat, tak dipiara secara wajar. Dan kandang-kandang kami sengaja dimusnahkan,” sapi menyela, “tapi kami telah ditakdirkan bangsa hewani. Menentang tuan berarti kami binasa dan akan dibantai,” lanjutnya kemudian, “Terpaksa akhirnya kami bersepakat menjual diri ke pasar-pasar.”

**

Suara adzan menggema dari atas munara masjid. Perempuan itu termangu memandang langit. Di ufuk barat tampak warna kuning kemerah-merahan. Berarti sudah waktu magrib. Di saat itu, seketika perempuan itu menemukan malaikat, bahkan malaikat itu memapahnya menuju Tuhan. Setelah mengambil air wudhu di kali kecil, lalu shalat dan membaca wirid. Tubuhnya terasa hangat

dalam dekapan Tuhan. Tapi tiba-tiba ketika ia ingat pada suaminya yang ditinggal di rumah tanpa pamit,  mendadak seluruh tubuhnya menggigil. Peluh dan keringat mengucur. Lalu perempuan itu terjatuh. Pingsan.

Warga berdatangan, mereka menyambut dengan rasa gembira. Suaminya sibuk menyambut para tamunya, mengatur ini dan itu. Perempuan itu pun seketika menguakkan bibirnya, meski ada kecemasan menggurat di dalam batinnya. Tersenyum. Si Janin yang baru saja terlahir dari rahim sang ibu menangis sekeras-kerasnya. Warga masyarakat yang menyambut kelahiran itu tak ada sedikitpun yang memahami kenapa bayi itu menangis. Termasuk juga ibu bayi itu, karena sewaktu hamil bulan kelima terlalu bangga, sewaktu kedatangan malaikat, ia terlalu bangga dan bahagia atas

kehamilannya. Hingga ia tak sempat memikirkan bagaimana nasib si Janin kelak. Malaikat pun tak sempat memberikan keterangan padanya. Ayah si bayi apalagi, suami perempuan yang melahirkan bayi itu sama sekali tak mengerti apa yang dimaui anaknya. Lelaki itu meng-adzani bayi itu, dan si bayi meloncat keluar dari raganya, ia membiarkan dirinya menangis sekerasnya dan ditonton oleh warga masyarakat.

Si Janin, bayi itu berlari menghambur mencari malaikat. Malaikat yang bertugas meniupkan roh dulu, sedang sibuk berdiskusi pada sesama malaikat lainnya. Mereka membahas sekitar masalah dan ikhwal mengenai tulisan nasib sang Janin – yang hingga kini sudah terlahir—belum tercatat dalam daunan pohon yang berada di Loch al Mahfudz, karena daunan itu telah rontok oleh para setan yang biadab. Mereka tidak menghendaki janin-janin yang lahir kelak dapat dengan leluasa menghendaki nasibnya sendiri.

“Mana tulisan nasib saya..! Mana tulisan nasib saya..!” teriak si bayi sebelum memasuki ruang rapat para malaikat, “Mana hak-hak saya, mana warisan saya..!” lanjutnya.

“Wahai Tuhan, siapa yang telah merampas warisan yang Kau berikan kepada saya. Dan, kalian para malaikat; kembalikan lagi saya kepada asal-muasal saya jika kalian tak sanggup mengembalikan hak-hak saya.”

Hiruk-pikuk suasana rapat jadi kacau, diskusi pun dihentikan.

“Baiklah, karena asalmu dari tanah, akan aku kembalikan lagi kepada tanah,”kata salah satu malaikat.

“Tidak, kerna ia berasal dari air, akan aku kembalikan kepada air,” kata malaikat yang lain.

“Akan aku kembalikan seperti udara, kerna ia berasal dari udara,” kata malaikat satunya lagi.

“Aku yang lebih berwenang mengembalikan dirinya menjadi api kembali, kerna ia diciptakan dari api,” kata malaikat ke-empat.

“Terserah kalian, pokoknya saya tak mau menyaksikan dunia yang retak-retak. Tuhan juga berfirman; manusia agar dipatri tetap utuh. Tapi siapa yang mau jadi tukang las di jaman kini, maka

kembalikan lagi saya kemana saja sebagaimana dulu kalian mengambil asal-muasal kejadian saya”.

Para malaikat itu sibuk. Masing-masing berusaha mengembalikan kepada asal-muasal sang bayi. Tapi dengan penuh ketakutan dan keletihan, malaikat pertama gagal mengembalikan si Janin

pada tanah. Sebab semua tanahnya sudah tergusur, dan menjadi hijau ranau serta terdapat banyak lubang-lubang setan di dalamnya.

Malaikat kedua, kembali dengan wajah keruh dan tubuh lesu tanpa membuahkan hasil. Ia tidak tega membiarkan si Janin terhanyut dan tenggelam ke dalam sungai berlimbah. Dan dengan tergopoh-gopoh malaikat ke-tiga kembali tetap bersama si Janin. Katanya; kini tiada lagi udara yang bersih , polusi pabrik  industri telah dengan seenaknya terbang mengotori angkasa. Berikutnya, malaikat yang ke-empat, melaporkan bahwa api kini telah seenaknya membakar gubuk-gubuk dan membiarkan para penghuninya kehilangan tempat berteduh. “Maka, tidak aku kembalikan si Janin pada api.”

“Baiklah, kalau kalian tidak sanggup mengembalikan kepada asal-muasal terjadinya saya, biarlah saya akan memilih nasib saya sesuka hati. Jangan salahkan jika terpaksa saya membantai para perampok nasib-nasib saya dan janin-janin lain setelah saya.”

Si Janin perlahan melangkah menuju hidup yang buram. Dan sejenak ia berhenti menundukkan kepalanya. “Tuhan, ijinkanlah saya hidup sengsara!@

(Catatan: Cerpen karya Zainuddin Kr ini pernah dimuat di SKM Swadesi tahun 90-an dan diketik ulang oleh admin. Karenanya mohon  maaf jika ada pengetikan maupun susunan paragraf yang tak semestinya)