Arsip Kategori: Wisata

Janggala Body Rafting – Green Canyon Pangandaran

Dengan menyusuri sungai green canyon dan melihat keindahan dinding dan ngarainya yang masih alami punya daya tarik tersendiri dan berakhir di green canyon gate (Cukang Taneuh) dilanjutkan dengan memakai perahu ketempat semula dan perjalanan yang sungguh mengagumkan, apalagi bagi pecinta alam dan pencinta olahraga air.

Karena perjalanan akan ditempuh melalui bukit yang terjal dan mengarungi sungai dengan cara berenang (Body Rafting) sekitar 3-4 jam perjalanan. Sesekali harus memanjat tebing jika debit airnya tinggi dan tidak mudah dilalui, sepanjang 5 KM dari hulu sungai menuju dermaga obyek wisata Green Canyon.

Jangan Kuatir karena perjalanan sudah dilaksanakan beberapa kali dan dengan guide yang handal dan tahu medan ditambah dengan safety gear yang memadai (Lifevest, Helmt, Rope) dan dilindungi oleh asuransi terpercaya.

Janggala Body Rafting Community memiliki paket Body Rafting di sungai cijulang Green Canyon, Kab.Pangandaran, Jawa Barat

Bagi Anda yang ingi mendapatkan pengalaman Adventure yang baru dan dijamin seru dan asik banget dan bisa memicu adrenalin tinggi anda tentu dengan didukung kemampuan berenang yang memadai bisa disalurkan disini . Untuk anda yang ingin santai dengan Body Rafting sambil melihat pemandangan dan menghirup udara segar pun bisa mengikuti sambil menikmati pesona luar biasa, perpaduan antara sungai, lembah hijau dan hutan lindung.
Jika Anda Berminat Hubungi Kami :

Contact Person :

Eriek HP : 085 223 64 66 22
Email : janggalagreencanyon@ymail.com
erikharpan@yahoo.co.id

Asta Tinggi, Membaca Sumenep Tempo Dulu

Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas).

Setiap daerah tentu punya tempat sejarah yang menjadi kebanggaan tersendiri, untuk ditawarkan sebagai menu primadona dalam kemasan wisata. Misalnya wisata religi yang kaitannya tak lepas dari sejarah keagamaan atau penyebaran agama sebelumnya.  Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi di Indonesia pendapatannya dihasilkan oleh wisata religi, seperti wisata wali lima yakni, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Derajad dan SunanBonang, selain itu Asta Tinggi salah satu wisata religi yang ada di Kabupaten Sumenep yang banyak dikunjungi oleh turis Nusantara maupun dari Mancanegara.

Asta Tinggi letaknya di ujung timur pulau Madura itu adalah sebuah tempat pemakaman raja-raja Sumenep. Bahkan oleh Badan Pengembangan Pariwisata Daerah (Baparda) Sumenep, Asta Tinggi dimasukkan dalam “Tri Tunggal” yang mempunyai kaitan erat baik segi kulultural maupun historis setelah dua tempat lainnya seperti Masjid Jamik dan Keraton Sumenep. Ketiga tempat yang menarik itulah paling banyak dikunjungi wisatawan, baik asing maupun domestik. Juga, dari ketiga obyek itu pula kita bisa meneropong secara jelas Sumenep tempo dulu.

Riwayat daerah yang kesohor penghasil garam itu memang cukup unik, dimana penduduknya berawal dari percampuran keturunan berbagai suku bangsa. Selain dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga berbaur (menikah) dengan orang-orang Cina, Arab dan Bali. Masuknya orang Jawa bermula sebagai perantau yang menjadi nelayan di laut, menurut catatan sejarah, itu terjadi sekitar abad ke-8 Masehi. Semula perahu mereka banyak mendarat di pantai barat Madura, menelusuri Kamal, Bangkalan, Sampang dan sekitarnya. Lama-kelamaan mereka menyebar hingga sampailah mereka di pantai timur, kawasan sumenep.

Sumenep dipimpin Adipati Aria Winaraja, setelah diutus raja Singhasari, Kertanegara pada tahun 1269. Tepatnya pada 31 Oktober 1269, sekaligus merupakan tonggak sejarah pertama berdirinya pemerintahan di Sumenep, dan tanggal tersebut telah dijadikan Hari Jadinya Kabupaten Sumenep. Dalam pada itu, tiba-tiba serdadu Tar Tar dari Cina mengadakan ekspansi ke Jawa, tetapi berhasil ditaklukan Raden Widjaya, yang kemudian menjadi raja Majapahit pertama. Selain yang pulang ke negerinya, tak sedikit pula serdadu Cina yang terdampar di Madura.

Hasil gambar untuk keraton sumenep maduraKraton Sumenep, merupakan warisan budaya Sumenep dari masa lampau, yang masih ada hingga saat ini dan telah berkembang menjadi sebuah Museum yang bisa bebas

Perkembangan kemudian terjadilan percampuran kekerabatan. Para serdadu asing bermata sipit itu menyunting para gadis Sumenep, hingga membuahkan keturunan Madura-Cina. Percampuran selanjutnya terjadi pada sekitar abad 14, yakni percampuran orang Sumenep dan Arab. Pada saat itu agama Islam masuk ke Madura, penyebarannya oleh Sunan Giri dan Sunan Padusan yang keturunan Arab. Karena banyak orang Madura termasuk Sumenep yang kawin dengan orang-orang Arab, penyebaran Islam itu tak begitu sulit, hingga rara-raja di Madura pun berhasil dipengaruhi.

Dan ketika orang-orang dari Kerajaan Bali –yang dipimpin oleh Kebo Ijo, menyerang Madura, ternyata dapat dipatahkan oleh Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. Dengan membakar dan menghancurkan perahu milik pasukan itu di Pelabuhan Dungkek, mereka –orang-orang Bali– tidak bisa pulang ke negerinya. Mereka menyelamatkan diri ke Desa Pinggirpapas dan Kebun Dadap, Kecamatan Dungkek.

Sampai sekarang walau mereka berasimilasi dengan penduduk setempat, tapi masih tetap mempertahankan adat-istiadat budaya Bali –seperti upacara keagamaan yang disebut Nyadar. Upacara yang merupakan tanda terimakasih kepada Tuhan menurut kepercayaannya dengan penemuan pemimpin orang Bali, yaitu Anggosuto. Orang inilah yang pertama kali menemukan bagaimana cara membuat garam. Maka, sejak itulah orang-orang Bali yang berada di Pinggirpapas dapat hidup dari bertani garam. Dan ternyata produksi garam di Madura sempat memenuhi kebutuhan garam dunia.

Dalam perkembangan sejarahnya, Sumenep memang telah menjadi suku bangsa yang homogen. Ia pun berkembang berbeda sama sekali dengan suku bangsa yang menjadi sumbernya. Kalaupun kini masih ada pengaruh dari sumber keturunannya, maka hal itu hanya tampak dalam bentuk jasmaniahnya saja. Sejak awal sejarahnya, Sumenep menunjukkan kemampuan tinggi untuk menyesuaikan segala apa yang masuk dari luar dengan apa yang diperlukan sendiri.

Sekalipun berhasil menyesuaikan kebudayaan Arab, Cina, Jawa dan Bali dengan kepentingannya sendiri, pengaruh itu tidak dapat dihilangkan. Maka tak heran hingga kini kesenian hadrah, gambus, zamrah yang bersumber dari kebudayaan Arab itu terdapat sampai di pelosok desa dan sudah menjadi kebudayaan Sumenep. Demikian pula pengaruh Cina pada arsitek bangunan keraton, mesjid dan bangunan-bangunan tua yang ada di Sumenep.

 

Masih terawat
Peninggalan orang-orang penting dalam sejarah Sumenep itu sampai sekarang masih terawat dengan baik, termasuk bekas Kerajaan/Kadipaten Sumenep, lengkap dengan bangunan-bangunan aslinya. Tahun 1762, dilakukan pemugaran yang dilakukan Panembahan Sumala yang bergelar Aria Natakusuma I, adipati Sumenep ke-31 (1762-1811). Ia mengangkat arsitek Cina bernama Ping Ong Eh sebagai staf ahli. Karena itu tidak heran jika bangunan-bangunan keraton sumenep mempunyai corak budaya Islam dan Cina, selain budaya Eropa.

Begitu pun dengan peninggalan lain seperti Majid Jamik Sumenep. Masjid yang mampu menampung jamaah tak kurang dari 10.000 orang, ini memang penuh keagungan budaya. Sepintas, kalau kita ada di depan masjid, akan mengira bangunan kelenteng (tempat beribadah orang-orang Tionghoa). Kenapa? Sebab, bentuk bangunan yang kerap dilongok wisatawan dan dibangun tahun 1763 pada masa pemerintahan Panembahan Sumala ini, menyiratkan goresan seni arsitektur Islam-Cina. Dan wajar saja, karena bangunan ini diarsiteki oleh arsitek Cina, yakni Ping Ong Eh itu.

Asta Tinggi
Rasanya tak begitu lengkap menelusuri Tanah Putri Koneng ini jika tidak berkunjung ke Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas). Kompleks makam tua yang berada di puncak sebuah bukit, sekitar 2 km dari Kota Sumenep ini dibangun pada tahun 1700. Mencerminkan perpaduan budaya Jawa, Islam, Cina dan Eropa Barat Daya (Portugis). Pintu gerbang pemakaman, misalnya, jelas menunjukkan budaya Eropa. Sebagai ciri khasnya, ada mangkok-mangkok yang mirip piala sebagi hiasan puncak pintu gerbang. Tembok tinggi dan megah yang melingkari pemakaman sekitar 2 kilometer persegi, jelas menunjukkan guratan seniman Cina. Sementara, hampir di semua bangunan inti (cungkup-cungkup) direkadaya budayawan Sumenep Islam.

Hasil gambar untuk asta tinggi sumenep dilihat dari sampin

Suasana di dalam tembok, tampak dari luar mengesankan tempat peristirahatan masa silam, karena terdapat beberapa bangunan dan kubah yang anggun menjulang tinggi. Namun, setelah melongok ke dalam kita dapat menyimak ribuan nisan berjajar rapi, dan menandakan tempat ini sebagai peristirahatan terakhir. Makam di sini diatur sesuai dengan kedudukan dan jabatan yang dimakamkan. Kompleks ini teramat megah dibanding lainnya, karena dihiasi beberapa gerbang dengan arsitektur yang khas.

Dalam kompleks tersebut terdapat tiga kubah. Kubah pertama berisi makam Pangeran Pulang Jiwa (1626-1644), Pangeran Anggaradipa serta beberapa kerabat lainnya termasuk makam yang belum dikenal. Kubah kedua berisi makam Pangeran Jimat (1731-1744), Pangeran Wiranegara, Ratu Ari, dan sebagainya. Sedang kubah terakhir berisi makam Tumenggung Tirtanegara (1750-1762), Raden Ayu Tirtanegara, Raden Aria Panjeneh dan delapan makam lainnya.

Kubah-kubah tersebut bentuknya memang masih sederhana, seperti rumah-rumah biasa. Lain dengan kubah di area utara, yang berisi makam Panembahan Sumala Asirudin (1762-1811), Sultan Abdurahman Pakunataningrat (1811-1854), Panembahan Mochamad Saleh atau Panembahan Natakusuma II (1854-1879), Pakunataningrat II (1879-1901), dan R.A. Prataningkusuma. Bentuk kubah cukup unik, demikian pula gerbangnya yang megah. Pesarean Asta Tinggi yang persisnya berada di Desa Kebon Agung itu sampai sekarang masih dianggap keramat dan banyak diziarahi orang dari berbagai daerah di tanah air, terutama sekitar Idul Fitri dan bulan Maulud. (beberapa sumber)

Mengenal Pemandian Kaki Gunung Pandan Aceh Tamiang

 
 Objek wisata pemandian alam di Kaki Gunung Pandan yang terletak di ‎Kampung Selamat, Dusun Pandan perlahan makin terkenal dan ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Aceh.
Objek wisata yang memang terletak jauh dari kota ini, tepatnya di Kecamatan Tenggulung, Kabupaten Aceh Tamiang, telah berdampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat.

Tempat pemandian yang dikenal sebagai Pemandian Gunung Pandan ini sangatlah asri, karena air pegunungan mengalir bersih dan segar. Banyak pengunjung dari berbagai penjuru daerah datang ke Pemandian Gunung Pandan ini.

Tidak hanya masyarakat Aceh yang datang untuk menikmati keindahan alam di Gunung Pandan, pengunjung dari Kota Medan ramai terlihat..


Menurut Tamrin Ketua Pengelola tempat pemandian, lokasi rekreasi ini dirintis oleh masyarakat setempat pada tahun 2013.
Dan pada saat itu dinas pariwisata memberi bantuan berupa kamar ganti, mushola, dan pondok tempat para pengunjung beristirahat.

Tetapi masih membutuhkan perhatian dari pemerintah untuk dapat membangun tempat pemandian yang lebih baik.

Ditambahkan Tamrin, penahan air atau dam yang rusak perlu untuk diperbaiki dan juga belum adanya jembatan penyeberangan, serta sebagian jalan menuju tempat pemandian belum di aspal.

Masyarakat mengakui sangat terbantu dengan adanya tempat pemandian ini, sehingga masyarakat dapat meningkatkan perekonomian dan dapat mengurangi pengangguran.

“Untuk pekerja ada 50 orang termasuk tim SAR dan para pengaman parkir, serta masyarakat dapat berjualan makanan di tempat itu, sangat membantu sekali,” ujar Tamrin saat ditemui wartawan WartaKepri.co.id, Kamis (29/6/2017) lalu.

Tamrin juga mengatakan, pengunjung datang setiap harinya, pada hari libur atau pun hari besar bisa mencapai 2.000 – 4.000 orang pengunjung.

” Maka dari itu sangat diharapkan perhatian lebih dari pemerintah untuk bisa memperindah alam wisata yang sudah di garap oleh masyarakat setempat, menjadi tempat wisata yang mendunia,” tutup Tamrin pada Ria dari Wartakepri.

Sumber Air Panas Kaloy

catatan: Indra Nasution  – tamiangtraveller

Bagi masyarakat Tamiang sendiri mungkin sudah tidak asing lagi dengan objek wisata yang satu ini karena memang sempat jadi buah bibir lantaran keunikannya. Mereka (pengunjung) banyak yang terheran-heran, bagaimana mungkin ada sumber air panas di daerah Kaloy, sementara tidak ada Gunung berapi disana. Tetapi tidak usah diragukan lagi, pemandian air panas di daerah kaloy ini memang ada.

Pemandian air panas kaloy ini berlokasi di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang. Kami mencoba merekam suasana Wisata alam air panas desa Kaloy ini dari Kuala Simpang dengan harus menempuh sekitar 2 jam perjalanan. Jarak antara pusat kota “pulo tiga” menuju objek wisata ini kurang lebih 15 Km dengan kondisi jalan berbatuan terjal dan naik turun bukit. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kondisi jalan menuju wisata ini sudah sedikit membaik karena lokasi air panas ini sejalan dengan pabrik pemecah batu yang di bangun di pedalaman desa kaloy sehingga akses jalan pelan tetapi pasti mulai diperbaiki. Tetapi mungkin masih butuh waktu lama bagi masyarakat kaloy untuk berharap jalan menuju lokasi wisata ini di aspal.

Jalan menuju Air panas kaloy ini sejalan dengan jalan menuju “Kuala Paret”, jadi sangat disayangkan jika kamu pergi ke Kuala Paret tetapi tidak singgah sebentar berendam melepaskan penat badan di sumber air panas ini. Rugii.iiii rugii……

Saran :

” Jika ingin ke kuala Paret, lebih baik pergi pada pagi hari jadi kamu punya waktu untuk singgah sebentar ke sumber air panas Kaloy, kemudian menikmati pemandangan alam di Goa Kalamuning karena kedua lokasi ini sebelum Kuala Paret”.

Setiba kami disana memang tidak tampak ada masyarakat sekitar yang berjualan dan menjaga parkiran seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Yang ada hanya beberapa orang pekerja proyek pembuatan jalan.

Tempat air panas ini memang sangat indah karena kita disuguhkan dengan pemandangan perbukitan yang alami dan aliran sungai kaloy di bawahnya. Pemandian Air Kaloy ini tampak seperti alur kecil yang airnya mengalir deras dari celah-celah batuan cadas hingga ke sungai Kaloy. Nah..loh  air yang mengalir dari batuan cadas ini hangat dan bau belerang sangat terasa menyengat, terlihat memang adanya belerang di endapan aliran sumber air panas ini.

Sayangnya objek wisata yang satu  ini tampak dibiarkan seperti apa adanya, sehingga terkesan tidak ada upaya untuk membuat cagar wisata alam. Kami malah harus membuat kolam sendiri yang disusun dari batu-batu sungai untuk berendam di air panas ini.

Mandi di mata air panas alami bermanfaat mengembalikan kesegaran tubuh, meregangkan otot yang tegang, dan membuat tubuh lebih rileks. Dan memang Setelah beberapa menit berendam badan memang terasa lebih ringan tetapi tubuh berkeringat. Ditambah lagi dengan lokasinya yang pure alami dengan eksotisnya pemandangan alam. Jadi sangat disayangkan jika sumber air panas ini tidak dikelola dengan baik oleh Pemda Aceh Tamiang.

Nah ini dia serunya, karena sumber air panas ini berdekatan dengan sungai Kaloy setelah berendam beberapa menit kami langsung berenang-renang dan jump clift di aliran sungai. Jika musim kemarau, air sungai kaloy ini menjadi lebih bersih dan berwarna kebiru-biruan.

Setiap akhir pekan atau liburan, tempat ini selalu ramai di datangi wisatawan local Walaupun dengan kondisi sumber air panas kaloy yang tidak dikelola seperti itu. Mudah-mudahan Pemda Aceh Tamiang dapat segera mengelola air panas ini karena bukan hanya menambah PAD, tetapi juga masyarakat yang sekitar sangat terbantu dengan banyaknya wisatawan yang datang ke lokasi ini[]

Home
About Me  Tamiangtraveller.com

Hi, nama saya Indra Nasution. Saya tinggal di Aceh Tamiang, Indonesia. Saya seorang guru yang senang traveling dan berbagi pengalaman dan skill yang saya punya. saya suka mencari potensi wisata alam dan pergi ke tempat-tempat wisata yang belum pernah dipublikasikan orang sebelumnya karena banyak hal yang tak terduga bisa dinikmati dari perjalanan traveling saya selama ini. 

 

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah taman nasional di Jawa Timur, Indonesia, yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman yang bentangan barat-timurnya sekitar 20-30 kilometer dan utara-selatannya sekitar 40 km ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha. Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya ±6290 ha. Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 meter.

 

Sejarah

Sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, daerah Tengger merupakan kawasan hutan yang berfungsi sebagai cagar alam dan hutan wisata. Kawasan hutan ini berfungsi sebagai hutan lindung dan hutan produksi. Melihat berbagai fungsi tersebut, Kongres Taman Nasional Sedunia mengukuhkan kawasan Bromo Tengger Semeru sebagai taman nasional dalam pertemuan yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, pada tanggal 14 Oktober 1982 atas pertimbangan alam dan lingkungannya yang perlu dilindungi serta bermacam-macam potensi tradisional kuno yang perlu terus dikembangkan. Pada tanggal 12 November 1992, pemerintah Indonesia meresmikan kawasan Bromo Tengger Semeru menjadi taman nasional.

Kekayaan Flora & Fauna

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun antara lain cemara gunung, jamuju, edelweis, berbagai jenis anggrek dan rumput langka. Pada dinding yang mengelilingi TN Bromo Tengger Semeru terdapat banyak rerumputan, mentigi, akasia, cemara, dll.

Ranu Regulo pada tahun 1930-an

Satwa yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Paradoxurus hermaphroditus), rusa (Rusa timorensis), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus javanicus); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

Akses

Taman nasional ini adalah salah satu tujuan wisata utama di Jawa Timur. Dengan adanya penerbangan langsung Malang-Jakarta dan Malang-Denpasar diharapkan jumlah kunjungan wisatawan asing maupun domestik akan semakin meningkat. Selain Gunung Bromo yang merupakan daya tarik utama, Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Meski demikian untuk sampai ke puncak Semeru tidaklah semudah mendaki Gunung Bromo dan para pendaki diharuskan mendapat izin dari kantor pengelola taman nasional yang berada di Malang.

Penggemar hiking disarankan untuk mengambil rute dari Malang karena bisa menikmati keindahan lautan pasir lebih panjang. Start point dapat dimulai dari Ngadas yang merupakan desa terakhir yang berada di dalam kawasan taman nasional serta tempat untuk melengkapi perbekalan terutama persediaan air karena setelah ini tidak akan dijumpai sumber air.

Gambar terkait

{Sumber utama: Wikipedia bahasa Indonesia}

Mengenal Bromo, Sejarah dan Obyek Wisata

Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu) atau dalam bahasa Tengger dieja “Brama”, adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Sejarah letusan

Selama abad 20 dan abad 21, Gunung Bromo telah meletus sebanyak beberapa kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2015-sekarang.

Sejarah letusan Bromo: 2015-2016, 2011, 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775

 

Bromo sebagai gunung suci

Bagi penduduk sekitar Gunung Bromo, suku Tengger, Gunung Bromo / Gunung Brahma dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

 

Rute

Perjalanan melalui pintu barat dari arah pasuruan yaitu masuk dari desa Tosari untuk menuju ke pusat objek wisata ( lautan pasir )terbilang berat karena medan yang harus ditempuh tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa ini dikarenakan jalan turunan dari penanjakan kearah lautan pasir sangatlah curam, kecuali kita menyewa jip yang disediakan oleh pengelola wisata, jadi wisatawan banyak yang berjalan kaki untuk menuju ke pusat lokasi. Namun apabila kita melalui pintu utara dari arah sebelum masuk probolinggo yaitu pada daerah Tongas, kita akan menuju desa cemoro lawang sebelum turun menuju lautan pasir maka tidaklah terlalu berat dikarenakan turunan dari lerengnya tidaklah terlalu curam sehingga sepeda motor pun dapat melaluinya. Kebanyakan para wisatawan yang ingin mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Namun bila anda ingin menyaksikan sunrise yang sering ditampilkan di foto – foto, yang banyak difoto dari puncak penanjakan maka anda lebih praktis melewati jalur pintu barat.

Namun bila anda mempunyai jiwa petualang maka anda dapat mencoba jalur perjalanan yang jarang dilalui wisatawan. Yaitu melalui kota Malang anda masuk melalui kota kecil tumpang kemudian masuk kota pronojiwo lalu akan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini anda akan menjumpai pertigaan jalan di mana kearah selatan akan memasuki ranu pane ( kearah gunung semeru ) dan kearah utara anda memasuki lautan pasir bromo yang berada di punggung gunung bromo sebelah selatan. Pertigaan tersebut bernama Jemplang. Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari gunung bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu curam dan dapat dilalui sepeda motor, namun memerlukan jiwa petualang karena jalurnya yang masih jarang dilewati dan tidak ada satupun persinggahan maupun rumah penduduk. Kita akan benar- benar disuguhkan dengan perjalanan yang sangat menantang. Namun anda akan diganjar dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang dilihat wisatawan, yaitu padang ruput sabana dan bunga yang sangat luas berada dibalik Gunung Bromo. Sungguh pemandangan yang berkebalikan pada sisi Utaranya yang gersang dan berdebu. Namun perlu diingat, sebaiknya jangan melalui jalur ini pada malam hari dan atau dalam cuaca yang berkabut. Jalur tidak akan terlihat dalam kondidi seperti ini.

Berkas:Mtbromo.jpg

Kompleks pegunungan di Kaldera Tengger saat matahari terbit. Gunung Bromo adalah kedua dari kiri, kawah lebar, berasap

 

Lautan pasir adalah andalan wisata dari gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita dapat melihat padang pasir dan rerumputan yang luas. Sedangkan yang paling ditunggu dari gunung bromo adalah sightview ketika matahari terbit dan terbenam karena memang akan kelihatan jelas sekali dan sangat indah. Walaupun perjalanan ke Bromo sangat berdebu, tetapi tidak terasa, karena keindahan yang disuguhkan benar-benar luar biasa.

Berlibur menuju bromo dapat dibilang praktis bila anda menyukai tipe traveller dan melalui jalur pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam jangka waktu 12 jam saja. tentunya bila anda memulainya dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan dapat dimulai dari jam 12 malam sehingga anda akan sampai sekitar pukul 2 – 3 pagi. Di mana anda dapat beristirahat dahulu sebelum melihat sunrise. Penjual makanan dan minuman di areal lautan pasir biasanya sudah buka menjelang pukul 3 pagi, sehingga anda sudah bisa bersiap – siap untuk melakukan pendakian melewati anak tangga puncak bromo yang terkenal itu. nikmatilah pemandangan sampai jam 9 pagi dan anda pun dapat kembali sampai di kota keberangkatan anda sekitar 12 siang. Sebagai catatan, apabila anda melakukan perjalanan diareal lautan pasir ditengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju areal parkir sekitar Pura anda dapat melihat patok dari beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju areal pura. Dan apabila anda tersesat jangan panik dan meneruskan perjalanan ( apalagi ditengah kabut tebal ), tunggulah karena biasanya mulai jam 2 – 3 pagi beberapa penunggang kuda sewaan melintas diarea lautan pasir.

(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Taman Wisata Lembah Hijau Bandar Lampung

 

Goa Jepang, Kisah Romusha dan Tentara Jepang yang Minta Maaf

Pangandaran, SPC – Benteng pertahanan Jepang masa Perang Dunia II yang berada di kawasan Konservasi Cagar Alam Pangandaran selesai dibangun selama 3,5 bulan pada dekade 1940. Namun begitu, penggunaan benteng tersebut tidak lama, karena seluruh tentara Jepang dipaksa harus menyerah kepada Sekutu setelah Kota Nagasaki dan Hiroshima dibom atom.

 Salah seorang pemandu wisata menunjukan bagian dalam Goa Jepang. Asepd Nurdin/SPC

“Menurut informasi yang saya terima goa jepang tidak lama digunakan karena tentara Jepang ditarik  dan kembali ke negaranya setelah menyerah kepada sekutu karena Kota nagasaki dan Hiroshima di Bom Atom,” ungkap Nuryanto, Pemandu Wisata Cagar Alam Pangandaran belum lama ini.

Seiring berjalannya waktu, Kawasan Cagar Alam Pangandaran dijadikan sebagai kawasan konservasi dan kawasan wisata sehingga keberadaan goa jepang dijadikan salah satu lokasi wisata sejarah.

“Karena Goa Jepang berada di kawasan konservasi Cagar Alam Pangandaran, akhirnya dimanfaatkan oleh warga lokal Pangandaran dijadikan tempat wisata sejarah,” tutur Nuryanto, seperti diberitakan SP.Com

Banyak manfaat yang didapatkan dengan adanya Goa Jepang tersebut, warga Pangandaran bisa mengetahui sejarah keberadaan Jepang di Pangandaran. Untuk mendapatkan informasi tentang sejarah goa Jepang para Pemandu mengumpulkan data-data dan mendatangi saksi hidup.

“Saksi hidupnya sekarang sudah mulai berkurang paling tinggal beberapa orang dan sekarang sejarah Goa Jepang harus digali selengkap-lengkapnya,” tuturnya.

Para Pemandu juga pernah kedatangan wisatawan yang berasal dari Jepang dan pernah bertugas menjadi tentara di Pangandaran. “Kita sempat ketemu sama orang jepang yang dulunya pernah menjadi tentara bertugas di Goa Jepang,” kenangnya.

Dirinya mengaku sempat menggali informasi dari tentara jepang tersebut tetapi informasi yang didapatkan tidak banyak. “Orang Jepang hanya bilang minta maaf kepada masyarakat Pangandaran yang sudah menjadi Romusha, hanya bilang seperti itu,” ungkapnya.

Saat ini Keberadaan Goa Jepang sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan yang datang ke Cagar Alam Pangandaran.  Para Pemandu dan Pemerhati sejarah di Pangandaran sangat berharap perhatian dari Pemerintah.

“Supaya goa jepang terus terjaga keberadaannya kita sangat berharap Pemerintah bisa melakukan yang terbaik untuk Goa Jepang,” pungkasnya.

Editor: Andi Nurroni/Sp.Com

Jogjogan – Tempat Wisata yang Lagi Hits di dekat Pangandaran

pergidulu.com – Dengan semakin banyaknya tempat wisata baru yang dibuka di sekitar Pangandaran, kadang-kadang sulit untuk tetap update dengan informasi tempat mana yang lagi booming, tempat mana yang baru buka dan tempat mana yang cocok buat foto-foto cantik.

Jogjogan Pangandaran Tempat Selfie

Nah…Jogjogan ini memenuhi semua kategori tersebut! Berlokasi cukup tinggi di daerah pegunungan sebelah utara Pangandaran dan lebih ke utara lagi dari Citumang, Jogjogan adalah nama yang diberikan untuk menyebut sebuah area yang mempunyai banyak aktivitas wisata untuk turis, seperti body rafting, Farikota Garden dan Wonder Hill.Jogjogan Pangandaran Wonder HillKebanyakan pengunjung ke daerah ini akan masuk lewat Wonder Hill dan kemudian dari sana bisa memilih aktivitas apa saja yang mau dilakukan. Wonder Hill memang sering dijadikan base untuk menikmati atrasksi di sekitar sana dan selain itu pemandangan dari sana juga sangat cantik.

Tentunya ada banyak spot bagus untuk selfie termasuk platform bambu ini…Jogjogan Pangandaran Pemandangan LuasDari sini bisa jalan kaki (atau naik kendaraan sendiri) ke Taman Farikota. Di sana kamu bisa jalan-jalan keliling taman dan melihat berbagai jenis tanaman yang ada di taman tersebut.

Body Rafting di Sungai Citumang juga jadi salah satu aktivitas wisata yang paling populer. Di sana ada banyak jenis paket yang ditawarkan. Namun yang paling bagus dari aktivitas ini adalah pemandangannya.Jogjogan Pangandaran Taman FarikotaSekitar jam 5 sore, ribuan kelelawar terbang keluar dari sebuah gua raksasa dan pemandangan tersebut bisa dinikmati dari Jogjogan. Jam 5 pagi para kelelawar tersebut kembali lagi masuk ke dalam gua. Jadi ada banyak sekali pengalaman seru yang bisa dinikmati di Jogjogan.

Cara Menuju Jogjogan

Jogjogan agak sulit dicapai, namun kami bisa coba sharing informasi petunjuk jalannya:

  • Jika datang dari arah Pangandaran, belok kanan dari jalan utama Pangandaran Batu Karas di belokan kedua (penting!!) yang memiliki tanda arah ke Citumang. Ini dikarenakan belokan pertama yang mengarah ke Citumang tidak nyambung dengan jalan ke Jogjogan, kecuali kalau kamu naik motor.
  • Ikuti terus jalan ini hingga kamu menemukan belokan ke Citumang. Di tanda belok tersebut kamu tetap lurus.
  • Dari sini ada banyak tanda petunjuk arah ke Jogjogan dan Wonder Hill. Ikuti saja petunjuk ini. Kebanyakan sih tinggal lurus terus dan kemudian beberapa kali belok kanan.
  • Kondisi jalan ke Jogjogan jelek. Tapi masih bisa dilalui menggunakan mobil 2WD biasa ataupun motor Scoopy (seperti kami :)).

Berikut ini adalah lokasi Jogjogan dalam google map.

Jogjogan
Desa Cintaratu, Parigi
Harga tiket: Rp. 10.000 per orang
Rafting: Rp. 125.000 (min 5 orang, sudah termasuk makan siang & transportasi hard top)

Sumber/link: https://www.pergidulu.com/jogjogan-pangandaran/

Unik, Begini Suasana Dalam Kereta Banjar-Pangandaran Waktu Itu

Peserta ajang Napak Tilas Jalur Kereta Banjar-Cijulang menyusuri Terowongan Juliana di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang beberapa waktu lalu.

Trisilo Hartono (52) masih mengingat betul suasana kereta Banjar-Pangandaran yang ia naiki beberapa kali pada tahun 1978-1979. Tri ingat benar, harga tiket dari Banjar ke Pangandaran, ketika itu sebesar Rp 125 untuk dewasa dan Rp 100 untuk anak-anak.

Hingga kini, Tri mengaku masih menyimpan potongan-potongan tiket yang ia pungut di sekitar peron tersebut. Tri sendiri menyebut, ia yang saat itu masih murid SMP tidak membayar karena memiliki kartu subsidi keluarga Perusahaan Jawatan Kereta Api/PJKA (kini PT KAI).

“Saat itu saya ingin tahu Pangandaran. Saya pergi sendiri,” kata warga Jalan Padjajaran, Kota Bandung ini kepada SP.Com ketika mengikuti napak tilas jalur kereta Banjar-Cijulang beberapa waktu lalu.

Kereta dari Banjar ke Pangadaran, Tri melukiskan, ketika itu menggunakan satu lokomotif dan tiga gerbong berwarna hijau. Satu gerbong paling belakang, kata Tri, adalah gerbong barang yang diubah menjadi angkutan penumpang.

Di dalam kereta, Tri menggambarkan, penumpang duduk di dipan kayu menyamping. Ia mengingat, ada tiga dipan memanjang, masing-masing di kiri, kanan dan di tengah. Penumpang yang duduk di bangku tengah, kata dia, bisa sembarang menghadap, entah ke kiri atau ke kanan.

Tri mengingat, ketika itu, penumpang dari arah Banjar sebagian membawa barang belanjaan, seperti mi instan. Jika berangkat subuh dari Banjar, kata dia, ada sejumlah nelayan yang hendak melaut di Pangandaran. Menurut Tri, mereka membawa kecrik atau heurap, alat tangkap jaring tradisional.

“Pedagang asongan ada, tapi enggak banyak dan mereka sangat ramah. Kalau di stasiun, subuh-subuh mereka jualannya pakai lilin atau lampu sentir,” kata Tri yang juga bergiat di Yayasan Kereta Anak Bangsa, lembaga yang mewadahi para penggemar kereta api.

Beberapa hal mengesankan yang tak pernah ia lupa, ia menceritakan, ketika itu, selepas terowongan Wilhelmina di Kalipucang, kereta bisa dihentikan di sembarang tempat. Saat itu, ia bahkan melihat penumpang membawa batang-batang pohon bambu dan menaikannya ke atas gerbong.

“Pas musim liburan, saya juga pernah dari Pangandaran ke arah Banjar duduk di atas gerbong, karena saat itu penuh sekali,’ ujar pria 52 tahun ini.

Tri mengaku merasa beruntung pernah merasakan naik kereta ke Pangandaran. Karena tak di sangka, jalur berpemandangan indah itu ditutup tak lama kemudian. Rute Pangandaran-Cijulang ditutup pada 1979 dan Jalur Banjar-Pangandaran menyusul dihentikan pada 3 Februari 1981.

Mendengar rencana reaktivasi jalur Banjar-Cijulang ini, Tri sangat senang dan tak sabar kembali merasakan naik kereta ke Pangandaran. Ia berharap, rencana tersebut tak sebatas wacana, tapi benar-benar terealisasi.

Rekan Tri, Intrias Herlistiarto dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Bandung, juga mengaku sangat antusias mendengar rencana reaktivasi jalur yang dianggapnya legendaris ini. Menurut Tri, reaktivasi jalur Banjar-Pangadaran atau dulu disebut jalur Ban-Ci, sangat menjanjikan, mengingat tingginya potensi ekonomi dan pariwisata di daerah Pangandaran.

“Banyak teman-teman saya orang Belanda yang tertarik datang ke Pangandaran. Mereka mengaku akan sangat suka kalau bisa naik kereta,” ujar Intrias kepada Andi Nuroni dari SP.Com.

Kereta Banjar-Cijulang, kata dia, bisa menjadi jalur wisata. Wisatawan dari arah barat, menurut Intrias, bisa singgah dulu ke Pangandaran sebelum melanjutkan ke Jogja atau Solo.

Turut menghadiri kegiatan, Kepala Daerah Operasi II Bandung PT KAI Saridal membenarkan, saat ini Pemerintah Pusat tengah merencanakan reaktivasi seluruh jalur kereta non-aktif, termasuk jalur Banjar-Cijulang.

“Kemarin pertamuan dengan Bu Menteri BUMN, dia berharap sebelum 2019 (jalur-jalur itu) sudah bisa digunakan,” kata Saridal.

Ia melaporkan, proses studi kelayakan atau feasibility study (FS) jalur Banjar-Cijulang sudah diselesaikan dan akan masuk pada tahap detil rancangan teknis atau detail engineering design (DED).

Untuk menyiapkan pengaktifan ulang atau reaktivasi, menurut Saridal, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan aset. Ia menyayangkan, kini, sebagian aset tanah PT KAI di jalur Pangandaran-Cijulang dikuasai warga.

Selain tanah, menurut Saridal, aset lain, seperti rel dan baja jembatan, juga sebagian besar telah hilang. Dan jikapun reaktivasi akan dilakukan, menurut dia, konstruksi jembatan lama, seperti Jembatan Cikacepit, tidak akan bisa digunakan lagi karena telah lapuk.

Editor: Andi Nurroni/SP.Com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai