Gratiskan Internet, Desa di Pangandaran Ini Nominasi Terbaik se-Jabar

Fasilitas BUMDes yang dimiliki Desa Cibogo, Kec. Padaherang, Kab. Pangandaran. Andi Nurroni/SP.Com

Info SwaraPangandaran.Com – Desa Cibogo, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, menjadi satu dari tiga nominasi desa terbaik se-Jawa Barat  dalam program Evaluasi Perkembangan Desa tahun 2017.
Desa berpenduduk 3.035 jiwa ini bersaing dengan dua desa lainnya di Jawa Barat untuk menjadi yang terbaik dan mewakili Jawa Barat di tingkat region Jawa. Dua kompetitor Desa Cibogo, masing-masing adalah Desa Biru, Kabupaten Bandung dan Desa Pasirsari, Kabupaten Bekasi.

Desa Cibogo menjadi nominasi tiga terbaik di tingkat provinsi, setelah sebelumnya menjadi yang terbaik di tingkat Kabupaten Pangandaran serta tingkat Priangan. Sejumlah inovasi yang dilakukan pemerintah desa di bawah kepemimpinan Kepala Desa Karsim, menjadi dasar penilain positif panitia seleksi.

Program yang menjadi ikon desa ini adalah menggratiskan jaringan internet melalui titik-titik hotspot yang disebar di seluruh wilayah desa. Program ini digulirkan agar warga bisa memanfaatkan layanan internet untuk menunjang kebutuhan masing-masing, mulai dari pendidikan, bisnis maupun hiburan.

“Selain itu, kami juga dianggap solid dari segi birokrasi, serta menjalankan transparansi dan akuntabilitas,” ujar Sekretaris Desa Imat Rusdiana kepada wartawan, Rabu (20/6/2017).

Poin penilaian tinggi juga diraih desa ini berkat pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang maju. Tanah desa seluas 5 hektare dimanfaatkan untuk perkebunan pisang. Perkebunan ini dikelola UKM binaan sebagai bentuk pemberdayaan, sementara pemasaran dilakukan oleh BUMDes.

“Kita juga punya program lumbung giji, yakni bantuan gizi untuk ibu hamil dan balita dari keluarga prasejahtera. Dananya kita tamping dari para donator,” kata Imat manambahkan.

Di samping itu, upaya meningkatkan asupan gizi warga juga dilakukan melalui penebaran benih ikan mujair dan ikan gabus di rawa-rawa yang ada di desa. Melalui program tersebut, warga diharapkan bisa makan ikan secara gratis.

Editor: Andi Nurroni

Situs Sejarah Kereta di Pangandaran Diharap Jadi Daya Tarik Wisata

Diskusi Forum Warga yang diselenggarakan Rumah Plankton mengangkat tema sejarah kereta Banjar-Cijulang, Minggu (18/6/2017). Foto: Heri Nurdiansyah.

SwaraPangandaran.Com – Sejumlah situs sejarah kereta api yang tersebar di wilayah Kabupaten Pangandaran merupakan daya tarik wisata. Sayang, potensi tersebut belum dimanfaatkan pemerintah setempat.
Lanjutkan membaca Situs Sejarah Kereta di Pangandaran Diharap Jadi Daya Tarik Wisata

Puisi Rokhmansyah Dika

Heaven of God

Surga adalah iman
muslim sejati
Sabar terhadap cobaan
Bertunduk padamu

Menegakan iman
Halangi zina
Perkataan tak berkenang
Tuhan adalah sang penguasa
Bagaikan air mancur

Memancarkan sejuta kata
Bersinar cahaya
Terangkan senyuman
Fajar terbenam
Menuangkan tabuh maghrib
Cemerlang dalam sebuah senja

Surabaya, 8 Februari 2017

 

Gadis Bujang

Mulut begitu lapuk
Hasrat rintik dinding
Sambil menaiki kursi panas
Kembali keremukan

Perempuan bodoh tanpa akal
Menusuk kulit datang sakit
Rentetan air mata
tak sanggup menahan gembira

Gemuruh pedih meleleh detik
Gelas terpucat
Semacam bintik-bintik
Dosa menerka lembutan dening nada

Surabaya, 8 Februari 2017

 

Aku & Ratna
: Ratna Wahyu Anggraini

Aku mendiami fajar
Ketika musim pagi datang
Memeluk bunga untuk Ratna
Gapaian sang ilahi

Melangkahkan kaki
lalu menuliskan sebuah pesan
Panjat gunung dengan iringan lagu

Gemercik air senandung doa
Ratna hanya menunggu matahari tenggelam

Atau tinggalkan senja turun dari tanah
Rangkaian senyuman sembari mentari esok
Serdadu hati mengubuk pada gelora aksara
Kembali pulang sebelum larut malam

Surabaya, 8 Februari 2017

 

Jeritan Merah

Mengerombol kelelawar
Keluarkan jeritan
Telinga mendesak keras
Sampai mengelas darah

Tak tahan bertahan di hutan
Mengumbang kematian
Mungkin takdir akan berakhir

Gemuruh sakit terlintas malam merah
Hendak memikat pena darah
Tinta mengenang kobaran api
Dalam menit sangat singkat

Surabaya, 8 Februari 2017

Tiada Benda yang Hilang
Dua tahun telah mengingat
Betapa benda hilang ketika aku tertidur
Dan tiada satupun yang hilang
Ini ulah preman

Memegang benda terpinjam
Semua ini adalah bohong
Hari begitu menjengkit

Belenggu di sudut awan
Barang siapa hendak meminjam
Walau punya benda baru

Aku tidak mau berhak meminjam
Membuktikan memori
telah ada sejak dua tahun silam

Surabaya, 9 Februari 2017

Berfikir Kritis

Mempertajam fikiran
Dengan jutaan karya
Di dalam akal
Hafalkan kata

Muara pengetahuan
Seperti menuangkan ide
Tuangkan air dalam gelas
Nikmati jari
Yang sedang menari
Mengetik karya

Sebuah saksi
Media akan menyebar karya
Informasi terus luas
Ke dalam senandung hari
Esok membangkitkan karya
Entah sampai kapan?
Hingga akhir waktu

Surabaya, 9 Februari 2017

 

Senyum Mentari

Sambut matahari cerah
Mengawali hari
Bangun pagi dari tidurmu
Mengunyah sarapan pagi

Makan roti bercampur selai
Minum susu untuk tenagaku
Membersihkan diri dengan mandi
Menjelang jam enam pagi

Bersiap untuk jelajahi hari
Mengayun sepeda
Atau bersepeda untuk jalan ke sana

Jalan raya penuh ramai
Inilah rangkaian pagi
Tiada malas dalam langit biru
Mentari menerangi sinar
Hanya bahagia untukmu

Kau belahan jiwa
Ku raga tiada tara

Surabaya, 10 Februari 2017

 

BIODATA PENULIS

M Ivan Aulia Rokhman  lebih dikenal Rokhmansyah Dika . bergiat di FLP Surabaya dan Remas Al-Akbar Surabaya. Kelahiran Jember, 21 April 1996. Menulis Puisi, Esai, dan Resensi Tulisanku pernah di publikasikan yaitu Duta Masyarakat, Malang Post, Koran Pantura Probolinggo, Kabar Madura, dan Media lainnya. Saya seorang penulis ditengah berkebutuhan khusus (Disabilitas).

Telepon/WA : 083830696435
Email : mivanauliarokhman@gmail.com
Facebook : M Ivan Aulia Rokhman

Amir Hamzah, Sastrawan Angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional

Amir Hamzah portrait edit.jpg
Amir Hamzah (28 Februari 1911 – 20 Maret 1946)

Tengkoe Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, atau lebih dikenal hanya dengan nama pena Amir Hamzah (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911 – meninggal di Kwala Begumit, Binjai, Langkat, Indonesia, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional Indonesia. Lahir dari keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Utara, ia dididik di Sumatera dan Jawa. Saat berguru di SMA di Surakarta sekitar 1930, pemuda Amir terlibat dengan gerakan nasionalis dan jatuh cinta dengan seorang teman sekolahnya, Ilik Soendari. Bahkan setelah Amir melanjutkan studinya di sekolah hukum di Batavia (sekarang Jakarta) keduanya tetap dekat, hanya berpisah pada tahun 1937 ketika Amir dipanggil kembali ke Sumatera untuk menikahi putri sultan dan mengambil tanggung jawab di lingkungan keraton.

Meskipun tidak bahagia dengan pernikahannya, dia memenuhi tugas kekeratonannya. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, ia menjabat sebagai wakil pemerintah di Langkat. Namun siapa nyana, pada tahun pertama negara Indonesia yang baru lahir, ia meninggal dalam peristiwa konflik sosial berdarah di Sumatera yang disulut oleh faksi dari Partai Komunis Indonesia dan dimakamkan di sebuah kuburan massal.

Amir mulai menulis puisi saat masih remaja: meskipun karya-karyanya tidak bertanggal, yang paling awal diperkirakan telah ditulis ketika ia pertama kali melakukan perjalanan ke Jawa. Menggambarkan pengaruh dari budaya Melayu aslinya, Islam, Kekristenan, dan Sastra Timur, Amir menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa, dan berbagai karya lainnya, termasuk beberapa terjemahan. Pada tahun 1932 ia turut mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe. Setelah kembali ke Sumatera, ia berhenti menulis. Sebagian besar puisi-puisinya diterbitkan dalam dua koleksi, Njanji Soenji (EYD: “Nyanyi Sunyi”, 1937) dan Boeah Rindoe (EYD: “Buah Rindu”, 1941), awalnya dalam Poedjangga Baroe, kemudian sebagai buku yang diterbitkan.

Puisi-puisi Amir sarat dengan tema cinta dan agama, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam. Diksi pilihannya yang menggunakan kata-kata bahasa Melayu dan bahasa Jawa dan memperluas struktur tradisional, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk ritme dan metrum, serta simbolisme yang berhubungan dengan istilah-istilah tertentu. Karya-karya awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, baik erotis dan ideal, sedangkan karya-karyanya selanjutnya mempunyai makna yang lebih religius. Dari dua koleksinya, Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju. Untuk puisi-puisinya, Amir telah disebut sebagai “Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe” (EYD:”Raja Penyair Zaman Pujangga Baru”) dan satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era pra-Revolusi Nasional Indonesia.( Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Pepedan Hills, Destinasi Wisata Baru di Pangandaran, Jawa Barat

Lagi Hits! Pepedan Hills, Destinasi Wisata Baru di Pangandaran

Pepedan Hills, saat ini menjadi salah satu destinasi wisata baru yang lagi ngehits di Pangandaran. Pepedan Hills sendiri berlokasi di kampung Pepedan, Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Pepedan Hills sendiri menawarkan keindahan panorama alam yang dapat dilihat dari atas perbukitan Goa Nyiruan. Selain keindahan alam, di lokasi tersebut wisatawan bisa menikmati sajian kuliner khas nasi liwet kampung. Lanjutkan membaca Pepedan Hills, Destinasi Wisata Baru di Pangandaran, Jawa Barat

Puisi Risen Dhawuh Abdullah

Hidup dalam Hujan

Hidup dalam hujan terasa membosankan dalam anganmu.
Memercikan api kebencian yang kau sulut sendiri melebihi sebuah kehangatan.
Sesabar inikah kau terdiam di tengah garis-garis hujan yang terpapar jelas dalam hati.
Berpayung harapan dan berangan-angan pena yang akan kau susun menjadi barisan doa.

Memang sebenarnya indah.
Tapi hidup dalam hujan itu menyakitkan dan tak lebih jauh dari tusukan duri yang menghunjam rongga batin yang tumpul. Lanjutkan membaca Puisi Risen Dhawuh Abdullah

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai