Puisi: Ari Vidianto

 Angin Asmara

 Buih-buih dalam rayuan

Membara entah kemana

Tak terlalu mudah di mengerti

Angin yang bersiul bergoyang

menerpa alam raya

Melamunku pun tak ada guna

Karena pohon telah tergoda

Angin asmara kah itu

Mencoba menyatu di hatiku 

Lumbir, 7 Maret 2016

 

Cipta Cinta 

Debaran-debaran asmara

Mengalir mengalun mengisi

Relung jiwa

Lembut sentuhanmu bungaku

Membuat gemuruh di dada

Berdegup kencang

Anganku melayang terbang

Sayap-sayap asmara

Menari indah menciptakan cinta 

Lumbir, 8 Maret 2016

 

Ciri Cinta 

Matamu melirik penuh taktik

Gerak gerikmu mengusik

Hati ini semakin tergelitik

Pandanganmu makin tajam

Semakin keras menghujam

Ciri cinta telah nyata

Kusambut kau dalam buaian

asmara 

Lumbir, 8 Maret 2016

 

Malam

Malam

Penuh gelap dan misteri alam

Tebarkan kesunyian tersepi

Melewati sisi kelamnya hari

Malam

Tak bertabur bintang dan bulan

Keheningan pun makin mencekam

Penuh dengan bisikan rintihan

Malam

Waktumu penuh kehampaan

Aktifitas para pemilik jiwa

Terhenti sejenak dalam peraduan

Lumbir, 12 April 2016

 

Belahan Jiwa 

Hanya kamu belahan jiwa

Gemulai tawamu renyah menyapa

Di senyummu tersimpan rindu

Rindu sayang yang telah layu

Karena terkikis oleh waktu

Wajah cantik dirimu itu

Hilangkan memori luka hati

Luka hati yang kutinggal pergi

Belahan jiwa dekaplah selalu

Jiwa cinta yang meranum sendu

         Lumbir, 12 April 2016

Penulis : Ari Vidianto,lahir di Banyumas, 27 Januari 1984. Bekerja sebagai Guru di SD Negeri 2 Lumbir.Bukunya yang sudah terbit yaitu Ibu Maafkan Aku ( Pustaka Kata, 2015 ) & Wajah-Wajah Penuh Cinta ( Pustaka Kata, 2016 ). 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa seperti di Majalah Sang Guru, Ancas,SatelitPost, Tabloid Gaul, Readzone.com, Buanakata.com,Sultrakini.Com, Riaurealita.Com,Duta Masyarakat, Solopos, Radar Mojokerto, Kedaulatan Rakyat dll . No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto & Penulis Lumbir, email : ari.vidianto@gmail.com

[Cerpen] Habitat Sudarmos

Cerpen Otang K.Baddy

Gila! Kiranya telah minuman apa lelaki itu. Juga tak jelas apa dikonsumsinya itu produk imfor, lokal berizin depkes atau sekadar oplosan. Tak ada yang tahu.  Selain ia tampak merasakan gatal yang luar biasa di sekujur serta tak enjoy duduk di kursinya. Tangan dan kakinya tak bisa diam. Jentak-jentik mirip cacing yang kepanasan di musim kemarau. Apakah ia  tengah  mabuk berat?

“Tidaakkk….!”  ia berteriak seraya menggebrak meja sekuatnya. Karuan saja berkas-berkas yang menumpuk itu terjatuh dan tercecer ke lantai.

“Eling, Tuan Mos?”

“Santai aja, Boss. Jangan emosi begitu, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

“Iyalah, kayak  bocah kampung aja, pake cengeng!”

“Tidaaaakkk….!”

Sudarmos pun melompat keluar,  lalu diikuti beberapa anak buahnya yang takut kehilangan. Dari gerak-gerik serta ucapanya terus dicatat tanpa ada yang terlewat. Bahkan ketika lelaki itu berlari  hendak meninggalkan tanggungjawabnya.
*

Sudarmos melempar baju seragamnya. Kepada para pengikutnya ia mengajak untuk menanggalkan segala atribut yang selama ini telah menjadi kebanggaannya.

“Cih, semuanya cuma tikotok, jadi buat apa dipelihara!” katanya seraya  meludah. Demi melupakan kemelut yang  bak mencekik leher, ia mengajak rilek di tepi pantai.. Menurutnya itu merupakan cara terbaik dan harus dilakukan secara total. Dalam arti  tak cukup cuma dengan menikmati desir angin, melainkan harus diwujudkan dengan car berjoget. Demi keloyalan akan janji dan sumpah bawahan, tak seorang pun yang berani menolak. Bahkan beberapa pengawal bersenjata laras panjang pun segera melucuti senjatanya, lantas ikut pula berjoget bersama Sudarmos.

Mereka berojet tanpa musik. Mereka berdendang bersama debur ombak.
**
Sebenarnya bukan suatu kegembiraan, melainkan pelampiasan atas kemelut tanpa ujung selama ini. Sanjung puja atas kemenangannya menjadi seorang bupati terpilih di Saliwong, telah melahirkan lagu-lagu manja dari para pendukungnya. Minta sekian persen ke, minta tender anu ke, minta pulus pulus lainnya –yang padahal nyata-nyata gatal melebihi daun pulus.

Topik yang paling hangat dalam pembicaraan tiada lain mengenai Wisata Karang Toge. Satu agenda pengembangan wisata bahari andalan di kab Saliwong. Belum apa-apa sudah ricuh. Sedianya batu karang yang sebelumnya sempat dikenal sebagai tempat bertapa pemburu nomor togel tersebut hendak dikemas dengan balutan sorga seribu bidadari. Namun wacana gila itu berujung buntu dan saling lempar tanggungjawab. Semua investor yang sempat diundang tak seorang pun ada yang tertarik untuk menanamkan modalnya.

Hampir setiap hari sejak terpilih menjadi bupati,  Sudarmos sering mengadakan rapat darurat. Tapi hasilnya tetap buntu. Segala solusi yang diajukan tak ada yang pas, malah kesannya merupakan hayalan basa-basi belaka. Solusi terakhir yang dianggap dapat memecahkan masalah dengan kepala dingin, Sudarmos telah memilih tepi pantai yang damai. Namun tetap saja gagal, semua seperti benang kusut bercampur tikotok yang sulit diurai.

“Makanya, sejak kini kita semua tak usah kembali ke kantor. Kita terus berjoget saja di sini.”

“Wah?”
“Sampai kapan kelainan cinta ini berlangsung, Bos?”

Sudarmos tak menjawab. Ia terus saja berjoget. Tubuhnya yang semula kekar menjadi lentur. Ia menari gemulai seperti ular. Di benaknya ia mecoba menikmati sorga dengan seribu bidadarinya. Sesekali ia bersalto di atas ombak. Kadang tubuhnya berjungkir di atas pasir.
Melihat majikannya yang bertingkah aneh, para pengikutnya tak cuma cemas. Melainkan bulu kuduk mereka pun  seketika meremang, terlebih ketika melihat muka sang majikan itu berubah seperti kelelawar.

“Jong, saya berhenti jadi bupati, deh!” katanya dengan suara beda.

“Lho, memangnya kenapa.,boss?”

“Makhluk macamku tak mampu jadi pemimpin manusia!”  katanya, sebelum kemudian ia terbang jauh menuju ke habitanya sebagai hewan pemakan buah-buahan(*)

 

Doel Sumbang Curhat Soal Pangandaran, Ia Berharap…

Pangandaran, SPC – Penyanyi Pop Sunda legendaris Doel Sumbang berharap ada atraksi kesenian yang reguler di Kabupaten Pangandaran. Menurutnya, kehadiran gedung pertunjukan sangat penting karena kesenian juga menjadi daya tarik wisata.

“Persoalannya bukan hanya berapa banyak orang datang ke Pangandaran tapi berapa lama mereka tinggal, kalau cuma datang hitungan jam artinya itu gagal,” ungkapnya saat berbincang dengan SPC di sela acara Napak Jagat Pasundan menyambut Milangkala ke 5 Kabupaten Pangandaran di lapang Boulevard, Pantai Barat, Sabtu (21/10) malam.

Menurutnya, hal-hal yang disukai wisatawan juga harus ada di Pangandaran agar wisatawan betah tinggal berlama-lama. “Kehidupan malam harus hidup, tapi bukan berarti tempat-tempat maksiat. Performance, one stop shopping,” ujarnya.

Pelantun lagu Sisi Laut Pangandaran ini juga berharap kesenian dan kebudayaan bisa dijual sebagai daya tarik wisata. “Kalau kita ngomong bule, mereka tidak mencari yang ada di negeri mereka, akan senang menonton konser, tarian, namun tentu semuanya harus di packaging dengan baik. Kita lihat Bali saja, Kecak itu dulunya ritual, kemudian bule memberikan inisiatif, blokingnya dibuatkan sedemikian rupa sehingga lebih menarik,” kata dia.

Ia membayangkan jika di Pangandaran aktivitas kesenian dan budaya bisa langsung dinikmati wisatawan. “Misalnya kita masuk ke warung di pantai mendengarkan orang main angklung, maen perkusi, itu akan jauh lebih hidup. Saya yakin Pangandaran bisa karena lahannya siap dan ini pantai,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini yang dibutuhkan yaitu upaya mensinergikan seluruh stakeholder yang ada, baik itu pemerintah, masyarakat dan swasta. “Pemerintah itu tugasnya melayani rakyat, membuat masyarakat bahagia sesuai keinginan masyarakat yang positif,” kata dia.

Dirinya berharap pemerintah peduli terhadap kebudayaan secara universal. “Pemerintah harus memberi ruang gerak, misalnya masyarakat butuh tempat bermain calung, dimana lokasinya. Pemerintah bisa memberi lebih kepada masyarakat karena bisa mengganggarkan,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk membangun Pangandaran dibutuhkan dialog berkelanjutan antara Bupati dan masyarakat. “Harus setiap saat, menjadi teman, menjadi sahabat, teman curhat untuk membuat Pangandaran lebih maju,” kata dia.

Ia berharap di Kabupaten Pangandaran tidak membudayakan membangun proyek, namun prospek. “Bangun segala sesuatu untuk jangka panjang, saya melihat Pangandaran juga mempunyai persoalan pembangunan infrastruktur serius, jalan harus bagus, penginapan harus bersih,” ungkapnya.

Doel mengapresiasi kinerja Bupati Pangan Jeje Wiradinata yang mulai mengubah wajah Pangandaran. “Saya sempat kaget begitu ke Pangandaran lagi sudah banyak yang berubah, terakhir saya ke Pangandaran tahun 2013, akan tetapi dalam membuat patung atau ornamen sebaiknya dilandasi wawasan budaya yang kemudian ciri khasnya keluar,” ungkapnya.

Dalan pertunjukkannya, Doel Sumbang menghibur ribuan warga. Sejumlah lagu hits ia nyanyikan ditengah sambutan masyarakat Pangandaran yang memenuhi hampir seluruh lapang Boulevard.

Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Doel Sumbang yang sudah menciptakan lagu Pangandaran jauh sebelum Kabupaten Pangandaran menjadi Daerah Otonom Baru. “Lagu Pangandaran lahir terlebih dahulu, dan kang Doel Sumbang membuat Pangandaran semakin terkenal, apa yang ada dalam syair itu menjadi kenyataan,” ungkapnya.
Editor: Andi Nurroni

Puisi: Arif Tunjung Pradana

Asu Sarjana Baru

Burung-burung kecil beterbangan mengelilingi kepala seorang sarjana baru yang mengendap-ngendap dalam selangkangan kurikulum baru dan bergabung dengan gerombolan pengangguran baru. Otaknya yang compang-camping mencair diaduk dalam cangkir didihan kopi, disentakkan dengan pembaruan-pembaruan negeri, dan dicabik oleh asu-asu berdasi.

Sarjana baru tentunya sudah tau, asu-asu itu memiliki sejuta siasat untuk mencabik-cabik isi kantongnya sebelum ia diterima kerja di sana. Hidup memang asu!

 

 

Baju Kematian Ibu

” Ibu, malam ini kematian akan menjemputku. Mungkin pukul 12 lebih 5. Apakah ada baju baru untuk kukenakan malam ini? ”

Ibu bergegas menjahit baju bolong milik Karjo untuk merayakan kematiannya malam ini.

” Biarkan kematian menjemputmu dengan khidmat Karjo. Ibu akan menunggumu. ”

Barangkali Karjo tau maksud Tuhan mempertemukannya dengan Ibu sebelum merayakan kematian.

Perlahan Karjo abadi dengan baju jahitan Ibu.

 

 

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Unik, Menteri Susi Ajak Bocah 1 Tahun Berkano di Tengah Laut

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat berkano bersama anak angkatnya, Selasa (17/10). NS/SPC 

Pangandaran, SPC – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak anak angkatnya Malika (1) main kano di laut Pangandaran, Selasa (17/10). Sebelumnya, Susi juga menyempatkan melarung jempana yang menjadi tradisi lama masyarakat nelayan Pangandaran setiap bulan Muharam.

Pantauan SPC, Menteri Susi melaut setelah menutup Gerakan Cinta Laut (Gita Laut) yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di kawasan Lokabina Pramuka, pantai Pamugaran, Pangandaran. Ia kemudian menuju kawasan Pantai Barat dan menaiki perahu nelayan setempat. Iring-iringan perahu melaju menuju tempat melarung jempana yang berjarak sekitar 3 kilometer dari bibir pantai.

Menteri Susi tampak begitu menikmati perjalanan di laut bersama anak angkatnya. Usai melarung jempana, Susi kemudian menceburkan diri ke laut dan mengajak anak angkatnya bermain kano. Dua anggota Kopaska turut mendampinginya. Satu orang menjaga Malika yang terlihat menikmati bermain kano di tengah laut. Setelah satu jam di laut, Susi kemudian mengayuh kanonya hingga mendarat di kawasan Pantai Barat. Ia pun sempat melayani warga yang ingin foto bersama.

“Kita sudah biasa main di laut, kita mah santai saja menikmati sekali,” ujarnya singkat.

Saat di tengah laut, Susi juga sempat bercanda gurau dengan sejumlah nelayan yang ikut mendampingi.

Komandan Pos TNI AL Pangandaran Peltu Dayat Sudrajat yang turut mengawal Menteri Susi mengatakan, bermain kano merupakan hobi yang sering dilakukan menteri asal Pangandaran itu. “Kalau Bu Susi pulang, ada waktu santai ya main kano, kita sering mengawal beliau,” ujarnya.

Dayat memuji kekuatan fisik Menteri Susi yang kuat berlama-lama di laut. “Saya salut di usiannya ibu masih kuat berenang di tengah laut, main kano, itu sangat menguras tenaga,” ungkapnya.
Editor: Andi Nurroni/swarapangandaran.com

Inalillahi… Tokoh Silat Pangandaran Meninggal Usai Ikut Karnaval Budaya

Info dari wartapriangan.com – Pangandaran> Kabar duka dan mengejutkan datang dari Pangandaran, Jawa Barat. Abah Usup, salah satu tokoh silat warga Desa/Kecamatan Cijulang meninggal dunia sesaat setelah mengisi acara penyambutan iring-iringan Karnaval Budaya dalam rangka Milangkala ke 5 Kabupaten Pangandaran Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 12.30 WIB.

Menurut Ketua IPSI Kabupaten Pangandaran Hendar Suhendar, Almarhum adalah Ketua Paguron Silat Panglipur di Cijulang, dan sangat familiar bagi masyarakat Pangandaran karena sering mengisi sejumlah acara budaya.

Dari informasi yang diterima Warta Priangan, almarhum meninggal dunia mendadak setelah beberapa jam mengisi acara menyambut iring-iringan karnaval saat sedang duduk di Taman Sunset Pangandaran.

Semula dikira hanya pingsan saat duduk di taman, langsung dibawa ke Puskesmas Pangandaran, namun begitu sampai di Puskesmas sudah meninggal.

Setelah diketahui meninggal, jenazah langsung dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan.

Banyak pihak menduga-duga terkait penyebab kematian korban. Dari serangan jantung, dehidrasi, dan kelelahan.(Iwan Mulyadi/WP)

Sosok Abah Usup dimata Ketua IPSI Pangandaran

Meninggalnya Maestro Pencak Silat Kabupaten Pangandaran Abah Usup, usai menampilkan prosesi penyambutan Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran di Karnaval Budaya, pada Sabtu (21/10/2017) siang tadi, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Pangandaran.

 

Begitu halnya, duka yang sama dirasakan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pangandaran, Hendar Suhendar.

“Abah usup bagi saya merupakan tokoh dan pejuang pencak silat yang tanpa pamrih,”ujar Hendar, kepada Warta Priangan.

Dirinya mengaku, kenal dengan Almarhum sejak tahun 1993, saat pertama kali datang untuk bekerja di Ciamis hingga ke Pangandaran.

“Sampai akhir hayatnya Almarhum tetap konsisten mengajar silat kepada siapapun. Bagi saya almarhum merupakan ikon Jawara Pakidulan,”pungkasnya. (Iwan Mulyadi/WP)

Iwan Mulyadi, mengawali karier sebagai jurnalis sejak 1988, antusias terhadap filssafat, media buku dan seni –terutama seni visual , seperti lukisan, patung, instalasi, desain dan fotografi

Janggala Body Rafting – Green Canyon Pangandaran

Dengan menyusuri sungai green canyon dan melihat keindahan dinding dan ngarainya yang masih alami punya daya tarik tersendiri dan berakhir di green canyon gate (Cukang Taneuh) dilanjutkan dengan memakai perahu ketempat semula dan perjalanan yang sungguh mengagumkan, apalagi bagi pecinta alam dan pencinta olahraga air.

Karena perjalanan akan ditempuh melalui bukit yang terjal dan mengarungi sungai dengan cara berenang (Body Rafting) sekitar 3-4 jam perjalanan. Sesekali harus memanjat tebing jika debit airnya tinggi dan tidak mudah dilalui, sepanjang 5 KM dari hulu sungai menuju dermaga obyek wisata Green Canyon.

Jangan Kuatir karena perjalanan sudah dilaksanakan beberapa kali dan dengan guide yang handal dan tahu medan ditambah dengan safety gear yang memadai (Lifevest, Helmt, Rope) dan dilindungi oleh asuransi terpercaya.

Janggala Body Rafting Community memiliki paket Body Rafting di sungai cijulang Green Canyon, Kab.Pangandaran, Jawa Barat

Bagi Anda yang ingi mendapatkan pengalaman Adventure yang baru dan dijamin seru dan asik banget dan bisa memicu adrenalin tinggi anda tentu dengan didukung kemampuan berenang yang memadai bisa disalurkan disini . Untuk anda yang ingin santai dengan Body Rafting sambil melihat pemandangan dan menghirup udara segar pun bisa mengikuti sambil menikmati pesona luar biasa, perpaduan antara sungai, lembah hijau dan hutan lindung.
Jika Anda Berminat Hubungi Kami :

Contact Person :

Eriek HP : 085 223 64 66 22
Email : janggalagreencanyon@ymail.com
erikharpan@yahoo.co.id

Asta Tinggi, Membaca Sumenep Tempo Dulu

Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas).

Setiap daerah tentu punya tempat sejarah yang menjadi kebanggaan tersendiri, untuk ditawarkan sebagai menu primadona dalam kemasan wisata. Misalnya wisata religi yang kaitannya tak lepas dari sejarah keagamaan atau penyebaran agama sebelumnya.  Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi di Indonesia pendapatannya dihasilkan oleh wisata religi, seperti wisata wali lima yakni, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Derajad dan SunanBonang, selain itu Asta Tinggi salah satu wisata religi yang ada di Kabupaten Sumenep yang banyak dikunjungi oleh turis Nusantara maupun dari Mancanegara.

Asta Tinggi letaknya di ujung timur pulau Madura itu adalah sebuah tempat pemakaman raja-raja Sumenep. Bahkan oleh Badan Pengembangan Pariwisata Daerah (Baparda) Sumenep, Asta Tinggi dimasukkan dalam “Tri Tunggal” yang mempunyai kaitan erat baik segi kulultural maupun historis setelah dua tempat lainnya seperti Masjid Jamik dan Keraton Sumenep. Ketiga tempat yang menarik itulah paling banyak dikunjungi wisatawan, baik asing maupun domestik. Juga, dari ketiga obyek itu pula kita bisa meneropong secara jelas Sumenep tempo dulu.

Riwayat daerah yang kesohor penghasil garam itu memang cukup unik, dimana penduduknya berawal dari percampuran keturunan berbagai suku bangsa. Selain dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga berbaur (menikah) dengan orang-orang Cina, Arab dan Bali. Masuknya orang Jawa bermula sebagai perantau yang menjadi nelayan di laut, menurut catatan sejarah, itu terjadi sekitar abad ke-8 Masehi. Semula perahu mereka banyak mendarat di pantai barat Madura, menelusuri Kamal, Bangkalan, Sampang dan sekitarnya. Lama-kelamaan mereka menyebar hingga sampailah mereka di pantai timur, kawasan sumenep.

Sumenep dipimpin Adipati Aria Winaraja, setelah diutus raja Singhasari, Kertanegara pada tahun 1269. Tepatnya pada 31 Oktober 1269, sekaligus merupakan tonggak sejarah pertama berdirinya pemerintahan di Sumenep, dan tanggal tersebut telah dijadikan Hari Jadinya Kabupaten Sumenep. Dalam pada itu, tiba-tiba serdadu Tar Tar dari Cina mengadakan ekspansi ke Jawa, tetapi berhasil ditaklukan Raden Widjaya, yang kemudian menjadi raja Majapahit pertama. Selain yang pulang ke negerinya, tak sedikit pula serdadu Cina yang terdampar di Madura.

Hasil gambar untuk keraton sumenep maduraKraton Sumenep, merupakan warisan budaya Sumenep dari masa lampau, yang masih ada hingga saat ini dan telah berkembang menjadi sebuah Museum yang bisa bebas

Perkembangan kemudian terjadilan percampuran kekerabatan. Para serdadu asing bermata sipit itu menyunting para gadis Sumenep, hingga membuahkan keturunan Madura-Cina. Percampuran selanjutnya terjadi pada sekitar abad 14, yakni percampuran orang Sumenep dan Arab. Pada saat itu agama Islam masuk ke Madura, penyebarannya oleh Sunan Giri dan Sunan Padusan yang keturunan Arab. Karena banyak orang Madura termasuk Sumenep yang kawin dengan orang-orang Arab, penyebaran Islam itu tak begitu sulit, hingga rara-raja di Madura pun berhasil dipengaruhi.

Dan ketika orang-orang dari Kerajaan Bali –yang dipimpin oleh Kebo Ijo, menyerang Madura, ternyata dapat dipatahkan oleh Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. Dengan membakar dan menghancurkan perahu milik pasukan itu di Pelabuhan Dungkek, mereka –orang-orang Bali– tidak bisa pulang ke negerinya. Mereka menyelamatkan diri ke Desa Pinggirpapas dan Kebun Dadap, Kecamatan Dungkek.

Sampai sekarang walau mereka berasimilasi dengan penduduk setempat, tapi masih tetap mempertahankan adat-istiadat budaya Bali –seperti upacara keagamaan yang disebut Nyadar. Upacara yang merupakan tanda terimakasih kepada Tuhan menurut kepercayaannya dengan penemuan pemimpin orang Bali, yaitu Anggosuto. Orang inilah yang pertama kali menemukan bagaimana cara membuat garam. Maka, sejak itulah orang-orang Bali yang berada di Pinggirpapas dapat hidup dari bertani garam. Dan ternyata produksi garam di Madura sempat memenuhi kebutuhan garam dunia.

Dalam perkembangan sejarahnya, Sumenep memang telah menjadi suku bangsa yang homogen. Ia pun berkembang berbeda sama sekali dengan suku bangsa yang menjadi sumbernya. Kalaupun kini masih ada pengaruh dari sumber keturunannya, maka hal itu hanya tampak dalam bentuk jasmaniahnya saja. Sejak awal sejarahnya, Sumenep menunjukkan kemampuan tinggi untuk menyesuaikan segala apa yang masuk dari luar dengan apa yang diperlukan sendiri.

Sekalipun berhasil menyesuaikan kebudayaan Arab, Cina, Jawa dan Bali dengan kepentingannya sendiri, pengaruh itu tidak dapat dihilangkan. Maka tak heran hingga kini kesenian hadrah, gambus, zamrah yang bersumber dari kebudayaan Arab itu terdapat sampai di pelosok desa dan sudah menjadi kebudayaan Sumenep. Demikian pula pengaruh Cina pada arsitek bangunan keraton, mesjid dan bangunan-bangunan tua yang ada di Sumenep.

 

Masih terawat
Peninggalan orang-orang penting dalam sejarah Sumenep itu sampai sekarang masih terawat dengan baik, termasuk bekas Kerajaan/Kadipaten Sumenep, lengkap dengan bangunan-bangunan aslinya. Tahun 1762, dilakukan pemugaran yang dilakukan Panembahan Sumala yang bergelar Aria Natakusuma I, adipati Sumenep ke-31 (1762-1811). Ia mengangkat arsitek Cina bernama Ping Ong Eh sebagai staf ahli. Karena itu tidak heran jika bangunan-bangunan keraton sumenep mempunyai corak budaya Islam dan Cina, selain budaya Eropa.

Begitu pun dengan peninggalan lain seperti Majid Jamik Sumenep. Masjid yang mampu menampung jamaah tak kurang dari 10.000 orang, ini memang penuh keagungan budaya. Sepintas, kalau kita ada di depan masjid, akan mengira bangunan kelenteng (tempat beribadah orang-orang Tionghoa). Kenapa? Sebab, bentuk bangunan yang kerap dilongok wisatawan dan dibangun tahun 1763 pada masa pemerintahan Panembahan Sumala ini, menyiratkan goresan seni arsitektur Islam-Cina. Dan wajar saja, karena bangunan ini diarsiteki oleh arsitek Cina, yakni Ping Ong Eh itu.

Asta Tinggi
Rasanya tak begitu lengkap menelusuri Tanah Putri Koneng ini jika tidak berkunjung ke Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas). Kompleks makam tua yang berada di puncak sebuah bukit, sekitar 2 km dari Kota Sumenep ini dibangun pada tahun 1700. Mencerminkan perpaduan budaya Jawa, Islam, Cina dan Eropa Barat Daya (Portugis). Pintu gerbang pemakaman, misalnya, jelas menunjukkan budaya Eropa. Sebagai ciri khasnya, ada mangkok-mangkok yang mirip piala sebagi hiasan puncak pintu gerbang. Tembok tinggi dan megah yang melingkari pemakaman sekitar 2 kilometer persegi, jelas menunjukkan guratan seniman Cina. Sementara, hampir di semua bangunan inti (cungkup-cungkup) direkadaya budayawan Sumenep Islam.

Hasil gambar untuk asta tinggi sumenep dilihat dari sampin

Suasana di dalam tembok, tampak dari luar mengesankan tempat peristirahatan masa silam, karena terdapat beberapa bangunan dan kubah yang anggun menjulang tinggi. Namun, setelah melongok ke dalam kita dapat menyimak ribuan nisan berjajar rapi, dan menandakan tempat ini sebagai peristirahatan terakhir. Makam di sini diatur sesuai dengan kedudukan dan jabatan yang dimakamkan. Kompleks ini teramat megah dibanding lainnya, karena dihiasi beberapa gerbang dengan arsitektur yang khas.

Dalam kompleks tersebut terdapat tiga kubah. Kubah pertama berisi makam Pangeran Pulang Jiwa (1626-1644), Pangeran Anggaradipa serta beberapa kerabat lainnya termasuk makam yang belum dikenal. Kubah kedua berisi makam Pangeran Jimat (1731-1744), Pangeran Wiranegara, Ratu Ari, dan sebagainya. Sedang kubah terakhir berisi makam Tumenggung Tirtanegara (1750-1762), Raden Ayu Tirtanegara, Raden Aria Panjeneh dan delapan makam lainnya.

Kubah-kubah tersebut bentuknya memang masih sederhana, seperti rumah-rumah biasa. Lain dengan kubah di area utara, yang berisi makam Panembahan Sumala Asirudin (1762-1811), Sultan Abdurahman Pakunataningrat (1811-1854), Panembahan Mochamad Saleh atau Panembahan Natakusuma II (1854-1879), Pakunataningrat II (1879-1901), dan R.A. Prataningkusuma. Bentuk kubah cukup unik, demikian pula gerbangnya yang megah. Pesarean Asta Tinggi yang persisnya berada di Desa Kebon Agung itu sampai sekarang masih dianggap keramat dan banyak diziarahi orang dari berbagai daerah di tanah air, terutama sekitar Idul Fitri dan bulan Maulud. (beberapa sumber)

Ngopi depan keranda

—lanjutan dari Sebelumnya

Kenapa ngopi depan keranda, karena keranda itu diletakan depan rumah almarhum ibu mertuaku. Entahlah, memang sudah biasa di sini, setiap usai penguburan jenazah orang-orang seperti takut pada keranda. Mereka seakan tak mau melihat atau mengembalikannya ke balai dusun. karena itulah sementara disimpan dulu di rumah keluarga yang meninggal. Dan itu menjadi biasa, hingga timbul saran-saran yang yang jelas dimana setidaknya harus seminggu keranda iru di tunda di sana. Kecuali jika ada yang meninggal sebelum waktu itu.

Oke, ya..ngopilah saya. Memang sebelumnya di sini saya sering ngopi seraya nunggu si sakit, sementara selanjutnya ngopi dalam rangka mengusir duka keluarga yang ditinggalkan –terlebih istri saya. Ngopi usai acara tahlil yang berlangsung selama 7 hari.

Adakah nuansa horor atau aroma mistis di sana? Kalau tak  ada buat apa soal ini pakai ditulis segala, apanya yang menarik. Siapa yang mau baca,  membebani hostisng aja. Sama saja postingan ini semacam spam.

Tidak kok, tak ada nuansa horor atau aroma mistisnya. Cuma saat enak-enaknya ngopi kami –saat itu saya bersama Sunarto dan Madrobi tiba-tiba dikejutkan dengan suara tokek yang keras menggema dari keranda. Dalam beberapa detik sih ada nuansa mistisnya, mengingat sebelumnya kami telah mengutuk mahkluk predator berkulit kasar itu. Kenapa mengutuk, karena makhluk tersebut kadang resfonsiv atau tak menolak ketika sering dipakai media pengiriman teluh. Hal itu terbukti setelah suara ‘lelegot’ nyaris lebih dari satu dasarwarsa tak terdengar lagi. Alasannya karena suara birung halis yang berbunyi “kot..kot..kot..” tersebut sudah tak bisa disamarkan lagi.

Orang kampung semua tahu lelegot itu merupakan angkara yang disebar melalui burung tertentu. Tak jelas entah burung apa, karena ketika burung itu datang dari arah silang mata angin. Seperti timur laut, tenggara, barat laut atau barat daya, ia hadir melayang memutar di atas rumah warga. Kendati dalam rasa gemetar, orang-orang yang mendengar suara lelegot iti biasanya bereaksi dari dalam rumahnya dengan berteriak “lebok dungan sia” (artinya: “makan saja majikanmu). Begitulah sebelum suara kot..kot..kot itu menghilang  biasanya berakgir dengan suara seperti muntah, “kwaaakk…!” Esoknya jika tak ada yang meninggal langsung, seridaknya akan ada yang sakit keras.

Media penyamaran angkara itu tiba-tiba berganti pada mahluk yang bernama tokek dan burung hantu alias bueuk. dampak dan motiv keduanya sama seperti  sebelumnya. Semula tak ada yang mengira jika tokek dan burung hantu dapat disuruh kerjasama untuk mengirim guna-guna, namun setelah beberapa orang mencocokan pada beberapa peristiwa akhirnya percaya juga. Terlebih orang-orang yang biasa ngopi sambil ngeronda.

“Koung…, kouung…kouung, kong!” demikianlah suara tokek tersebut. kami perhatikan yakin suara itu dari keranda mayat yang diletakan di dipan pemandian jenazah depan kami. Namun kami sempat heran, sebab setelah beberapa kali diperiksa bahkan pakai senter, pemilik suara itu tak tampak sama sekali. Lantas mahluk apa namanya?

Namun ketika malam berikutnya suara itu terdengar lagi, langsung diburu. Ternyata suara itu berasal dari salah satu lobang di gagang keranda. makhluknya kecil banget, hampir seukuran cecak, agak gede sedikit. Kami tak ambil pusing, selain hanya menanggapinya dengan lelucon-lelucon yang menyegarkan. Namun dalam hati kecil saya ingin segera mengembalikan keranda tersebut ke tempatnya, yakni di samping mesjid ke-RT-an di dusun itu. Semula ia disimpan di balai dusun yang kebetulan bangunannya bersanding dengan madrasah Diniyah. Dengan alasan anak-anak banyak yang takut Pak Ustadz tak mengijinkan benda tersebut di simpan di sana.

Usai tahlilan 7 harinya,  keranda itu saya gotong dengan anak saya. Seraya bergurau, setiap tetangga yang kebetulan rumahnya terlewati kami tawarkan keranda.

“Barangkali mau menggunakannya, mumpung ada,” demikian kata saya. Makudnya sekadar humor. Tapi tanggapan mereka beragam, selain ada yang bergidik, menolaknya bak ketakutan,  ada pula yang menjawabnya dengan kelakar juga.

“Mangga, silahkan duluan, nanti saya nyusul belakangan.”

Tapi ketika keranda itu  sudah disimpan pada tempatnya, satu jam kemudian seorang tetangga (pas tetangga almarhum ibu mertuaku) meninggal akibat terjatuh dari pohon kelapa. Melihat kondisi itu anak saya yang baru 2 bulan menikah dan hendak menempati rumah neneknya mendadak pias, terlebih jika hari menjelang malam.

Ya, yang meinggal itu tetangga ibu mertuaku. Bahkan saat acara tahlil 7 harinya, siangnya ia ikut menanak nasi di halaman rumah, bahkan ia tertawa penuh kelakar. Ia adalah seorang tukang nyenso (penebang/gergaji) kayu. Koronologisnya, saat ia memotong pohon kelapa di atas tubuhnya terbawa jatuh bersama potongan batang kelapa itu hingga saat badannya nyentuh tanah ditimpal kembali oleh batang pohon kelapa tersebut. Sungguh mengenaskan, namun  demikianlah semua tak lepas atas kuasaNya. Soal terjatuh, apa pun itu hanyalah sekadar jalan menuju kepulangnya.***

 

Ingin berbagi pengalaman atau bayangan misteri, horor?  Tampilkan di website ini. Kirimkan tulisan (Ms Word) Anda via email: redaksi@ buanakata.top atau otangk234@gmail.com

 

 

 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai