Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas).
Setiap daerah tentu punya tempat sejarah yang menjadi kebanggaan tersendiri, untuk ditawarkan sebagai menu primadona dalam kemasan wisata. Misalnya wisata religi yang kaitannya tak lepas dari sejarah keagamaan atau penyebaran agama sebelumnya. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi di Indonesia pendapatannya dihasilkan oleh wisata religi, seperti wisata wali lima yakni, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Derajad dan SunanBonang, selain itu Asta Tinggi salah satu wisata religi yang ada di Kabupaten Sumenep yang banyak dikunjungi oleh turis Nusantara maupun dari Mancanegara.
Asta Tinggi letaknya di ujung timur pulau Madura itu adalah sebuah tempat pemakaman raja-raja Sumenep. Bahkan oleh Badan Pengembangan Pariwisata Daerah (Baparda) Sumenep, Asta Tinggi dimasukkan dalam “Tri Tunggal” yang mempunyai kaitan erat baik segi kulultural maupun historis setelah dua tempat lainnya seperti Masjid Jamik dan Keraton Sumenep. Ketiga tempat yang menarik itulah paling banyak dikunjungi wisatawan, baik asing maupun domestik. Juga, dari ketiga obyek itu pula kita bisa meneropong secara jelas Sumenep tempo dulu.
Riwayat daerah yang kesohor penghasil garam itu memang cukup unik, dimana penduduknya berawal dari percampuran keturunan berbagai suku bangsa. Selain dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga berbaur (menikah) dengan orang-orang Cina, Arab dan Bali. Masuknya orang Jawa bermula sebagai perantau yang menjadi nelayan di laut, menurut catatan sejarah, itu terjadi sekitar abad ke-8 Masehi. Semula perahu mereka banyak mendarat di pantai barat Madura, menelusuri Kamal, Bangkalan, Sampang dan sekitarnya. Lama-kelamaan mereka menyebar hingga sampailah mereka di pantai timur, kawasan sumenep.
Sumenep dipimpin Adipati Aria Winaraja, setelah diutus raja Singhasari, Kertanegara pada tahun 1269. Tepatnya pada 31 Oktober 1269, sekaligus merupakan tonggak sejarah pertama berdirinya pemerintahan di Sumenep, dan tanggal tersebut telah dijadikan Hari Jadinya Kabupaten Sumenep. Dalam pada itu, tiba-tiba serdadu Tar Tar dari Cina mengadakan ekspansi ke Jawa, tetapi berhasil ditaklukan Raden Widjaya, yang kemudian menjadi raja Majapahit pertama. Selain yang pulang ke negerinya, tak sedikit pula serdadu Cina yang terdampar di Madura.
Kraton Sumenep, merupakan warisan budaya Sumenep dari masa lampau, yang masih ada hingga saat ini dan telah berkembang menjadi sebuah Museum yang bisa bebas
Perkembangan kemudian terjadilan percampuran kekerabatan. Para serdadu asing bermata sipit itu menyunting para gadis Sumenep, hingga membuahkan keturunan Madura-Cina. Percampuran selanjutnya terjadi pada sekitar abad 14, yakni percampuran orang Sumenep dan Arab. Pada saat itu agama Islam masuk ke Madura, penyebarannya oleh Sunan Giri dan Sunan Padusan yang keturunan Arab. Karena banyak orang Madura termasuk Sumenep yang kawin dengan orang-orang Arab, penyebaran Islam itu tak begitu sulit, hingga rara-raja di Madura pun berhasil dipengaruhi.
Dan ketika orang-orang dari Kerajaan Bali –yang dipimpin oleh Kebo Ijo, menyerang Madura, ternyata dapat dipatahkan oleh Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. Dengan membakar dan menghancurkan perahu milik pasukan itu di Pelabuhan Dungkek, mereka –orang-orang Bali– tidak bisa pulang ke negerinya. Mereka menyelamatkan diri ke Desa Pinggirpapas dan Kebun Dadap, Kecamatan Dungkek.
Sampai sekarang walau mereka berasimilasi dengan penduduk setempat, tapi masih tetap mempertahankan adat-istiadat budaya Bali –seperti upacara keagamaan yang disebut Nyadar. Upacara yang merupakan tanda terimakasih kepada Tuhan menurut kepercayaannya dengan penemuan pemimpin orang Bali, yaitu Anggosuto. Orang inilah yang pertama kali menemukan bagaimana cara membuat garam. Maka, sejak itulah orang-orang Bali yang berada di Pinggirpapas dapat hidup dari bertani garam. Dan ternyata produksi garam di Madura sempat memenuhi kebutuhan garam dunia.
Dalam perkembangan sejarahnya, Sumenep memang telah menjadi suku bangsa yang homogen. Ia pun berkembang berbeda sama sekali dengan suku bangsa yang menjadi sumbernya. Kalaupun kini masih ada pengaruh dari sumber keturunannya, maka hal itu hanya tampak dalam bentuk jasmaniahnya saja. Sejak awal sejarahnya, Sumenep menunjukkan kemampuan tinggi untuk menyesuaikan segala apa yang masuk dari luar dengan apa yang diperlukan sendiri.
Sekalipun berhasil menyesuaikan kebudayaan Arab, Cina, Jawa dan Bali dengan kepentingannya sendiri, pengaruh itu tidak dapat dihilangkan. Maka tak heran hingga kini kesenian hadrah, gambus, zamrah yang bersumber dari kebudayaan Arab itu terdapat sampai di pelosok desa dan sudah menjadi kebudayaan Sumenep. Demikian pula pengaruh Cina pada arsitek bangunan keraton, mesjid dan bangunan-bangunan tua yang ada di Sumenep.
Masih terawat
Peninggalan orang-orang penting dalam sejarah Sumenep itu sampai sekarang masih terawat dengan baik, termasuk bekas Kerajaan/Kadipaten Sumenep, lengkap dengan bangunan-bangunan aslinya. Tahun 1762, dilakukan pemugaran yang dilakukan Panembahan Sumala yang bergelar Aria Natakusuma I, adipati Sumenep ke-31 (1762-1811). Ia mengangkat arsitek Cina bernama Ping Ong Eh sebagai staf ahli. Karena itu tidak heran jika bangunan-bangunan keraton sumenep mempunyai corak budaya Islam dan Cina, selain budaya Eropa.
Begitu pun dengan peninggalan lain seperti Majid Jamik Sumenep. Masjid yang mampu menampung jamaah tak kurang dari 10.000 orang, ini memang penuh keagungan budaya. Sepintas, kalau kita ada di depan masjid, akan mengira bangunan kelenteng (tempat beribadah orang-orang Tionghoa). Kenapa? Sebab, bentuk bangunan yang kerap dilongok wisatawan dan dibangun tahun 1763 pada masa pemerintahan Panembahan Sumala ini, menyiratkan goresan seni arsitektur Islam-Cina. Dan wajar saja, karena bangunan ini diarsiteki oleh arsitek Cina, yakni Ping Ong Eh itu.
Asta Tinggi
Rasanya tak begitu lengkap menelusuri Tanah Putri Koneng ini jika tidak berkunjung ke Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas). Kompleks makam tua yang berada di puncak sebuah bukit, sekitar 2 km dari Kota Sumenep ini dibangun pada tahun 1700. Mencerminkan perpaduan budaya Jawa, Islam, Cina dan Eropa Barat Daya (Portugis). Pintu gerbang pemakaman, misalnya, jelas menunjukkan budaya Eropa. Sebagai ciri khasnya, ada mangkok-mangkok yang mirip piala sebagi hiasan puncak pintu gerbang. Tembok tinggi dan megah yang melingkari pemakaman sekitar 2 kilometer persegi, jelas menunjukkan guratan seniman Cina. Sementara, hampir di semua bangunan inti (cungkup-cungkup) direkadaya budayawan Sumenep Islam.

Suasana di dalam tembok, tampak dari luar mengesankan tempat peristirahatan masa silam, karena terdapat beberapa bangunan dan kubah yang anggun menjulang tinggi. Namun, setelah melongok ke dalam kita dapat menyimak ribuan nisan berjajar rapi, dan menandakan tempat ini sebagai peristirahatan terakhir. Makam di sini diatur sesuai dengan kedudukan dan jabatan yang dimakamkan. Kompleks ini teramat megah dibanding lainnya, karena dihiasi beberapa gerbang dengan arsitektur yang khas.
Dalam kompleks tersebut terdapat tiga kubah. Kubah pertama berisi makam Pangeran Pulang Jiwa (1626-1644), Pangeran Anggaradipa serta beberapa kerabat lainnya termasuk makam yang belum dikenal. Kubah kedua berisi makam Pangeran Jimat (1731-1744), Pangeran Wiranegara, Ratu Ari, dan sebagainya. Sedang kubah terakhir berisi makam Tumenggung Tirtanegara (1750-1762), Raden Ayu Tirtanegara, Raden Aria Panjeneh dan delapan makam lainnya.
Kubah-kubah tersebut bentuknya memang masih sederhana, seperti rumah-rumah biasa. Lain dengan kubah di area utara, yang berisi makam Panembahan Sumala Asirudin (1762-1811), Sultan Abdurahman Pakunataningrat (1811-1854), Panembahan Mochamad Saleh atau Panembahan Natakusuma II (1854-1879), Pakunataningrat II (1879-1901), dan R.A. Prataningkusuma. Bentuk kubah cukup unik, demikian pula gerbangnya yang megah. Pesarean Asta Tinggi yang persisnya berada di Desa Kebon Agung itu sampai sekarang masih dianggap keramat dan banyak diziarahi orang dari berbagai daerah di tanah air, terutama sekitar Idul Fitri dan bulan Maulud. (beberapa sumber)