Kepada mantan
Ku ucap selamat tinggal,jiwa terpenggal
Tanggal-tanggal gagal, yang telah sejengkal
Bulan buncit telah kempis,jalan sempit
Tempias angin sakau,hujan sakal
Jam berlari meniti perih
Memandang hanya mengundang petang datang
Senyum biru muda telah membongkar isi dada
Dari balik jendela kita mencoba pasrah pada kenyataan yang ada.
Perempuan luka 1
Luka telah ia sebut bahagia
kesetiaannya tegah birdiri di antara reruntuah
Di tepi pantai telah ia tancapkan janji dan munajad yang meninggi
Langit jadi sepi menyetebui kuncug bianglala
kini lukanya ia pinang-pinang,bersama gugur air mata
Menelannya pada setiap sayatan bayang-bayang
Menghujam menikam malam ,khusuk kelam
Setangkup kecup melekat di pintu kamar
Menaiki malam memar
Saat angin timur mengantar pulang ke blitar
Benih-benihnya tak juga pudar
Getar jiwa berputar-putar.
Di senja
Senja ke senja langit berdarah
Angin kemarau hitam tua,
Dari kuncup sabit ingatanku jadi celurit
Air laut pasang mengantar langit merah saga
Ku eja setiap hunus bayang silam
Dari balik setangkai bunga temaram
Dan sepasang kupu-kupu yang lepas dari kekasihnya
Musim demi musim layu awan kelebu aku pilu
Di senja ini
Riak-riak ombak telah jadi gelombang
Meretakkan kuat batu karang
Aku duduk di atas batu
Di tepi pantai tempat pertama kita saksikan sepasang kupu-kupu bermesraan
Namum kini senja telah karam bersama rerempah duka
Tuhan . Di mana tempat berteduh ?
Membuang segala empedu rindu
Senja telah sempurna mengantar matahari mati
Angin timur mengirim gelombang
Perahuku karam pada purnama ke enam
Namamu kuhafal,matamu kuhafal
Ku abadikan di bukit dada
Ku adadikan di luka.
Memandang lautan dimatamu
Aku ingin berlayar hingga ke ujung debar
Aku ingin menyelamimu hingga kutemukan mutiara-mutiara itu
Aku ingin duduk hingga senja menenggelamkan tubuhku nanti
Aku ingin menulis puisi-puisi indah di bibirmu
Aku ingin damai seperti riak ombak perlahan meletakkan getar dada
Memandang lautan
Aku ingin tenggelam, menemukan malam pegantin di sana
Dan purnama bermekaran di atasnya
Lewat cahaya yang membacakan puisi-puisiku padamu.
Membuang masa lalu
Aku melangkah ke senja
Melaju,menjauh dari masa lalu
Memasuki gelap kian pengap
Angin-angin kencang
Burung-burung berlarian
Di tepianmu aku membuang segala bunyi kebisingngan dari bermusim bentuk paling asin
Kemurungan kuterbangkan kepada angin kemarau
Dan jenis-jenis luka kulempar pada lautan dan gelombang bergulung
Aku pulang membuang sesak masa silam yang muram
Menggikuti arah bintang yang jatuh itu
Mencari pintu-pintu tempat berlabuh dengan jiwa rubuh.
83 pesan dari masa lalu
kubaca hingga mata basah
Kuberi makna luka dan bahagia
Segala jenis gemuruh telah kita lafadkan mendaki keterasingan yang memuncah
tanggal bergerak purnama
Sambil mengengam bayang-bayang
Keriap embun dan tetes hujan kita terjamahkan didalamnya
Kepungan dingin membasuh kesepian
Malam telanjang kelam
Kita saling menutupi luka agar tak berdarah.
Abd.Sofi ,lahir di sumenep madura 17 juli 1991
Dan sekarang ia sedang megembara menemukan takdirnya
Kumpulan puisi-puisinya Di Ujung Senja (2015)
Dan aktif di Rumah Sajak