Aku Ingin Menjadi Mereka
Ada gunung es membongkah
Di bungkuk tubuh
Setiap kita bercakap.
Ada danau berair hangat
Di pipi rekah mulut madu
Setiap engkau berkata-kata
Dengan mereka.
Aku hangat, engkau es
Aku gigil.
Aku beku, engkau panas
Aku gagal.
Mengapa bicara denganmu
Demikian sukar?
Harus menjadi apa aku denganmu?
Berpura-pura hura padahal haru,
Atau berpura-pura haru agar hura?
Atau bila kauminta aku menjadi selain aku,
Tikamlah aku lebih dahulu.
(2016)
Akulah Nestapa
Akulah nestapa,
Denganku kau bisa apa?
Tiada candle dinner
Di sebuah meja kafe mewah.
Tak ada kelopak mawar berpita
Sampai di pintu matamu
Yang rekah-mekarnya sepanjang duabelas keretek.
Tak ada tamasya taman, pantai, atau wahana pasar malam.
Sebab akulah goa sunyi yang berteriak lolong malang.
Akulah nestapa,
Bertahanmu sebab apa?
Sarapanmu kata-kata
Makan siangmu timbel sajak
Makan malammu lagu senyap.
Wisata kita tempat paling angker
Yang ditinggalkan manusia biasa.
Tanpa kendaraan,
Tanpa bekal.
Kalau aku nestapa,
Engkau masih siapa?
(2016)
Ahmad Ginanjar, lahir di Cianjur 24 Januari 1993
Guru Bahasa Indonesia SMA Al-Ittihad Cianjur
Penyair. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul “Lantai Dansa” terbit Maret 2014.