Sajak Tak Kesampai
darahku membeku diterpa badai salju
menujumu bagai menjemput maut
bila aku mati membeku
niatku telah melesat menemuimu
dahulu aku memang dungu
menunggu bergulirnya waktu
dari berangkatnya kata-kata
sajakku tak kesampai dirimu
Sajak Kepada Dambaan Jiwa
dari sayatan waktu yang kugenggam
cintaku membara mengelupas sumsum
dari setangkai mawar segar yang kubawa
cintaku berangkat menemui dambaan jiwa
oh jiwaku peluklah erat sampai ku membeku
tiada keabadian menjalar ke jiwa
langit tempat kita bersemayam
aku tiba menyuarakan sajak kepada dambaan jiwa
Melingkari Majlis
kita bersitatap beradu dengkul
membuka salam dengan salam
menyusuri bibir gelas kopi kental
sehisapan jarum filter menguap menutupi malam.
cerita berkembang ke mahabbah kepada sang pencipta
atau puncak kerinduan hamba kepada sang pemilik Rindu
Sajak-sajak Muharam
bermula sebait niat menghujam keheningan batin
dalam diri mendegupkan rindu tak tertahan
meneruskan kebajikan melalui pintu ramadan
menghidupkan sebulan dengan getar-getar al quran
Maghrib ke berapa sekarang
adzan hampir menyeruak ke dada
rakaat ke rakaat membimbing manusia
salam kanan kiri
membagi kasih abadi
Tuhan
Tuhan, rawatlah mereka yang terlantar di wilayah dunia.
Tuhan, rawatlah mereka yang diabaikan kemujuran.
Tuhan, rawatlah kebahagiaan mereka dalam semua hal.
Sebaik Ibu: Bukan ia, Angeline
ibu sejatimu ialah ia yang suka mendongengkan kisah-kisah
Ibu hatimu ialah ia yang tak lupa menyirami bunga-bunga di kebunmu
ibu kasihmu ialah ia yang tak tega menghujanimu dengan duka lara mencengkam
Angeline baik-baiklah engkau
dikemudian hari
Usap Derai Itu
aku membaca nasibmu dari layar kaca yang menggemaskan
bagaimana bisa nurani perempuan berlaku keji
mengiris sedih berkali-kali
usap kepiluanmu dengan tisu bahagia
sebab di luar rumah
surga terbentang rumahmu berada..
Penyair Koran
aku membeli kulkas dari laba menyerahkan sepuluh puisi ke meja redaksi.
aku menunaikan hajat sebulan dari laba menuliskan kisah perselingkuhan dari ranjang ke ranjang.
aku menyelesaikan itu semua tanpa rasa bersalah.
sebab telah kulunasi hakekat kata-kata yang mengisi tiap bait dalam puisi-puisi itu
Om Malaikat
om… om, bagaimana agar tanganku bisa menggapai bintang?
lebarkan sayapmu, nak.
kepakkan sekuatmu.
kau akan mudah meraih banyak bintang itu
sajakku berjudul om malaikat

Bagus Setyoko Purwo, tinggal di Babelan Town, kab.Bekasi, menulis fiksi dan non fiksi, berkegiatan di Forum Sastra Bekasi, mengajar di SMK Ananda, Bekasi Timur, STIE Indonesia, Jakarta, dan STIE Kalpataru, Cileungsi, kab. Bogor