Arsip Tag: Bagus Setyoko Purwo

Puisi Puisi: Bagus Setyoko Purwo

Sajak Tak Kesampai

darahku membeku diterpa badai salju
menujumu bagai menjemput maut
bila aku mati membeku
niatku telah melesat menemuimu

dahulu aku memang dungu
menunggu bergulirnya waktu
dari berangkatnya kata-kata
sajakku tak kesampai dirimu

Sajak Kepada Dambaan Jiwa

dari sayatan waktu yang kugenggam
cintaku membara mengelupas sumsum
dari setangkai mawar segar yang kubawa
cintaku berangkat menemui dambaan jiwa

oh jiwaku peluklah erat sampai ku membeku
tiada keabadian menjalar ke jiwa
langit tempat kita bersemayam
aku tiba menyuarakan sajak kepada dambaan jiwa

Melingkari Majlis

kita bersitatap beradu dengkul
membuka salam dengan salam
menyusuri bibir gelas kopi kental
sehisapan jarum filter menguap menutupi malam.

cerita berkembang ke mahabbah kepada sang pencipta
atau puncak kerinduan hamba kepada sang pemilik Rindu

Sajak-sajak Muharam

bermula sebait niat menghujam keheningan batin
dalam diri mendegupkan rindu tak tertahan
meneruskan kebajikan melalui pintu ramadan
menghidupkan sebulan dengan getar-getar al quran

Maghrib ke berapa sekarang

adzan hampir menyeruak ke dada

rakaat ke rakaat membimbing manusia
salam kanan kiri
membagi kasih abadi

Tuhan

Tuhan, rawatlah mereka yang terlantar di wilayah dunia.
Tuhan, rawatlah mereka yang diabaikan kemujuran.
Tuhan, rawatlah kebahagiaan mereka dalam semua hal.

Sebaik Ibu: Bukan ia, Angeline

ibu sejatimu ialah ia yang suka mendongengkan kisah-kisah
Ibu hatimu ialah ia yang tak lupa menyirami bunga-bunga di kebunmu
ibu kasihmu ialah ia yang tak tega menghujanimu dengan duka lara mencengkam

Angeline baik-baiklah engkau
dikemudian hari

Usap Derai Itu

aku membaca nasibmu dari layar kaca yang menggemaskan
bagaimana bisa nurani perempuan berlaku keji
mengiris sedih berkali-kali

usap kepiluanmu dengan tisu bahagia
sebab di luar rumah
surga terbentang rumahmu berada..

Penyair Koran

aku membeli kulkas dari laba menyerahkan sepuluh puisi ke meja redaksi.
aku menunaikan hajat sebulan dari laba menuliskan kisah perselingkuhan dari ranjang ke ranjang.
aku menyelesaikan itu semua tanpa rasa bersalah.

sebab telah kulunasi hakekat kata-kata yang mengisi tiap bait dalam puisi-puisi itu

Om Malaikat

om… om, bagaimana agar tanganku bisa menggapai bintang?

lebarkan sayapmu, nak.
kepakkan sekuatmu.

kau akan mudah meraih banyak bintang itu
sajakku berjudul om malaikat

Bagus Setyoko Purwo, tinggal di Babelan Town, kab.Bekasi, menulis fiksi dan non fiksi, berkegiatan di Forum Sastra Bekasi, mengajar di SMK Ananda, Bekasi Timur, STIE Indonesia, Jakarta, dan STIE Kalpataru, Cileungsi, kab. Bogor