Arsip Tag: Fajrus Shiddiq

Puisi Puisi: Fajrus Shiddiq

Magan

Saat air laut belum tenang

Sampan-sampan dari ranting diapungkan

Dengan sedih dibungkus senyum

Lalu nelayan bergoyang bersama ombak

Menunggu ikan-ikan

Mungkin untuk sekedar makan malam

 

Ada Slamet dan Sumarni

Bersandar pasir berselimut sedikit dedaunan

Menunggu ayahnya

Menghilang dibalik ombak

 

Rasti

Reinkarnasi cintamu, Rasti

Hanya berkamuflase dibalik embrio

Dan tak terfikirkan

Meski sesekali mengeruhkan urat nadi

 

Jantung hatimu, Rasti

Menjelma labirin dengan nafas membasah

Membekukan kelenjar dengan derajat rendah

Menidurkan saraf

 

Rasti, cantik

Leukosit dan trombosit terenyuh

Ketika kau hadirkan wajah lusuh

 

Seret aku dengan pasti, Rasti

Agar tak lagi terbagi

Setangkai mawar yang masih tertusuk di hati

 

Jani

Selamat malam, Jani

Maukah kau duduk bersamaku

Di meja yang aku tak tahu hulu-hilirnya

Dan aku tak pernah tahu tentang menunya

 

Seduh saja,

Karena empedu menjelma racun

Lalu racun telah kuendap

 

Hanya karena kau, Jani

Aku mabuk bukan karena vodka

Dan aku sakit tidak juga sembuh

 

Kapan kau mampir, Jani

Ruang ini menunggumu harum aroma melati

Kurajut dari duri mawar

Dan aku telah terluka

2009

 

Titipan Yang Maha

Kukarang namamu pada proposal

Tak lelah selalu aku semogakan

Lewat tuan yang melahirkan

Melukis mawar tak sebegitu merah

Yang Maha Cinta

 

Aransemen sanjung dipanjat  di tinggian

Masih tentang namamu yang kembang

Terus menjalar lekat eritrosit

Pintu delapan belas pada surat dua tiga

Yang Maha Cipta

 

Ruh kata sayembara

Belum saja berani menusuk pori membangunkan bulu-bulu

Hatimu terpenjara di kamar sembahyang

Dibalut lembut helaian mesra

Yang Maha Suci

Malang, 16 Maret 2015

 

Membaca Ka’bah

Gantung aku puisi

Pusar kitaran sesembahan Ibrahim

Perbawa ababil hapus hikayat kawanan gajah

Petarangan legojo gadis-gadis kersik

Rumah telah dibangun, milik tuannya

 

Tujuh pujangga mati

Aksara wangi dupa-dupa dan puja

Melontar kerikil mengusir diabolos

Arah pulang matahari di tempurung waktu penghisab tarikh

 

Ada puisi yang kuat dan teduh

Di Ka’bah

Malang 2015

 

Laghouat Cemburu

Laman pagi ini adalah etiket pertemuan

Di gedung yang hangat oleh cemburu

Aku dan duri mawar

 

Jadilah surat terakhir,

Oase keruh karena kau mengarau

Tercebur aku belum entas di kubangan

Kau hadiahi senyum

Pesan tak sampai

 

Laman siang ini adalah salam

Aku dzikir sumringahmu

 

 

Suatu Pagi yang Ping Pong

Ada karib membunuh sepagian

Seutas waktu bercengkrama dengan guru

 

Ping pong dekat patembayan minum kopi

Sepintas perawan melangkah ping pong

Semakin ping pong, kedatangan sekawanan membual

Desahku ping pong tak simetris

 

Lampu hijau perempatan

Aku telah gegas ke perteduhan

Sebingkis legum hadiah lora

Mengalpakan

Suatu pagi yang ping pong

 

 

Sketsa Pagi

Luminositas kota

Topeng-topeng gerilya di lingkarnya

Ada kaki lima dirintih gebuk hujan

Sempoyong kaku bermata kaca

Kehidupan baru dimulai

Disemogakan

 

 

Melodia Pagi

Ruang ini hampa

Saat tak lama aku menjumpa

Pagi yang mesra

Kantin yang sepi kosa kata

 

Kulihat kembang senyum

Perawan-perawan menebar harum

Graptophyllum pictum

 

Maka waktu ini semakin kusut

Hati tertambat sayang terpaut

 

Adakah yang lebih perih dari harap ?

 

================================================

Tentang Penulis

Fajrus Shiddiq, lahir di pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1 Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Puisinya tak jarang dimuat di berbagai antologi Senja Bercerita, Muara Pelangi, dan Pada Batas Tualang. Serta media lokal Qalam dan KOMUNIKASI. Aktif tulis menulis semenjak masih nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab), FLP ranting UM, dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI.

______________________________________________________________________________