Arsip Tag: Iwan Setiawan

Kerinduan di Puncak Malam – Puisi Iwan Setiawan

Kerinduan di Puncak Malam

biarkan malam ini
kabut tidur di bawah sinar bulan
jangan kau sentuh mimpiku
dengan kisah lalumu
biarkan embun turun
dalam jelaga kejujuran

jangan kau halangi
angin gunung yang semilir
bertiup menerpa pohon pohon cinta
karena malam ini
aku ingin terlelap
dalam dawai getar asmaradhana
sang puspa dewi rinjani,

bulan
di malam ini begitu indah
menggantung di langit anjasmara
wajahnya penuh
berseri di atas bukit batu,
o

bibir siapa yang mampu mengecup bulatnya

kunang berterbangan
di kebun-kebun bunga
melintasi kabut-kabut putih
yang menipis di sela temaram
baying-bayang pohon hutan,

malam yang indah,….
aku masih berdiri
dia atas batu-batu sungai kenangan
di bawah puncak-puncak bukit kerinduan

padang, 2016

 

Ruang Kita

ruang ini
masih meninggalkan jelaga debu usang
dan seonggok kisah yang pernah alpa
di antara gemuruh angin yang meruncing
menghembus bumi

perlahan kupungut sedikit rerindu
yang meleleh
di sela bebatuan tajam
yang dulu pernah kita ramu
sebagai penjaga kalbu

dan di sini, di pesisir pasir
kita selalu menghitung waktu
mengeja bait bait indah yang biru
merengkuh syahdu dalam dekap jemari rindu

hingga
membiarkan camar
membawa pulang petang ke peraduannya
hingga denting waktu
menangkap bayang-bayang malam
yang tak jemu
melarut dalam rindu

padang, 2013

 

Sajak Rindu di Tengah Hujan

hujan turun begitu sedih
aku berjalan lalui malam
yang begitu dingin
kulihat rembulan
telah tenggelam di batas telaga
cahayanya redup membelai namamu
seperti seuntai kembang,

kemudian
sebatang pohon mimpi
menunjuk kepucuk anjasmara
tempat sepasang alap-alap terbang bermanja
memadu cinta di langit asmara

oh,…
aku begitu rindu
pada tembang asmaradhanamu
yang selalu menebar renjana
dan merasuk hingga ke kalbu

lalu
aku begitu sulit
untuk menolak
panah cintamu
yang selalu menghujam ke detak jantungku,

hujan yang turun
bagai air mata kesedihan
tanpa angin
tanpa gemuruh
hanya dingin
menyelimut beku,

entah
sampai berapa zaman
aku di landa kesepian
sedang mimpi
selalu mengusik masa lalu
tentang kita yang pernah satu

oh,
di mana kau sembunyikan wajah manjamu
di mana kau simpan desah rindumu kepadaku
hingga
sepuluh tahun
aku harus berperang melawan
kesepian,
tanpamu, di sini

(hujan masih turun dengan sedihnya)

Padang, 2013

 

Sajak Luka

kepada perempuaku 1983

tinggalkan sebuah komentar
di atas rak waktu yang usang
tanpa lentera juga nyala kunang
masih juga seperti dulu,
sajak lara yang kau tinggalkan
pada bait sepi

mungkin aku masih bisa temukan kata cinta di sini
bila saja di akhir sajakmu aku temukan kata”perjumpaan”
namun,ku lihat kau makin terlelap pada bait luka
pada kata yang kau sebut nestapa

aku masih terjaga
menyusun makna di akhir kalimatmu
yang penuh butiran dendam

semoga saja kau bisa temukan kembali
ayat Tuhan untuk memaafkan kesalahanku

sejak fajar sampai perbatasan
dari penjara fana hingga lorong hampa

tak juga kutemui sajak perjumpaan
yang kau tinggalkan

kucoba cium dahi rembulan
saat malam kembali menjelang
sepi, sepi dan tetap sepi
tak bisa lagi kubaitkan
doa-doa pembebasan jiwa

semua telah menjadi
luka di akhir kalimat
sajakmu

padang, 2016

 

Perempuan Tanpa  Judul

di atas bukit kapur
ada bulan sepotong
menyerupa wajahmu yang melompong
semerbak bunga adalah harummu
namun, di taman hatimu
tak ada aroma yang menanda

di atas bukit kapur
ada bintang sepotong
menyerupa manjamu yang bengong
dan angin berkibar
menerpa rambutmu yang menjalar
menyusup hingga menyapa hembus nafasmu
yang masih setia
mengutarakan kesepian
di ujung-ujung embun yang melantun turun
hingga di perbatasan
mata kakimu yang bisu

di atas bukit kapur
kau masih menjadi perempuan
yang mengabjad rembulan
bersama kumpulan sunyi
yang di lontarkan gemerisik angin dedaunan

di atas bukit kapur
kau masih menjadi perempuan
yang terdiam dalam gemuruh waktu
yang terhunus belati sepi

di atas bukit kapur
kau telah menjadi perempuan tanpa judul
yang menghitung hari demi hari
tanpa mimpi yang terkabul,

padang, 2013

 

Astana Rasa

diri rindu padamu
duhai jelita kemayu
sapalah daku dengan kulum seyummu
agar rupa merona semu

tiada suara
kukatakan kata-kata
tiada makna
merubah rasa

kau masih indah
berbaur dalam harum debar kenanga
aku selalu sumringah
mendapat kau tetap setia

tiada hati menolak kelak
saat kita bersanding menapak puncak
menuju hidup penuh corak
degan ikatan cinta yag kuarak

kasih, kasihku yang terkasih
mari jaga hati saling asih
memberi rasa menuju mimpi tanpa perih
kemudian kita tanamkan diri menjadi benih

semoga,
gelanggang di dada
berpacu membaca bagai memantra
dan melumuri hasrat untuk segera membuka cerita

dan,kita kembali ada
sama merasa,sama membaca
memakna segala suarasuara bergelora

hingga kita terkapar di rangkaian cuaca suwarga

roemah bamboe, 24-12-14

 

Aku, Kau Dan Januari

kunang-kunang dan hujan
tak juga pulang
malam yang kesekian
aku masih di balut kesepian
mimpi tak berujung akal
di sini kau letakkan secawan kata
lalu hilang
aku kembali tenggelam
tergulung dalam gelombang makna
penuh ambigu
hutan-hutan kabut
menjilat maut
sepi yang meniti sisakan kepedihan
aku terpenjara dalam hujan diammu
januari pertama yang sedih
mataku masih mengenang wajahmu
bahkan beratus-ratus kali
aku kembali menata retak cinta ini
o,
kunang-kunang dan hujan
tak kunjung pulang
kau tahu tentang sepi ini
sepi yang tak pernah tuntas

januari, 2107

 

Kesetiaan Cintaku

andien,
biarkanlah bulan di malam ini
datang membawa cahaya kerinduan
menyinari di segala lekuk tubuh lusuhku
yang masih terbalut sendu

andien,
gemericik sungai kedung masih meriak tenang
membawa sejuta irama cinta yang panjang
melahap seisi embun dalam gletar usang
dan bayangmu semakin jauh di cumbu silirnya gunung karang

andien,
andai,kau ada di malam ini
mungkin pintu hatiku tak akan rapat terkunci
dan segala bintang yang telah hadir di sini
akan menjadi saksi cintaku yang abadi
kepadamu
hanya kepadamulah cinta ini berlabuh
hanya untukmu semua rindu yang tercipta di hatiku
hanya kepadamu
seluruh ruh asmaraku berteduh

andien,
kau tau, malam ini aku lewati semua udara dengan gemetar
sambil terus mengenang wajah cantikmu
agar tiba kantukku nanti
aku dapat bertemu denganmu walau itu hanya di alam mimpi
dan aku akan terus bertahan
mengemas semua bongkah kesepian
sampai kau datang kembali menemui aku di sini
di pinggir kali kedung tempat kita mengikat janji

andien,
pernah aku mecoba untuk berkelana
singgah ke dermaga hati para wanita
namun sampan kesetiaan itu tak mampu kukayuh
higga aku kembali teggelam
di laut cintamu yang begitu dalam

andien,
pulanglah sayang
aka kubelai rona wajahmu dengan wanginya kembang
lalu kutanamkan pohon sabar yang rindang
di taman hatimu,
agar pengembaraan hatiku dapat berteduh lama di pohon kasihmu
andien
jangan kau buat harapan hatiku menjadi serpihan yang sia-sia
pulanglah sayang
temui aku di pinggir kali kedung
yang di bawahnya mengalir air yang begitu jerih
sejernih bola matamu
andien

roemah bamboe,2013

 

Cintamu Telah Membakar Cemburuku

malam ini
aku kembali meratapi diri
setelah kepulanganmu melukai cintaku
tiada lagi harap
jalan kecil di tepian sungai itu
telah kupagari api
bunga-bunga dandelion
yang selalu kita mainkan bersama angin
pun, aku hancurkan
malam ini
aku ingin lampiaskan segala
dari kekecewaanku yang mendalam
hingga seluruh kelukaan hatiku yang mendendam
akan kucabik semua kesukaanmu
dari almari rinduku
aku tak ingin lagi
melukis senyum, apalagi wajahmu
kesakitanku yang mencintaimu
sudah memerah bara
mendidih magma
hariku hitam
mataku kelam
embun-embun hilang
udara pengap sekejap
dalam kamarku ada kehampaan
matahari ke tujuh telah hadir menabrakku
dari perpisahan yang terjadi
sinarnya tak lagi hangat
seperti waktu kau masih bersamaku
tak perlu lagi kau temui aku
cukup dustamu saja
yang aku nikmati
dengan secangkir kopi pahit
dari balik beranda rumahku yang
masih penuh cerita
tentang, kita

lampoeng, 2016

 

================================================

Iwan Setiawan kelahiran kotabumi lampung utara 23 agustus1980, menyukai puisi sejak SD, baginya puisi adalah ruh dalam tubuhnya, pernah tergabung dalam antologi 55 penyair coretan dinding kita, 30 penyair sastra roemah bamboe, dan 3 penyair ilalang muda, kini tinggal dan menetap di padang tepatnya di lubuk begalung padang Sumatra barat. Nomor hp: 082386725726