Arsip Tag: Khairani Piliang

Puisi Khairani Piliang

  • SKETSA
  • Bosan aku pada huruf-huruf bergelantungan
  • Bosan pada kata
  • Pada kalimat
  • Pada paragraf
  • Pada cerita dan kisah yang berlompatan di kepala
  • Masuk ke lorong-lorong kosong
  • Berbondong mencari kantong-kantong kepompong
  • Yang akhirnya melompong
  • Lalu guratan-guratan takdir semakin renta
  • Terlukis mematri di dahi-dahi berlubang
  • Ada yang serupa sumur tak berair,
  • Kadang kala berupa lubang hitam tak berdasar
  • Puisiku hanya sepotong huruf yang langka
  • Dan sajak malam berlarian, serupa kuda liar berkejaran
  • Berebut perhatian sang betina
  • Menghitung derapnya hingga bulan terjaga
  • Mataharikah yang kau tunggu?
  • Hanya ada luka, tenang dan tak terlihat
  • Tapi ini ada, tapi ini nyata
  • Jakarta, 091115

 

Jangan Menoleh ke Belakang

Aku menitip sebait sajak yang kuselipkan di saku bajumu
Sajak dengan kata terangkai yang pernah kita susun bersama
Sajak tanpa koma, juga tak ada titik di akhir kalimatnya

Ketika itu hujan baru mulai menitip jejaknya
Pada tanah-tanah retak
Pada batang-batang meranggas
Pada sumur-sumur kosong
Pada sungai yang kehilangan muara
Ada sepotong harap

Kelak ketika kau lupa jalan pulang
Bacalah jejak hujan
Kau pasti temukan selarik kisah
Yang pernah menjadi milik kita
Meski kini telah mengukir
Jadi nisan tertutup lumut tanpa nama di sana

Jkt, 031115

 

Akar Pikiranku

Selepas hujan turun
Kau susuri jalan licin itu
Ketika mendung kemarin menebal
Namun air enggan menyapa
Kini gerimis mengiris hatimu

Selepas badai berlalu
Porakporandakan mimpimu
Ketika langit kemarin kelabu
Namun setitik warna menyembul
Mengukir jejak pelangi di harimu

Kaulah sajak di pikiranku
Selepas semua itu
Kau coba berdamai dengan waktu
Kau hadir kembali
Temukan masa lalu
Dengungkan nama di hatimu
Karena Kau adalah Aku

Jakarta, 031115

 

INTUISI 1

Aku melukismu di secangkir kopi hitamku yang nyaris tandas. Kopi pahit tanpa gula, tapi kusuka. Kepulan hangatnya menyelimutiku dari gigil suasana. Dan manis yang tersirat setelah pahit yang kutelan mengajarkanku untuk bisa sedikit lebih lama mempermainkan rasa.

Satu ketika aku bertanya, apa yang kau cari ketika gerimis mulai menggelitikmu, setelah sekian lama kering melingkupi? Kau hanya tersenyum serupa bulan yang rekah ketika cuaca sedang purnama. Dan aku paham, karena tak ada yang bisa paham kecuali kita.

Cinta adalah, ketika kau mulai mencicipi pengorbanan di balik manis yang kau telan, dan jiwa kita mulai saling rengkuh menambat serupa jaring laba-laba mengikat tembok usang. Inilah prosaku dalam batas ambang rasa yang tertuang di cangkir kopi yang kau hidangkan pagi ini. Kita baru mulai, masih ada sejuta cangkir lagi dengan lukisan berbeda nanti.

Sabtucerahselepasmendung, 141115

 

INTUISI 2


Ini waktu ketika mentari masih memegang janji yang sama saat senyumnya menyentuh bumi, menjadikan siang yang kita lalui masih seperti hari kemarin. Hanya saja di musim penghujan ini menjadikan pancaroba bergulir mewarna hari.

“Buat hujan ini menjadi butiranbutiran salju, membeku ketika berada dalam genggaman,” ucapmu satu waktu dalam cuaca yang menjadikan hembus napasmu serupa embun menyinggahi kaca jendela kamarku. Kau tetap bersidekap dengan mantel bulu dengan tatapan hangat melebur dari hari yang kian beku.

Dan untuk tahun kesekian kita menjalani ini sebagai dejavu yang kita cipta dalam dimensi berbeda, namun tetap melebur dalam wadah cangkir yang sama, yaitu rasa. KAU, AKU adalah KITA.

 

 

Biodata narasi:
Saya Khairani dengan nama pena Ranpil.
Karir saya di dunia literasi baru dimulai lebih kurang 2 tahun terakhir.
Mempunyai beberapa buku antologi bersama dan aktif di beberapa grup kepenulisan.