jika kau tunjukkan jalannya maka akan kutabur kamboja di atas nisannya
sampai musim yang sunyi menemukan mekarnya kembali, entah berkilo panjangnya itu
tiada tahu, tempat singgah apa yang telah mencium bau surga
tubuhmu tubuhku tak berarti apa-apa
hanya kau tahu? denting musafir di setiap perjalanan
menambah kekuatan, cinta atau dendam atau rindu
semakin erat semakin luruh dalam ketidakkuasaan kita
apa yang kurengkuh, detik! tiba-tiba menghambur bagai hujan
menembus peluhku, menimbun baramu
jika tak tahu jalannya, maka kamboja menahan sedihnya
dari pengembaraan yang tak pernah mampu diselesaikan
Bandung, 2-9-14
Setahun yang lalu, dia memberiku harapan, entah Tuhan yang memberikannya? Lewat pikirannya, aku menemukan diriku, menemukan apa yang telah hilang selama ini. Lewat dirinya aku juga menemukan salahku. Menyusun kembali batu-batu yang sudah menjadi kerikil runcing.
“Aku menemukanmu, melalui celah-celah kesakitan. Kau membuatku tertawa, seakan tawa benda purba di tanganku waktu itu”
#EPS 1
KETIKA MENEMUKAN
memasuki rumah, menghembus napas dan aroma mawar
yang ditertawakan sepi seperti memukul-mukul mata
kepala menatap namun hati menyayat, jejak jejak di beranda
mengisi hampa; aku menemukanmu, risalah yang cemburu
masuk lebih lama; tungku api menyala, diam-diam aroma masakan menusuk jantungku
almanak tua tergantung miring, dinding muram dan detak jam melebam dadaku
;aku menemukanmu ketika kertas-kertas berbaring tak berdaya
di pembaringan yang kian sunyi, alarm menghunus tubuhku
gambarmu tersenyum di sudut paling berwarna oleh lampu-lampu
;yang berjuang mempertahankan hati
aku menemukanmu mengelus keperempuananku
aku berlari dan kuhitung bintang di halaman belakang
rambut yang tergerai meniup senja yang lapar
punggungmu di tepi ngarai mengurai banyak hal
kutangkap tanganmu kudekap tubuhmu kuciumi kerinduanku
sungguh-sungguh aku menemukanmu, ilalang berarak adalah waktu singgah yang lama
Bandung, 10-9-14
Sungguh! Itu setahun yang lalu, dan akhirnya dia menemukan rasa sakitku di celah paling tersembunyi. Katanya, “aku membayangkan bagaimana orang itu bisa tetap menciummu, ketika engkau menangis dalam luka.” Aku tertawa miris dan pilu. Sedangkan dia mengelusku dalam setiap kata-kata puitisnya.
“Kau mengerti! Betapa berharganya engkau melebihi apa yang dimiliki dunia ini, tetapi kau lebih memahami, cinta akan lebih membuatku perih kehilanganmu. Dan kini aku akan kehilanganmu”
#14
biarkan aku berlari, menangisi temaram dalam matahari
gila sebab yang berjuntai bukan saja sungai dan kelokannya
tapi mimpi-mimpi mendaratkan sepi
sehampa laguku sore yang ragu itu
kamu yang memberi kecupan, dari bibir terkatup
gelap dan mesra, angin barat telah menabur pucuk dedaunannya
di tanahku, lama tertinggalkan; pada sebuah nisan
tanganmu wahai sang penyair, meramu masakan tulang-tulangmu
rempah-rempah menangkup ciumanku
batas malam di antara sesak rembulan
dan aku kini, menjadi kelu, saat bayangmu menggapai-gapai
biarkan aku berlari, tepat di jantungmu
Bandung, September 2014
Dia pergi, aku yang membiarkannya pergi. Hari ini, Agustus 2015. Sudah hampir setahun. Aku memberinya kecupan kata yang pahit. Aku pergi untuk hidupnya! Bukan untukku.
“Kata-kata telah menjadi mimpi, mereka menamparmu, dan aku pun tertampar. Dalam kebimbanganku untuk meyatakan aku merdeka dari rasa yang tiada aku sesali, aku masih mencari adakah sela
selain dirimu yang mampu tepat menembus jantungku dengan bunga-bunga? Sungguh hidup ini memberiku akal untuk memilih yang lain, bukan dirimu! Sayang, dalam ketidakmengertian kita, aku hendak memilih jalanku, cukuplah hidupmu dengan adanya sekarang, dan hidupku biarkan mengalir ke jalannya”
Tanganmu wahai sang penyair
akan damai saat sunyi di atas bukit mimpi
memanggil untuk kembali
menjemput pagi
Bandung, 11 Agustus 2015
Ini kisahnya, setahun lalu.
Dan aku memberikan puisi pertamaku padanya, 1 September 2014. Aku menganggapnya seorang teman dari masa lalu, yang biasa berbagi tawa. Setelah lama menghilang dari jagad permayaan, aku menemukannya lagi, masih dengan perasaan yang sama, seorang teman yang sangat lucu.
“Tiba-tiba engkau hadir pada ketidakmengertianku, pada misteri masa depan. Kau datang memberi warna, pada hidup kelabuku. Semua orang tidak pernah tahu tentang lubang rasa sakitku waktu itu”
terlelap sayangku, mungkin jiwa
mungkin lainnya, mengenai terbang
seperti camar atas lautannya.
aku atas samuderaku dari kumpulan angin
yang tersedu-sedu.
jika warna itu rindu, aku memulai
dari yang paling sunyi
menemukanmu dari tatap panjang masa silam
seolah-olah terbangun dari mimpi itu
kutemukan palung indah dari kedalaman yang damai
Bandung, 1 September 2014