LUKA PARA PETANI
Pada musim yang berlabuh
Pada kemarau tandus menusuk hati kami yang rapuh
iIalang senja memahat hati kami yang nanar
luka bekas pacul membias membelah samudra
lain kali hati kami merasa senang dengan ini
tak pernah memaksakan diri
sehingga ku biarkan sapi-sapi mengelilingi jagat raya
antara tani dan polisi sama saja
lukanya tak sampai menggores sukma
lantaran hatinya dipahat didinding kaca
bahwa anak kami yang kecil akan merebut warna jingga menjadi kejora
niatnya tak sampai melukai pada dirinya
hati tak pernah salah menbedakan antara uang rakyat dan Negara
sekalipun ada mereka adalah pecundang dimasa lalu
yang datang dalam keadaan miskin meminta uang pada rakyat
sebenarnya tidak ada bedanya antara tikus dan pejabat
yang kerjaanaya mengupas uang melarat
tangan tangannya menjalar keseluruh arah
sekalipun ada mereka akan selamat
karena mereka dilindungi oleh uang laknat
MENATAP MUSIM
dan aku,
berlari-lari pada musim hujan
gemuruh angin dan Guntur bercengkrama dalam siang
wajah langit cemas pada hati kami yang nakal
ada sedikit bimbang dan ragu
wajahnya masam menyambutku tak peduli
dan aku,
tertawa bahagia bermain bola dengan kakiku yang nakal
kata ku “jangan hawatir bu, hati kami bermain penuh bahagia”
hari seperti berselimut malam
tak ada yang mengenal waktu
matahari lari dan bersembunyi
dan aku,
mata ku perih
suara ku tak didengarnya
teman ku yang baik berhasil memasukkan kedalam sarang
hati ku berdengus
sial wajah langit kembali terang
wajahku pucat bekas luka semakin tampak dan terang
dan aku,
tersenyum geli mengingat itu
dan akhirnya angan ku mulai terang
tak terasa waktu telah gelap
anak ku sayang telah tidur pulas.
28 oktober 2016
Potret Indonesia Kita
Adalah aku mencari angin
Dimana arah menebus luka
Kemana jiwa membahas petuah
Sebuah senyum yang tersungging
Kembali kepada hening
Sebuah dosa jika tuhan tak member ampun
Hanya menciptakan bahasa luka dan sepi
Tak pantas luka ini terobati
Lantas kemarin tertawa bersama
Ya, itu sebuah gelisah rindu
Permainan kita di masalalu
Pa’-opa’ iling, ilingnga sakoranjang
Peloto’ pelghedeng
Saparea!
Riuh tawa melepas dahaga
Adalah ciri Indonesia
Kemana kah ketenangan kita?
Sumenep, 7 Agustus 2016
Birahi yang terluka
Suara ku serak
Membasahi daun dipagi hari
Menghirup dan melepaskan
Diantara musim kemarau
Bibir yang basah kuyup diterpa angin
Menjelma kemarau panjang dimataku
Hatiku lelah,
Bahasaku layu dalam raung wajahmu
Entah, apa yang terjadi
Adalah rinduku diujung senja
Sengaja membajak langit dimalam hari
Lalu mengembalikan sebagian kepada tuhan
Tentang kehampaan yang tertuah dihati kami
Tak perna dimengerti
Hati kami gersang ya illahi
Bibir kami lelah bertakbir
Atas nama selain engkau
Menjadi budak sepanjang masa
Jika mereka basah dengan mengingatmu
Entah, apa yang terjadi pada hati kami
Gemulai dan senang tertanggap kehampaan hidup
Hati kami gersang
Padang tandus
Tak mampu menyimpan air dimata kami
Oh tuhan,
Kami adalah sebagian yang jahat
Kami adalah jiwa-jiwa yang rapuh disepanjang hidup manusia.
MAHASISWA KEPADA NEGARA
Kepada bangsa!
Kami adalah kumpulan para pecundang yang tak berdosa
Membiarkan anak anak kami bahagia di hari esok
Menaruh beras dan karung untuk sekedar diterka
Lalu tubuh kami kering dan kerontang
Bibir kami basah sekejap memecahkan langit
Lalu berbaring dan membusuk
Hati kami terenyu tak sempat kami saksikan kematian pak soekarno
Dalam ceritanya di tembak mati oleh pak harto
Bangsa dibeli dengan hasil uang kami
Kepada Negara !
Hari ini sumpah kami berbeda
Sekedar bercanda tikus berdasi tak pernah mati
Mereka semakin bercengkrama dengan puisi
Buku dan mulut kami dibakar api
Bangsa dijadikan tumbal peradaban
Keperawanan bangsa diambil paksa
Tubuh tak berdosa merasa puas dan perkasa
Padahal tubuh yang ranum tak boleh tinggal diam
Membahasakan puisinya sendiri kedalam masa lalu
Luka ini terlalu parah untuk sekedar disembuhkan
hati kami hampir rapuh
beribu mahasiswa berlomba menyeret dasi dasi
tak hanya makanan yang busuk dan basi
ternyata agama telah ditinggal mati
lalu pergi melarikan diri ke ujung sunyi
kepada politisi !
silahkan tumpahkan hati kami yang sunyi
darah tuhan tak pernah mati
aku akan tersenyum melawan diri
karena itu bunuh lah kami
dalam kesesatan yang berbeda
tubuh akan tetap bangkit
suara rakyat adalah senjata sejati yang tak pernah mati.
27 september 2016
Dibulan agustus
Malam telah dingin
Menyeruap pada tulang belulang
Yang menggigil diterpa angin
Membawa arus penyakit menyanyat merasuk jiwa
Seakan pudar dalam angan
Seakan pudar dalam kelam
Mengganti musim pada bulan agustus
Adalah rindu pada ikhtiar para santri
Yah, aku menahan sakit
Pada sekur tubuh
Lalu kau setia menemaniku disepanjang malam
Sahabat sejati ku
Adalah kebahagian dimusim musim
Tak sadar air mata ku mengalir deras.
08 januari, 2017
Menutup senja
Sebenarnya kelelahan telah mencapai puncaknya
Luruh dan gelisah melebur air mata
Secercah harapan dulu hampa
Rindu sekian lama membelah samudra
Ada yang hilang
Ada yang merindukan senyuman malam
Saat sepi dan tertawa
Mungkin saja kau disana
Menggeluti sakit hati mu yang lama
Biar kita buang air yang keruh
Aku ingin mengenalmu kembali
Yang terlahir tuk ku miliki
Maafkan aku yang kaku
Maafkan aku yang lalu
Karena berani menutup mata
08 desember 2016
*)M.elshoby atau Maisyaroh el-shoby Lahir pada 18 Juli 1997 di Pasongsongan Sumenep. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA). Saat ini, nyantri di PP. Aqidah Usymuni Tarate PandianSumenep. Juga aktif bergiat di LSA (lembaga santri aktif) CANDRA dan UKM Komunitas Pelar STITA Sumenep, no. hp: 085104004932