Arsip Tag: Maisyaroh el-shoby

Puisi Maisyaroh el-shoby

LUKA  PARA PETANI 

Pada musim yang berlabuh

Pada kemarau tandus menusuk hati kami yang rapuh

iIalang senja memahat hati kami yang nanar

luka bekas pacul membias membelah samudra

lain kali hati kami merasa senang dengan ini

tak pernah memaksakan diri

sehingga ku biarkan sapi-sapi mengelilingi jagat raya

antara tani dan polisi sama saja

lukanya tak sampai menggores sukma

lantaran hatinya dipahat didinding kaca

bahwa anak kami yang kecil akan merebut warna jingga menjadi kejora

niatnya tak sampai melukai pada dirinya

hati tak pernah salah menbedakan antara uang rakyat dan Negara

sekalipun ada mereka adalah pecundang dimasa lalu

yang datang dalam keadaan miskin meminta uang pada  rakyat

sebenarnya tidak ada bedanya  antara tikus dan pejabat

yang kerjaanaya mengupas uang melarat

tangan tangannya menjalar keseluruh arah

sekalipun ada mereka akan selamat

karena mereka dilindungi oleh uang laknat

 

MENATAP MUSIM

dan aku,

berlari-lari pada musim hujan

gemuruh angin dan Guntur bercengkrama dalam siang

wajah langit cemas pada hati kami yang nakal

ada sedikit bimbang dan ragu

wajahnya masam menyambutku tak peduli

dan aku,

tertawa bahagia bermain bola dengan kakiku yang nakal

kata ku “jangan hawatir bu, hati kami bermain penuh bahagia”

hari seperti berselimut malam

tak ada yang mengenal waktu

matahari lari dan bersembunyi

dan aku,

mata ku perih

suara ku tak didengarnya

teman ku yang baik berhasil memasukkan kedalam sarang

hati ku berdengus

sial wajah langit kembali terang

wajahku pucat bekas luka semakin tampak dan terang

dan aku,

tersenyum geli mengingat itu

dan akhirnya angan ku mulai terang

tak terasa waktu telah gelap

anak ku sayang telah tidur pulas.

28 oktober 2016

 

Potret Indonesia Kita

Adalah aku mencari angin

Dimana arah menebus luka

Kemana jiwa membahas  petuah

Sebuah senyum yang tersungging

Kembali kepada hening

Sebuah dosa jika tuhan tak member ampun

Hanya menciptakan bahasa luka dan sepi

Tak pantas luka ini terobati

Lantas kemarin tertawa bersama

Ya, itu sebuah gelisah rindu

Permainan kita di masalalu

Pa’-opa’ iling, ilingnga sakoranjang

Peloto’ pelghedeng

Saparea!

Riuh tawa  melepas dahaga

Adalah ciri Indonesia

Kemana kah ketenangan kita?

Sumenep, 7 Agustus 2016

 

Birahi yang terluka

Suara ku serak

Membasahi daun dipagi hari

Menghirup dan melepaskan

Diantara musim kemarau

Bibir yang basah kuyup diterpa angin

Menjelma kemarau panjang dimataku

Hatiku lelah,

Bahasaku layu dalam raung wajahmu

Entah, apa yang terjadi

Adalah rinduku diujung senja

Sengaja membajak langit dimalam hari

Lalu mengembalikan sebagian kepada tuhan

Tentang kehampaan yang tertuah dihati kami

Tak perna dimengerti

Hati kami gersang ya illahi

Bibir kami lelah bertakbir

Atas nama selain engkau

Menjadi budak sepanjang masa

Jika mereka basah dengan mengingatmu

Entah, apa yang terjadi pada hati kami

Gemulai dan senang tertanggap kehampaan hidup

Hati kami gersang

Padang tandus

Tak mampu menyimpan air dimata kami

Oh tuhan,

Kami adalah sebagian yang jahat

Kami adalah jiwa-jiwa yang rapuh disepanjang hidup manusia.

 

MAHASISWA  KEPADA  NEGARA

Kepada bangsa!

Kami adalah kumpulan para pecundang yang tak berdosa

Membiarkan anak anak kami bahagia di hari esok

Menaruh beras dan karung untuk sekedar diterka

Lalu tubuh kami kering dan kerontang

Bibir kami basah sekejap memecahkan langit

Lalu berbaring dan membusuk

Hati kami terenyu tak sempat kami saksikan kematian pak soekarno

Dalam ceritanya di tembak mati oleh pak harto

Bangsa dibeli dengan hasil uang kami

Kepada Negara !

Hari ini sumpah kami berbeda

Sekedar bercanda tikus berdasi tak pernah mati

Mereka semakin bercengkrama dengan puisi

Buku dan  mulut kami dibakar api

Bangsa  dijadikan tumbal peradaban

Keperawanan bangsa diambil paksa

Tubuh tak berdosa merasa puas dan perkasa

Padahal  tubuh yang ranum  tak boleh tinggal diam

Membahasakan puisinya sendiri  kedalam masa lalu

Luka ini terlalu parah untuk sekedar disembuhkan

hati kami hampir rapuh

beribu mahasiswa berlomba menyeret dasi dasi

tak hanya  makanan yang busuk dan basi

ternyata agama telah ditinggal mati

lalu pergi melarikan diri ke ujung sunyi

kepada politisi !

silahkan tumpahkan hati kami yang sunyi

darah tuhan tak pernah mati

aku akan tersenyum melawan diri

karena itu bunuh lah kami

dalam kesesatan yang berbeda

tubuh akan tetap bangkit

suara rakyat adalah senjata sejati yang tak pernah mati.

27 september 2016

 

Dibulan agustus

Malam telah dingin

Menyeruap pada tulang belulang

Yang menggigil diterpa angin

Membawa arus  penyakit menyanyat merasuk jiwa

Seakan pudar dalam angan

Seakan pudar dalam kelam

Mengganti musim pada bulan agustus

Adalah rindu pada ikhtiar  para santri

Yah, aku menahan sakit

Pada sekur tubuh

Lalu kau setia menemaniku disepanjang malam

Sahabat sejati ku

Adalah kebahagian dimusim musim

Tak sadar air mata ku mengalir deras.

08 januari, 2017

 

Menutup senja

Sebenarnya kelelahan telah mencapai puncaknya

Luruh dan gelisah melebur air mata

Secercah harapan dulu hampa

Rindu sekian lama membelah samudra

Ada yang hilang

Ada yang merindukan senyuman malam

Saat sepi dan tertawa

Mungkin saja kau disana

Menggeluti sakit hati mu yang lama

Biar kita buang air yang keruh

Aku ingin mengenalmu kembali

Yang terlahir tuk ku miliki

Maafkan aku yang kaku

Maafkan aku yang lalu

Karena berani menutup mata

08 desember 2016

 

*)M.elshoby  atau Maisyaroh el-shoby  Lahir pada 18 Juli 1997 di Pasongsongan Sumenep. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA). Saat ini, nyantri di PP. Aqidah Usymuni Tarate PandianSumenep. Juga aktif bergiat di LSA (lembaga santri aktif) CANDRA dan UKM  Komunitas  Pelar  STITA Sumenep, no. hp: 085104004932