PENYAIR HESTI
penyair hesti menulis puisi
peri hati dan lapar imaji,
dibagi-bagi, dipisahkan mana
madu mana belati, apa yang
terjual dan siapa pembeli
selain puisi, sehari-hari
penyair hesti mengaji
mencari siapa betul yang
meminta Adam makan pohon kuldi
jangan-jangan bukan setan
barangkali ada pengecualian
gemuruh penyair hesti di dada kanan
di ujung kata, penyair hesti bilang
pada dadanya yang lapang bahwa kadang
saya hanya menduga-duga
jangan kejar saya dengan babi yang buta
2016
TIDUR, PUKUL SEPULUH MALAM
Tidur bersama buku-buku
tingkahi setiap putaran waktu, menari
menyanyi, riang semesta
du du du…
usah kawan, jangan diamkan
lirih hati yang memanggil
ke arah kebenaran
ke arah tenang
mengejar masa lalu
sembunyi di bilk hari depan
tulis sesuatu
nyanyikan bila perlu, du du du…
akhir kata
tolong maafkan
kesalahan tak untuk dimakan
kau melayang, kau terbang
du du du…
YUNUS IBRAHIM DIMAKAN MALAM
la ila ha illallah
kau bertemu gelap maha gelap
gelap lautan, gelap malam
gelap perut ikan
kau dibakar atas nama tuhan-tuhan
yang sebenarnya tak pantas dituhankan
api tunduk di hadapan
tak ada kuasa lain bagi orang-orang
selain heran
la ila ha illallah
kau bernyanyi seperti band indie
2016
DOA PENGHILANG KABUT
ya Tuhan, tidurkan Mikail
kami sedang ingin berburu
untuk hidup yang selelu tergesa
nanti dulu kirimkan air
kami butuh uang untuk beli air
ya Tuhan, tidurkan Mikail
dongengkan kisah cinta, tentang
Adam yang diusir, tentang Hawa
yang penasaran
2016
SATE PADANG
hujan, hujan kau tetap mengipas
asap minyak mengepul ke udara
setiap yang berhenti adalah pembeli
malam telah larut
dingin-dingin kau berdoa,
“semoga biaya pendidikan menurun
dan buku-buku dapat diunduh gratis”
tinggi asap ke udara
memanggil kaum yang menggigil
selamat datang, hai mata uang rendah
Tunggul Hitam, 2016
LELAKI PATAH KEMUDI
nasib sepantun dengan tepian patahan
digerus terus digerus air lalu
siap-siap untuk habis
siap-siap hilang
menjadi yang diam di lautan
diam batu karang
diam ketika pasang
diam bila surut
dijemur mentari
dieram hari esok
biduk sansai menghitung untung
rugi melulu sekujur detik
ya Allah, ya Allah, kau panggil
apa yang bisa diselesaikan sablon kaos
2016
BAGAIMANA PUISI MENYELESAIKAN INI
aku mencintaimu, dan berpikir keras
bagaimana puisi menyelesaikan ini
kurangkai bunga manis bahasa
rima seluas samudera
dalam bola mata
cahaya sebagai haluan
memilih singgah atau lanjut
berjalan
2016
BERTEDUH, MENEPI
hati kita tak lagi bersua,
meski rindu tak ujung reda.
Seperti butir habbah* yang dipatuki merpati
peziarah, aku bersedia tiada.
Siiruu!**, kau kata
tak usah pamit
jangan lagi meminta.
2016
* = Habbah adalah sejenis gabah. Dinukil dari cerpen Triyanto Triwikromo.
**= Pergilah (Bahasa Arab)
BIODATA PENULIS
Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Puisinya disiarkan Haluan, Singgalang, Padang Ekspress, DinamikaNews, Metro Riau, Harian Rakyat Sumbar, Mata Banua, Buletin Jejak, Buletin Tubuh Jendela, Biem.co, Brikolase.com, DetakPekanbaru.com, Riaurealita.com, tarbijahislamijah.com.