Arsip Tag: Maulidan Rahman Siregar

Puisi Maulidan Rahman Siregar

PENYAIR HESTI

penyair hesti menulis puisi

peri hati dan lapar imaji,

dibagi-bagi, dipisahkan mana

madu mana belati, apa yang

terjual dan siapa pembeli

 

selain puisi, sehari-hari

penyair hesti mengaji

mencari siapa betul yang

meminta Adam makan pohon kuldi

 

jangan-jangan bukan setan

barangkali ada pengecualian

gemuruh penyair hesti di dada kanan

 

di ujung kata, penyair hesti bilang

pada dadanya yang lapang bahwa kadang

saya hanya menduga-duga

jangan kejar saya dengan babi yang buta

2016

 

TIDUR, PUKUL SEPULUH MALAM

Tidur bersama buku-buku

tingkahi setiap putaran waktu, menari

menyanyi, riang semesta

du du du…

 

usah kawan, jangan diamkan

lirih hati yang memanggil

ke arah kebenaran

ke arah tenang

 

mengejar masa lalu

sembunyi di bilk hari depan

tulis sesuatu

nyanyikan bila perlu, du du du…

akhir kata

tolong maafkan

kesalahan tak untuk dimakan

 

kau melayang, kau terbang

du du du…

 

YUNUS IBRAHIM DIMAKAN MALAM

la ila ha illallah

kau bertemu gelap maha gelap

gelap lautan, gelap malam

gelap perut ikan

 

kau dibakar atas nama tuhan-tuhan

yang sebenarnya tak pantas dituhankan

 

api tunduk di hadapan

tak ada kuasa lain bagi orang-orang

selain heran

 

la ila ha illallah

kau bernyanyi seperti band indie

2016

 

DOA PENGHILANG KABUT

ya Tuhan, tidurkan Mikail

kami sedang ingin berburu

untuk hidup yang selelu tergesa

 

nanti dulu kirimkan air

kami butuh uang untuk beli air

 

ya Tuhan, tidurkan Mikail

dongengkan kisah cinta, tentang

Adam yang diusir, tentang Hawa

yang penasaran

2016

 

SATE PADANG

hujan, hujan kau tetap mengipas

asap minyak mengepul ke udara

setiap yang berhenti adalah pembeli

 

malam telah larut

dingin-dingin kau berdoa,

“semoga biaya pendidikan menurun

dan buku-buku dapat diunduh gratis”

 

tinggi asap ke udara

memanggil kaum yang menggigil

selamat datang, hai mata uang rendah

Tunggul Hitam, 2016

 

LELAKI PATAH KEMUDI

nasib sepantun dengan tepian patahan

digerus terus digerus air lalu

siap-siap untuk habis

siap-siap hilang

 

menjadi yang diam di lautan

diam batu karang

diam ketika pasang

diam bila surut

 

dijemur mentari

dieram hari esok

biduk sansai menghitung untung

rugi melulu sekujur detik

 

ya Allah, ya Allah, kau panggil

apa yang bisa diselesaikan sablon kaos

2016

 

BAGAIMANA PUISI MENYELESAIKAN INI

aku mencintaimu, dan berpikir keras

bagaimana puisi menyelesaikan ini

 

kurangkai bunga manis bahasa

rima seluas samudera

dalam bola mata

 

cahaya sebagai haluan

memilih singgah atau lanjut

berjalan

2016

 

BERTEDUH, MENEPI

hati kita tak lagi bersua,

meski rindu tak ujung reda.

Seperti butir habbah* yang dipatuki merpati

peziarah, aku bersedia tiada.

 

Siiruu!**, kau kata

tak usah pamit

jangan lagi meminta.

2016

* = Habbah adalah sejenis gabah. Dinukil dari cerpen Triyanto Triwikromo.

**= Pergilah (Bahasa Arab)

 

BIODATA PENULIS

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Puisinya disiarkan Haluan, Singgalang, Padang Ekspress, DinamikaNews, Metro Riau, Harian Rakyat Sumbar, Mata Banua, Buletin Jejak, Buletin Tubuh Jendela, Biem.co, Brikolase.com, DetakPekanbaru.com, Riaurealita.com, tarbijahislamijah.com.