Arsip Tag: Muhammad de Putra

Puisi Muhammad de Putra

Kutangisi Senja

mencari jalan buntu untuk mati.
tergeletak di antara judul-judul puisi.
meneriaki kata-kata yang terlumpah
di senja dengan bahasa basi.
langit yang bisu menyumpah
serapahkan air mata.

ingin kubunuh langit dan awan yang
berkembang di matamu yang awam

hidup memanglah puisi yang semakin hari,
semakin mati.
jalan di ujung puisi ini ada rumah
yang tak tampak.
samar bersama metafora milik senja
yang tak menginginkan matamu
memandangnya dengan sinis.

ah, sudahlah akan kutangisi senja
bila puisi-puisiku tidak membaik.

Senja Sastra | 2016

 

Bingkisan Milik Juni
Kepada Guru:-: Sapardi

yang berdoa dalam komposisi hujan
dan cerita tentang orang-orang yang
kabur dari amuk akhir bulan adalah
bingkisan Juni untukmu.

senyummu dalam sampul buku adalah
badai yang tak reda-reda di luar jendela.
memabukkan langit yang melibatkan jarak
antara kita. aku bukan melankolismu
yang menerbangkan sajak-sajak pada
halaman-halaman buku-buku.

dalam doa-doaku yang takkan pernah
rangkum selesai di ujung lidah.
inilah bingkisan Juni
yang menunggu untuk kau’amini’

Milad Sastra | 2016

 

Basah yang Tak Kunjung di Jemur

bukankah engkau adalah
jemuran yang menerima
segala kekotoran pada bajuku.
jemurlah rasa semangatmu
untuk bernafsu bermain air.
segala permainan yang membuatmu basah.

selalu teriklah mata hari
yang terang dalam tali-temali jemuran.
jangan biarkan gerhana
membuat semangatmu bermain gagal.
atau silaunya membuat
bajumu lembab.
maka, jemurlah air mata
yang tak kunjung kering.

Jemuran Sastra | 2016

 

Masuklah!
Kepada Datuk; Dasri Alwi

masuklah dalam rumah
yang tak pernah menyuruhmu
untuk menguncinya.
sebelum para hawa buruk menyeruak
di ruang tamu
dan menyelinap lewat celah-celah atap.
biarkan kelenggangan ruangan
menjadi kunjungan yang tak jadi.
bagi orang-orang sombong:
rumah adalah dosa yang tak layak di kunjungi lagi.

wahai orang sombong
yang mengempati waktu untuk berkunjung.

masuklah!
masuk pada rumah kami
yang telah di cat oleh merah
dosa kalian.

Rumah Sastra | 2016

 

Malam Sesat

pukullah waktu
yang tak pernah sempat
membangunkanmu
pada pukulnya yang tepat

dalam puing-puing malam
yang menyurukkan rasa hati-
hatimu memilih jalan.
bawalah kompas sesat ini!
tunjukkan pada cahaya bintang
yang fana
bahwa jalanmu telah benar.

Jalan Sastra | 2016

 

Muhammad de Putra. Kelahiran 14 April 2001. Siswa kelas VIII SMPN 6 Siak Hulu, Kampar. Puisi-puisi telah tersebar di pelbagai Media Massa di Indonesia. juara 1 lomba Cipta Puisi di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia, Juara 1 Cipta Puisi di Praktikum Sastra UR tingkat SMP se-Riau, Harapan 2 Lomba Cipta Cerpen di Bulan Bahasa UIR tingkat SMP se-Indonesia & Juara 1 Lomba Cipta Puisi tingkat Nasional seluruhnya Penyair Muda yang ditaja oleh Sabana Pustaka. Bukunya yang telah terbit Kepompong dalam Botol & Timang Gadis Perindu Ayah Penanya Bulan, Sedang meramu buku puisi tunggalnya yang ke-3 Hikayat Anak-anak Pendosa. Puisinya juga termaktub dalam beberapa antologi seperti: Merantau Malam (Sabana Pustaka, 2016), TeraKota (Liliput, 2015), Tunak Community Pena Terbang