—lanjutan dari Sebelumnya
Kenapa ngopi depan keranda, karena keranda itu diletakan depan rumah almarhum ibu mertuaku. Entahlah, memang sudah biasa di sini, setiap usai penguburan jenazah orang-orang seperti takut pada keranda. Mereka seakan tak mau melihat atau mengembalikannya ke balai dusun. karena itulah sementara disimpan dulu di rumah keluarga yang meninggal. Dan itu menjadi biasa, hingga timbul saran-saran yang yang jelas dimana setidaknya harus seminggu keranda iru di tunda di sana. Kecuali jika ada yang meninggal sebelum waktu itu.
Oke, ya..ngopilah saya. Memang sebelumnya di sini saya sering ngopi seraya nunggu si sakit, sementara selanjutnya ngopi dalam rangka mengusir duka keluarga yang ditinggalkan –terlebih istri saya. Ngopi usai acara tahlil yang berlangsung selama 7 hari.
Adakah nuansa horor atau aroma mistis di sana? Kalau tak ada buat apa soal ini pakai ditulis segala, apanya yang menarik. Siapa yang mau baca, membebani hostisng aja. Sama saja postingan ini semacam spam.
Tidak kok, tak ada nuansa horor atau aroma mistisnya. Cuma saat enak-enaknya ngopi kami –saat itu saya bersama Sunarto dan Madrobi tiba-tiba dikejutkan dengan suara tokek yang keras menggema dari keranda. Dalam beberapa detik sih ada nuansa mistisnya, mengingat sebelumnya kami telah mengutuk mahkluk predator berkulit kasar itu. Kenapa mengutuk, karena makhluk tersebut kadang resfonsiv atau tak menolak ketika sering dipakai media pengiriman teluh. Hal itu terbukti setelah suara ‘lelegot’ nyaris lebih dari satu dasarwarsa tak terdengar lagi. Alasannya karena suara birung halis yang berbunyi “kot..kot..kot..” tersebut sudah tak bisa disamarkan lagi.
Orang kampung semua tahu lelegot itu merupakan angkara yang disebar melalui burung tertentu. Tak jelas entah burung apa, karena ketika burung itu datang dari arah silang mata angin. Seperti timur laut, tenggara, barat laut atau barat daya, ia hadir melayang memutar di atas rumah warga. Kendati dalam rasa gemetar, orang-orang yang mendengar suara lelegot iti biasanya bereaksi dari dalam rumahnya dengan berteriak “lebok dungan sia” (artinya: “makan saja majikanmu). Begitulah sebelum suara kot..kot..kot itu menghilang biasanya berakgir dengan suara seperti muntah, “kwaaakk…!” Esoknya jika tak ada yang meninggal langsung, seridaknya akan ada yang sakit keras.
Media penyamaran angkara itu tiba-tiba berganti pada mahluk yang bernama tokek dan burung hantu alias bueuk. dampak dan motiv keduanya sama seperti sebelumnya. Semula tak ada yang mengira jika tokek dan burung hantu dapat disuruh kerjasama untuk mengirim guna-guna, namun setelah beberapa orang mencocokan pada beberapa peristiwa akhirnya percaya juga. Terlebih orang-orang yang biasa ngopi sambil ngeronda.
“Koung…, kouung…kouung, kong!” demikianlah suara tokek tersebut. kami perhatikan yakin suara itu dari keranda mayat yang diletakan di dipan pemandian jenazah depan kami. Namun kami sempat heran, sebab setelah beberapa kali diperiksa bahkan pakai senter, pemilik suara itu tak tampak sama sekali. Lantas mahluk apa namanya?
Namun ketika malam berikutnya suara itu terdengar lagi, langsung diburu. Ternyata suara itu berasal dari salah satu lobang di gagang keranda. makhluknya kecil banget, hampir seukuran cecak, agak gede sedikit. Kami tak ambil pusing, selain hanya menanggapinya dengan lelucon-lelucon yang menyegarkan. Namun dalam hati kecil saya ingin segera mengembalikan keranda tersebut ke tempatnya, yakni di samping mesjid ke-RT-an di dusun itu. Semula ia disimpan di balai dusun yang kebetulan bangunannya bersanding dengan madrasah Diniyah. Dengan alasan anak-anak banyak yang takut Pak Ustadz tak mengijinkan benda tersebut di simpan di sana.
Usai tahlilan 7 harinya, keranda itu saya gotong dengan anak saya. Seraya bergurau, setiap tetangga yang kebetulan rumahnya terlewati kami tawarkan keranda.
“Barangkali mau menggunakannya, mumpung ada,” demikian kata saya. Makudnya sekadar humor. Tapi tanggapan mereka beragam, selain ada yang bergidik, menolaknya bak ketakutan, ada pula yang menjawabnya dengan kelakar juga.
“Mangga, silahkan duluan, nanti saya nyusul belakangan.”
Tapi ketika keranda itu sudah disimpan pada tempatnya, satu jam kemudian seorang tetangga (pas tetangga almarhum ibu mertuaku) meninggal akibat terjatuh dari pohon kelapa. Melihat kondisi itu anak saya yang baru 2 bulan menikah dan hendak menempati rumah neneknya mendadak pias, terlebih jika hari menjelang malam.
Ya, yang meinggal itu tetangga ibu mertuaku. Bahkan saat acara tahlil 7 harinya, siangnya ia ikut menanak nasi di halaman rumah, bahkan ia tertawa penuh kelakar. Ia adalah seorang tukang nyenso (penebang/gergaji) kayu. Koronologisnya, saat ia memotong pohon kelapa di atas tubuhnya terbawa jatuh bersama potongan batang kelapa itu hingga saat badannya nyentuh tanah ditimpal kembali oleh batang pohon kelapa tersebut. Sungguh mengenaskan, namun demikianlah semua tak lepas atas kuasaNya. Soal terjatuh, apa pun itu hanyalah sekadar jalan menuju kepulangnya.***
Ingin berbagi pengalaman atau bayangan misteri, horor? Tampilkan di website ini. Kirimkan tulisan (Ms Word) Anda via email: redaksi@ buanakata.top atau otangk234@gmail.com