Arsip Tag: Novy Eko Permono

Puisi Novy Eko Permono

 

Muntah

Aku membuka mata
Merasa seluruh tubuh remuk
Aku melihat langit namun tampak tidak seperti biasanya
Ia mengedipkan mata, langit tampak begitu dekat
Ia mengedip (lagi) beberapa kali, kedipan yang lemah
Aku mencoba, namun terasa berat untuk bangun
Terasa
angin mengantarkan debu-debu,
dan bau kandang ke teras rumah
aku ingin muntah

Ruang tamu, 08/16

 

Menuju Kartasura

Pada sebuah minggu
Perjalanku ke Kartasura penuh kantuk
Berbekal kuah soto dengan cabe bubuk
Motor-mobil serupa burung pelatuk
Bertengger pada dahan jalanan yang sibuk

2016

Bunga Anggrek

: Nureini Hanik
Pada lidahmu pernah tertanam
Deretan pot-pot hitam di halaman
Pada ingatanmu pernah tergambar
Sebuah anggrek dengan tangkai yang memudar
Pada sakuku pernah kau titipkan
Vas dan kelopak bunga jantan
Kita adalah dua kuntum anggrek
Padanya  terdapat keindahan,
kerahasiaan yang mengasyikkan.

Kelas menulis, Oktober 2016
 

Jendi dan Masa Silam

: Isnan A.H
Roda berputar
melaju kencang
melawan cahaya keelokan
sawah terjepit deretan pertokoan
Antara rimbun bambu dan kebun tebu
ranting-ranting sengon melambai lugu
derap langkah bocah
bersautan lonceng jam tujuh
Seorang tua
berbaju lekukan batik
tampak olehnya kebingungan
menjual aneka dolanan
memecah senyap
keramaian jalan
Dijalanku pulang
anak-anak berjalan
setengah menari
setengah menyanyi
setengah meledek
“Kok sudah pulang?”
“Gurunya rapat bu.”
aku tertawa
kursi tertawa
dipan tertawa
baju seragam tertawa seragam

2016

 

Ruang yang Biru

Pada ruang yang biru
Aku melihat keluar jendela
Menatap sejauh-jauhnya
Ke arah kolam dengan teratai di tengahnya
Pada ruangan itu
Tersusun tembok-tembok angkuh
Bertatahkan motivasi masa kini
Papan-papan administrasi
Jua poto pak Jokowi
Pada ruang yang biru
Huruf-huruf mulai berpendar
Dari lembaran-lembaran soal
Menuju setiap mata pemandangnya yang kumal
Pada ruangan yang bisu
Penuh laku mengingat
Rumus-rumus yang terpahat
Pada saku celana ketat
Pada ruangan itu
Pedal-pedal dikayuh
Melewati deretan huruf yang lusuh
Pena-pena mulai meliuk malas
Pada lembaran-lembaran kertas
Kejujuran hanya penghias
Kulihat dari sudut ruangan
Udara mulai riuh
Mulut-mulut mulai mencuit
Kode-kode rahasia, kode-kode entah apa
2016

 

Semak Menggiring Malam

Pagi menjemput
Kerbau-kerbau mengisut berjalan
Sepanjang petak-petak
Membuatnya mandi tanah
Sepasang domba
Digiring ke padang rumput punggung bukit
Menggembala bersama bocah lain
Roman mukanya riang
Bunga sepatu
Mendatangkan kupu-kupu
Membenamkan tanah lembab kebiruan
Menyatu bersama lengkung bibirmu
Tak berapa lama
Setelah adzan ashar
Sore segera mengubah banyak hal
Semak-semak belukar berhimpitan
Menerobos dinding berkedip putih
Pekarangan hening
Semak-semak pejal menggiring malam
2016

Menjelma Pasar

Di surau selepas mengaji
mereka datang
berjejalan di atas gerobak
menempuh jalan koral
kubangan kerbau
terbenam di balik kerudung hujan

Rumah kosong sudut jalan
kaca-kaca
lantai keramik
gading yang terus berpijar
menjelma pasar
menggelar baju-baju cantik
sepeda tua
kopra, singkong dan paya

Tukang cukur
bercermin besar
kotak-kotak perkakas
meja kursi
berkalung handuk yang khas

Di sudut lain
bocah-bocah
beradu gambar
duduk
berbaring di langit basah
menenggelamkan diri
dalam kerahasiaan yang menyenangkan

Rumah bukanlah rumah
tak ada kamar
tak ada dapur
kotak-kotak tembok selembaran
memanjang beberapa depa

ketika matahari berpulang pada laut
merekapun pergi
lamat-lamat
menjauh
menghilang
rumah kembali dalam kebisuan
Wonogiri, 2016
Penulis

Novy Eko Permono penggemar tempe ‘mendoan’ garis keras. Saat ini aktif sebagai koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Wonogiri. Terkadang bermain peran sebagai ‘guru’ di Teater Dua Sisi SKND. Dapat disapa via email: novyekop@gmail.com, fb: Novy Eko Permono, hp: 085725073433