JEDA WAKTU
Mungkin harus ku mulai dari sini sebelumnya
sebelum semua usai
sebelum semuanya terberai
diantara lelah, luka, dan gerimis yang siap menampar
Kau tau itu bukan?
bukan merupakan sesuatu yang ku inginkan
juga bukan merupakan sesuatu yang tak ku harapkan
namun memang seharusnya di lepaskan
dua pencalang hidup di rusuhnya gelombang.
Kawan, tetaplah berlayar
jangan terpengaruh akan gaduh topan
apalagi sampai mencium bau karang
menarilah dan terus menyanyi
walau dalam lagu yang amat pedih kita nikmati
demi pesta di ujung jeda waktu nanti
buatlah ia tunduk dan mati.
KU TEBUS KAMPUNGKU
Langit jangan menangis karenaku
sebab jiwa tak punya wadah
jika untuk menampung air matamu
jangan cegat
takkan mampu kau bentangi arah
sudah ku bilang takdirmu tak senada hasratku
jangan paksa
jika kau tak ingin patah tubuhmu
kau laksana iblis penggrogot hati.
kalah, jika aku merasa mati.
SENJA LAMONGAN
Kejam malam menyekap
ding-ding kaca melamur
wajah langit masih sendu
tatap lubang nyembur kesap
mata semakin gelap
sementara tubuh tak kelar di isap
juga kulit kaki jadi putih kerut
bak hamba layat.
Aku menuju kampung halaman
tubuh terjungkal diantara siang dan malam
entah kapan embun akan melupakan malam
entah kapan alam akan bersalin rupa
ku coba tanya asap yang lupa untuk setia pada kopinya
hembus bayu dan jari mentarilah jawabanya.
AENG PASESER
Tak seperti yang ku duga
asin dan tawar masih lekat terasa
namun sentuhannya tak ada yang beda
aku masih merasa seperti dulu kala
ketika manja, nakal, dan tubuh nan ter-elus mesra
aku menangis, tak tau bagaimana orang dimanja
aku nakal, tak tau bagaimana orang peduli
dan aku geram, tak tau bagaimana orang di sayang
yang aku tau,
asin dan tawar adalah air kita yang masih damai.
LAGU AGUSTUS
Deru ombak malam
menitip duka angin topan
penghuni paseser terkabar
terkapar di pulau-pulau mengasingkan
pencalang, biduk, diam
pasrah pada asap putih gelombang
jungkal-jungkil gelora semakin geram
menumpuk rindu dari paseser hingga pulau sebrang
akankah semua terbenahkan?..
tak ada yang mampu menahan tangis di bulan agustus
sampai janur-janur menangis
mengiring langkah para pahlawan yang mulai hilang perlahan
sampai setiap lambayan harus di relakan
angin timur tak karuan.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya. MENGHITUNG LUKA DAN RINDU SEPANJANG JALAN JAKARTA – SUMENEP. (2016)
No. 085232343060, 083853208689

