Arsip Tag: Puisi

Puisi Moh.Romli

JEDA WAKTU

Mungkin harus ku mulai dari sini sebelumnya
sebelum semua usai
sebelum semuanya terberai
diantara lelah, luka, dan gerimis yang siap menampar

Kau tau itu bukan?
bukan merupakan sesuatu yang ku inginkan
juga bukan merupakan sesuatu yang tak ku harapkan
namun memang seharusnya di lepaskan
dua pencalang hidup di rusuhnya gelombang.

Kawan, tetaplah berlayar
jangan terpengaruh akan gaduh topan
apalagi sampai mencium bau karang

menarilah dan terus menyanyi
walau dalam lagu yang amat pedih kita nikmati
demi pesta di ujung jeda waktu nanti
buatlah ia tunduk dan mati.

KU TEBUS KAMPUNGKU

Langit jangan menangis karenaku
sebab jiwa tak punya wadah
jika untuk menampung air matamu

jangan cegat
takkan mampu kau bentangi arah
sudah ku bilang takdirmu tak senada hasratku

jangan paksa
jika kau tak ingin patah tubuhmu
kau laksana iblis penggrogot hati.
kalah, jika aku merasa mati.

SENJA LAMONGAN

Kejam malam menyekap
ding-ding kaca melamur
wajah langit masih sendu

tatap lubang nyembur kesap
mata semakin gelap
sementara tubuh tak kelar di isap
juga kulit kaki jadi putih kerut
bak hamba layat.

Aku menuju kampung halaman
tubuh terjungkal diantara siang dan malam
entah kapan embun akan melupakan malam
entah kapan alam akan bersalin rupa

ku coba tanya asap yang lupa untuk setia pada kopinya
hembus bayu dan jari mentarilah jawabanya.

 

AENG PASESER

Tak seperti yang ku duga
asin dan tawar masih lekat terasa
namun sentuhannya tak ada yang beda
aku masih merasa seperti dulu kala
ketika manja, nakal, dan tubuh nan ter-elus mesra

aku menangis, tak tau bagaimana orang dimanja
aku nakal, tak tau bagaimana orang peduli
dan aku geram, tak tau bagaimana orang di sayang
yang aku tau,
asin dan tawar adalah air kita yang masih damai.
 

LAGU AGUSTUS

Deru ombak malam
menitip duka angin topan
penghuni paseser terkabar
terkapar di pulau-pulau mengasingkan

pencalang, biduk, diam
pasrah pada asap putih gelombang
jungkal-jungkil gelora semakin geram
menumpuk rindu dari paseser hingga pulau sebrang
akankah semua terbenahkan?..

tak ada yang mampu menahan tangis di bulan agustus
sampai janur-janur menangis
mengiring langkah para pahlawan yang mulai hilang perlahan
sampai setiap lambayan harus di relakan
angin timur tak karuan.

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya. MENGHITUNG LUKA DAN RINDU SEPANJANG JALAN JAKARTA – SUMENEP. (2016)

No. 085232343060, 083853208689

Puisi-Puisi M Ivan Aulia Rokhman

Perjalanan Jauh Untuk Sahabat Kecil

: Kepada Hervina Putri

Kenangan indah
Yang terpisah jauh
Entah kemanakah perjalanan saat ini?
Mungkin sudah benci di kota ini
Sedangkan memandang muka begitu kumuh
Lantas percayakah padamu
Sudah tidak layak lagi menjadi sahabat kecil
Aku sudah meninggalkanmu tanpa sekadar pertanyaan
Mengapa ia pergi tanpa merindukan pesan
Dimanakah kamu pindah?
Kenapa kau hendak pergi tanpa meninggalkan sahabat kami
Kami ini satu generasi denganmu
Jangan heran melepas hanya sepintas lupa
Dimanakah menempuh sekolah yang sedang diraih saat ini?

Surabaya, 06092017

Berdoa Untuk Sahabat yang Sedang Meninggal Dunia

Tak terasa ia rela meninggalkan segala musibah
Banyak cobaan yang dilewati
Akan tetapi ia berujung duka hati
Apa yang telah dihadapi
Lalu terjun ke kubur
Selepas usia kelam
Ia menghembuskan nafas terakhir
Semua itu ada kenangan di sini
Seperti itulah waktu yang dilampui
Sedangkan hampir mendekati genggaman
Sudah seharusnya bintang kecil mengantarmu di Surga
Menemui masa lalu yang sempat meninggalkan jejak
Semua ini antara dirindukan hatimu
Akan ada cinta dan suka duka
Serta tawa yang melampuimu
Berdoakan untuk sahabat
Agar senantiasa menghendaki sisi tuhan
Kepada sang maha kuasa
Selamat jalan sahabatku
Sudah menemani usia yang belia
Surabaya, 06092017

Indonesia Bersedia untuk Mengungsi Masyarakat Rohingya
Betapa kekerasan belum berakhir
Masyarakat Rohingya sedang menunggu kabar
Sedangkan di sana masih terjadi perang

Penduduk telah memencar di berbagai wilayah
Karena ingin mencari hidup sederhana
Alangkah baiknya Indonesia bersedia
Untuk mengungsi bagi masyarakat Rohingya
Berupa hadiah sedekah dan infaq untuk menerima santunan kemanusiaan

Kita berharap
Kota Myanmar dan Rohingya segera damai
Jangan pernah bentrok satu sama lain
Terimalah keikhlasan atas umat Muslim
Ku junjung persatuan demi adil makmur dan sentosa

Surabaya, 06092017

Hilang Persamaan Antar Teman

Teman telah meninggalkan desa
Berlari di dalam hutan untuk menempati suasana hening
Konon hutan banyak bencana
Terdapat keracunan di antara binatang
Hanya mencari mangsa

Pagi berkabar
Ia barusan hilang tanpa jejak
Kalau terus begini akan segera dievakuasi
Wanita senggang meninggalkan kekasih
Dimanakah ia pergi?

Hilangnya persamaan
Berujung pada kematian
Lalu berbaring tanah

Dua tahun telah menganomali hutan
Kini bermukim di pohon
Bulan purnama mengisahkan suara serigala
Tak akan mencariku lagi

Surabaya, 06092017

Boneka Menyelip di Kursi Saat Tengah Malam

Boneka keliaran di kursi
Duduk dengan tenang
Apakah ia boneka beneran
Atau kutukan bekas pembunuhan pemilik boneka
Jawaban belum pasti
Jika disentuh
Disitulah akan membangkitkan dimensi seram
Fisik berubah jadi hantu

Pernahkah Annabelle dan The Conjuring sebagai kutukan terbesar dalam lingkungan makhluk supernatural?
Inilah The Doll disebut makhluk kasat mata
Yang terletak di bangunan tua
Bekas suara tangisan
Menampakan suara mengerikan
Akan mendatangkan malapetaka

Surabaya, 06092017

Mencari Kesempatan
Sudahkah hendak mencari kesempatan?
Yakin ia menempati posisi jadi pria sejati?
Sudah layak nggak menjadi pacarku?
Lantas apa yang membuat penampilan makin menggoda?
Inilah yang disebut mencari tahta kekuasaan?
Kesempatan hanya dua kali. Apakah benar seperti itu?

Surabaya, 06092017

Salah Pergaulan

Bertemu dengan kawan-kawan
Akhirnya salah pergaulan
Jujur belum menyangka
Apakah diundangan hanya asli

Ternyata berkawan oleh teman lalu perasaan terada beda
Ia merayakan pesta penyembahan hewan
Duduk lalu menceritakan tentang mistis
Melihat video sejarah penyembahan
Ia terasa nyeri
Genggaman tangan
Ia bertanya “maukah bergabung bersama kami?”
Wajah meringgas
Lalu meneriak “Tolong!”

Surabaya, 07092017

 

M Ivan Aulia Rokhman, Lahir di Jember, 21 April 1996. Mahasiswa Universitas Dr Soetomo. Karyanya dimuat di koran lokal dan Nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan Komunitas Serat Panika. Seorang Penulis ditengah Berkebutuhan Khusus. Ia paling sering mengirimkan puisinya ke Buanakata seperti di antaranya yang ditampilkan di atas
  • M Ivan Aulia Rokhman
  • Telepon/WA : 083830696435
  • Email : rokhmansyahdika@gmail.com
  • Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
  • Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117

Puisi Moh.Romli

SIAPA SEBENARNYA DIRIMU

Di alunan kidung malam

wajahmu tak enggan menyapa

di setiap petikan gitar hitam selalu menari dan menari

 

siapa sebenarnya dirimu?

selalu menampar hati dalam sunyi

selalu menabur garam dalam luka

dan selalu paksa hati untuk berhenti melangkah.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

kau yang kerap membuatku melayang ke arah yang tak kutuju

kau gemar menuntunku ke jalan yang buntu

dan kau juga yang membuatku lumpuh.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

apakah kau hanya sebatas rasa kecewa yang memalu

yang hinggap di imajinasi hingga akhir hayatku.

 

atau mungkin hanya angin malam yang membisikkan rindu

yang membuatku tak henti melempar dadu.

 

MENYEDUH RINDU

Di ujung senja, perahu sebrang pulau utara

sekedar mencari dan melampiaskan rindu manja selera

sesampainya di pulau itu, tampak hamparan altar putih yang memanjang dengan tongkat besi berwarna hijau , disitu perahuku tertambat

memanja mata dengan warna-warni tumbal untuk gelar pesta malam nanti

lalu ku coba untuk menyeduh rindu sendiri, dengan buah api bersimbolis rindu yang sudah siap saji

tinggallah aku memilih, untuk mengambil sebagian tumbal dan kujadikan selera rindu yang merekah di lentik jarimu, ibu.

sempatlah kucipta, walau sebenarnya tak beraroma kasih sayang darimu.

 

PENA

Tiada henti pena membuatku tersenyum dan menangis

dalam suka dia selalu tertawa seakan dia juga merasa apa yang aku rasa

 

begitu juga dalam tangis, dia tak pernah enggan menangis, malah dia seakan lebih sedih dariku

 

pena, engkaulah teman sejati

setia dalam suka maupun duka

 

engkau pencatat sejarah diantara terbitnya mentari hingga sungset senja

 

hanya engkau yang tak pernah bosan mendengar keluh

walaupun kau harus menumpahkan darahmu untukku

 

pena, hanya engkau setia mati di tanganku.

maaf kan aku

jika hidupku terus menyiksamu hingga nanti kau mati.

 

CINTAKU PADAMU

Untuk, Hoy.

Cintaku padamu serupa tetes embun yang jatuh di pangkuan keladi

selalu saja kau hiraukan

meski pada hakekatnya senantiasa membutuhkan

 

cintaku padamu serupa angin topan nan geram

yang dimana ketika nelayan menangis, menjerit ketakutan

tak sadar, bahwasanya itu rekahan gerbang hidir pembawa risalah

 

cintaku padamu serupa gigimu sendiri nikmat tuhan

lupa dan menangis seketika di ingatkan.

 

MALAM MINGGU

Entah dengan malam minggu

seperti semua bisu

seperti semua batu

 

tak ada lagu

tak ada malu

tak ada ragu

tak ada deru

 

semua jadi lugu

jadi tumbu

jadi beku

jadi rindu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya KITAB RINDU. (2016)

No. 085232343060

        083853208689

Puisi Ferry Fansuri

Ulurkan Tanganmu

Mengapa tidak abadi seketika
Segala rasa cinta
Kesejukan yang menyertai cerita kita

Mengapa tidak abadi seketika
Hati tempat berlabuh
Tali yang mengikat janji-janji

Jangan pernah usai kita inginkan
Namun pil pahit yang harus kita telan
Inilah puisi jalan kita kasih
Segala prahara mendera
Segenap dusta menyerta

Tiba saatnya prahara membiru warnanya
Namun kita harus tetap waspada

Ulurkan tanganmu kasih, tetaplah ulurkan
Agar kita senantiasa dapat bergandangen
Berjalan bersama menuju satu tujuan
Sebuah jalan terang

 

Jalan di Tengah Samudera

Cakrawala yang kita tuju
Nyatanya masih jauh
Namun percayalah kepada angin
Yang senantiasa menuntun

Maka jagalah perahu ini
Jangan sampai pecah di tengah samudera
Dan tegakkan tonggak layar

Mengapa harus berkecil hati?
Sedangkan rembulan dan mentari
Masih tetap setia mengirimkan cahaya
Meskipun harus melewati jalan yang tak mudah
Di sela-sela mendung dan mega

Mestinya kita selalu terjaga
Menahan ombak dengan kekuatan jiwa raya
Mengingat kita harus bertahan
Maka jangan terhenti di tengah cerita
Jika disini masih ada jalan
Untuk menuju keabadian

 

Yang Terindah

Yang terindah kuberikan untukmu
Terlahir dalam dekapan jiwaku

Yang mencari….

Tertatihku coba berdiri
Terhempas ku disana menantimu
Mendambakan kau yang terindah
Persembahan dariku tercipta dalam

Alunan langkahku yang terhenti
Menatap jejakku sendiri
Tertinggal ku disana menantimu

Mendambakan dirimu
Semua yang tersisa
Hanya persembahanku yang terakhir

Kau yang terindah
Jangan biarkan diriku
Terhempas keraguan

 

Cinta

Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu

Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya
Angin datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang

Dan menyelimutinya dengan kegelapan
Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya

Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma
Kau disampingku
Aku disampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang

 

Tak lekang oleh waktu

Telah lama kutunggu
Hadirmu disini
Namun hanya ruang semu
Yang nampak padaku
Meski sulit haarus kudapatkan

Sambutlah tangan ini terima janjiku
Rasakan cinta yang tulus
Lewat aliran darahmu
Menyatu seiring dalam kasih

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terimalah pengertian adanya dua beda menyatu
Masilah panjang, jalan hidup merki ditempuh
Semoga tak lekang oleh waktu

Surabaya, Desember 2016
Yang tersisa dari yang terkasih


Biodata Penulis :

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

 

Puisi Ahmad Radhitya Alam

RUANG TANYA

Janjimu semanis madu
Mengambil hati yang tertipu
Bayang nanar bak sembilu
Merombak tatanan baru

Demikuasa, kau lakukan segala
Menindas yang jelata
Lorong gelap kepahitan
Tak perlulah sedu sedan

Luka menganga
Membawa derita
Ruang-ruangtanya
Terbuka

Ruang Imaji, 2017

 

OH ALAMKU, OH NEGERIKU

Oh alamku
Oh negeriku
Kemanakah elokmu
Yang dulu membuat kami merindu

Kemanakah pohonku
Yang dulu hijau indah
Kemana lagi rawaku
Yang jernih memantulkan cahya cerah

Pohon ditebang
Tanah menjadi gersang
Rawa dialih fungsi
Di mana-mana banyak polusi

Oh alamku
Oh negeriku
Aku tak tahu lagi dimana akan bertemu
Dengan alamku yang seperti dulu

Efek rumah kaca menerpa
Alamku tak lagi mau menyapa
Salah siapa ?
Aku, kita, mereka, atausemua

Gubuk Sastra, 2017

 

ANASTASIA

Irama suara menggema
Nada-nada melagu
Nyala suara
Berpadu

Melodi
Indah tak berperi
Memberi kehangatan jiwa
Melepas, meluruh rasa dalam tawa

Blitar, 02 Maret 2016

 

FRAGMEN RINDU

Rindu kami seteguh besi
Menunggu di gelap sunyi
Luka elegi menggunung
Padapalung hati terujung
Semburat cerita luka
Segunung tinggi derita
Hancur jiwa musnah
Menunggu tanpa arah

Blitar, 7 April 2016

 

KEBOHONGAN

Duniadipenuhi dengan kebohongan
Senyum kebohongan
Tawa kedustaan
Atau juga tangisan buaya kenistaan
Ketika hati bingung menghadapi asa semu
Ketika mawar yang dulunya mekar menja dilayu
Aku hanya meminta petunjuk kepadamu
Tuhan

Blitar, 2015

 

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar 2Maret2001. SiswaSMAN1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat diFLP Blitar, Awalita, vdanTeater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di beberapa media.
AlamatFacebook :Ahmad Radhitya Alam/facebook.com/mask.vendeta.5
NomorHP :085706022133
Email :ahmadradhityaalam@gmail.com

Puisi Soni Farid Maulana

Soni Farid Maulana

Batu Hiu

Terdampar di pantai
sebab rakus dan buas

Ia dikutuk jadi batu
orang-orang menyebutnya:

batu hiu. Lalu bagaimana
dengan mereka yang bengis

melebihi binatang buas?
Demi kuasa, tahta, dan harta

menyingkirkan sesama?
Sungguh lebih dari:

Malin Kundang

2017

Soni Farid Maulana, lahir di Tasikmalaya 18 Februari 1962. Saat ini tinggal di Ciamis, Jawa Barat. Buku puisi yang ditulisnya, Arus Pagi *2015) meraih Anugerah Buku Utama dari Yayasan Puisi Indonesia 2015. Buku lainnya yang sudah terbit antara l;ain Sisa Senja *KKK, 2015), Kisah Suatu Pagi (KKK 2017) dan Sehabis Hujan (KKK, 2017)

Tetap Ku Rindu – Puisi Moh.Romli

KENAPA?

Untuk Shinta.
Mencari rerindang malam

bersemayam dalam sunyi

adalah pilihan kita kala  itu

 

namun kenapa kita masih enggan bertanya

pada lagu-lagu dedahan, dan tarian dedaunan yang juga bersemayam di jembatan tua itu

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa, menitipkan janji suci kita pada ikan-ikan berloncatan yang juga sempat kegirangan lantaran gurauan kita

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa pesan riak-riak air ditepian batu itu

 

kenapa?.

kenapa kita lupa, atas rindu yang sempat kita cicipi berdua

 

dan kenapa kita juga lupa untuk kembali ke muasal rerindu jembatan tua.

 

TETAP KU RINDU

Mamakku perkasa

kurindu dirimu di hamparan karang-karang yang menusuk mata

 

kurindu dirimu di serbuan angin gaduh yang mencekam jiwa

 

kurindu dirimu di cercah-cercah cawan yang menjelma tawa

 

Kurindu dirimu.

meniti pasir basah di ujung gelora yang murka

tak kenal lelah dari ujung desa utara hingga di ujung desa selatan beringin tua

 

kau lelaki yang kekar

kau lelaki yang tegar

dan kau jua lelaki yang berhati mulia

rela menjadi budak

hanya tak ingin membuat anakmu kecewa.

 

NOSTALGIA

Untuk Sunna.

 

C G

Am Em

F C Am G.

Kunci itu menjelma semua tentang kita

disini, di kota kejauhan aku menyanyikan lagunya

dengan lirik adanya serupa wajah kita dulu

 

disini, di tengah hujan deras aku harus menimangnya

dengan raungan tangis dihati yang merana

 

disini, di heningnya malam aku kembali terhanyut di wajahmu yang semu, yang senantiasa menjanjikan damai dalam setiap takdirku.

 

Masih terhampar dengan jelas rasa yang tak sempat kita seduh di matamu yang indah

 

masih tumbuh dengan subur

walau ladang di hatiku sudah penuh dengan batu

 

dan masih berbuah lebat, walau rusuhnya topan terus menerjang.

disini, aku masih mengenangmu untuk kulupakan. SUNNA.

 

LUKA DI UJUNG RINDU

Padahal janjimu tak pernah rebah di saku

namun kenapa kau masih saja tampak begitu anggun di mataku

 

selalu merayu, mengayu, mengharu dan selalu meminta untuk meramaikan malammu dengan lelahku.

 

seperempat malam waktunya dimana aku harus mulai beranjak

dengan berjuta harapan di esok hari dapat memikul buah benang-benang kaca yang sudah ku rangkai sedemikian rupa

 

namun tadir berkata lain malam itu

harus berpulang dengan tangan hampa

dan membawa berjuta luka.

masih lelahku.

 

 

TAKDIRMU LAKNAT

 

Samping warung depan mesjid gang kecil jalan keluar dari sarangnya

keramain dan sunyi sepertiga malam waktu jalan siasatnya

mengundang nada desah

sehalus dan semerdu desau sunyi saat sendiri

nyaris tak ku pahami

kau tanpak cerdik bermain

minnyak di atas air

memarkan hati yang damai

memagut mata menanar

hingga hasratpun

mampu menyamar

Hemm..

hati-hati gadis merang

jika tubuhmu tak ingin terbakar

kau iblis serupa bidadari

aku tau itu..

mendekatlah dan lihatlah

pedangku masih terhunus dengan tajam jika hanya untuk menembus tubuhmu

jangan menangis

jangan sampai kecewa

karna pasti aku melampauimu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

 

Puisi Iwan Ridwan

Kepulangan

Kepulanganku disambut hujan

Di sekeliling bandara.

Awan-awan hitam menghardikku.

Kepulanganku dibalas kabar kepulangan kakekku.

Ayahku meraung-raung

dalam telponnya.

Kodrat ilahi di bulan suci

Yang menyimpan misteri. Ya Ilahi,

kepulangan macam apa ini.

2016

Suara Rahasia

Terdengar lirih, syahdu, merdu

Menyentuh kalbuku. Ada suara

Yang tak kukenal dan tak pernah kudengar

Suara itu begitu lembut dan sayup

Membawa angin ke utara

Terbang ke langit meninggalkan daratan

Tanpa rumah kata di bumi.

Tanpa perpisahan pada lautan,

Jauh…

tak terdengar lagi.

2016 

 

Mencari Suara

Lagi-lagi terdengar suaramu

Dimana dirimu? Tolonglah aku sedari

Tadi mabuk di siang hari. Kelelawar

Yang tak menemukan tempat di bumi.

ayam yang buta di malam hari. Tanaman

yang layu di kemarau esok.

Hei suara-suara kudus

Dimanakah dirimu?

Tuntunlah aku ke jalanmu

2016 

 

Tamsil Hujan II 

Hujan pula yang mengabarkan duka pada kita

Bahwa kebenaran selalu datang

Setelah kesalahan. Itu pula yang dipalukan hujan

Untuk menguji kita

Makhluk yang fana

Di alam semesta raya

Hujan pulalah yang mengantarkan kita

Pada banjir

Bersama rumah-rumahnya.

Hujan pula yang berjasa pada kita

Di kala terang

kita

berpandang

Mata biji saga dalam  mengasuh bumi,

Bukannya mata langit yang menerangi semesta.

2016

 

Tamsil Hujan III 

Hujan menghalangi kita

membakar sampah-sampah nafsu.

Barangkali ada sisa peristiwa

Yang masih tersisa, didaur ulang

Agar lebih hijau di masa depan.

Bersiaplah saat sampah-sampah busuk

Mendatangi kita akibat luka silam

Sehingga hidung hilang di muka.

Basuhlah sampah itu dengan tanah yang kita tanami

Kejujuran. Dipupuki kebaikan, dan dirawat keikhlasan

Hingga tumbuh dalam asupan sari-sari surga. Dan baunya

Berubah menjadi wewangian kasturi. Begitupun sampah-sampah

Kita yang tak berupa dari masa kelam bangsa kita;

Dapat dikompos untuk orang papa. Juga sekadar

Obat penawar bagi bumi kita yang tua

2016

 

Biodata Penulis

Iwan Ridwan. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. Menulis Puisi dan Esai. Alamatnya di Jl. Gerlong Girang Gg. Geger Arum 2 No. 26 Rt 04/06 Kec. Sukasari Bandung, 40154. Nomor kontak: 089663739806

Puisi Moh. Romli

TOPENG SUCI

Intan,
Kumohon Jangan menyentuhku kali ini
jika tak ingin ku lumat bibir merahmu
hingga berdarah-darah
mengalir jadi telaga di tubuhku

hingga hutan-hutan kembali subur
berbuah lebat bebani dahannya

hingga hewan-hewan gemuk
juga singa-singa girang dengannya

sebabnya darahmu melebur
maka topeng suci ini akan hancur
dan imanku akan terguyur.

JELANG WAKTU

Aku bukan lagi bulu di matamu
yang setiap saat dapat melindungi matamu dari debu
aku juga bukan lagi kuku di ujung jarimu
yang sejeatinya masih kau butuhkan setiap waktu

tapi aku hanyalah bekas kulit yang menimpel di tubuhmu
yang terlepas dari darah dagingmu
dan itu tak lagi kau butuhkan dalam hidupmu
bahkan tiadapun takkan pernah merasa kehilangan
apalagi sampai kesakitan

buang saja diriku
jika sudah tak berkarisma lagi di tubuhmu
aku tak pernah berharap apa darimu

aku hanya ingin memberi apa yang mampu aku beri
sebab cinta tak mempunyai apa yang ingin aku dapatkan,
tapi cinta mempunyai apa yang aku mampu berikan.

GADIS ASING

Dibalik gantungan sampah maknai
setiap lubang berasap tak sempati
samping etalase tak sengaja dapati
bibir merah manis menjadi

pesonanya yang tak henti
anggun ulurkan lentik jari berduri
dantang mengusik ketenangan hati
entah siapa dan darimana tak pasti

namun cantikmu takkan abadi
kecuali kecantikan yang dari hati
kau tak lebih dari sampah dalam buih negri
nyaris terbawa mati.

 

PAGI YANG MALU

Bagaimana mungkin ini terjadi
pagi tercipta dari pecahan kaca yang tuhan ciptakan untuk membakar diriku sendiri

sepertinya pagi sudah enggan bercumbu denganku
atau mungkin dia cemburu dengan dinginnya malam yang terus mendekapku

hingga akhirnya geram, dan melemparku di wajah mentari yang bengis

dan memaksaku menyapa ribuan orang di pasar dengan wajah malu.
sebab batu-batu di tepian kolam itu belum aku benahi.

KARENA TUAN

Ketika jalur kehidupan mulai menyempit
mengimpit setiap air kehidupan senantiasa mengungkap jujur

merah memerah
Kaca berkaca
menjelma sebuah noktah

tubuh yang lelap
semakin melenyap
geming dalam penat
pada angkuhnya kota tetap bertuan

dasi melilit tanpak menjilat

dan kami adalah korban
tuan yang melamban
hanya demi umpan
yang mapan.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya PASAR ASMARA (2016).
No.085232343060
083853208689

Puisi Eddy Pranata PNP

PERNAHKAH TELAPAK KAKIMU DINGIN DAN JANTUNG BEDEBAR

pernahkah telapak kakimu dingin dan jantung berdebar, seperti kualami ketika pertama aku jatuh cinta? di usiamu yang sudah setua sekarang, apakah mungkin hal itu terjadi, sebenarnya hal ini tidak perlu aku pertanyakan kepadamu, tapi, hal itu tidaklah salah tentunya; cinta bisa datang kapan saja dalam suasana yang tidak terduga, dan dirimu boleh bernyanyi-nyanyi, menari-nari, juga menulis puisi karena jatuh cinta, o, cinta!

Cilacap, 02 Juli 2015 

MENGEMAS LUKA-CAHAYA

selalu; dirimu mendengar detak-detik jarum jam dinding, apakah sering perih dan ngilu

kecewa pada malam yang turun perlahan?

chin, beberapa hari lagi padang kujelang

bandara minangkabau kujejak

kita pergi ke telukbayur, ke bukit lampu, ke pantai bungus

atau ke indarung rumah yunizar nassyam

mengemas luka-cahayaku

atau bila dirimu ingin mandi-mandi di laut, aku akan menjelma karang

karang tempat dirimu berlindung dari hempasan ombak

lalu sorenya, chin, kita makan sate padang dan minum es durian patimura ya?

Cilacap, 01 Juli 2015 

SEGELAS AIRMATA

ia selalu menawarkan kepadamu segelas airmatanya untuk kauminum

nyaris pada setiap pertemuan yang selalu tidak direncanakan

bisa jadi di pesisir laut, di ruang tunggu bandara, di peron stasiun atau bahkan di sebuah kafe

dan engkau akan meminum airmatanya dengan begitu tenang

lalu beberapa saat kau dan ia saling peluk, kemudian berpisah lagi

dan entah kapan bertemu lagi.

Cilacap, 01 Juli 2015 

 

SKETSA PUISI

berapa macam penyakit yang kauderita

engkau selalu menutupinya dengan tersenyum

izinkan, aku mengantarmu bila ke dokter

aku mau kau berobat dan bila harus dirujuk ke rumah sakit

aku akan menungguimu sambil terus membuat sketsa puisi

o, sketsa puisi!

Cilacap, 30 Juni 2015 

 

RUANG INI TERLALU GADUH

ruang ini terlalu gaduh, bagaimana mungkin aku melukis bayang wajahmu

yang bergemuruh, wajah mulai menua tapi matamu masih menyala

dan parau suaramu memanggil-manggil namaku

: “edelweis, edelweis! bunga hutan yang tumbuh di dadaku

mersik di kedalaman jiwaku!”

Cilacap, 30 Juni 2015

 

 

BIODATA:

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat.  Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla  Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos,  Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.

 

Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.

Handphone: 082322062966