Magan
Saat air laut belum tenang
Sampan-sampan dari ranting diapungkan
Dengan sedih dibungkus senyum
Lalu nelayan bergoyang bersama ombak
Menunggu ikan-ikan
Mungkin untuk sekedar makan malam
Ada Slamet dan Sumarni
Bersandar pasir berselimut sedikit dedaunan
Menunggu ayahnya
Menghilang dibalik ombak
Rasti
Reinkarnasi cintamu, Rasti
Hanya berkamuflase dibalik embrio
Dan tak terfikirkan
Meski sesekali mengeruhkan urat nadi
Jantung hatimu, Rasti
Menjelma labirin dengan nafas membasah
Membekukan kelenjar dengan derajat rendah
Menidurkan saraf
Rasti, cantik
Leukosit dan trombosit terenyuh
Ketika kau hadirkan wajah lusuh
Seret aku dengan pasti, Rasti
Agar tak lagi terbagi
Setangkai mawar yang masih tertusuk di hati
Jani
Selamat malam, Jani
Maukah kau duduk bersamaku
Di meja yang aku tak tahu hulu-hilirnya
Dan aku tak pernah tahu tentang menunya
Seduh saja,
Karena empedu menjelma racun
Lalu racun telah kuendap
Hanya karena kau, Jani
Aku mabuk bukan karena vodka
Dan aku sakit tidak juga sembuh
Kapan kau mampir, Jani
Ruang ini menunggumu harum aroma melati
Kurajut dari duri mawar
Dan aku telah terluka
2009
Titipan Yang Maha
Kukarang namamu pada proposal
Tak lelah selalu aku semogakan
Lewat tuan yang melahirkan
Melukis mawar tak sebegitu merah
Yang Maha Cinta
Aransemen sanjung dipanjat di tinggian
Masih tentang namamu yang kembang
Terus menjalar lekat eritrosit
Pintu delapan belas pada surat dua tiga
Yang Maha Cipta
Ruh kata sayembara
Belum saja berani menusuk pori membangunkan bulu-bulu
Hatimu terpenjara di kamar sembahyang
Dibalut lembut helaian mesra
Yang Maha Suci
Malang, 16 Maret 2015
Membaca Ka’bah
Gantung aku puisi
Pusar kitaran sesembahan Ibrahim
Perbawa ababil hapus hikayat kawanan gajah
Petarangan legojo gadis-gadis kersik
Rumah telah dibangun, milik tuannya
Tujuh pujangga mati
Aksara wangi dupa-dupa dan puja
Melontar kerikil mengusir diabolos
Arah pulang matahari di tempurung waktu penghisab tarikh
Ada puisi yang kuat dan teduh
Di Ka’bah
Malang 2015
Laghouat Cemburu
Laman pagi ini adalah etiket pertemuan
Di gedung yang hangat oleh cemburu
Aku dan duri mawar
Jadilah surat terakhir,
Oase keruh karena kau mengarau
Tercebur aku belum entas di kubangan
Kau hadiahi senyum
Pesan tak sampai
Laman siang ini adalah salam
Aku dzikir sumringahmu
Suatu Pagi yang Ping Pong
Ada karib membunuh sepagian
Seutas waktu bercengkrama dengan guru
Ping pong dekat patembayan minum kopi
Sepintas perawan melangkah ping pong
Semakin ping pong, kedatangan sekawanan membual
Desahku ping pong tak simetris
Lampu hijau perempatan
Aku telah gegas ke perteduhan
Sebingkis legum hadiah lora
Mengalpakan
Suatu pagi yang ping pong
Sketsa Pagi
Luminositas kota
Topeng-topeng gerilya di lingkarnya
Ada kaki lima dirintih gebuk hujan
Sempoyong kaku bermata kaca
Kehidupan baru dimulai
Disemogakan
Melodia Pagi
Ruang ini hampa
Saat tak lama aku menjumpa
Pagi yang mesra
Kantin yang sepi kosa kata
Kulihat kembang senyum
Perawan-perawan menebar harum
Graptophyllum pictum
Maka waktu ini semakin kusut
Hati tertambat sayang terpaut
Adakah yang lebih perih dari harap ?
================================================
Tentang Penulis
Fajrus Shiddiq, lahir di pedesaan Madura, Sumenep 18-Oktober-1991. Mahasiswa Jurusan Pendidikan S1 Bahasa Arab Universitas Negeri Malang. Puisinya tak jarang dimuat di berbagai antologi Senja Bercerita, Muara Pelangi, dan Pada Batas Tualang. Serta media lokal Qalam dan KOMUNIKASI. Aktif tulis menulis semenjak masih nyantri di PP. AL-AMIEN PRENDUAN, anggota Sanggar Sastra Al-Amien, Sanggar Cakram, dan anggota redaksi majalah berbahasa inggris ZEAL.Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab), FLP ranting UM, dan Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI.
______________________________________________________________________________

Penulis bernama Achmad Hidayat Alsair. Lahir di sebuah kota kecil bernama Pomalaa (Sulawesi Tenggara), 15 Mei 1995. Sekarang tengah berkuliah di Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Hobi menuangkan hal-hal yang melintas di pikirannya ke atas kertas. Puisi-puisinya pernah dimuat di harian Fajar Makassar, Tanjungpinang Pos, Jurnal Asia Medan, Litera.co.id, FloresSastra.com, ReadZone.com, SultraKini.com, MahasiswaBicara.com dan beberapa antologi puisi. Yang terbaru, salah satu puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Temu Penyair Nusantara 2016 “Pasie Karam” (2016). Bisa dihubungi melalui ayatautum95@gmail.com.
Galeh Pramudianto, mahasiswa akhir Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta. Menulis naskah drama, puisi, esai dan skenario. Penerima beasiswa menulis fiksi Tempo Institute. Manuskrip puisinya (Kacukan) masuk nominasi 10 besar (masih berlangsung, dengan juri Herman J. Waluyo dan Gunawan Maryanto) dan akan diterbitkan dua bahasa (Indonesia dan Inggris) oleh Pena Kawindra. Pengajar teater dan sutradara di Sanggar Embun Cileungsi—juga kadang bergiat di Riset Teater Jakarta. Buku puisi tunggalnya: Skenario Menyusun Antena (2015).
