Salah satu grup penampil beraksi dalam ajang Festival Kuda Lumping di Padaherang, Minggu (20/8). Foto: Bid. Kebudayaan Disparbud Pangandaran (atas)
Padaherang, SPC – Puluhan kelompok seni kuda lumping dari Kec. Padaherang, Mangunjaya, dan Kalipucang mengkuti ajang Festival Kuda Lumping di Lapangan Procit Desa Patinggen Kec. Padaherang, (Minggu 19/8). Selain banyak peserta yang mengikuti hajat seni budaya tersebut, ajang yang digelar pertama kali di Kab Pangandaran, Jawa Barat itu mendapat sambutan meriah dari masyarakat.
Tidak kurang dari 2000 warga sekitar antusias menyaksikan jalannya festival. Para penonton tampak antusias melihat satu demi satu kebolehan kelompok peserta.
Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Pangandaran Aceng Hasim menjelaskan kategori yang dilombakkan yaitu ibing cakilan, baladewaan dan barongan. Indikator yang dijadikan dasar penilaian di antaranya keluwesan gerak, kesesuaian gerak dengan musik, serta kekompakkan gerak.
Lebih jauh Aceng menyampaikan, kuda lumping bukan seni tradisi asli Kab. Pangandaran. Namun, kata dia, kesenian tersebut tumbuh baik di Pangandaran dibawa dan dirawat oleh leluhur warga suku Jawa asal Jawa Tengah.
“Dibanding kesenian lain yang ada di Pangandaran, kelompok seni ini paling banyak. Menurut catatan kami ada 60 kelompok se-Kab. Pangandaran, terbanyak di Kec Mangunjaya dan Kec. Pangandaran” kata Aceng seperti diberitakan SP.Com.
Kepala Disparbud Kab Pangandaran H Undang Sohbardin dalam sambutannya menyampaikan, ajang budaya di Padaherang selalu nendapat sambutan meriah dari masyarakat, tak terkecuali Festival Kuda Lumping. Potensi seni tersebut dan antusiasme masyarakat, kata Andang, perlu diapresiasi.
Dengan keadaan tersebut pihaknya ingin menyelenggarakan kegiatan tersebut di Padaherang, serta mengundang kelompok seni sejenis dari kabupaten tetangga.
“Ke depan kami ingin mengundang kelompok seni kuda lumping dari kabupaten yang terdekat. Sehingga acara semakin meriah serta bisa menjadi perbandingan, ” papar Undang.
Editor: Andi Nurroni/SP.Com