Arsip Tag: Travelling

Negeri Pasir Seribu Suluk

  Catatan perjalanan Ferry Fansuri

Jejakku sekarang menuju kota Pasir Pengaraian, tak banyak tahu tentang kota satu ini. Kota seribu suluk wilayah Riau propinsi Rokan Hulu. Start dari jalan Arengka sekitar jam 8 pagi menuju terminal bus Panam. Tapi sebelumnya dapat info bahwa transportasi ke pasir pengaraian harus dilalui angkutan L300, ini minibus sejuta umat khusus di pulau Andalas.

 

Pas dipinggir jalan celingak-cilinguk sampai membopong tas carrier merah buluk menunggu ojek samperin, masih jam 8 pagi kulihat jam tanganku. Memang di kota Pekanbaru masih opang (ojek pangkalan) tapi unik jika kita berdiri aja di pinggir jalan pasti ada kereta(motor) pasti samperin nawarin ojek. Setengah jam nunggu tak kunjung muncul si ojek dadakan. Pas kebetulan tempat berdiri berdekatan dengan pool Riau Taxi en pas juga ada 1 ekor taxi keluar, daripada lama-lama nunggu ku stop tuh taxi.

 

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966a8820253ae8&attid=0.5&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ9AG6prnUd-D_hR4ixVDKjKWqdGn0z9654rcI3cznbUQ6e_HHWGwm_70Dm_plj13S2Lzr8imTUwz5DfujUsXGhnf3MIkRaj9X9FSQy7oSqlZCAJcY45-OtMdlS_od4cqUZJd9ah-oc6n9ukWmABbSUJhAjT5EyvjNZzs5zrWsDHS3CZvd2Q0lmPUgjXdcuH0BT0VYVkF_uOPumuV_--0hU7JzWf-0ZR8ra6LigSFkTVxK1hsNC0tLh0n9CQk34q7pLMAVKJzUTHXpWJWemVYXq2gTFRXj6BJTYTyyrTQT2XrcqUDbWicwGiI6cUVPUp5cBYmRZpyYYgIZ3gPf9pnIxkwRH81wZKLC8Ut1d62NBcy_PCZcqIwHC2Qk631YaFJ7_du0jC55sutYXIGZPV8bR7ZE2SBBKQNxzg0H0Pm5BqEe6vgnRz_DR9rIKvydyky_B3Cq8w3GQZd-kEurKMkb8YWQr9uVKHcPBWcX9y-YjCeSKccqzSHzpyF77f_-iiWV0655YJ2vIgnq3DOxooobl7ZJco1_7dlcF5-v0n09RMRo_ibU52BzfXPmm7DZ1PVSMOMHfjxiaseWQwKJfbDOzqkYpYDKuOEaIB_mFyaOlEr7o27az8WDWnYyE

Memang taxi agak mahal sekitar 60 ribu itupun ditentukan argometer, kalo ojek bias nego 40 ribu. Cuman 15 menit aja nyampai di simpang empat Panam jalan H.Soebrantas, disini terminal bayangan L300. Keluar dari Taxi, sudah diserbu calo yang mencoba mengais rejeki pagi hari. Berderet minibus Mitsubishi menunggu tujuan Bukittinggi, Padang, Bangkinang atau kota diperbatasan Riau dan Sumatera Barat melalui jalan kelok 9 yang terkenal itu.

Sebenarnya banyak alternatif transport ke pasir pangaraian seperti ke kota lainnya macam travel “Tapi untuk ke pasir belum ada yang resmi bang untuk travel, kita bisa jemput juga” ujar Daniel, salah satu calo terminal bayangan. Pemberangkatan cuman 2 jadwal pagi dan sore, ini dikarenakan kuantitas menuju pasir tidak sebanyak kota lainnya. Wajar karena Pasir dibilang kota perlintasan menuju Medan, sering dilalui Bus antar propinsi macam ALS.

Jam mendekati 9 pagi, L300 start dari simpang empat Panam dengan jarak 180 km atau 4 jam perjalanan. Melewati kota terbesar Bangkinang sebagai rute menuju pasir pangaraian, disini juga si sopir jemput bola angkut penumpang. Tarif normal L300 ini 30 ribu tapi pas kena calo 50 ribu, bagi-bagi rejeki deh pagi-pagi ceritanya. Kalo mau cepat naik pesawat, tapi mahal guys. Tak banyak tahu bahwa kota Pasir Pengaraian ada bandara namanya Tuanku Tambusai, pakai pesawat kecil baling-baling bambu 12 seat bisanya Susi Air menyediakan penerbangan pagi. Siap-siap sedia 280 ribu sekali terbang dari bandara Sultan Syarif Qasim, itupun dalam sepekan hanya 1 kali penerbangan. Kalo ente jurangan sawit bolehlah, naik pesawat pulang pergi.

 

Sepanjang perjalanan menuju pasir, kanan-kiri banyak budidaya kelapa sawit dan memang daerah Riau terkenal akan sawitnya. Tak aneh Indofood Group juga punya berhektar-hektar lahan sawit di bumi melayu ini. Jalanan juga dibilang naik-turun sedikit terjal, setelah 2 jam diombang-ambing per keras L300 berhenti di Rumah makan H.Nurman Ardai daerah Saran Kabun terkenal dengan Pesantren Darussalam-nya. Sejenak istirahat melepas lelah atau menunggu penumpang lainnya makan, seperti kebanyakan angkutan dimana aja pasti ada tempat ngetem. Rumah makan Padang ini juga dijadikan tempat ngetem L300, ini hubungan simbiosis mutualis antara pemilik rumah makan dan sopir. Owner diuntungkan datangnya pembeli dengan kompensasi menyediakan makanan gratis buat sang sopir.

Tepat jam 12 siang kita go again , melewati dua daerah ramai Tandun dan Ujungbatu sebelum tiba di pasir. Akhirnya jam 2 siang tiba memasuki kota, sesuai planku untuk diturunkan di Islamic Center Masjid. Karena browsing-broswing, Islamic center salah satu icon wisata Pasir Pengaraian. Terletak di jantung kota depan kantor pemerintahan bersebelahan lapangan Dataran Tinggi Rantau Baih dan hotel Sapadia.

 

Tapi eits ane kagak nginap di Sapadia, karena backpacker budget jadi nyari alternatif. Sebelumnya sudah nanya ke mbah google tentang hotel di Pasir Pengarian, memang ada beberapa tapi pas cek lokasi ternyata tidak ada. Berjalan menyusuri jalan Tuanku Tambusai berharap kelihatan penginapan, harapan dikabulkan pas ada. Penginapan Andisna Motor yang dibundling bengkel jadi tempat beristirahat sementara, memang bukan hotel bintang 3 tapi cukuplah. Cuman 200 ribu dalam TV channel berbayar en kipas angin, tapi kamar mandi luar. Taruh tas sebentar en mandi, istirahat sejenak melepas penat. Ada yang rekomendasi nginap di Ujung Batu, kota sebelum Pasir Pengaraian. Lebih murah dan beragam, lebih ramai bahkan ada rumah sakit Awal Bros.

 

Menjelang maghrib waktunya jelajah kota Pasir Pengaraian, kotanya sih tidak begitu ramai karena perlintasan. Ciri khas kota-kota kecil di Riau, uniknya ada betor (becak motor) yang biasanya ada di Medan sekitarnya berseliweran. Tujuan utama ke Islamic Center, icon Pasir Pengaraian terlihat megah. Disini dibuat satu kompleks dengan menara 99, jadi dipusatkan pendidikan dan agama Islam. Setelah mencicipi karpet masjid untuk Ashar, kesempatan berkeliling kompleks Islamic Center.

 

Menyusuri lorong-lorong yang mengitari masjid terasa sejuk. Penampakan sekilas seperti Taj Mahal di India terdapat kolam ditengah diapit 4 menara. Uniknya lagi tempat masuk jamaah wanita dan pria diberi tanda berbeda. Seperti untuk jamaah pria, pintu diatas terdapat tulisan Abu Bakar As Shidiq-Khalifah pertama sedangkan Pintu jamaah wanita bertuliskan Siti Khadijah-istri Nabi Muhammad.Jadi nggak salah masuk ruangan sholatnya, ane juga pas bingung banyak pintu mana yang buat jamaah pria. Biar nggak malu salah masuk, tiap pintu Islamic Center sesuai ruangannya masing-masing.

 

Setelah lelah mengelilingi masjid, dilanjutkan diluar masjid. Bagian depan Islamic Center ini ada tugu Ratik Togak. Ini termasuk salah icon terkenal kota Pasir Pengaraian, sebuah tugu perlambangan ekstensi Islam di sini, lima tonggak melambang 5 rukun Islam tersambung dengan tasbih. Memang Islam di Pasir sangat kuat, sebutan seribu suluk(tempat ngaji) disematkan. Selain pondasi religi, kota ini konon kaya hasil buminya macam emas. Dulu sungai Rokan Kanan atau Batang Buluh mengandung emas, banyak masyarakat sekitar melakukan tambang dengan teknik pengaraian(ayakan). Pasir disungai diayak sampai menghasilkan butir emas, itu asal nama Pasir Pengaraian diambil.

Kali ini ane cuman wisata kota aja untuk salam kenal dulu, sebenarnya Pasir pengaraian banyak wisata tempat yang wajib dikunjungi seperti obyek wisata air panas Hapanasan, Pawan, air terjun Aek Martua dan Danau Cipogas . Kalo tak suka main air bisa jelajah alam Taman Nasional Bukit Suligi dan Goa Huta Sikafir. Banyak obyek-obyek tersembunyi yang masih perawan perlu dijelajahi. Next Trip Next Rute. fey []

 

Biodata penulis:
Ferry Fansuri adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs. Eks redaktur tabloid Ototrend Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance untuk berbagai media Nasional

Pesona Melayu di Istana Matahari

Oleh: Ferry Fansuri

Saat landing di Bandara Sultan Syarif Kasim II International Airpot, teringatku akan sejarah kesultanan Siak Indra Pura. Sosok Pahlawan Nasional dan  Riau yang melawan penjajah Belanda disahkan BJ Habibie pada 1998. Jejak history ada di istana Siak dan pusat kerajaan cikal bakal kot Pekanbaru yang terletak di kabupaten Siak. Menuju kesana bisa memakai mobil atau travel kesana, menempuh 202 km dengan perjalanan 2 jam 30 menit arus normal. Ketika kulewati jembatan megah Tengku Agung Sultanah Latifah diambil dari nama permasuri Sultan Syarif Kasim II, pertanda ucapan selamata datang dari Siak Indrapura telah dekat

        
Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Setibaku di Istana Siak yang menghadap sungai Siak ini, terlintas gaya bangunan panduan Melayu, Arab dan Eropa sama dengan arsiktektur Istana Maimun yang ada Medan. Istana Siak ini juga disebut Istana Matahari atau Asserayah Hasyimiah konon membutuhkan 3 tahun dalam pembangunannya (1889-1893). Dirancang arsiktektur Jerman pada masa Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin atau Sultan Siak XI.

Gerbang kebesaran kesultanan Siak

Begitu megah dan mewah Istana Siak, memasuki gerbang hingga pintu utama terlihat kebesaran kesultanan Siak dijamannya. Pada bagian utama dalamnya kita dapati balairung tempat pertemuan para tamu, dibangun dengan 2 lantai. Istana Siak yang berada jalan Sultan Syarif Kasim ini mempunyai 6 pilar menopang dan dicat warna kuning gading.

Didalamnya terdiri dari 4 bangunan utama terdiri dari Istana  Siak, Lima, Padjang dan Baroe. Jika kita memasuki ruangan utama, terlihat ruang tunggu untuk tamu-tamu kerajaan dibagi menjadi 2 bagian untuk laki-laki dan perempuan.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966b343fac5103&attid=0.15&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ8WuOnwkSkx3DKnf615sV4TfguGmKAIT9opfW7MYRsQO8zWm3zYni6VaWqwg2aAo7ObdomnZ6Eg1HEMIm-pev6p9eEExqNk0va-D_2gI9hOaBZcCciRuMuha9F5hJS_sEEsbrSuM61IHgAdP1Fb_MsjBy1JM1zfYqwu3NaeSLgxHTiwRh2f8w4b23e4AomwqM0abQdoAaHVlMSUfuDHVudjIrNBiYYigT4OBtLacjVBXUMBub_dhpXts9QSDhW6sIqettMkB-xsQ49A8Sriw6ma8MwCZ4QD2w0-wAjH8Oo0rwuHkE6cFqfvV9nXExkLcCd56rMxt3sCb4HRg3pjCCFtJJaE4dxZVWojRqt1Lnxc-yiebeQFw8FWLFD4KNABxxhpNPyUE0GPJIOnACSyOmJaHe9ZQXa_1DI-4heyC0yjyehJ5gBmhsCYi7_WaaykEGMvHNk46uCJTWQSFLskpZ6Wo0QBydepiGWyLE2rw4ItOpO6PmNh8hAKie1pSscAp6j3civixcZTc1dxBQgnac2SgZNcsKUyBzT1uDZ2xw1rIW7vedYbKJrdIilzfsNELysNJ5hnwuU5ELkUKCW4-XkUj12UlAnEqiJADoGHy-BMAZ_RUSKLNnzIuQ4

Foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri

 

Saat memasuki dalam Istana Siak, kita seperti diajak nostalgia akan sejarah didalamnya. Aku jumpai foto-foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri, dan juga foto proklamator Republik ini Soekarno. Mungkin tak banyak tahu bahwa Sultan Kasim II ini begitu cinta tanah air ini dan getol melawan penjajah Belanda bahkan rela menyerahkan 13 juta Gulden setara 1,074 trilyun rupiah dijamanya kepada Soekarno sebagai mahar untuk bergabung dengan Indonesia. “Biarpun Soekarno belum pernah berkunjung disini” jelas salah satu staff “kuncen” istana Siak ini. Siak jadi kerajaan kedua yang memastikan bergabung dengan Indonesia setelah Jogja.

  Situs cagar Budaya Gudang Mesiu

Berkeliling dalam selayar istana Siak begitu banyak ornamen dan peninggalan dari kesultanan Siak. Paling unik koleksi meriam dari abad 18, saat kuperhatikan ada sebuah meriam paling besar daripada lainnya. Dikenal sebagai meriam buntung berdiameter 21 cm, ada cerita unik dibaliknya. Kondisi meriam masih sangat baik tapi jika diperhatikan terbelah menjadi dua bagian. Meriam buntung sempat jadi incaran pencuri untuk dijual ke kolektor, tahun 1960 konon pernah dicuri dan dipotong untuk dibawa moncong saja ke Singapura tapi sial kapal yang mengangkut moncong meriam itu tenggelam di teluk Salak. Ajaibnya kembali lagi ke pasangannya.

  Gramafon buatan Jerman
Tatanan dan arsiktektur modern begitu kental didalamnya, ini tak lepas didikan sang ayah Sultan Siak X1 kepada sultan Syarif Kasim II. Ini bisa terlihat dari peninggalan Gramafon buatan Jerman atau lebih dikenal Komet ini. Sang Sultan begitu tergila-gila sama Beethoven komponis musik klasik, sang Sultan bisa menikmati sorenya dengan mendengarkan simponi kelimada dan sembilan milik Beethoven dari piringan hitam. Menikmati sampai akhir hayat sampai mangkat tahun 1968 tanpa keturunan dan begitu juga berakhir garis keturunan kesultanan Siak dan takdirnya melebur dengan Indonesia.

  
Kelenteng Hock Siu Kiong

Istana Siak terletak di pinggiran sungai Siak yang strategis, sempat jadi rebutan kolonias Belanda dan kesultanan Johor. Kusempatkan berjalan disekitar istana Siak, banyak bangunan bertingkat 2 bercatkan merah dan terlihat dari indentitas ini Pecinan Siak atau lebih dikenal kawasan Merah. Hampir 200 tahun lebih komunitas Cina pendatang di Siak, ini ditandai berdirinya kelenteng Hock Siu Kiong bersebelahan dengan Masjid Syahabuddin. Selain keleteng ini, ada juga gereja yang dibangun tahun 1936 dan sekarang dikelola HKBP. Sultan Siak XII memang sejak lama menghormati keanekaragaman agama di wilayahnya, ini terbukti jejak-jejak kerukunan dimasa lampau dan ini sepertinya berbanding terbalik dengan suasana intregasi nasional yang saling kecam di media sosial saat ini.

 


Biodata Penulis :
 
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur luluasan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional