Arsip Tag: Tjahjono Widarmanto

Puisi Puisi Tjahjono Widarmanto

 BERKACA PADA URAT POHON

berkacalah pada urat pohon saat segala ranting dan daun

meninggalkan dahan getah-getah akar yang dijemput kematian

 

urat-urat pohon adalah kitab yang terbuka

meriwayatkan hidup kita lahir dari rahim tanah

tumbuh dengan buah yang rimbun

namanya: usia!

 

semuanya menuju ke tanah

cahaya matahari seterang apapun

tak sanggup terangi semua yang kembali

pelan-pelan segalanya terkubur diam

wajah-wajah tengadah tanpa nafas

mencari warna di uban rambutnya

lantas menyerahkannya pada malam

 

TAK ADA YANG LEBIH INDAH

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

selain duri

di ranting mawarMu

 

di bilik ini tak ada

yang lebih indah

saat hati dirajam

ranting duriMu

 

tuhan, penyair ini

terpanggang api

rinduMU

sebab sejak

mengenalMu

: Engkau tak pernah serupa!

 

SAJAK PARA PENYAIR

sajak-sajak kami menerima segala yang berlangsung dan berlari

: hujan yang tersisa di pepohonan, tikus merayap di langit-langit kamar, kuda-kuda

meringkik di kandang yang bersebelahan dinding kamar losmen murahan

yang di dalamnya terdengar ringkik perempuan di ujung telanjangnya

 

sajak-sajak kami adalah tidur yang menampung igau dan mimpi perawan tua

merindu jejaka, tangis gadis muda yang ditinggal lari perawannya saat akil balik,

suara bergemuruh di sepanjang rel kereta api tua atau kering matahari membentuk

bulatan bulatan uap yang membuat bumi keriput seperti usia yang tak putus-putus

meniup isyarat, melambai lambaikan bendera dan menggoncang lonceng-lonceng

 

sajak-sajak kami adalah bejana di dapur yang terisi air minum dan kali selokan

yang menggenangi lantai ruang tamu mengalir hingga ranjang serupa kolam

untuk mencopot dahaga dan membasuh peluh dan bilur pedih wajah dan mata

 

sajak-sajak kami adalah radio penuh suara riuh decit dan dengung benda-benda

yang mengabarkan hal-hal tak terduga, suara-suara yang melampaui lengking peluit,

gaung nada melebihi segala makna bahasa dan galau kota yang di bom para teroris,

segala suara cemas para serdadu di medan pertempuran, desah putus asa tahanan

yang dieksekusi pagi nanti, harapan yang kabur dari penumpang yang terikat di kursi

pesawat terbakar dan sekejap nyungsep mengambang di antara hiu yang meringis

 

sajak-sajak kami adalah juga kata-kata segar sekaligus kata-kata muskil yang aneh

melebihi semua mantra pawang, nyaris melampaui mukjizat para rahib

 

kami, para penyar melalui kata dan suara menumbuhkan segala

makna yang dicatat zaman!

(Ngawi, kedungdani)

 

 

HIKAYAT HASRAT

*) mencatat Gilles Deleuze

1/

ia membaca tubuh-tubuh itu.tubuh tanpa organ

mesin hasrat yang terpilin dari semacam sel atau telur

menetas, berubah wujud dan menumbuh

menjadi sesuatu yang tampak utuh seperti puzle

sejatinya terpisah serta terus menerus bergerak menuju entah

 

hasrat yang sembunyi di balik kerang

katup yang terbuka dan menutup

saat mata terbuka atau terpejam

tak peduli itu tanda atau makna

 

2/

ia merasa amat bahagia seperti bayi

yang melompat dari lumpur ketuban

yang belum peduli dengan pembenaran-pembenaran

sebab baginya tak ada yang baru dari kelahiran dan kematian

segalanya hanya sekedar tirai tersingkap menampakkan yang tersembunyi

 

semenjak bayi, hasrat telah meletup-letup

seperti nasib yang selalu keliru diramal

persis sebuah revolusi atau reformasi yang sibuk menemu pintu

 

segalanya selalu merambat bersama waktu

ia merasa manusia harus takluk pada dunia yang lain

 

 

3/

hasrat seperti kurcaci yang tiwikrama

tak satu pun bisa memeluknya dengan hangat

saat melompat-lompat seperti katak

berayun-ayun dari yang berubah dan yang terjadi

muncul dari yang tak terduga menuju nyata

temukan habitatnya sendiri sarang tempat

mendewasakan segala olah pikir, keinginan dan birahi

 

4/

sesuatu yang tampak nyata tak sanggup dipahami

walau sudah dibahasakan dengan sepeti makna

 

segala ingatan dan pengalaman luput digenggam

sebab makna melarikan diri kabur dari peristiwa

 

5/

ia suka permainan itu

semacam petak umpet yang tak punya satu peraturan

titik yang selalu bergerak dari satu garis lengkung ke lengkung lain

mirip bintang alihan, bergeser sepanjang masa

melacak makna dan mengikatnya

 

6/

ia sudah diramal oleh seorang peramal botak dan homo

disabda menjadi seorang santo atau rahib atau brahmana

 

karena hasratnya yang meluap ia dikutuk menjadi kitab

rujukan para musafir yang mencari peta dan pulau

 

 

namun, ia menolak menjadi mitos dan menggantung lehernya di pintu rumah

tangannya yang mengepal menggenggam sebuah wasiat

: ini cuma sekedar hasrat dan sebuah peristiwa!

 

(surabaya-ketintang)

 

RAINKARNASI DAJJAL (2)

aku biakkan kecemasan itu seperti kelelawar bertaring

melayang berterbangan menebarkan was di jalan hingga kolong ranjang

 

kubiakkan kecemasan itu untuk menumbuhkan gentar

maka duniamu akan terlipat di ketiakku

akan kubangkitkan kerajaan nero dan machiavelli

agar api menyala membakar apa saja

hingga takut dan gemetar mendengung seperti tawon

 

engkau pun akan meringkuk seperti trenggiling

atau babi yang akan kutusuk anusmu melengking-lengking

 

di tengah cemasmu kubangun surga. nirwanaku sendiri

rumah harem bidadari-bidadari telanjangku

 

 

RITUAL YANG MEREKA NAMAI: TEROR!

kau ganti bahasa dengan ledakan-dentuman

kau menyebutnya sebagai pertarungan suci

sorga bagimu harus dipetakan dengan darah

dan mesti dijaga dengan jubah-jubah suci

 

granat itu pun tiba-tiba hadir di meja makan anak-anak kami

 

maka, keramahan membusuk di mana-mana

pandangan mata menebar cemas curiga

koran-koran dan televisi pagi mengabarkan berita-berita kematian

 

namun mereka telah demikian biasa dengan pesona buruk itu

mereka jejalkan bersama takut yang was-was membuat kami linglung

 

sekarat itu mereka pilihkan untuk kami

 

angan-angan mitos mereka tentang sorga dan perang suci

menjadi kabar lelembut menebarkan dengki dan prasangka

menjalar bagai ular menjulurkan amarah yang diasah seperti kelewang

menyembelih siapa saja, tak peduli ibu atau anak perempuan sendiri

 

konon mereka impikan kafilah dengan pasukan surga

 

pemimpi yang percaya ayat-ayat bencana

dan mereka mengusungnya bersama keranda penuh bom

menjadi sesaji pesta-pesta pemakaman bersulang di atas nisan

 

itulah ritual yang mereka namai: teror!

 

TAN (5)

aku tak pernah cemas dengan takdir, sebab ini pilihanku

 

walau para serdadu dungu itu

akan mencungkil kedua biji mataku

aku tak pernah terpengaruh dengan gelap

 

segala cahaya telah kusimpan tidak pada mata

namun kulekatkan pada telapak kaki

 

dalam jalan paling rumpil, gelap dan berkabut

tetap saja aku mudah berlari-lari

kalian akan mengejar terseok

sebab lampu sejarah itu telah kucuri!

 

HIKAYAT ULAR YANG MENDESIS DI KEPALANYA

di kepalanya mendekam seekor ular dengan lidah bercabang

mendesis-desis beranak pinak di tiap serabut sel kelenjar otak

(persis ulat-ulat yang menggerogoti sebutir khuldi di genggaman eva)

 

desisnya menjilat pintu langit

: bukankah telah kau tukar keabadianmu dengan secuil kelamin syahwat?

 

langit lantas bukakan pintunya, julurkan sulur-sulurnya

mulailah ia melata merambatinya

lantas terperangkap dalam selokan tua

 

sabda itu berdengung

: mulailah perjalananmu mewaspadai ketololan sendiri!

 

riwayat itu pun dimulai

sejarah kelak mencatatnya sebagai sebuah legenda sepetak kebun

yang hilang bersama segenap prasastinya

(ular di kelenjar kepalanya itu masih saja mendesis-desis)

                                                                                    Ngawi

 

LELAKI PENAKLUK BUAYA

                                                                    :buat penyair mashuri

Lihat, telah kuasah tombak dan kapak tajam-tajam pada padas karang. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Lelaki itu mendorong rakitnya ke tengah sungai. Ngalir, ngalirlah ke muara menyisir hilir. Berkisah tentang seorang lelaki berikat kepala wulung menjagai sungai-sungai. Mengulang perjalanan Khidir yang dikuntit Musa menelisik pesisir mencuri kitab rahasia nasib, sorga, dan neraka.

 

Sigra milir sang getek. Lelaki dan rakitnya terapung-apung telusuri air dan kisah-kisah kuno, saat angka-angka tak jelas mana genap dan yang mana ganjil. Saat abjad-abjad tak jelas mana yang vokal mana konsonan. Sigra milir. Kuteriakkan mantram-mantram penakluk segala penghuni sungai. Kembang telon tujuh warna, cok bakal beserta putik asoka ditebar, terbuka segala pintu hantu, tersibak segala kabut. Mari timbullah segala buaya. Buaya sungai, buaya rawa, buaya darat, buaya samudera, buaya siluman. Buaya segala buaya, buaya maha buaya

 

Sigra milir. Rakit beringsut. Matram-matram mengigau. Inilah kidungku. Muncul engkau segala buaya. Merangkaklah ke mari, segera kubelah perutmu yang selalu bunting, sebab di sana kutemu segala frase dan kata-kata. Ayo, manis, merangkaklah dengan gairah. Di sini telah kusediakan ranjang hangatmu. Nina bobok oh nina bobok. Tidurlah manis dengan telentang, bentangkan buntingmu akan kutombak dan kubelah dengan kapak dan gergaji.

 

Sigra milir sang getek sinangga bajul. Segala buaya. Buaya sungai. Buaya rawa. Buaya darat. Buaya laut. Buaya siluman. Buaya maha buaya. Merintih-rintih. Perut buntingnya meledak. Muncrat janin kata-kata. Ohoi, Columbus temukan benua, aku temukan makna! Lantas, segalanya berubah aksara, terpahat di gerbang-gerbang kota, puing-puing candi, dinding-dinding biara, lonceng-lonceng gereja, kubah-kubah masjid, mercu suar dan rumah-rumah keong.

Lelaki itu masih setia mendorong-dorong rakitnya ke segala sungai-sungai. Ngalir susuri hilir. Tak sampai-sampai ke muara. Sigra milir sang getek sinangga bajul. Menabur mantram panggili segala buaya. Engkau mahluk manis baringkan buntingmu, dalam ketubanmu akan kutemu segenap rahasia lambang-lambang.

Sigra milir. Lelaki itu berdiri di tengah rakit, tegak dengan tombak dan kapak, menyisir hilir. Akulah penyair penjaga sungai kata-kata. Akulah penyair penakluk buaya!

Ngawi, kedungdani-kedung glagah

 

RUANG KERJA AYAH

ruang kerja ayah di loteng lantai dua.kalau jendelanya terbuka, lampu menyala

ia pasti ada di dalam menekuri pesawat komputer dengan mata setengah terpejam

sebelum memiliki komputer ayah bekerja dengan sebuah mesik tik tua setua ubannya

ibu amat senang mendengar tik tak tuk mesik ketik itu.

ditempelnya telinga di pintu mencuri dengar

sebab ayah melarang siapa saja masuk ke kamar kerjanya saat ia mendekam di situ

 

kata ibu, ayah adalah penyair.berkerja sebagai penyair.

sungguh aku tak paham profesi itu. sepengetahuanku, bekerja itu harus seperti

ayah kawan-kawanku si Kaila, Agis atau Sifak; berangkat ke kantor, jadi guru

atau pedagang di pasar besar, setidaknya jadi hansip di gardu jaga

 

kata ibu, ayah adalah penyair. seolah tuhan kecil yang sanggup mencipta apa saja

leluasa mencipta riang, petaka, harapan, senyum, caci maki atau kedunguan

seperti juga tuhan, kata ibu, ayah tak peduli dengan uang atau penghasilan.

tugasnya adalah mencipta. itu saja. mencipta sabda menuliskan firman kata-kata

 

tuhan merahasiakan bagaimana ia menciptakan mahluk dan menuliskan petuahnya

begitu juga ayah melarang siapa saja masuk ke ruang kerjanya

saat mencipta dan bersabda

ini rahasia sebuah penciptaan”, katanya sambil mendelik

 

diam-diam aku pernah mengintipnya saat bekerja: ternyata saat menekuri komputernya

ayah hanya mengenakan celana dalam.kaki bergerak-gerak mengikuti jari-jari

mulut komat-kamit seperti presiden pidato atau dukun baca mantra

 

seperti juga tuhan, ayahku juga gemar menghukum, mengancam dan menakut-nakuti

acapkali ibu gemetar ketakutan saat wajahnya dituding-tuding dengan rotan

biasanya jika bertanya tentang rekening listrik dan tagihan pajak

 

diam-diam aku ingin seperti ayah, menjadi seorang penyair

: begitu berkuasa dan boleh hanya memakai celana dalam!

-ngawi-klitik-

Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa.

Bukunya yang baru terbit MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH (2014)

MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013)

Bukunya yang lain yang telah terbit terdahulu : MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013) dan MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013), DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997), KUBUR PENYAIR (buku puisi:2002),  KITAB KELAHIRAN (buku puisI, 2003), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011),dan  DRAMA: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), UMAYI (buku puisi, 2012).

Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA  Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi. Telp. (0351)746225 atau 085643653271. E-Mail:  cahyont@yahoo.co.id,