Arsip Tag: Virgorini Dwi Fatayati

Selalu Diuji dan Diuji

Oleh: Virgorini Dwi Fatayati

Pasca saya mengalami kecelakaan, tetangga ibu saya yang merasa penasaran sampai bertanya perihal ujian yang menimpa kami. Dia menilai kami keluarga yang religius, suami istri dan anak-anak soleh-soleh, tapi mengapa diberi ujian yang begitu berat? Begitu tanyanya.

Aih, malu betul dinilai orang sebagai orang soleh, padahal kami masih belajar terus dan berusaha untuk berada di jalan Allah, belum tentu penilaian Allah dan manusia sama. Namun ibu saya menjawab bahwa orang soleh itu justru malah lebih berat ujiannya. Dengan serta merta si tetangga mengatakan, ”oh, kalau begitu mah, nggak mau ah saya jadi orang soleh, nanti ujiannya berat.”

Lho kok?

Pikirannya bisa begitu? Bukankah kita semua bakal pulang ke kampung akhirat? Rugi kalau kita tidak bersungguh-sungguh dengan Allah kalau hanya sekedar takut dengan ujian di dunia, mending dapat ujian saat masih di dunia daripada nanti di akhirat.

Siapa nyana di waktu berikutnya sang tetangga ibu saya ini justru mendapat musibah yang tak terperi, anaknya yang sudah remaja dibunuh temannya sendiri sesaat setelah berbuka puasa. Motifnya apa tak pernah diketahui karena kasusnya tak pernah diusut tuntas. Ujian apalagi yang lebih berat daripada kehilangan anak? Padahal sang ibu bertekad tidak mau jadi orang soleh karena khawatir mendapat ujian, tapi nyatanya dia dapat juga ujian. Ternyata mau orang soleh, mau orang tidak soleh tetap sajaTuhan memberi ujian, mau orang kafir atau pun orang beriman sama-sama diuji.

Jadi pilih mana? Pilih jadi orang tidak soleh yang diuji atau jadi orang soleh yang diuji? Nilainya tentu berbeda di sisi Allah, bagi orang beriman ujian yang didapat di dunia dan diterima dengan ridloinsya Allah bisa meringankan hukuman di akhirat, namun ujian yang diterima oleh orang tidak beriman apalagi kalau dia tidak ridlo apakah ada nilainya juga?

Tetanggaibusayaituselamaberbulan-bulanseperti orang stress, bicarasendiri, tidakmaumakanberhari-hari, berteriak histeris saat kembali menyadari anaknya sudah tak ada dan bahkan sampai tidur di makam anaknya.

Saya tidak bisa menyalahkan beliau karena ditinggal mati oleh anak memang sebuah ujian yang luarbiasa berat. Saya  sendiri mengalaminya, dan saya sempat khawatir saya akan menjadi gila. Bayangkan, di saat air susu saya masih deras-derasnya mengalir, di saat sabun mandinya masih tersedia banyak, di saat minyak telonnya masih penuh, Tuhan mengambilnya dari pelukan saya. Bagaimana rasanya? Luar biasa sakit, luar biasa sedih.

Satu-satunya tempat yang membuat saya tenang adalah mengadu pada Allah.Saya punya Allah dan berpegang pada tali Allah, namun tetap saja air mata saya tak mampu terbendung, tetap saja ada perasaan tak rela, tetap saja saya seperti menggugat Allah, bagaimana dengan ibu yang sengaja tidak mau berpegang padatali Allah? Tentu perasaannya lebih berat lagi. Dan menjadi gila itu adalah sesuatu yang mungkin.

Mungkin kadar ujian kita memang berbeda-beda, seperti yang saya alami, sepertinyaTuhan memberi saya ujian secara bertahap, mungkinTuhan menganggap saya sudah naik kelas hingga diberi ujian yang lebih beratlagi. Wallahualam.

Jadimaupilihmana? Jadi orang yang beriman dan diuji atau tidak beriman namun tetap diuji?