Oleh: Marina Novianti
Kau berdiri di seberang meja.Tubuhmu kau tegakkan seolah seutas temali dijatuhkan dari langit, menempel di ubun-ubun kepalamu dan menarik kencang hingga tubuhmu meregang ke atas. Kau tampak seperti penari yang sedang berpose di atas panggung, siap memukau penonton yang dengan mulut ternganga menantikan aksi geliat tubuhmu. Kedua sudut bibir basahmu yang merah menyala perlahan saling menjauhi satu sama lain. Lekuk sempurna ujung matamu di dekat hidung terangkat mendekati alis. Ya, aku paham. Kau hendak menyampaikan pembelaan diri.Bukan salahku kalau lelaki ini memilihku…begitu pikirmu sambil menatap adegan penuh air mata di depanmu.
“Duh Gustiiiii….Apa salahku sampai suamiku tega berkhianat dan membohongi selama ini?” jerit tangis perempuan berbaju daster yang menumpahkan dirinya di kursi meja makan.
Kau hanya diam dengan ekspresi tak berubah sama sekali. Megah, dengan bibir basahmu yang menantang .Dan aku memang tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya mencoba memberikan saran, sayang. Pandanglah perempuan itu, istri lelakimu. Perhatikan ia baik-baik. Rekam dan pelajarilah segala yang ia lakukan. Dengarkan dan pahamilah sedu-sedannya. Karena suatu saat, kau pun akan mengalami apa yang sedang terjadi padanya.
Lelaki curianmu ini, sekarang sedangberbangga hati telah beroleh pengalaman meninggalkan seorang perempuan – istrinya- demi yang lain -dirimu. Baginya, ini adalah suatu alasan kuat untuk membusungkan dada; bahwa di antara kaum lelaki, dirinyalah yang layak dipuja dan diperebutkan perempuan.Tentu kau sadar, telah menjadi lebih mudah baginya untuk mengulangi perbuatannya. Hanya di kali nanti, kaulah yang akan ditinggalkannya. Ah, tak perlu berpura-pura naif. Masakan kau percaya dengan usahamu memantrai diri sendiri, bahwa bagi dia, kaulah perempuannya, perempuan yang tepat, yang terindah dalam hidupnya, keputusan terbaik yang pernah dia pilih?
Sebab di benaknya, semua yang sedang terjadi hanyalah seperti bermain seluncuran di taman bermain. Sesaat gamang di puncak keputusan, terombang-ambing saat menjalani proses. Namun begitu sampai di titik rumput, dia kembali berlari-lari menuju anak tangga, tak sabar menapaki langkah demi langkah ke atas. Dirindukannya rasa gamang yang sama saat dia harus memilih perempuan berikut. Sungguh ironis, karena perempuan itupun, sama seperti halnya dirimu sekarang, akan merasa bahwa dialah yang menentukan, dialah pemegang kendali keputusan penting dalam hidup lelaki pujaannya.
Sementara bagi lelaki jantanmu, kanak-kanak sejati itu, kalian semua tak lebih dari mainannya. Semua perkara ini hanya variasi warna dan nada pada taman bermainnya. Itu sebabnya dia selalu tampak begitu indah, tampan menggemaskan, jauh dari kerut gundah. Walau tahun-tahun terus berlalu, keceriaan seorang bocah dan kegagahan pemuda selalu menjadi miliknya. Langkah kakinya tetap lebar dan bergegas, tak sabar ingin merambah ketaman bermain yang lain, di mana terdapat aneka makhluk dahaga pesona ketampanannya. Jari-jari tangannya tetap gelisah menyentuh dan meraup setiap kelembutan belaian, yang berlimpah ditawarkan dunia padanya. Hela napasnya senantiasa terengah dalam menuntut perhatian tiap kerling mata yang rindu melihat keindahan, tiap daun telinga yang teruja mendengar gelak tawa yang ia tengadahkan ke awan-awan.
Dan kau, apa yang akan terjadi padamu, seiring berlalunya waktu? Dirimu, sayang, mulai menjalin keakraban dengan gelambir lengan, lipatan dagu dan keriput wajah. Lekukan bukit dan lembah di tubuhmu memutuskan untuk beralih wujud, menjadi onggokan gumpalan buruk yang bergelantungan secara serampangan. Sementara lelakimu masih tetap akan berdiri tegak menantang dunia dengan bangga, dan dunia membalas tatapannya dengan penuh pujaan. Sementara kau? Kau, sayang, saat itu mereka akan memandangmu penuh iba, seperti perasaanku padamu saat ini. Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil berkata, “Lihat. Menyedihkan sekali penampilan si Maling Kisut.”
Oh. Tahukah kau? Istri lelakimu, yang sekarangsedang tertelungkup sambil tersedu meratapi nasibnya, mengingatkanku pada ibuku. Saat itu, mereka mungkin tak sadar adaseorangbocahkecil di balik meja, yang menyaksikansemuaadegan di ruangmakanitu. Kulihat seorangperempuan sepertimu berdiri tegak di seberang meja, sambil menatap ibuku. Ibu terdudukgontai di kursi dan menumpahkan dirinya berinai tangis di meja makan. Lalu perlahan-lahan kedua sudut bibir basah yang merahmembatamilikperempuan megah itu saling menjauhi satu sama lain, dan lekuk mata dekat hidungnya yang mancung, terangkat mendekati alisp.[]
(Maret 2014)
================================================

Marina NoviantiboruTampubolon, lebih populernya Marina Novianti, putrid ketiga dari Ir. H. Tampubolon dan E boruSiregar, lahir di Medan pada tanggal 21 November 1971. Semasa kecilnya gemar baca novel dan nonton The Sound Of Music. Baginya, novel dan film ia jadikan medium belajar bahasa Inggris secara otodidak. Selain itu, ia dan ketiga saudarinya belajar mengikuti kursus piano.
Tamat SMA di Medan, iakuliah di FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, InstitutPertanian Bogor, JurusanBiologi – Mikrobiologi. Menikah di tahun 1998 dan dikaruniai tiga orang anak.Sebelum menikah Marina berkarir di bank asing, setelah menikah beralih profesi menjadi ibu dan guru. Tahun 2005, mereka sekeluarga pindah ke Kuala Lumpur, mengikuti suami yang ditugaskan bekerja di sana. Di KL, Marina belajar piano klasik dan menjadi pianis di St. Andrew’s Presbyterian Church.Kembalike Indonesia tahun 2007, Marina mengajar di sebuahsekolahsambilmembuka New Tune Learning Center di Bogor.Tahun 2011 Marina menulisbukuRingToneBiologiuntuk SMP/ MTs, sebuah ringkasan teori dan evaluasi soal-soal Biologi untuk Sekolah Menengah Pertama yang diterbitkan Grasindo.TahunberikutnyabukuSelamatPagi Pak Guru, sebuah sharing tentangkehidupankeluarga dan pertumbuhan anak ditulisnya dan diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan.Marina juga menggubah beberapa lagu serta memusikalisasi puisi. Tahun 2013 Marina mendapat kesempatan dari Depdikbud turut serta sebagai penulis naskah Kelas Dua SD Tematik untuk Kurikulum 2013.
Tahun 2012, Marina mulai bertekun di sastra.Tahun 2013, lahirlah antologi puisinya Aku Mati di Pantai terbitan Rayakultura. Bulan Mei 2014 terbit antologi puisi kedua, Pendar Plasma terbitanTeras Budaya Jakarta.Puisi-puisi Marina juga turut mengisi antologi Habituasi WajahSemesta (Rumah Kata Medan, 2013), Dari NegeriPoci 5 (PenerbitKosakatakita, 2014), Metamorfosis (TerasBudaya, 2014)dan 1000 Haiku Indonesia (PenerbitKosakatakita, 2015).Puisidancerpen Marina turut dimuat dalam kumpulan puisi (Puisi Menetas di Kaki Monas) dan cerpen(EmbunPecah di Taman Kota) karya sastrawan Mitra Praja Utama IX tahun 2014 yang diterbitkan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, sebagai delegasi dari Jakarta.Karya Marina juga pernah dimuat di beberapa media cetak nasional dan daerah (Koran Tempo, SuaraKarya, Indopos, SinarHarapan, Media Indonesia, majalah sastra Horison, Nova, Radar Bekasi, Analisa Medan, Medan Bisnis, Haluan Padang, Lampung Post, Serambi Indonesia, Pos Metro Jambi, MimbarUmum, Sumut Pos).