Oleh: Daruz Armedian
Waktu kecil, bapak sering mengajakku pergi ke sebuah jembatan di salah satu desa tempat kami tinggal. Kata bapak, jembatan adalah penghubung jalan. Kalau tidak ada jembatan, kita akan kesulitan jika mau melewati sungai. Di situlah aku selalu diberi cerita macam-macam. Banyak sekali cerita yang diutarakan, sehingga banyak juga yang aku lupakan. Yang selama ini masih kuingat adalah cerita tentang tiga orang gadis cantik-cantik. Namanya Klenting Abang, dan Klenting Ijo. Kedua Klenting itu sifatnya sangat jahat. Hati mereka busuk. Kemudian ada Klenting Kuning yang sering dijadikan musuh bagi mereka meskipun Klenting Kuning tidak memusuhi dan malah selalu berbuat baik kepada mereka. Suatu hari, ada seorang pemuda putra raja bernama Ande-Ande Lumut yang hendak mencari pendamping hidup. Ketiga gadis itu ikut mendaftar menjadi calon pendamping meski jarak rumah mereka jauh sekali dengan kerajaan. Pagi sekali, Klenting Abang dan Klenting Ijo merias tubuhnya agar terlihat elok. Sementara Klenting Kuning disuruh emaknya—yang memang tidak suka pada Klenting Kuning—mencuci piring dan perabotan-perabotan lainnya.
Klenting Abang dan Klenting Ijo berangkat. Tetapi dalam perjalanan, mereka tidak tidak menemukan jembatan di sungai yang biasa ada jembatannya. Di sana hanya ada orang usil bernama Yuyu Kangkang yang sedang naik perahu sampan. Mereka berdua memanggil-manggil Yuyu Kangkang untuk meminta tolong menyeberangkan. Tapi Yuyu Kangkang tidak mau. Meski dengan syarat apa pun termasuk uang. Kecuali mencium pipi kanan dan kiri mereka. Klenting Abang dan Klenting Ijo yang mulanya tidak mau akhirnya terpaksa mau. Sementara Klenting Kuning datang telat dan tidak sempat merias wajahnya. Dengan pakaian yang jelek pula ia berangkat menuju kerajaan. Sampai di sungai, ada orang tua yang sukarela membantu menyeberangkannya sebab Yuyu Kangkang tidak mau.
Di dalam kerajaan, ternyata Ande-Ande Lumut tidak mau memilih Klenting Abang dan Klenting Ijo karena sudah menjadi sisa Yuyu Kangkang. Akhirnya Klenting Kuninglah yang dipilih. Meski datang terlambat, dengan paras muka yang jelek karena belum merias wajahnya dan masih menggunakan pakaian jelek. Tetapi Ande-Ande Lumut tahu kalau seseorang tidak dilihat dari seberapa elok paras tubuh, tetapi elok paras hatinya.
Begitulah, kemudian bapak hanya akan menasihatiku agar menjadi anak yang baik meski sering diejek teman-teman karena menjadi anak orang miskin. Sebab, setiap kebaikan mempunyai balasan sendiri-sendiri. Begitu juga kejelekan.
Setelah itu, biasanya bapak akan pulang. Dalam perjalanan pulang, bapak memboncengkanku di belakang. Kedua kakiku ditali dengan sapu tangan dan diikatkan pada besi di bawah sadel untuk mengantisipasi agar tidak kena jeruji. Pernah aku tidak mau kakiku diikat karena tidak bisa bergerak dengan bebas. Tapi naas, benar kata bapak, aku orangnya teledor. Kakiku masuk dalam ruas-ruas jeruji yang sedang berputar. Sakitnya lebih dari seminggu tidak sembuh-sembuh.
Ketika emak marah-marah padaku karena membuat kesalahan, bapak hanya diam. Ia tidak ikut memarahiku. Meskipun kadang bapak juga kena marah karena tidak memarahi anaknya, ia tetap tidak memarahiku. Dan sekarang aku tahu, kepada anak kecil kemarahan hanya akan membuatnya minder.
Ketika aku ingin sekali punya sepeda, bapak dengan diam-diam menabung hasil kerjanya untuk membeli sepeda. Meski saat itu ia rela tidak merokok dan tidak di warung kopi berhari-hari. Padahal biasanya merokok dalam satu hari habis lebih dari lima batang. Kemudian ia mengajariku naik sepeda. Jika saat aku jatuh, emak lihat dan menyuruhku berhenti saja. Karena jatuh itu sakit. Tapi bapak tidak, ia menyuruhku bangun sendiri dan memberdirikan sepeda sendiri. Kemudian bilang nanti lama-lama juga bisa kok.
Ketika aku kecil dan tak bisa berenang seperti teman-teman, bapak menggendongku, kemudian ia berenang. Seolah-olah aku sedang naik ikan. Aku tertawa bahagia.
Waktu remaja, aku minta dibelikan hape, tapi bapak menolak. Aku marah-marah. Bapak tetap teguh pada pendiriannya, walau aku murung setiap hari. Dan saat ini aku baru mengerti, bahwa bapak tak ingin aku lalai dalam sekolah karena nanti bakalan main hape terus-terusan.
Waktu bapak ingin sekali mengantarkanku sekolah dengan motor bututnya yang dengan susah payah mengumpukan uangnya untuk beli motor itu. Aku tidak mau. Aku malu sama teman-temanku. Dan bapak tidak marah. Ia hanya tersenyum sambil berkata “hati-hati di jalan.” Lalu saat ini aku sadar, bapak saat itu hanya ingin aku bangga anaknya masih punya bapak yang mau mengantarkan sekolah anaknya.
Dan saat di perantauan ini, ketika mendengar kabar bahwa bapak sakit, sedang aku masih menjalani ujian di perkuliahan dan tak bisa pulang, bapak kutelepon, di sana ia berpesan agar aku di sini tetap baik-baik saja. Jangan terlalu gusar. Fokus saja pada ujian.
Mungkin ada saatnya aku akan dikisahkan begini:
Ada seorang bapak, tubuhnya yang renta membawa telepon pemberian anaknya ke sebuah bengkel hape, ia bertanya pada tukang servis “Pak, ini hapenya apanya yang rusak?” dan tukang servis itu menjawab “Tidak ada yang rusak.” Dan seorang bapak itu berkata dengan nada lirih “Kalau tidak rusak, kok tidak ada telepon dari anakku?”
Tidak bapak. Aku tidak ingin seperti itu. Semoga bapak tetap sehat selalu. Maafkan anakmu.**
* Daruz Armedian, mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).
armediandaruz@gmail.com