[Cerpen] Menikahi Matahari

Oleh : Devian Amilla

“Bagaimana mungkin kau hidup dengan seseorang yang tak pernah menganggap kau ada, Mira?” tanyanya padaku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya. Seperti biasa, aku hanya diam lalu berusaha untuk tersenyum di hadapannya.

“Mira, pernikahan itu membawa kebahagiaan bukan kesedihan.” Ucapnya sambil mengelap air mataku yang sejak tadi tak mau berhenti. Aku merasakan kekecewaan yang teramat dalam dari nada bicaranya. Pagi ini setelah pertengkaranku dengan Sultan, aku memutuskan untuk menenangkan hati dan pikiranku di apartement Bita.

“Apakah kau menyesal telah menikah dengannya?”. Sebenernya aku masih malas untuk membuka mulut. Tapi rasa-rasanya Bita telah salah paham atas kehadiranku pagi ini di apartementnya. “Jika kau tanya padaku apakah aku menyesal, jawabannya jelas ‘tidak’, meskipun sekarang aku masih gagal, tapi aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.” Aku mencoba menarik sudut bibirku untuk menciptakan senyuman yang selama ini ia suka. Meskipun aku tau, aku gagal melakukannya kali ini.

“Maksudku, apa kau tidak ingin berhenti saja? Sebelum semuanya semakin menyakitkan, Mir.”

“Ini sudah sangat menyakitkan untukku, Bit. Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya.” Aku mengelap pipiku yang basah.

“Tapi dia tidak mencintaimu!”, ucap Bita ketus.

“Mana mungkin dia menikahiku jika dia tidak mencintaiku, Bita!”, aku menjawab ucapan Bita tidak kalah ketus. Aku rasa percuma berdebat dengan sahabatku yang satu ini. Bita tidak akan sependapat denganku. Ini bukan kunjunganku yang pertama ke apartementnya. Sudah tiga bulan usia pernikahanku, dan hampir tiga bulan juga aku bertandang ke apartementnya dengan keadaan seperti ini. Mata sembab, hati berantakan, pikiran kacau. Sudah entah berapa ribu kali nasihat yang keluar dari bibir mungilnya untukku. Tapi aku tak pernah mengindahkannya. Bita sahabatku sejak kecil, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Sultan tahu pasti hal ini.

“Lepaskan Mataharimu, Mir. Dia terlalu panas untukmu. Lihatlah, tiga bulan pernikahan kalian, tak sekalipun dia mengusap air matamu ketika menangis. Padahal jelas-jelas dialah sebab kau menangis, dialah sebab mata cantikmu sembab seperti sekarang. Lihatlah, matamu sudah seperti pemain tinju yang menerima serangan telak di wajahnya.” Bita terus menggerutu.

“Kalau begitu, biarlah aku yang akan mengatur suhunya agar tak terlalu panas untukku, Bit.” Aku tersenyum tanpa menoleh ke arah Bita. Tuhan, rasanya sakit sekali ketika mengatakan ini. Tapi biarlah, biarlah aku yang merasakan semua ini. Aku mencintai Matahari, itu artinya aku harus tahan seberapa pun panas yang akan ia berikan untukku. Walaupun Bita benar. Selalu benar. Seharusnya aku melepaskan Matahari.

Malam itu aku diantar Bita pulang kerumah. Aku mengira Sultan belum pulang dari kantor. Karena jam masih menunjukkan pukul 20.00. Biasanya Sultan baru tiba dirumah pukul 02.00 pagi.  Tapi dugaanku salah. Sultan sudah pulang dan banyak sekali mobil parkir di halaman rumah kami. Aku panik. Sultan pasti marah sekali ketika tidak mendapatiku di rumah saat dia tiba tadi. Takut-takut aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Bita yang melihat aku begitu takut memutuskan untuk ikut masuk ke dalam mengantarkanku. Aku menolaknya tapi bukan Bita namanya kalau ia mau mendengarkanku. Bita menarik tanganku untuk segera masuk ke rumah karena diluar hujan sedang turun dengan derasnya.

Betapa terkejutnya aku melihat Sultan sedang pesta minuman keras dengan teman-teman wanitanya. Kucari penjelasan dari tatapan matanya. Tapi ia hanya menatapku dengan dingin. Bahkan tatapan dinginnya mengalahkan udara diluar. Bita yang saat itu menyadari aku sudah tak di hargai lagi sebagai seorang istri mulai berang.

“Sultan! Keluarkan teman-temanmu yang tidak tahu sopan santun ini dari rumah kalian!”, Bita kalap, ia melemparkan salah satu gelas yang berada tepat disampingnya ke lantai. Seluruh perhatian teman-temannya pun tertuju pada kami. Sultan menoleh, rahangnya mengeras. Dia berjalan kearahku dan Bita. Dia berbisik di telingaku, “Keluarkan temanmu yang seperti anjing liar ini dari rumah kita!”. Aku terkesiap. Bagaimana mungkin dia menyebut Bita “Anjing Liar”. Bukankah dia tahu Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Demi mendengar dirinya disebut “Anjing Liar” oleh Sultan, Bita refleks melayangkan tamparan telak di wajah tampan Sultan. Sultan mendesis. Menyeret paksa aku yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, meninggalkan Bita yang berteriak memanggil namaku. Sultan menarik paksa rambutku yang seharusnya dibelainya dengan lembut, mencampakkan tubuhku kedalam kamar yang seharusnya dia peluk dengan hangat. Sultan mengunciku dari luar. Kepalaku sakit sekali. Semua terasa berputar. Mataku sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Kurasakan cairan mengalir dari atas kepalaku. Tiba-tiba semua terasa begitu gelap.

Keesokan paginya aku terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit. Aku mencoba mengingat kejadian tadi malam. Oh, Tuhan. Bagaimana dengan Bita? Tidak seharusnya dia ikut mengantarku ke dalam. Kulihat pintu kamarku sudah terbuka. Aku bersyukur Sultan sudah melupakan kejadian tadi malam dan mau memperbaiki semuanya dengan membukakan pintu kamarku.

Kulihat ia sedang membuat roti panggang kesukaanku. Kupeluk Sultan dari belakang, kubisikkan bahwa aku minta maaf atas kejadian tadi malam, bilang kalau tak seharusnya aku membawa Bita kedalam rumah. Tak ada respon. Sultan tak merespon perkataanku. Tapi ia juga tak berusaha melepaskan pelukanku seperti biasanya. Aku tersenyum, ini suatu kemajuan. Mungkin Matahari-ku akan sehangat dulu lagi.

Sultan sarapan tepat di hadapanku. Dia membiarkan aku menikmati caranya makan. Hal yang selalu aku suka dan tak pernah lagi ia lakukan untukku selama tiga bulan pernikahan kami. Biasanya dia akan pergi menghindariku jika aku berada di dekatnya. Mungkin Matahari-ku akan kembali seperti dulu. Senyumku terus mengembang.

Kulihat Sultan sibuk membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor. Kutanyakan apakah aku perlu membuatkan bekal untuknya. Tak ada respon. Kutanyakan lagi apakah malam ini ia akan makan malam dirumah? Ia juga tak merespon. Aku mulai merasa diacuhkan. Tapi tidak apa, setidaknya Sultan tidak menyuruhku pergi seperti biasanya. Rasanya aku lelah sekali. Kutinggalkan Sultan yang sekarang melangkah ke arah kamarku.

Baru beberapa langkah kakiku menjauh darinya, kudengar Sultan berteriak memanggil namaku. Aku pias. Aku segera berbalik ke arahnya. Aku terperanjat melihat tubuhku yang sudah lemah tak berdaya dengan darah yang segar dibagian kepala, sebagian sudah mengering di lantai. Kulihat Sultan menangis, berusaha membangunkanku dengan menggerak-gerakkan tubuhku. Aku bingung. Aku berteriak memanggil Sultan. Sultan tidak mendengarkanku. Oh, Tuhan. Apa-apaan ini? Kenapa Sultan tidak mendengarku? Kenapa ia malah sibuk dengan teleponnya? Bisa-bisanya dia menelepon seseorang dalam keadaan seperti ini?

Belum habis kepanikanku, kulihat dokter dan beberapa perawat masuk ke kamarku dan memindahkan tubuhku yang sudah mulai pucat seperti mayat. Semua belalai-belalai panjang yang dibawa dokter dipasangkan ke tubuhku. Alat kejut jantung juga dikeluarkan. Satu. Dua. Tiga. Tak ada respon dari tubuhku. Ayolah, sekali lagi, batinku. Satu. Dua. Tiga. Hasilnya tetap sama. Tidak ada lagi respon dari tubuhku.

Kulihat Sultan memohon pada dokter untuk mengupayakan segala cara, kudengar ia menyebut-nyebut asetnya. Ia ingin menukar semua asetnya untuk membuat jantungku berdegup kembali. Tapi itu tak mungkin terjadi. Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan segala. Saat itulah aku sadar, duniaku dan dunia Sultan sudah berbeda. Itu mengapa dari pagi tadi ia tak merespon semua pertanyaanku. Kulirik sudut meja kamarku, ada bercak darah disitu. Aku baru ingat, ketika Sultan mencampakkan tubuhku, kepalaku membentur sudut meja tersebut.

Aku pun mulai menyadari sesuatu, Sultan, Matahari-ku yang dulu hangat juga sangat mencintaiku. Sangat takut kehilanganku. Lihatlah, dia tak henti-henti menciumiku, menyuruhku membuka mata, bilang bahwa ia akan menjadi Matahari-ku yang manis, yang selalu hangat. Bita salah. Bita tidak selalu benar. Sultan mencintaiku. Matahari-ku sungguh mencintaiku. Hanya saja ia tak tahu bagaimana cara memperlakukan orang yang ia cintai dengan baik. Mahal sekali yang harus kubayar untuk mengetahui Sultan mencintaiku atau tidak. Aku bahkan menukarnya dengan nyawaku. Tapi tak mengapa. Aku tak pernah menyesalinya sedikit pun. Bagiku, dengan menikahi Matahari, aku menemukan kebahagiaanku sendiri dan aku bangga dengan keputusan untuk menikahi Matahari tiga bulan yang lalu.


 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Tinggalkan komentar