Oleh: Nasrul M. Rizal
Nayla mengembuskan napas panjang sebelum mengetuk pintu rumahnya. Sudah cukup lama dia tidak pulang. Kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir memaksanya memendam rindu. Namun beberapa minggu terakhir orang tua Nayla sering menghubungi,ada hal penting yang ingin dibicarakan secara langsung. Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya terlalu lama, Nayla pun memutuskan untuk pulang.
“Assalamualaikum,” ucapnya Nayla setelah beberapa menit mematung di depan pintu.
“Waalaikum salam,” jawab seorang perempuan dari dalam rumah.Setelah itu pintu pun terbuka. Perempuan setengah baya langsung memeluk Nayla.
Nayla masuk ke rumahnya yang sepi, yang hanya dihuni oleh Ibu dan ayahnya saja. Kedua kakaknya (laki-laki) sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung. Nayla pun terpaksa meninggalkan kedua orang tuanya karena harus kuliah di Ibu Kota. Siang ini Ayah Nayla masih ada di kebun.
Menyadari putrinya kelelahan, Ibu Nayla mempersilakan untuk beristirahat. Ia menahan diri untuk berbicara mengenai hal penting yang memaksa Nayla pulang. Sebetulnya Nayla sudah tahu apa pembicaraan “penting” yang dimaksud orang tuanya. Bukan, bukan tentangrasa sakit yang mereka derita.Apalagi perihal rindu yang menggebu. Tapi “sesuatu”yang membuat Nayla berpikir berkali-kali.
Ruangan berukuran 4 x 3 m2 di lantai dua, menjadi kamar Nayla. Ia beruntung mempunyai kamar sendiri. Tidak seperti kedua kakaknya yang harus berbagi tempat tidur. Nayla merebahkan badannya diatas kasur. Perjalanan lima jam Jakarta-Garut lebih dari cukup membuatnya lelah. Namun lelah yang dirasakan badannya tidak seberapa berat dibandingkan lelah yang menggelayuti hatinya. Nayla harus membujuk hatinya mengikuti kemauan orang tuanya. Ya, pembicaraan penting itu perihal rencanamenjodohkan Nayla dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Lelai yang bahkan tidak dikenalNayla. Perkara satu ini membuatnya dilema.
Nayla tidak pernah meragukan pilihan orangtuanya. Ia sadar betul lelaki yang dipilih tentu saja lelaki baik-baik. Bahkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkannya, berpendidikan tinggi dan berahlak baik. Ya lelaki itululus dariUniversitas Al-Azhar Mesir dengan predikat mumtaz. Dan dia juga hafidz 30 juz. Tidak ada alasan lagi untuk menolak perjodohan ini. Namun hati Nayla justru menolaknya, ia terlanjur memilih seseorang.
***
Sepuluh tahun silam Nayla aktif di Rohis Sekolah. Nayla suka membaca.Tak ayal perpustakaan di Sekre Rohis menjadi tempat favorite mengisi waktu luang. Baginya membaca merupakan kewajiban. Dia ingat ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Iqra (bacalah!). Dengan membaca dia mengenal dunia, mendapat pelajaran terhebat dari kisah orang-orang hebat, serta mempunyai pegangan untukmenjalani hidupnya. Tidak jauh berbeda dengan Nayla, ada seorang lelakiyang suka sekali membaca buku. Baginya buku adalah teman terbaik. Menghibur di saat duka dan pengingat kala bahagia. Dia kakak kelas Nayla.
Beberapa kali Nayla bertemu dengan lelaki itu. Hanya senyuman saja yang mewarnai pertemuan mereka. Tidak lebih. Perlahan tapi pasti sesuatu tumbuh di hati Nayla. Dia mengagumilelaki berkaca mata itu. Pintar, ramah, sopan dan baik, membuat lelaki itu menjadi idaman siswa perempuan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggoyahkan prinsipnya. Ia tidak mau pacaran. Sungguh langka ada seoranglelakiseperti itu hidup di jaman sekarang.
Minggu depan lelaki itu lulus sekolah. Artinya dia akan meninggalkan Nayla. Dalam helaan napas yang sama, Nayla merasa bahagia dan juga sedih. Bahagia karena lelaki itu mendapat nilai tertinggi, sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Dan sedih karena dia tidak bisa lagi bertemu dengan lelaki berkaca mata itu, yang selalu tersenyum manis ketika berpapasan dengannya.
Hari kelulusan pun tiba. Lelaki itu berbicara di depan ratusan siswa dan puluhan guru. Mewakili siswa-siwi kelas XII dia berterimakasih dan juga meminta maaf. Dia juga menitip pesan untuk menjaga silaturahim, terutama untuk anak-anak rohis. Air mata membanjiri sekolah. Perpisahan ialah hal yang amat dibenci. Sungguh kejam seseorang yang membuat mantra, “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan”.
Mata Nayla menyapu seluruh bagian Sekre Rohis. Dia mencari seseorang, bermaksud memberi kenang-kenangan. Sayang orang tersebut tidak terlihat walau batang hidungnya. Air mata mentes dari mata Nayla. Dia tidak tahu betul alasan di balik air matanya. Susah payah Nayla membendung air mata tersebut.
Tiba-tiba seseorang menghampirinya, lalu bertanya, “Kamu kenapa Nay?”
“Tidak apa-apa Kak.” secepat mungkin Nayla mengusap air matanya.
“Beneran gapapa?”
Nayla mengangguk pelan.
“Oh iya, kakak ingat sesuatu Nay.”
Nayla menatap heran.
Perempuan berlesung pipit yang dipanggil kakak mengambil sesuatu dari dalam tas. “Nay, kemarin dia nitip ini ke aku. Katanya maaf tidak bisa memberikannya secara langsung.”
Tiba-tiba air mata mengucur deras dari mata Nayla. Entah apa maknanya. Mungkinkah Nayla bahagia karena diberi kenang-kenangan? Atau justru sebaliknya? Tidak ada yang tahu persis makna air matanya.
“Terima kasih Kak Qiya.” Nayla berusaha tersenyum meski pipinya terlanjur basah.
“Iya sama-sama, jangan sedih gitu Nay. Ingat! Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu,” ucap Qiya menghibur Nayla. “Sudah dulu ya Nay, sampai jumpa lagi.”
***
Waktu berlalu sangat cepat, sepuluh tahun sudah Nayla tidak bertemu dengan lelaki itu. Selama sepuluh tahun pula dia menyimpan buku pemberian darinya. Tidak terhitung sudah berapa kali dia membacanya. Tidak terhitung pula berapa kali ia membuangnya. Meski beberapa saat kemudian ia pungut kembali. Ia selalu gagalmembuang barang yang membuat bibirnya tersenyum tapi matanya menangis.
Ketahuilah di dalam buku tersebut tersimpan secarik kertas, pesan dari si pemberi buku.
Air mata kembali mentes dari kelopak mata Nayla. Air mata sepuluh tahun silam yang sampai detik ini belum juga kering. Nayla lamat-lamat membaca buku lusuh itu. Bukan bukunya yang membuat dia menangis, tapi kenangan yang menyertainya. Kenangan dengan seseorang yang selalu tersenyum saat berpapasan dengannya. Seseorang yang ia jadikan sebagai motivator. Yang membuatnya bisa melangkah sejauh ini. Yang membuat namanya tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu Universitas ternama di Indonesia.Yang membuat ia menyibukan diri. Ya, baginya kesibukan adalah senjata paling ampuh untuk mengusir kesedihan. Sibuk memperbaiki diri, memantaskan diri dan juga berprestasi. Nayla berusaha keras untukberdamai dengan hatinya. Berhenti menanti lelaki tersebut untuk datang ke rumahnya.
Pilihan berat dihadapi Nayla. Ia tidak bisa lari dari pilihan tersebut. Jika ia menolak untuk dijodohkan, tentu saja orang tuanya akan kecewa. Menyakiti perasaan orang tua merupakan pantangan bagi Nayla. Namun, jika dia menerima,itu sama saja dengan menyakiti hatinya sendiri. Membunuh perasaan itu. Mengalah pada takdir. Dia harus berusaha keras membujuk hatinya merelakan seseorang yang bertahun-tahun ada disana untuk pergi.
“Bismillah, ya Allah apapun yang terjadi, aku yakin itu yang terbaik untukku.” Nayla mengambil keputusan.
***
Ibu Nayla menyuruh anaknya untuk bersiap-siap, memakai baju yang bagus dan make up. Tanpa make up saja Nayla sudah cantik, apalagi memakai make up?bisa-bisa bidadari pun iri padanya. Tidak banyak orang yang diundang dalam acara penting ini, hanya beberapa keluarga Nayla saja.
Belasan pasang mata menatap Nayla, kecantikannya berhasil menghipnotis mereka. Ruangan hening seketika. Nayla malu-malu mencuri pandang pada lelaki yang akan melamarnya. Hatinya berbisik “sepertinya aku pernah melihat lelaki itu. Hmm… jangan-jangan dia ..” logikanya melarang dia berpikir aneh-aneh, “Bukan. Bukan dia!”
“Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas jamuannya. Langsung saja pada inti dari kedatangan kami kesini. Adapun maksud dari kedatangan kami yang pertama untuk menyambung tali silaturahim diantara keluarga bapak dan kami. Selain itu, kami juga mau membahas perihal anak kami yang beberapa minggu kemarin sudah menghubungi bapak. Sebelumnya mohon maaf. Saya atas nama anak saya, Fatih, bermaksud untuk meminang putri bapak,” ucap Ayah lelaki tersebut.
Jantung Nayla berdetak sangat kencang. Rupanya lelaki yang ingin melamarnya bernama Fatih. Hah Fatih? Sepertinya nama itu tidak asing untuknya.
“Kami juga ucapkan terimakasih karena bapak dan keluarga bersedia datang ke rumah sederhana ini. Mohon maaf bila jamuan kami tidak seperti hotel bintang lima,” ayah Nayla sedikit bergurau yang disambut tawa semua orang, “Megenai lamaran dari putra bapak, sepenuhnya kami serahkan kepada putri kami,” lanjutnya.
Belasan pasang mata kini tertuju pada Nayla. Menunggu jawaban darinya. Tatapan mereka membuat jantung Nayla berdetak sangat kencang. Tiba-tiba kenangan sepuluh tahun silam berkelebat di pikirannya. Seperti kaset yang berkali-kali diputar.Satu menit. Dua menit Nayla belum merespon. Ia masih membujuk hatinya. Belasan pasang mata tajam menatap Nayla. Dari belasan orang yang ada di sana, sudah dipastikan Fatihlah yang harap-harap cemas menanti jawaban dari lamarannya. Satu tarikan napas panjang, Nayla mengambil keputusan.
***
Satu bulan setelah lamaran, Nayla menikah dengan Fatih. Lulus dengan predikat cum laudge menjadi kado pernikahannya. Kini Nayla resmi menjadi istri Fatih. Dia harus berbagi tempat tidur dengannya. Mewarnai waktu yang ditawarkan siang dan menikmati secuil waktu yang disediakan malam.
Malam hari, rahasia besar pun terungkap. Fatih menemukan buku lusuh di almari Nayla. Menyadari hal tersebut, Nayla meminta maaf pada Fatih. Dia mengakui kalau sebelumnya menaruh hati pada seorang lelaki. Buku itu kenang-kenangan dari lelaki tersebut. Fatih menatap lamat-lamat Nayla. Tersenyum. Lalu berkata “Tidak apa-apa, karena lelaki yang memberi buku ini untukmu adalah aku. Maaf dulu aku tidak sempat memberikannya langsung.Soalnya harus pulang, malam itu juga harus terbang ke Mesir.”
Nayla langsung memeluk Fatih. Menangis bahagia.
Fatih berbisik membaca kata-kata yang ia selipkan di buku tersebut. “Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu.”
Sempurna sudah penantian Nayla.Hati Nayla berbisik “Ya Allah terimakasih, aku tahu tidak ada yang sia-sia dalam penantian ini. Terimakasih Kau telah anugerahkan dia untukku. Rahmatillah pernikahan kami.”

Biodata Penulis
Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com