[Cerpen] Pria Pondok

Cerpen : Devian Amilla

Aku mengetuk-ngetukan pena di atas kertas yang sudah penuh dengan coretan-coretan tidak jelas. Aku mendengus beberapa kali tanda kesal karena pilhan yang diberikan Bunda. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang hampir membuatku frustasi.

“Masuk pondok atau tidak usah sekolah.” ucap Bunda.

Aku yang saat itu sedang asyik mengotak-atik gitar kesayanganku langsung menoleh ke arah Bunda. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bunda menyerangku dengan pernyataan yang membuatku menolaknya mentah-mentah.

“Arkan nggak mau masuk pondok. Arkan mau sekolah di sekolah negeri seperti teman-teman yang lain.” bantahku.

“Kalau Arkan nggak mau masuk pondok, lebih baik Arkan bantu-bantu Bunda dirumah saja.”

“Arkan nggak mau, Bunda! Kalau masuk pondok, Arkan nggak bisa main sama teman-teman Arkan lagi.”

Bunda menatapku dan membelai kepalaku dengan lembut, “Kalau Arkan masuk pondok, nanti Bunda belikan sepeda baru.” Bunda terus merayuku agar menuruti keinginannya.

Selama ini aku adalah anak laki-laki Bunda yang penurut. Selalu mengiyakan apapun permintaan Bunda. Mulai dari mengikuti pengajian setiap malam, les Bahasa Arab setiap pulang sekolah dan pulang kerumah lima belas menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Aku dan Bunda hanya tinggal berdua. Ayahku sudah pulang kepangkuan Allah saat aku berusia satu tahun. Ayah mengalami kecelakaan saat berangkat mencari nafkah untuk kami. Kecelakaan hebat yang membuatku kehilangan sosok ayah sejak kecil.

Sejak ayah pergi, Bundalah yang membesarkanku dan merawatku seorang diri. Pontang-panting memenuhi kebutuhanku. Tanpa pernah sedikit pun mengeluh. Aku sangat mencintai Bunda. Hanya dengan menuruti semua keinginannyalah aku merasa menjadi anak yang berguna. Tapi tidak dengan yang satu ini. Masuk pondok? Ah, tak pernah terlintas sedikit pun dipikiranku. Aku memimpikan diterima di sekolah yang bonafit, di sekolah yang keren dengan seabreg kegiatan ekstrakurikulernya. Bukan malah masuk pondok yang dipenuhi dengan orang-orang yang memakai sarung dan peci. Aku sungguh tidak mau, Bun.

Kudengar ketukan pintu dari luar kamarku. Itu pasti Bunda. Aku sengaja mogok makan dan tidak mau keluar kamar sebagai wujud penolakan pada Bunda bahwa aku benar-benar tidak ingin masuk pondok. Tapi, bukan Bunda namanya jika menyerah. Bunda terus mengetuk pintu kamarku, bilang bahwa semua yang Bunda lakukan itu demi kebaikanku. Aku tak percaya pada Bunda. Bunda jahat. Bunda tega mengirimku ke pondok yang jauh dari rumah dan jauh dari teman-temanku.

Hari mulai gelap, perutku mulai tidak bisa diajak berdamai. Sejak pagi tadi aku menolak untuk makan, sampai sekarang belum ada sebutir nasi masuk ke lambungku. Kuringankan langkahku menuju dapur. Betapa terkejutnya aku ketika keluar dari kamar. Kudapati Bunda sedang tertidur di depan pintu kamarku sambil memegang nampan berisi makanan untukku. Tak bisa kutahan air mataku. Sebegitu besarkah keinginanmu untuk menyuruhku masuk pondok, Bun? Saat itu juga kupeluk Bunda dan kukatakan dengan lembut di telinganya bahwa aku bersedia menuntut ilmu di pondok. Bunda terjaga dari tidurnya dan tersenyum melihatku yang sedang memeluknya.

“Arkan makanlah dulu, Nak.” ucap Bunda dengan lembut.

“Arkan mau masuk pondok, Bunda.”

Mendengar pernyataanku, Bunda tersenyum. Sembari memeluk dan memangkuku, Bunda menjawab, “Percayalah sayang, sudah saatnya kau belajar ilmu agama untuk bekalmu di kemudian hari, tidak bisa selamanya kau ada disini, suatu saat Bunda ingin kita berkumpul lagi bersama ayah. Ayahmu yang bercita-cita ingin melihatmu menjadi laki-laki shaleh yang taat pada agama, Nak.”

“Kalau Arkan masuk pondok, Bunda bagaimana?” tanyaku.

“Bunda tetap disini, sayang. Arkan bisa mengunjungi Bunda beberapa bulan sekali.” ucap Bunda.

Kuseka air hangat yang tersisa disudut mataku. Kuajak Bunda untuk menemaniku makan malam. Malam ini Bunda begitu sumringah. Bisa kurasakan aura kebahagiaan dari matanya. Ah, Bunda.. Aku sungguh minta maaf atas kelakuanku tadi pagi.

Keesokan harinya kami berangkat ke Pondok Pesantren Baitussalam. Letaknya sangat jauh dari rumah, memakan waktu hingga empat jam perjalanan. Tapi tak kulihat sedikit pun rasa lelah di wajah Bunda. Bunda begitu bersemangat mengantarkanku kesana. Senyumnya terus mengembang. Terlebih lagi ketika kami sudah tiba di pintu gerbang PonPes Baitussalam. Bunda langsung meminta izin pada satpam untuk masuk ke dalam pondok. Pak satpam berkumis tebal itu langsung mengantarkan kami ke ruang pendaftaran menemui Kyai Majid.

“Pak Kyai, saya minta izin untuk menitipkan anak saya, Arkan Irhamsyah untuk belajar di pondok pesantren ini.” ucap Bunda pada Kyai Majid.

Kami duduk dalam ruangan yang begitu tenang dan rapi. Bunda menguraikan maksud kedatangan kami. Aku diapit oleh mereka berdua. Aku pasrah saja dengan apa yang mereka katakan. Bunda menginginkan aku belajar agama di pondok pesantren. Walaupun sebenarnya hati kecilku berontak disuruh mondok di pesantren. Bukan aku tak suka belajar agama. Tapi aku tak suka dengan dunia kesantrian yang terbilang, ah, pokoknya aku tidak menyukainya.

Akhirnya setelah panjang lebar Bunda menceritakan maksud dan tujuan kami, Kyai Majid menerimaku menjadi salah satu santri di PonPes Baitussalam. Dan saat itu juga aku resmi tidak pulang kerumah untuk beberapa bulan ke depan. Aku menangis saat melepas kepulangan Bunda. Belum pernah aku berpisah sejauh ini dengan Bunda. Dengan lembut Bunda mengusap air mataku, “Anak Bunda nggak boleh cengeng, belajar yang bagus ya, Nak.” Kupeluk Bunda erat sekali. Ingin rasanya aku berada di pelukanmu saja, Bun.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku di pondok sudah berjalan enam bulan. Dan sudah enam bulan lamanya aku tidak bertemu dengan Bunda. Ketua asrama tidak mengizinkan kami keluar sembarangan. Kami juga tidak dibolehkan membawa alat komunikasi. Jadilah aku dan Bunda hanya bertukar kabar melalui surat. Hari-hariku di pondok disibukkan dengan menghapal kosakata arab yang menurutku cukup sulit. Ditambah dengan hapalan-hapalan yang lain. Apalagi memahami kalimat arab yang ada di kitab. Aduh Gusti, aku mati kutu. Omelan pak Kyai, hukuman dari ketua asrama dan hukuman-hukuman lain dari ustad sering aku alami. Kalau saja aku tidak ingat bagaimana senyum bahagia Bunda, mungkin aku sudah kabur di hari pertama menjadi santri.

Satu hari sebelum ujian semesterku selesai. Aku mendapat surat dari Bunda. Tapi kali ini berbeda, Kyai Majid yang langsung menemuiku untuk memberikan surat ini. Kyai mengajakku untuk masuk ke dalam ruangannya. Sambil menyerahkan surat tersebut. Kyai berpesan bahwa apapun isi dalam surat itu, aku harus ikhlas dan sabar. Aku semakin penasaran dengan isi surat Bunda kali ini. Aku minta izin pada Kyai untuk membaca surat itu. Betapa sakitnya perasaanku ketika mengetahui isi surat itu. Mataku panas. Kakiku gemetar. Seluruh isi ruangan ini terasa seperti berputar. Kukuatkan hati dan pikiranku agar tetap bisa berpikir jernih. Kulihat Kyai di depanku hanya bisa memandangku dengan tatapan iba. Hanya Kyai yang tahu alasanku masuk pondok hanya untuk membuat Bunda bahagia.

Aku keluar dari ruangan Kyai tanpa pamit. Aku berlari ke kamar dan memasukkan seluruh pakaianku ke dalam tas. Teman-teman sekamarku tak sempat bertanya. Aku bergegas lari keluar pondok. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Aku sempat tidak mendapatkan izin keluar dari ketua asrama, tapi Kyai Majid mengizinkanku. Siapa yang berani membantah Kyai?  Tidak ada.

Selama dalam perjalanan aku hanya bisa menangis. Memohon pada Allah agar aku diberi kesempatan untuk melihat wajah Bunda terakhir kali. Setelah empat jam perjalanan yang penuh air mata, akhirnya aku sampai di rumah. Kulihat bendera merah sudah terpasang di depan halaman rumahku. Aku berlari secepat mungkin, kulihat Bunda sudah cantik dalam balutan kain putih itu. Kupeluk dan kucium Bunda untuk terakhir kalinya. Aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Bunda, maafkan aku jika terlihat cengeng di hadapanmu. Aku sudah tak peduli lagi dengan orang-orang yang menatap iba ke arahku. Jadilah aku sekarang yatim-piatu di usiaku yang masih sangat belia. Ah, sungguh aku tidak peduli. Aku hanya ingin memelukmu lebih lama.

Bangunlah, Bun. Aku ingin bercerita tentang kegiatanku di pondok. Aku ingin menunjukkan hapalan bahasa Arabku padamu. Aku janji, aku tidak akan menjadi santri yang sering di hukum lagi. Aku janji akan jadi santri yang baik seperti yang sering Bunda utarakan dalam surat Bunda. Kumohon, bangunlah Bunda.

Usahaku sia-sia. Bunda tidak akan pernah bisa membuka matanya kembali. Bunda sudah kembali kepangkuan Allah. Mungkin sekarang Bunda dan Ayah sedang melihatku dari surga. Kuhapus air mataku. Aku tidak mau terlihat jelek di hadapan Ayah dan Bunda. Kurapikan peci yang ada di kepalaku. Kuambil Al-Qur’an di dalam tas. Kubacakan ayat-ayat Allah disamping jenazah Bunda. Bunda, sampaikan salamku pada ayah. Katakan padanya aku akan menjadi anak laki-laki shaleh yang selalu ia impikan.


 

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Tinggalkan komentar