Cinta Dalam Diam

Cerpen: Redovan Jamil

Akhirnya Egy lulus dengan nilai memuaskan serta dapat masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Setelah ia berusaha sebisa mungkin untuk mencapai impiannya. Dulu Egy belajar giat agar dapat dilirik oleh lelaki yang dikagumi. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah ditorehkannya. Anak yang berkulit sawo matang dengan tinggi lebih kurang 160. Tubuhnya termasuk kategori ideal seumurannya. Perempuan yang suka memakai jilbab di kesehariannya.
Wanita yang memiliki nama lengkap Peggy Anggraini itu telah mengenang masa selama di pesantren. Duduk manis di bawah pohon depan kelas 7.2. Mengamati lapangan tempat melaksanakan upacara bendera. Berlari dan bermain dengan teman sebaya. Sesuatu yang tidak bisa ia lupakan adalah saat pertama kali menatap mata sipit santri pujaan hatinya. Mereka bertabrakan karena terburu-buru ingin masuk kelas masing-masing.
Santri laki-laki itu adalah kakak kelasnya Egy di kala itu. Kelas lelaki misterius itu bersebelahan dengan kelasnya Egy. Egy duduk di kelas 7.2 dan lelaki itu duduk di kelas 8.1. Semenjak pertemuan tanpa sengaja pagi itu, Egy selalu terpikirkan pandangan tajamnya lelaki yang menusuk jauh ke dalam relung hatinya. Sepanjang pelajaran pagi itu ia tidak bisa fokus. Pikirannya melayang-layang dan penuh tanya. Siapakah lelaki yang menabraknya? Kenapa lelaki tersebut yang minta maaf terlebih dulu, padahal Egy tahu ia yang sebenarnya salah.
“Egy, mengapa kamu bermenung?” ucap, Bu guru.
“Iya..iya buk.” Egy menjawab penuh cemas.
“Apa yang iya, Gy?” Bu guru sedikit melotot.
Egy hanya menundukkan kepalanya. Ia tahu telah melakukan kesalahan; tidak bisa menyimak dan memperhatikan apa yang diterangkan oleh gurunya. Egy memaksakan otaknya membuang beribu tanda tanya tentang lelaki itu. Mencoba untuk hanyut ke dalam pelajaran pagi ini. Jadwal pagi itu adalah pelajaran Fiqih dengan guru yang bernama Bu Yetti. Ibu yang bertubuh bongsor dan berperawakan jawa. Banyak senior Egy mengatakan Ibu Yetti termasuk kepada guru yang pemarah. Maka pada saat Egy ditegur, ia hanya diam dan tidak ingin berdebat.
***
“Bangun…semua bangun lagi! Sekarang sudah pukul 04.00 WIB.”
Ibu asrama yang biasa dipanggil Umi Rosi mengetuk pintu kamar para santri. Mencoba membangunkan semua anak santrinya. Terdengar beberapa santri menyahut dari dalam kamar dengan suara sedikit parau. Setelah ibu asrama yakin semua santri telah bangun baru ia pergi menuju mushalla untuk menunaikan shalat subuh berjemaah. Egy pun sudah bangun. Segera ia mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang layak digunakan untuk shalat. Mengambil serta memakai mukenah yang biasa terlipat rapi di atas meja. Mukenah putih dengan bordiran bunga berwarna merah saga di ujung tepinya. Egy terlihat anggun oleh mukenah yang membaluti tubuhnya.
Terdengar suara adzan berkumandang. Egy dengan sahabat karibnya yang bernama Sinta buru-buru untuk menuju Mushalla. Setelah semua santri memenuhi ruangan Mushalla, baik itu laki-laki maupun perempuan, shalat pun dimulai. Diimami oleh Ustad Jefri Al- Qhadri. Syahdu suara imam merindingkan bulu roma para santri. Seakan-akan diimami oleh imam besar di Mekah. Shalat subuh itu berjalan dengan khitmad. Setelah shalat subuh selesai, semua santri dianjurkan melakukan tadarus sampai pukul 05.45 WIB.
Sesampai di asrama Egy pun segera mengambil handuk. Menuju ke kamar mandi. Egy pun mandi lebih kurang sepuluh menit. Disaat mandi para santri berbicara tidak karuan. Karena di asrama memiliki bak mandi besar yang muat oleh sepuluh santri. Bak mandi itu dipakai oleh santri secara bersama.
Pada saat mandi, banyak santri yang suka bercanda. Seperti lempar-lemparan air. Sebagian juga ada yang membicarakan tentang keluh kesah selama belajar di pesantren. Tapi, saat mandi Egy menceritakan kejadian pagi kemarin kepada Sinta. Menjelaskan secara terperinci hingga Sinta merasa ada yang menakjubkan atas kejadian itu.
“Siapa nama lelaki itu, Gy?”
“Tidak tahu. Aku belum sempat kenalan.”
“Kenapa kamu tidak mengajaknya kenalan?
“Aku malu. Tidak sewajarnya aku begitu.”
Beberapa menit mereka saling bertatapan. Tergambar tanda tanya di wajahnya. Sinta ingin tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut. Sinta mencoba menerka-nerka lelaki yang ciri-cirinya sesuai yang dibicarakan Egy. Tapi ia belum juga bisa menemukan siapa lelaki misterius itu.
***
Pada hari sabtu siang adalah waktunya Ekstrakulikuler. Ada yang masuk ke bidang tataboga, seni rupa, dan olahraga. Egy dan Sinta memilih bidang tataboga. Biasanya mereka selalu rajin untuk mengikuti Ekstrakulikuler. Bersemangat menyambut hari sabtu karena mereka memang hobi persoalan masak-memasak. Untuk sabtu kali ini Egy dan Sinta sudah berencana tidak mengikuti proses belajar memasak. Mereka sudah sepakat untuk mencari tahu lelaki yang mampu membuat tidur Egy tidak nyaman. Dihantui tatapan tajam lelaki itu yang penuh rasa saat pertemuan yang tidak disengaja. Seolah-olah wajah lelaki itu selalu mengikuti Egy ke manapun ia pergi. Tidak ingin beranjak dalam pikirannya.
“Kemana kita harus mencarinya, Gy?”
“Tidak tahu.”
“Bagaimana kita ke lapangan basket saja!”
Mereka kini berjalan menuju lapangan basket. Mencoba melirik ke kanan dan ke kiri. Mengamati semua santri laki-laki yang sedang bermain basket. Mendatangi kantin yang biasanya tempat makan para santri laki-laki. Mereka pura-pura membeli sesuatu di sana. Padahal hanya bermaksud mencari seorang laki-laki yang membuat mereka penasaran. Mereka tidak menemukan orang yang dicari. Mereka menyempatkan mencari ke tempat duduk di bawah pohon kelas 8.2. Di mana tempat itu pertama kali Egy dan lelaki itu tidak sengaja bertabrakan. Usaha mereka sia-sia. Wajah putus asa Egy tergambar jelas. Egy merasa tidak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Angan-angannya untuk berkenalan secara dekat dengan lelaki itu telah sirna. Kini tidak ada lagi kesempatan Egy. Mereka memutuskan untuk segera kembali ke kelas tataboga.
Wajah kecewa mereka tergambar jelas. Tidak ada lagi semangat Egy untuk mencari siapa lelaki itu. Egy berjalan dengan gontai. Hanya memandang ke depan, seolah-olah sepi di antara keramaian aktifitas Ekstrakulikuler. Sesekali ia memandang ke arah lapangan takraw. Kemudian Egy memandang ke depan lagi. Di hatinya timbul penasaran akan siapa saja yang sedang bermain takraw. Dialihkan lagi pandangan ke arah lapangan takraw. Mengamati santri yang sedang bersorak-sorak memainkan bola takraw. Tanpa disengaja Egy mengenali wajah salah satu santri yang sedang bermain takraw itu. Sejenak ia berhenti mengayunkan kakinya. Lalu, Egy memastikan orang yang ia rasa kenal tersebut. Tiba-tiba Egy berteriak kencang.
“Sinta…itu lelaki yang menabrakku kemarin.”
“Yang Mana?”
“Itu santri lelaki yang berbaju putih dan bercelana merah.”
“Gantengnya…”
Kegembiraan Egy tidak bisa diungkapkan lagi. Egy melompat-lompat kegirangan. Jantungnya berdetak kencang. Tiba-tiba wajahnya memerah seperti udang kepanasan. Sinta jadi bingung melihat tingkah sahabatnya tersebut. Sungguh Sinta tidak menyangka betapa bahagianya sahabatnya tersebut. Mereka berdua sepakat untuk melihat santri laki-laki itu secara dekat. Mencoba sedikit berjalan mendekati lapangan takraw. Mengamati lelaki itu dari kejauhan.
***
Pada akhirnya Egy mengetahui nama santri laki-laki itu dari teman sekelasnya yang bernama Ainun. Suatu hari Egy melihat Ainun sedang bercakap-cakap dengan lelaki itu. Egy tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya Egy ingin langsung menemui lelaki itu untuk minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu. Tapi ia enggan untuk langsung bergabung dengan mereka. Egy mencoba menahan hasratnya untuk bertindak gegabah. Egy sabar menunggu mereka selesai bicara. Tidak lama kemudian lelaki itu pergi masuk kelas 8.1. Tinggalah Ainun berdiri terpaku. Dengan perasaan penuh tanya Egy memberanikan diri untuk menghampiri Ainun dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ternyata santri laki-laki yang ia cari selama ini bernama Fauzan Mubaroh. Biasa dipanggil Fauzan. Ainun menjawab semua pertanyaan yang diajukan Egy. Ainun menjelaskan bahwasannya Fauzan adalah anak dari pamannya yang bernama Firdaus. Rumah Ainun di kampung tidak begitu jauh dari rumah Fauzan. Apabila Ainun perlu bantuan, ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kepada Fauzan. Karena Fauzan sudah menganggap Ainun adik kandungnya sendiri di tanah rantau ini. Sudah kewajiban Fauzan membantu dan melindungi adiknya dari bahaya apapun.
Semenjak Egy tahu nama lelaki yang dikaguminya tersebut. Egy selalu membuat puisi cinta setiap malam ia berangan-angan bisa lebih mengenal lelaki itu. Buku diary Egy kini telah penuh dengan puisi cinta. Apabila ia merindukan tatapan pesona Fauzan, maka ia akan mengungkapkan rasanya melalui sebuah puisi. Lebih kurang sudah ada tiga puluh puisi ditulis Egy. Kala siang hari Egy melihat Fauzan bercanda tawa dengan temannya, malamnya akan dituangkannya ke dalam sebuah puisi.
“Apa yang sedang kamu tulis, Gy?”
“Tidak ada. Cuma coretan saja.”
“Coba sini aku baca!”
Sinta membaca lembar demi lembar puisi ungkapan perasaan cinta Egy terhadap Fauzan. Sungguh menakjubkan kata-kata perumpamaan yang dipakai oleh Egy. Sinta saja terkesima oleh makna yang disampaikan puisi sahabatnya tersebut. Sinta telah mengetahui betapa Egy mengagumi dan menyukai Fauzan. Lelaki yang berkulit putih dengan tinggi lebih kurang 170 itu. Berhidung mancung dan berwajah sedikit opal. Fauzan memiliki bola mata yang indah. Bola matanya hitam dan sekelilingnya putih jernih. Seakan-akan Egy bisa berkaca-kaca di sana.
Setiap hari sabtu, pada jam ekstrakulikuler Egy selalu menyempatkan diri pergi melihat Fauzan yang sedang bermain takraw. Fauzan adalah salah satu santri yang sangat pandai bermain takraw. Hampir setiap pertandingan yang dihadapinya, ia selalu menang. Egy mendapat kabar bahwa Fauzan juga sudah pernah mewakili pesantren untuk lomba takraw tingkat kabupaten. Egy semakin mengagumi lelaki yang bertemu tidak sengaja itu. Egy berpikir bahwasannya pertemuanya dengan Fauzan adalah kehendak Tuhan. Egy selalu berdoa setiap shalat agar bisa berkenalan dengan Fauzan lebih dekat.
Tanpa disadari Egy berdiri terlalu dekat dengan lapangan takraw. Fauzan dan kawan-kawannya keasikan memainkan bola takraw. Tidak tahu kenapa, salah satu pemain tersebut salah mengatasi pukulan dari Fauzan. Sehingga bolanya memutar arah menuju Egy. Karena tanpa persiapan Egy tidak sanggup menghindari bola takraw tersebut. Bola takraw tepat mengenai kepalanya. Egy berteriak kesakitan. Bola takraw tersebut sangat keras mengenai kepalanya sehingga membuat ia pingsan di tepi lapangan tersebut. Segera Fauzan berlari menghampiri Egy yang telah roboh ke tanah. Langsung Fauzan serta kawan-kawannya memapah Egy ke UKS. Fauzan panik. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sesampai di UKS Egy diperiksa oleh Ibu yang bertugas di sana.
Ibu UKS memberikan keterangan bahwa Egy tidak apa-apa. Memang benar benturan bola terhadap kepalanya keras. Tapi Insa Allah Egy akan segera siuman. Ia hanya butuh istirahat beberapa jam saja. Ibu UKS tersebut mencoba meyakinkan Fauzan. Fauzan memutuskan untuk menjaga dan menunggu Egy hingga tersadar dari pingsannya. Dipandanginya wajah santri perempuan itu penuh rasa prihatin. Fauzan mengingat-ingat atas kejadian beberapa waktu lalu. Timbullah rasa bersalahnya. Sudah dua kali ia mencelakakan Egy. Fauzan ingin meminta maaf mewakili kawan-kawan atas kejadian tersebut.
Lebih kurang sudah satu jam Egy pingsan. Tiba-tiba Egy terbangun. Terlihat jelas wajah lelahnya. Fauzan menawarkan air putih kepada Egy. Egy tidak menolak karena ia memang terasa haus. Dituntunnya gelas oleh Fauzan ke mulut Egy. Tanpa disengaja mereka bertatapan. Bagi Egy itu adalah tatapan penuh cinta. Ia merasa beruntung sekali bisa sedekat ini dengan lelaki yang mengisi lembaran demi lembaran dalam bait puisinya. Dipandanginya laki-laki yang membuatnya terkagum dengan kebaikan serta kelihaiannya bermain takraw.
“Besok kamu jangan terlalu dekat ke lapangan takraw. Berbahaya.”
“Istirahat yang cukup. Semoga cepat sembuh.”
“Maafkan aku yang sudah mencelakakan kamu.”
Egy hanya memandang dan mengamati bibir Fauzan komat-kamit memberikan perhatian dan ucapan maaf. Tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut Egy. Di dalam hatinya mengiyakan apa yang disampaikan oleh Fauzan. Tapi mulutnya kali ini tidak bisa bekerjasama dengan hatinya. Hatinya ingin berkata panjang lebar. Tapi mulutnya memilih untuk diam. Kemudian Fauzan mohon pamit untuk melanjutkan kelas berikutnya. Egy hanya menjawab dengan bahasa isyarat.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tahun pun telah beranjak pergi. Egy dan Fauzan semakin dekat. Fauzan selalu memberikan perhatian terhadap Egy agar terus giat belajar. Baik belajar menghafal hadist atau pun pelajaran yang lainya. Hari-hari Egy semakin berwarna. Pelangi sering melengkung indah di atas atap pesantren.
Sampai saat ini Egy dan Fauzan tidak pernah mengikrarkan janji cinta. Tapi mereka hanya berbagi cerita dikala resah. Saling memberi semangat satu sama lain. Memang pernah Egy meminta kejelasan hubungannya dengan Fauzan. Fauzan memberikan sebuah pemahaman bahwa rasa suka dan cinta tidak diwajibkan untuk sebuah ikrar cinta. Fauzan berharap suatu saat mereka dipertemukan dengan kehendak Tuhan. Untuk saat ini marilah kita kejar impian kita masing-masing. Mari kita mencintai Tuhan dan berdoa agar kita dipertemukan semesta.(*)

 


Redovan Jamil, lahir 10 Mei 1993, asal Sijunjung, Sumpur kudus. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Aktif dan menjadi pengurus di komunitas kepenulisan Daun Ranting. “Perihal menulis bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci,” demikianlah katanya.
Kontak person: 085265781291

Tinggalkan komentar